Nasihat : Kerjakan Saja, Lalu Lupakan.

Nak, memasuki minggu ke-19 dan hari ke-5 mu ini, kau mulai sering ibu rasakan bergerak-gerak. Ibu ingat pertama kali ibu merasakan denyutan kecil itu, ibu sedang duduk menunggu jam istirahat di kampus. Kali ini ibu ingin sampaikan padamu, anakku yang baik, kelak ketika kau bekerja bersama teman-temanmu, jangan lukai kepercayaannya. Jangan juga kau ungkit-ungkit kebaikan yang sudah kau berikan.

Ingatlah, ketika kau memutuskan untuk berperan dan bergabung dalam sebuah kelompok, maka sejak itu kau sudah harus melepaskan ke-aku-an yang ada pada dirimu. Hindari perasaan ingin dihargai, ingin didengar dan ingin dipuji, karena itu penyakit mematikan yang kelak akan membinasakan segala jerih payah yang sudah kau kerahkan selama menjalani tujuan kelompokmu.

Berbahagialah senantiasa. Jangan berhenti belajar. Karena saat kau berhenti belajar, akan segera tumbuh sel-sel kecil bernama kesombongan yang secara terus menerus menjadi benih sampai-sampai kau tak sadar akan kehadirannya. Waspadalah pada penyakit mematikan yang satu ini. karena sedikit sekali yang bisa sembuh dari penyakit yang satu ini.

Kerjakan saja, lalu lupakan. Maksud ibu, jangan sekali-kali kau ungkit segala kebaikan-kebaikan yang sudah kau kerjakan, walaupun situasi membuat kau seolah-olah tidak pernah punya peran apa-apa. Ingatlah nak, bahwa ada Allah yang maha mencatat. Ada Allah yang selalu ingat.

Semoga Allah selalu membimbingmu, nak.

Kelapa Dua, 15 Desember 2016

Mendengarkan

Sumber gambar : itsshort.com
Sumber gambar : itsshort.com

Terkadang untuk menjadi orang menyenangkan, kau tidak perlu menyiapkan apa-apa kecuali kemampuan mendengar. Konon, telinga diciptakan dua ya karena sebagai manusia, harusnya kita lebih banyak mendengar ketimbang bicara.

 Yang namanya kemampuan, ya tidak serta merta diturunkan dari sananya. Artinya, kau harus latihan agar kau mampu menjadi seorang pendengar. Caranya ya dengan menyimak betul-betul sesiapa saja orang yang tengah mengajak kau bicara.

Begini saja. Bagaimana jika mulai sekarang kita berhenti dari kebiasaan-kebiasaan kita mengabaikan orang yang sedang mengajak kita bicara dengan menyimak dan hadir penuh saat orang lain butuh didengarkan?

Karena jangan-jangan, selama ini kita telah berlaku jahat dengan membuat orang lain sia-sia bicara ketika kita tidak benar-benar mendengar perkataannya. Konon, kegelisahaan yang melanda manusia, karena manusia itu enggan introspeksi dan meremehkan kejahatan-kejahatan kecil.

Kelapa Dua, 15 Desember 2016

 

Nasihat : Setahap Demi Setahap

Sumber gambar : small2tall.files.wordpress.com
Sumber gambar : small2tall.files.wordpress.com

Saya pernah dicap sebagai manusia paling sibuk. Alasannya sederhana, saya tidak pernah punya waktu di tiap akhir pekan bersama keluarga dan teman-teman diluar komunitas yang saya ikuti. Kerjaanku wira-wiri kesana kemari, bahkan selepas kerja sebagai karyawan kantoran. Padahal saya berhenti dari kerja kantoran karena saya ingin bisa lebih produktif lagi sebagai manusia dan tidak terjebak dalam rutinitas yang menjenuhkan dan mematikan kreatifitas. Tapi nyatanya, tidak jarang saya menemui titik-titik kejenuhan dan masa-masa yang menjengkelkan ketika saya mengerjakan aktifitas peningkatan skill versi saya. Setelah saya amati, itu dikarenakan saya tidak punya perencanaan harian, ya.. memang tiap hari saya selalu memplot kegiatan yang akan saya lakukan selama sebulan, tapi maksud saya, kesalahan terbesar saya adalah saya tidak memiliki tujuan spesifik untuk perbaikan-perbaikan diri yang dituangkan secara teknis dalam aktifitas seharian. Jadilah saya seenaknya sendiri untuk tidur jam berapa, bangun jam berapa, karena saya bekerja berdasarkan result oriented, bukan time oriented.

