Nasihat : Tinggalkan Hal Yang Tidak Bermanfaat

Sumber Gambar : lovemeow.com
Sumber Gambar : lovemeow.com

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:«مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ». حَدِيْثٌ حَسَنٌ, رَوَاهُ التِّرْمِذِي وَغَيْرُهُ هَكَذَا.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di antara tanda kebaikan keIslaman seseorang: jika dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (Hadits hasan, diriwayatkan oleh at-Tirmidzi no. 2318 dan yang lainnya)

Salah satu cita-cita yang harus kita periksa setiap hari adalah kesungguhan diri untuk bisa berubah lebih baik dari waktu ke waktu. Tiadalah sempurna setiap ilmu dan pembelajaran yang Allah sudah limpahkan jika tidak dibarengi dengan upaya nyata dalam rangka menjalankan segala tuntunan-tuntunan-Nya.

Terutama dalam menjaga lisan dalam pertemanan. Teman yang baik adalah teman yang senantiasa mengingatkan untuk bertaqwa kepada Allah, lalu teman tersebut senantiasa saling menasihati untuk berlaku benar dan bersabar.

Tidak semua perbincangan mendatangkan faedah. Kita sebagai manusia yang diberi akal dan hati, sebaiknya sering-sering menelisik dan memeriksa setiap keputusan saat ingin bicara, apakah memang benar-benar ada manfaatnya? Jika tidak, lebih baik diam, atau tinggalkan.

“Ketahuilah, seyogianya setiap muslim berusaha untuk selalu menjaga lisannya dari segala macam bentuk ucapan, kecuali ucapan yang mengandung maslahat. Jikalau dalam suatu ucapan, maslahat untuk mengucapkannya dan maslahat untuk meninggalkannya adalah sebanding, maka yang disunnahkan adalah meninggalkan ucapan tersebut. Sebab perkataan yang diperbolehkan terkadang membawa kepada perkataan yang diharamkan atau yang dimakruhkan. Dan hal itu sering sekali terjadi. Padahal keselamatan (dari hal-hal yang diharamkan atau dimakruhkan) adalah sebuah (mutiara) yang tidak ternilai harganya.” (Riyadh ash-Shalihin, hal: 483)

Setiap keputusan mungkin saja akan menimbulkan resiko atau pertanyaan dari orang-orang disekeliling kita. Jelaskan dengan sebaik mungkin, barengi dengan cara yang baik dan senyuman. Tapi apapun resikonya, yakinlah bahwa setiap keputusan kita memang sudah sesuai dengan prinsip yang kita anut. Bukan hanya karena ikut-ikutan, ataupun emosi belaka.

Depok, 23 Januari 2017

Silmina Ulfah

Pernikahan : Memaknai Kembali Arti Sebuah Rumah

Sumber Gambar dailymotion.com
Sumber Gambar dailymotion.com

[Pernikahan]. Kadang kita terlalu banyak memikirkan hal-hal yang sifatnya hanya sebatas penambahan nilai estetik. Bukan lagi memikirkan yang fungsional memang benar-benar saat ini sedang kita butuhkan dalam keseharian hidup kita.

Kalau dipikir-pikir, selama setelah menikah, saya dipusingkan dengan pikiran untuk segera bisa membeli sebuah rumah untuk keluarga baru kami. Setiap ada brosur dan iklan yang bergelimangan, saya selalu memutar otak bagaimana bisa memiliki salah satu diantaranya.

Kemudian setelah itu saya akan browsing bagaimana meningkatkan penghasilan untuk pengadaan uang muka rumah tersebut. Dengan tergesa-gesa karena seperti dikejar dengan promo-promo yang menggiurkan jika tidak mau kehabisan karena tenggat waktu yang diberikan biasanya tidak lebih dari sebulan. Lalu ditambah dengan bayang-bayang jika terlalu lama, harga akan semakin naik-naik ke puncak gunung. Sungguh melelahkan dan menyisakan kecemasan.