Celakanya, ketidakdisiplinan saya ini berujung petaka dengan tidak maksimalnya hasil pekerjaan saya. Hal tersebut biasanya membuat saya pusing dan mencoba mencari kegiatan refreshing yang juga tidak direncanakan sebelumnya. Ujung-ujungnya masalah akan merembet ke pengelolaan keuangan saya. Saya mulai tidak disiplin membuat posting pengeluaran saya, sehingga saya tidak memiliki “tabungan”.

Bersyukur memiliki Islam, yang ilmunya sepenuh semesta. Sehingga urusan keseharian sampai hal-hal perintilan, ada ilmu dan aturannya. Sehingga setahap demi setahap bisa memberikan gambaran kepada saya tentang kerangka berpikir dalam membuat sebuah perencanaan aktifitas harian yang terintegrasi dengan tujuan penciptaan.

Benarlah adanya tentang nasihat untuk berkumpul dengan orang-orang shaleh akan membuatmu menjadi manusia beruntung. Karena mau-tidak-mau kau akan terseret ke dalam pola pikir mereka dan bisa mempelajari kebiasaan-kebiasaan mereka. Apalagi era dimana kita bisa bebas melacak orang-orang inspiratif dengan berbekal laptop dan wifi yang kencang seperti sekarang ini. (Terima kasih youtube!)

Saya mulai mencari-cari apa kesalahan terbesar saya. Ternyata saya temukan!. Dengan modal dalih bersosial media untuk menambah wawasan tentang berita terkini, ternyata saya kebablasan sehingga saya terjebak dan termasuk kedalam orang-orang yang melakukan “pekerjaan dangkal” alias shallow work. Istilah shallow work pertama kali dikenalkan oleh Cal Newport dalam buku berjudul ‘Deep Work’. Dalam buku itu dia menuliskan bahwa shallow work merupakan “sejenis aktivitas yang dangkal, kelihatan sibuk, namun tidak berdampak signifikan buat peningkatan skills dan income kita”.

Wuah rasanya makjlep!. Itu saya-itu saya!!. (Seharusnya saya tidak bangga ya -,-“). Ya salah satunya ya itu , aktivitas pegang gadget mulu. Setelah saya pikir-pikir, mau sampai kapan saya ini apa-apa di posting, bermanfaat belum tentu juga buat orang lain. Akhirnya saya memutuskan untuk mengurangi kegiatan bersosial media. Berikut tahapan saya terapkan :

  1. Tidak sosmedan kecuali whatsapp selama sehari penuh, hasilnya tidak berasa, saya malah posting apa yang saya lakukan, mungkin beberapa teman ingin mencoba, cuma di saya pribadi, tidak berdampak apa-apa.
  2. Tahap berikutnya saya mulai uninstall twitter, hingga saat ini. Berdampak drastis, awalnya akan terasa ganjil icon twitter tidak ada didalam menu aplikasi hp saya, cuma lama kelamaan saya terbiasa. Mungkin sebulan sekali saya masih suka buka twitter untuk sekedar mengecek notifikasi via laptop.
  3. Tehap berikutnya saya menguninstall Path. Ini agak susah karena berulang kali saya masih kepo apa yang terjadi di path sana. Bolak balik pasang-copot akhirnya Alhamdulillah, sekarang udah nggak ada apps Path lagi di hp saya. Paling kalau penasaran, saya pinjem ipod kakak, atau hp suami 😀 .
  4. Tahap berikutnya saya uninstall Instagram. Beberapa hari memang agak ganjil, tapi akhirnya lancar jaya.

Ya ternyata memang ternyata kita didesain untuk bisa beradaptasi setahap demi setahap. Kita tidak bisa “langsung brek”. Tapi yakinlah, yang setahap-demi-setahap walaupun sedikit, lebih disukai daripada yang banyak, tapi trus nggak tobat lagi. Untuk semua aspek kayaknya bisa diterapkan sih. Karena kali ini saya hanya kasih contoh dari pengalaman keberhasilan saya untuk tidak adiksi kepada like, love dan comment teman-teman di media sosial.

Belum sampai sebulan saya uninstall Instagram, saya berhasil menyelesaikan buku 190 halaman dalam 3 hari. Yang sebelumnya tidak bisa saya kerjakan karena ter-distract oleh media sosial. Kedepannya, saya ingin setahap-demi-setahap lagi membiasakan membaca buku sebanyak mungkin, sebagai ganti dari aktifitas saya bersosial media di waktu-waktu nanggung seperti menunggu antrian, menunggu janjian dengan teman dan mengawas ujian.

Karena amanah semakin besar, maka kapasitas pun harus diperbesar.