Lalu muncul rasa tidak puas terhadap pencapaian yang sudah didapatkan hingga kini. Dan mulai membandingkan diri dengan kehidupan teman-teman yang ‘terlihat’ lebih hijau karena sudah mampu memiliki rumah sendiri. Lalu muncul prasangka-prasangka yang lama kelamaan perasaan tersebut lebih mirip dengan rasa iri. Kalau bukan karena pertolongan Allah, tentu perasaan iri tersebut sudah menjelma dengki dan sirik. (Naudzubillahimindzalik)

Membaca-baca pengalaman orang lain yang memiliki nasib serupa. Sayapun berangsur-angsur menjadi kalem menghadapi keinginan untuk bersegera memiliki rumah. Dan kecenderungan justru teralihkan dengan keingintahuan tentang bagaimana melakukan perencanaan dan pengelolaan keuangan rumah tangga.

Saya juga terinspirasi dari pengalaman perjuangan orang-orang yang terjerat riba saat melakukan kredit rumah. Mencari-cari tahu tentang bahaya riba. Juga tentang sistem bias yang ditawarkan oleh bank label syariah yang sistemnya ternyata 11-12 dengan bank konvensional. Saya terinspirasi dan tidak ingin terjerumus kedalam perkara yang sama. Semoga Allah tidak menjadikan kami sebagai golongan manusia yang lalai sehingga dengan mudahnya memasukkan perkara yang haram kedalam hidup kami.

Lalu Allah memperingati saya dengan ayat populer ini,

فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

Mungkin saja kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak pada sesuatu itu.

(QS. An-Nisa (4) : 19) – Petikan ayat

Ya. Mungkin saja  saya tidak menyukai rasa khawatir ini, padahal pada saat yang sama, Allah sedang menjadikan kebaikan yang banyak pada rasa itu. Bisa jadi, ketika saya memaksakan kehendak saya karena memandang baik kredit bank, Allah akan mengecap saya sebagai hamba yang tidak pandai bersyukur bahkan durhaka. Padahal, kondisi yang sekarang, sungguh Allah sudah memberikan rizqinya sehingga saya jauh dari kata kekurangan apalagi kelaparan.

Apa yang sebetulnya saya kejar? Apa yang sebetulnya saya cari? Apakah karena saya menjadikan bahagia hanya dengan terkabulnya setiap keinginan? Lalu bagaimana jika keinginan-keinginan itu menggiring diri ini kepada jurang dosa? Bagaimana jika keinginan-keinginan itu membuat diri menjadi jauh dari Allah? Apakah tidak nelangsa jika demikian?

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ

“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit” (QS. Al An’aam (6) : 125).

Cukuplah dengan lisan yang selalu meminta kepada Allah agar diri senantiasa diberikan petunjuk, sehingga Dia melapangkan dada kita untuk memeluk erat Agama ini (Islam).

Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan, maka akan dipahamkan agamanya. (Imam Bukhori –  Hadits no. 69)

Kesimpulan yang bisa saya tarik dari pemaknaan sebuah rumah, Rumah terbaik adalah rumah yang Allah ridha dengan pemiliknya, sehingga Allah melapangkan segala urusan sehingga pemiliknya bisa hidup dalam naungan Agama dan keberkahan.

Tinggal si pemilik rumah itu yang terus ikhtiar dengan bekal ketaqwaan dipundaknya.

Depok, 20 Januari 2017

Silmina Ulfah

*Pas lagi cari gambar rumah nabi Muhammad SAW, nemu animasi rumah Nabi dalam bentuk 3D di link ini. 

Nasihat : Jalan Keluar dari Semua Persoalan

Sumber Gambar : darussalaf.or.id
Sumber Gambar : darussalaf.or.id

Setiap manusia sudah pasti sedang menghadapi persoalan. Entah kemudian persoalan itu sulit atau mudah. Yang jelas, sesungguhnya tiada manusia normal di dunia ini yang tidak memiliki sebuah perkara untuk diselesaikan. Namun pada kenyataannya, terkadang kita lupa bahwa setiap persoalan, selalu datang bersama jawaban. Atau kita tidak lupa, tapi memilih untuk tidak percaya.

Dari kecil kita sudah belajar bahwa ternyata badai-badai bisa reda, ujian-ujian bisa terlewati. Meski memang, kadang hasilnya tidak sesuai dengan harapan. Toh itupun tidak mengapa, karena kemudian saya belajar bahwa setiap proses tidak pernah mengkhianati hasil.

Masalah itu bukan sesuatu untuk dikeluhkan. Terlebih jika kau keluhkan itu kepada manusia. Sama sekali bukan. Jika kita kesulitan menghadapi masalah, sesungguhnya kita sedang diminta ditingkatkan ikhtiarnya, sesuai dengan ilmu dan kemampuan yang Allah sudah titipkan pada kita selama ini.

Dampingi ikhtiar itu dengan ibadah yang baik. Sholatlah. Bukanlah Allah sudah janjikan kepada manusia beriman bahwa ketaqwaan selalu beriringan dengan sumber kebahagiaan?

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. (At-Talaq 65 : 2)

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (At-Talaq 65 : 3)

Bangkitlah dari pulasmu. Tambahkan rakaat dan sujudmu pada sepertiga malam. Sungguh, Allah adalah Tuhan yang tiada pernah mengingkari janjinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir, (kemudian) Dia berfirman, ‘Barang siapa berdoa kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan, barang siapa meminta kepada-Ku, niscaya akan Aku berikan, dan barang siapa memohon ampun kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni.’”

Muslim dalam Shahih-nya, kitab Shalatul Musafirin wa Qasriha, bab At-Targhib fid Du’a wal Dzikri fil Akhiril Lail wal Ijabati Fihi, no. 758.

Kembalikan semuanya kepada Allah. Karena Allah-lah sebaik-baik tempat kembali. Dekatkan diri pada Al-quran, niscaya selamat dalam kehidupan.

 

Depok, 17 Januari 2017
Silmina Ulfah

Nasihat : Perbanyak Membaca, Lalu Amalkan.

Awal tahun 2017. Dunia per-media-sosialan masih ramai dengan nyinyir-nyinyiran. Masih ramai pula dengan nyaring kicau-kicau orang-orang yang reaktif ketika membaca sebuah kepala berita. Kadang saya ya juga heran sama si penulis berita. Kok ya tega, menggunakan kosa kata yang pada akhirnya menyebabkan kericuhan sana-sini, hanya demi traffic yang lebih tinggi. Apalagi jika kepala berita ternyata tidak mencerminkan keseluruhan isi didalamnya, ini termasuk kedustaan bukan?

Saya jadi penasaran pekerjaan orang-orang yang setiap sepuluh menit sekali kirim-kirim berita halaman facebook-nya. Apa memang pekerjaannya hanya random klik terhadap sebuah berita lalu mengirimkannya kembali dihalamannya?

Saya yang sekarang sedang tertarik dengan fakta minat baca-nya orang Indonesia jadi geli sendiri melihat kenyataannya bahwa ternyata Indonesia masuk jajaran negara paring cerewet didunia maya.

Nak, Pesan Ibu : Perbanyak membaca ilmu yang bermanfaat ya nak. Lalu amalkan setahap demi setahap sehingga kebaikan yang kau dapat dari ilmu yang kau kejar itu, menjadi bekal penolongmu di akhirat nanti. Tidak perlu banyak bicara untuk gagah-gagahan. Tidak perlu.

Cukuplah Nabi Muhammad SAW menjadi suri tauladan kita nak.

Pernikahan : Keterbatasan Mata Dunia

Seseorang yang kukenal dan tampak tak punya masalah itu, seseorang yang dalam pandangan mataku baik orangnya, sejahtera hidupnya, besar rumahnya, mapan pekerjaannya, pintar anak-anaknya, ternyata masih menyimpan suatu masalah yang mengganjal dalam hatinya, “Suami saya masih belum dekat dengan agama”. Dan hal itu membuat ia gelisah sebagai seorang istri, karena ia berharap bisa mendapatkan bimbingan yang mengantarkan ia kepada Allah. Ia berharap suaminya bukan hanya giat dalam urusan dunia, tapi juga giat dalam mempersiapkan akhiratnya.

Ternyata benar kiranya, bahwa apa yang tampak baik bagi manusia, belum tentu baik di mata Allah.

Saya jadi teringat dengan sebuah hadist yang berbunyi :

Barangsiapa yang Allah kehendaki menjadi baik maka Allah faqihkan dia terhadap agama. Aku hanyalah yang membagi-bagikan sedang Allah yang memberi. Dan senantiasa ummat ini akan tegak diatas perintah Allah, mereka tak akan celaka karena adanya orang-orang yg menyelisihi mereka hingga datang keputusan Allah. [HR. Bukhari No.69].

Sesungguhnya yang baik itu selalu tentang Allah, bukan tentang manusia ataupun keterpenuhan hajat manusia.