Silmina Ulfah

Depok, 10 Desember 2016

Tips : Merencanakan Menu Keluarga dan Manajemen Kulkas

Sumber gambar : .quickanddirtytips.com
Sumber gambar : .quickanddirtytips.com

Selama ini kita mungkin mengira bahwa salah satu peran seorang Ibu dalam keluarga adalah menjadi koki atau juru masak keluarga. Maraknya video singkat resep-resep masakan yang beraneka ragam-pun semakin banyak beredar luas di media sosial, ironisnya, kebanyakan dari para ibu mungkin lebih habis menggunakan waktunya untuk menonton satu-per-satu aneka resep yang secara visual sangatlah memanjakan mata ketimbang mempraktekannya. Kemudian ketika kembali ke dapur dalam kehidupan nyata, masih saja banyak ibu-ibu yang kebingungan, besok masak apa ya? atau yang lebih parah lagi, hari ini masak apa ya? (ini mah nyindir diri sendiri 😛 ).

Bahkan beberapa ibu akhirnya menjadi stres untuk urusan perut ini. Ada yang beralasan tidak bisa masak (padahal banyak sekali panduan dengan takaran yang mendetail), atau malas memasak karena terlalu memakan waktu. Belum lagi urusan setelah memasaknya, cucian piring yang berminyak dan kotor pun langsung menunggu untuk diladeni, membuat pekerjaan masak ternyata bukanlah perkara recehan.

Padahal jika ditelisik lebih dalam, akar permasalahannya ternyata satu, Tidak Ada Perencanaan.

Bersyukur sekali saya kepada Allah karena saya diberi kesempatan untuk bisa mengikuti  program Matrikulasi Ibu Profesional yang digagas oleh Ibu Septi Peni Wulandani, yang dalam salah satu materinya dibahas mengenai “Perkembangan Peran Seorang Ibu”. Dalam materi itu dibahas tentang peran Ibu yang selama ini hanya menjadi tukang masak keluarga, maka untuk menjadi seorang Ibu yang profesional, kita harus meng-upgrade diri menjadi seorang perencana menu keluarga.

Saya sendiri merasakan bahwa jika kita hanya mengandalkan mood untuk mempersiapkan makanan untuk keluarga, maka bersiaplah bagi kita untuk mengalami hal-hal sebagai berikut:

  1. Boros uang karena terlalu sering membeli masakan jadi.
  2. Menurunnya skill memasak karena akhirnya sudah terlalu nyaman dengan membeli makanan jadi.
  3. Kecanduan junk food yang beresiko mendatangkan obesitas, kekurangan gizi dan berbagai macam penyakit.
  4. Tidak berselera dan tidak terbiasa makan makanan rumahan (jadi picky kalau sama makanan).
  5. Terputus rantai frasa “Kangen masakan Ibu” alias tidak ada yang ngangenin masakan buatan kita 😛

Setelah riset sana-sini (baca : baca buku Bunda Cekatan dan blogwalking), maka berikut saya rangkum beberapa tips utuk membantu kita untuk meningkatkan peran kita menjadi seorang manajer menu keluarga.

1. Mempersiapkan menu per-10 hari.

Kenapa 10 Hari? patokan ini adalah patokan minimum, alasannya sederhana, supaya tidak mudah bosan dengan jenis menu yang disediakan. Bayangkan saja jika nanti keluarga bosan kalau hari senin makannya sayur bayaaaam terus, kan jadi nggak seru kalau ketebak gitu. Dibuat per sepuluh hari supaya menu masakan selalu surprise 🙂 . Lebih kece kalau misal udah gape banget bikin menu-menu tertentu, kita bisa upgrade satu per satu menu baru untuk kita sisipkan di jadwal kita. Ah, jadi pekerjaan menantang kan kalau gini jadinya?. Oh iya, nggak cuma makanan besar aja ya, kita juga harus siapkan menu-menu kudapan untuk ngurang-ngurangin anggaran jajan di luar.

2. Membuat jadwal belanja dan daftar bahan makanan yang dibutuhkan.

Sumber gambar : thenextweb.com
Sumber gambar : thenextweb.com

Setelah tahu menu-menu yang akan dibuat, kita kemudian mulai membuat daftar bahan-bahan yang diperlukan. Idealnya untuk sayur-sayuran mampu bertahan 3-4 hari, nah kalau sudah, Ibu silahkan mengatur waktunya untuk belanja pekanan atau per 3-4 hari. Ingat ya, selalu bawa catatan belanja ketika ke pasar dan bawa uang secukupnya. Ini demi kesehatan dompet anda, serius. Kalau temen ada juga yang belanjanya per-pekan. Ini sih tergantung menunya juga yang udah kita buat ya.