Lalu apa itu faqih? Faqih adalah kepahaman. Kepahaman biasanya selalu dibarengi dengan pengamalan nyata atas ilmu-ilmu yang didapat. Karena agama bukanlah ilmu yang hanya harus dihafal, tapi agama adalah sebuah tuntunan tentang cara kita menjalani hidup di dunia ini sesuai dengan Sang Pembuat Kehidupan.

Jika memanglah kelak kita memiliki pasangan hidup yang kita anggap masih kurang ilmu agamanya, janganlah bersedih dan berputus asa. Sesungguhnya Allah maha besar kasih sayangnya, maha luas pemberiannya.

Bersungguh-sungguhlah dalam berdoa, memintakan segala keinginan kita kepada Allah. Mintakan harapan kita jika memang HANYA hal tersebut adalah perkara yang baik untuk hidup kita di DUNIA dan AKHIRAT.

Mintakan pula kebaikan dan keberkahan dalam setiap untaian doa kita, sesungguh-sungguhnya.

Awali dengan niat yang bersih, dan kawal niat itu sampai akhir. Sungguh Allah maha melihat kesungguhan niat kita. Insya Allah, setelah itu taufik Allah akan tercurahkan kepada siapa saja yang lisan, perbuatan dan pikirannya selalu bermuara kepada-Nya.

Bersabarlah, Allah selalu melihat kesungguhan doa kita yang dibarengi dengan usaha-usaha kita.

Depok, 21 Desember 2016

Nasihat : Kerjakan Saja, Lalu Lupakan.

Nak, memasuki minggu ke-19 dan hari ke-5 mu ini, kau mulai sering ibu rasakan bergerak-gerak. Ibu ingat pertama kali ibu merasakan denyutan kecil itu, ibu sedang duduk menunggu jam istirahat di kampus. Kali ini ibu ingin sampaikan padamu, anakku yang baik, kelak ketika kau bekerja bersama teman-temanmu, jangan lukai kepercayaannya. Jangan juga kau ungkit-ungkit kebaikan yang sudah kau berikan.

Ingatlah, ketika kau memutuskan untuk berperan dan bergabung dalam sebuah kelompok, maka sejak itu kau sudah harus melepaskan ke-aku-an yang ada pada dirimu. Hindari perasaan ingin dihargai, ingin didengar dan ingin dipuji, karena itu penyakit mematikan yang kelak akan membinasakan segala jerih payah yang sudah kau kerahkan selama menjalani tujuan kelompokmu.

Berbahagialah senantiasa. Jangan berhenti belajar. Karena saat kau berhenti belajar, akan segera tumbuh sel-sel kecil bernama kesombongan yang secara terus menerus menjadi benih sampai-sampai kau tak sadar akan kehadirannya. Waspadalah pada penyakit mematikan yang satu ini. karena sedikit sekali yang bisa sembuh dari penyakit yang satu ini.

Kerjakan saja, lalu lupakan. Maksud ibu, jangan sekali-kali kau ungkit segala kebaikan-kebaikan yang sudah kau kerjakan, walaupun situasi membuat kau seolah-olah tidak pernah punya peran apa-apa. Ingatlah nak, bahwa ada Allah yang maha mencatat. Ada Allah yang selalu ingat.

Semoga Allah selalu membimbingmu, nak.

Kelapa Dua, 15 Desember 2016

Mendengarkan

Sumber gambar : itsshort.com
Sumber gambar : itsshort.com

Terkadang untuk menjadi orang menyenangkan, kau tidak perlu menyiapkan apa-apa kecuali kemampuan mendengar. Konon, telinga diciptakan dua ya karena sebagai manusia, harusnya kita lebih banyak mendengar ketimbang bicara.

 Yang namanya kemampuan, ya tidak serta merta diturunkan dari sananya. Artinya, kau harus latihan agar kau mampu menjadi seorang pendengar. Caranya ya dengan menyimak betul-betul sesiapa saja orang yang tengah mengajak kau bicara.

Begini saja. Bagaimana jika mulai sekarang kita berhenti dari kebiasaan-kebiasaan kita mengabaikan orang yang sedang mengajak kita bicara dengan menyimak dan hadir penuh saat orang lain butuh didengarkan?

Karena jangan-jangan, selama ini kita telah berlaku jahat dengan membuat orang lain sia-sia bicara ketika kita tidak benar-benar mendengar perkataannya. Konon, kegelisahaan yang melanda manusia, karena manusia itu enggan introspeksi dan meremehkan kejahatan-kejahatan kecil.

Kelapa Dua, 15 Desember 2016

 

Nasihat : Setahap Demi Setahap

Sumber gambar : small2tall.files.wordpress.com
Sumber gambar : small2tall.files.wordpress.com

Saya pernah dicap sebagai manusia paling sibuk. Alasannya sederhana, saya tidak pernah punya waktu di tiap akhir pekan bersama keluarga dan teman-teman diluar komunitas yang saya ikuti. Kerjaanku wira-wiri kesana kemari, bahkan selepas kerja sebagai karyawan kantoran. Padahal saya berhenti dari kerja kantoran karena saya ingin bisa lebih produktif lagi sebagai manusia dan tidak terjebak dalam rutinitas yang menjenuhkan dan mematikan kreatifitas. Tapi nyatanya, tidak jarang saya menemui titik-titik kejenuhan dan masa-masa yang menjengkelkan ketika saya mengerjakan aktifitas peningkatan skill versi saya. Setelah saya amati, itu dikarenakan saya tidak punya perencanaan harian, ya.. memang tiap hari saya selalu memplot kegiatan yang akan saya lakukan selama sebulan, tapi maksud saya, kesalahan terbesar saya adalah saya tidak memiliki tujuan spesifik untuk perbaikan-perbaikan diri yang dituangkan secara teknis dalam aktifitas seharian. Jadilah saya seenaknya sendiri untuk tidur jam berapa, bangun jam berapa, karena saya bekerja berdasarkan result oriented, bukan time oriented.

Celakanya, ketidakdisiplinan saya ini berujung petaka dengan tidak maksimalnya hasil pekerjaan saya. Hal tersebut biasanya membuat saya pusing dan mencoba mencari kegiatan refreshing yang juga tidak direncanakan sebelumnya. Ujung-ujungnya masalah akan merembet ke pengelolaan keuangan saya. Saya mulai tidak disiplin membuat posting pengeluaran saya, sehingga saya tidak memiliki “tabungan”.

Bersyukur memiliki Islam, yang ilmunya sepenuh semesta. Sehingga urusan keseharian sampai hal-hal perintilan, ada ilmu dan aturannya. Sehingga setahap demi setahap bisa memberikan gambaran kepada saya tentang kerangka berpikir dalam membuat sebuah perencanaan aktifitas harian yang terintegrasi dengan tujuan penciptaan.

Benarlah adanya tentang nasihat untuk berkumpul dengan orang-orang shaleh akan membuatmu menjadi manusia beruntung. Karena mau-tidak-mau kau akan terseret ke dalam pola pikir mereka dan bisa mempelajari kebiasaan-kebiasaan mereka. Apalagi era dimana kita bisa bebas melacak orang-orang inspiratif dengan berbekal laptop dan wifi yang kencang seperti sekarang ini. (Terima kasih youtube!)

Saya mulai mencari-cari apa kesalahan terbesar saya. Ternyata saya temukan!. Dengan modal dalih bersosial media untuk menambah wawasan tentang berita terkini, ternyata saya kebablasan sehingga saya terjebak dan termasuk kedalam orang-orang yang melakukan “pekerjaan dangkal” alias shallow work. Istilah shallow work pertama kali dikenalkan oleh Cal Newport dalam buku berjudul ‘Deep Work’. Dalam buku itu dia menuliskan bahwa shallow work merupakan “sejenis aktivitas yang dangkal, kelihatan sibuk, namun tidak berdampak signifikan buat peningkatan skills dan income kita”.

Wuah rasanya makjlep!. Itu saya-itu saya!!. (Seharusnya saya tidak bangga ya -,-“). Ya salah satunya ya itu , aktivitas pegang gadget mulu. Setelah saya pikir-pikir, mau sampai kapan saya ini apa-apa di posting, bermanfaat belum tentu juga buat orang lain. Akhirnya saya memutuskan untuk mengurangi kegiatan bersosial media. Berikut tahapan saya terapkan :

  1. Tidak sosmedan kecuali whatsapp selama sehari penuh, hasilnya tidak berasa, saya malah posting apa yang saya lakukan, mungkin beberapa teman ingin mencoba, cuma di saya pribadi, tidak berdampak apa-apa.
  2. Tahap berikutnya saya mulai uninstall twitter, hingga saat ini. Berdampak drastis, awalnya akan terasa ganjil icon twitter tidak ada didalam menu aplikasi hp saya, cuma lama kelamaan saya terbiasa. Mungkin sebulan sekali saya masih suka buka twitter untuk sekedar mengecek notifikasi via laptop.
  3. Tehap berikutnya saya menguninstall Path. Ini agak susah karena berulang kali saya masih kepo apa yang terjadi di path sana. Bolak balik pasang-copot akhirnya Alhamdulillah, sekarang udah nggak ada apps Path lagi di hp saya. Paling kalau penasaran, saya pinjem ipod kakak, atau hp suami 😀 .
  4. Tahap berikutnya saya uninstall Instagram. Beberapa hari memang agak ganjil, tapi akhirnya lancar jaya.

Ya ternyata memang ternyata kita didesain untuk bisa beradaptasi setahap demi setahap. Kita tidak bisa “langsung brek”. Tapi yakinlah, yang setahap-demi-setahap walaupun sedikit, lebih disukai daripada yang banyak, tapi trus nggak tobat lagi. Untuk semua aspek kayaknya bisa diterapkan sih. Karena kali ini saya hanya kasih contoh dari pengalaman keberhasilan saya untuk tidak adiksi kepada like, love dan comment teman-teman di media sosial.

Belum sampai sebulan saya uninstall Instagram, saya berhasil menyelesaikan buku 190 halaman dalam 3 hari. Yang sebelumnya tidak bisa saya kerjakan karena ter-distract oleh media sosial. Kedepannya, saya ingin setahap-demi-setahap lagi membiasakan membaca buku sebanyak mungkin, sebagai ganti dari aktifitas saya bersosial media di waktu-waktu nanggung seperti menunggu antrian, menunggu janjian dengan teman dan mengawas ujian.

Karena amanah semakin besar, maka kapasitas pun harus diperbesar.

Silmina Ulfah

Depok, 10 Desember 2016

Tips : Merencanakan Menu Keluarga dan Manajemen Kulkas

Sumber gambar : .quickanddirtytips.com
Sumber gambar : .quickanddirtytips.com

Selama ini kita mungkin mengira bahwa salah satu peran seorang Ibu dalam keluarga adalah menjadi koki atau juru masak keluarga. Maraknya video singkat resep-resep masakan yang beraneka ragam-pun semakin banyak beredar luas di media sosial, ironisnya, kebanyakan dari para ibu mungkin lebih habis menggunakan waktunya untuk menonton satu-per-satu aneka resep yang secara visual sangatlah memanjakan mata ketimbang mempraktekannya. Kemudian ketika kembali ke dapur dalam kehidupan nyata, masih saja banyak ibu-ibu yang kebingungan, besok masak apa ya? atau yang lebih parah lagi, hari ini masak apa ya? (ini mah nyindir diri sendiri 😛 ).

Bahkan beberapa ibu akhirnya menjadi stres untuk urusan perut ini. Ada yang beralasan tidak bisa masak (padahal banyak sekali panduan dengan takaran yang mendetail), atau malas memasak karena terlalu memakan waktu. Belum lagi urusan setelah memasaknya, cucian piring yang berminyak dan kotor pun langsung menunggu untuk diladeni, membuat pekerjaan masak ternyata bukanlah perkara recehan.

Padahal jika ditelisik lebih dalam, akar permasalahannya ternyata satu, Tidak Ada Perencanaan.

Bersyukur sekali saya kepada Allah karena saya diberi kesempatan untuk bisa mengikuti  program Matrikulasi Ibu Profesional yang digagas oleh Ibu Septi Peni Wulandani, yang dalam salah satu materinya dibahas mengenai “Perkembangan Peran Seorang Ibu”. Dalam materi itu dibahas tentang peran Ibu yang selama ini hanya menjadi tukang masak keluarga, maka untuk menjadi seorang Ibu yang profesional, kita harus meng-upgrade diri menjadi seorang perencana menu keluarga.

Saya sendiri merasakan bahwa jika kita hanya mengandalkan mood untuk mempersiapkan makanan untuk keluarga, maka bersiaplah bagi kita untuk mengalami hal-hal sebagai berikut:

  1. Boros uang karena terlalu sering membeli masakan jadi.
  2. Menurunnya skill memasak karena akhirnya sudah terlalu nyaman dengan membeli makanan jadi.
  3. Kecanduan junk food yang beresiko mendatangkan obesitas, kekurangan gizi dan berbagai macam penyakit.
  4. Tidak berselera dan tidak terbiasa makan makanan rumahan (jadi picky kalau sama makanan).
  5. Terputus rantai frasa “Kangen masakan Ibu” alias tidak ada yang ngangenin masakan buatan kita 😛

Setelah riset sana-sini (baca : baca buku Bunda Cekatan dan blogwalking), maka berikut saya rangkum beberapa tips utuk membantu kita untuk meningkatkan peran kita menjadi seorang manajer menu keluarga.

1. Mempersiapkan menu per-10 hari.

Kenapa 10 Hari? patokan ini adalah patokan minimum, alasannya sederhana, supaya tidak mudah bosan dengan jenis menu yang disediakan. Bayangkan saja jika nanti keluarga bosan kalau hari senin makannya sayur bayaaaam terus, kan jadi nggak seru kalau ketebak gitu. Dibuat per sepuluh hari supaya menu masakan selalu surprise 🙂 . Lebih kece kalau misal udah gape banget bikin menu-menu tertentu, kita bisa upgrade satu per satu menu baru untuk kita sisipkan di jadwal kita. Ah, jadi pekerjaan menantang kan kalau gini jadinya?. Oh iya, nggak cuma makanan besar aja ya, kita juga harus siapkan menu-menu kudapan untuk ngurang-ngurangin anggaran jajan di luar.

2. Membuat jadwal belanja dan daftar bahan makanan yang dibutuhkan.

Sumber gambar : thenextweb.com
Sumber gambar : thenextweb.com

Setelah tahu menu-menu yang akan dibuat, kita kemudian mulai membuat daftar bahan-bahan yang diperlukan. Idealnya untuk sayur-sayuran mampu bertahan 3-4 hari, nah kalau sudah, Ibu silahkan mengatur waktunya untuk belanja pekanan atau per 3-4 hari. Ingat ya, selalu bawa catatan belanja ketika ke pasar dan bawa uang secukupnya. Ini demi kesehatan dompet anda, serius. Kalau temen ada juga yang belanjanya per-pekan. Ini sih tergantung menunya juga yang udah kita buat ya.

3. Mengatur isi kulkas dan dapur (Manajemen Kulkas dan Dapur).

Sumber gambar : Sharon Tan
Sumber gambar : Sharon Tan

Nahh, ini nih.. salah satu ilmu yang baru nangkring di kuping, karena selama ini nggak begitu peduli ama bagaimana kita menyimpan makanan di kulkas. Ternyata setelah dievaluasi, emang nggak jarang juga buang bumbu-bumbu yang keburu kering atau busuk di kulkas. Sayur juga, keburu layu sebelum diolah karena nggak ada perencanaan. Asal beli aja pas ke pasar, bermodalkan “Ah kayaknya enak nih kalau masak ini”, atau “Ih tomat seger-seger amat, jadi pengen bikin jus”, berakhir menjadi wacana. Ya Allah, mubazir kan kalau gini. Semoga Allah mengampuni hamba yang suka buang bahan makanan dan makanan sisa.

Untuk mengatur bahan masakan, sebaiknya kita menyiapkan beberapa wadah untuk mengklasifikasikan bahan masakan.

  1. Untuk sayuran, siapkan  beberapa kotak makan yang kita isi dengan bahan sayuran sekali masak yang sudah dicuci bersih dan sudah ditiriskan. Dengan begini, sayuran akan terjaga kesegarannya. Jangan lupa bersihkan bagian-bagian sayuran yang sudah membusuk agar tidak menyebar ke yang lainnya.
  2. Untuk daging-ikan-ayam, cuci bersih dan letakkan dalam wadah tertutup. Naronya di freezer ya. Untuk nugget-nuggetan apa sosis-sosis gitu, kalau sudah dibuka plastiknya, simpan dalam kondisi tertutup supaya nggak bikin kulkas bau.
  3. Siapin bumbu karena saya udah buktiin kalau masak jadi lebih cepet banget ketika bumbu-bumbu sudah tersedia. Lumayan kan saving barang 10 menitan pas lagi masak. Kupas kulit bawang-bawangan, cuci bersih, keringkan, masukkan kedalam wadah. Untuk cabe, segera buang bagian-bagian kalau ada yang busuk. Ini bisa sih dijadiin dalam satu kotak makan gitu. Kita bisa prepare tiap pekan untuk bumbu-bumbu ini. Lebih asoy lagi kalau ibu bikin bumbu-bumbu dasar sendiri. Bumbu putih, bumbu kuning dan bumbu merah. Beuh, ini mah ntar tinggal cemplang-cemplung aja kayak abang nasi goreng liwat.

Begitulah tips yang saya rangkum dari berbagai sumber. Disini diperlukan komitmen para ibu untuk disiplin dengan perencanaan yang sudah dibuat. Untuk menjadi ahli, kita harus mengasah jam terbang kita, kalau mau ngaktifin kebiasaan kita menjadi sebuah habits, paling nggak kita kudu konsisten untuk melakukannya dalam 90 hari. Insya Allah, dengan begitu kedepannya kita akan bisa mencapai target-target menjadi Ibu Profesional yang lebih menantang lagi. Misalnya aja, setelah mahir mengatur menu, jadwal belanja dan mengatur kulkas, kita bisa mengembangkan kemampuan kita untuk benar-benar memperhitungkan asupan gizi keluarga. Masyaa Allah, semoga kebaikan yang kita upayakan ini adalah bentuk konkret kita menjalani peran Ibu yang Allah amanahkan kepada kita.

Ingatlah ketika letih dan jengah menghampiri saat kita kerjakan semua itu, ada karunia  dan ridho dari Allah sebagai gantinya. Karena yakinlah, menjalani amanah adalah ibadah.

Salam Pengabdian.

Depok, 212-2016

Referensi :

  1. Manajemen Kulkas Bersih Hemat Sehat
  2. Bunda Cekatan : 12 Ilmu Dasar Manajemen Rumah Tangga
  3. Tips Manajemen Dapur Untuk Ibu Sibuk

Mengatur Prioritas

Movement Photos by Guido Mocafico
Movement Photos by Guido Mocafico

Proses hidup adalah proses belajar dan mengevaluasi. Proses percobaan dan mencoba kembali ketika apa yang diharapkan belumlah tercapai. Hidup sendiri pun, adalah proses menyelami makna, sehingga kita sampai pada momen menemukan tujuan pengembaraan. Seringkali kita mempersulit diri untuk sampai pada tujuan, penyebabnya bukan lain adalah inkonsistensi diri. Terjebak pada rutinitas yang bukan merupakan bagian dari proses pengembaraan. Terjebak dalam situasi yang sebetulnya bisa saja kita hindari.

Sedari membuka mata ketika pagi hari, hidup adalah selalu tentang pilihan. Pilihan apakah akan beranjak, atau 5 menit lagi. Lalu berangsur-angsur memilih, apakah menyiapkan sarapan dulu, atau mandi?. Begitu seterusnya. Dengan iringan tik-tak-tik-tak waktu yang sama sekali tidak bisa diajak kompromi kalau-kalau ada pilihan yang ingin diulang pada waktu sebelumnya, sehingga menyebabkan efek domino yang tidak jarang menyulitkan tahapan proses yang ada di depannya.

Prioritas.

Apakah kegiatan mengatur prioritas adalah sebuah prioritas itu sendiri? saya pun sedang menyelami kedalamnya. Jika setiap manusia ini diciptakan untuk menjadi sebaik-baik manusia, maka yang harus dilakukan adalah menjadi manusia yang banyak-banyak memberikan manfaat kepada orang atau lingkungannya. Jika demikian adanya, maka ada sebuah peran dalam diri masing-masing manusia.

Ya. Setiap diri memiliki peran. Setiap diri memiliki sebuah hal yang harus ia kerjakan dan kontribusikan. Lalu jika ada orang yang lalai dalam menyelami apa yang seharusnya diperani, maka kemungkinan besar, orang tersebut memandang dirinya adalah sebagai sebuah dampak kehidupan. Bukan penggerak apalagi pencipta dampak kehidupan.

Apakah kita sudah memiliki peran spesifik dalam hidup? atau justru kita masih ber-entah-entah dan melewati hidup tanpa menjadikan diri kita sebagai “Manusia dengan Peran” sebagai prioritas?

Berperanlah.

Depok, 28 November 2016