3. Mengatur isi kulkas dan dapur (Manajemen Kulkas dan Dapur).

Sumber gambar : Sharon Tan
Sumber gambar : Sharon Tan

Nahh, ini nih.. salah satu ilmu yang baru nangkring di kuping, karena selama ini nggak begitu peduli ama bagaimana kita menyimpan makanan di kulkas. Ternyata setelah dievaluasi, emang nggak jarang juga buang bumbu-bumbu yang keburu kering atau busuk di kulkas. Sayur juga, keburu layu sebelum diolah karena nggak ada perencanaan. Asal beli aja pas ke pasar, bermodalkan “Ah kayaknya enak nih kalau masak ini”, atau “Ih tomat seger-seger amat, jadi pengen bikin jus”, berakhir menjadi wacana. Ya Allah, mubazir kan kalau gini. Semoga Allah mengampuni hamba yang suka buang bahan makanan dan makanan sisa.

Untuk mengatur bahan masakan, sebaiknya kita menyiapkan beberapa wadah untuk mengklasifikasikan bahan masakan.

  1. Untuk sayuran, siapkan  beberapa kotak makan yang kita isi dengan bahan sayuran sekali masak yang sudah dicuci bersih dan sudah ditiriskan. Dengan begini, sayuran akan terjaga kesegarannya. Jangan lupa bersihkan bagian-bagian sayuran yang sudah membusuk agar tidak menyebar ke yang lainnya.
  2. Untuk daging-ikan-ayam, cuci bersih dan letakkan dalam wadah tertutup. Naronya di freezer ya. Untuk nugget-nuggetan apa sosis-sosis gitu, kalau sudah dibuka plastiknya, simpan dalam kondisi tertutup supaya nggak bikin kulkas bau.
  3. Siapin bumbu karena saya udah buktiin kalau masak jadi lebih cepet banget ketika bumbu-bumbu sudah tersedia. Lumayan kan saving barang 10 menitan pas lagi masak. Kupas kulit bawang-bawangan, cuci bersih, keringkan, masukkan kedalam wadah. Untuk cabe, segera buang bagian-bagian kalau ada yang busuk. Ini bisa sih dijadiin dalam satu kotak makan gitu. Kita bisa prepare tiap pekan untuk bumbu-bumbu ini. Lebih asoy lagi kalau ibu bikin bumbu-bumbu dasar sendiri. Bumbu putih, bumbu kuning dan bumbu merah. Beuh, ini mah ntar tinggal cemplang-cemplung aja kayak abang nasi goreng liwat.

Begitulah tips yang saya rangkum dari berbagai sumber. Disini diperlukan komitmen para ibu untuk disiplin dengan perencanaan yang sudah dibuat. Untuk menjadi ahli, kita harus mengasah jam terbang kita, kalau mau ngaktifin kebiasaan kita menjadi sebuah habits, paling nggak kita kudu konsisten untuk melakukannya dalam 90 hari. Insya Allah, dengan begitu kedepannya kita akan bisa mencapai target-target menjadi Ibu Profesional yang lebih menantang lagi. Misalnya aja, setelah mahir mengatur menu, jadwal belanja dan mengatur kulkas, kita bisa mengembangkan kemampuan kita untuk benar-benar memperhitungkan asupan gizi keluarga. Masyaa Allah, semoga kebaikan yang kita upayakan ini adalah bentuk konkret kita menjalani peran Ibu yang Allah amanahkan kepada kita.

Ingatlah ketika letih dan jengah menghampiri saat kita kerjakan semua itu, ada karunia  dan ridho dari Allah sebagai gantinya. Karena yakinlah, menjalani amanah adalah ibadah.

Salam Pengabdian.

Depok, 212-2016

Referensi :

  1. Manajemen Kulkas Bersih Hemat Sehat
  2. Bunda Cekatan : 12 Ilmu Dasar Manajemen Rumah Tangga
  3. Tips Manajemen Dapur Untuk Ibu Sibuk

Mengatur Prioritas

Movement Photos by Guido Mocafico
Movement Photos by Guido Mocafico

Proses hidup adalah proses belajar dan mengevaluasi. Proses percobaan dan mencoba kembali ketika apa yang diharapkan belumlah tercapai. Hidup sendiri pun, adalah proses menyelami makna, sehingga kita sampai pada momen menemukan tujuan pengembaraan. Seringkali kita mempersulit diri untuk sampai pada tujuan, penyebabnya bukan lain adalah inkonsistensi diri. Terjebak pada rutinitas yang bukan merupakan bagian dari proses pengembaraan. Terjebak dalam situasi yang sebetulnya bisa saja kita hindari.

Sedari membuka mata ketika pagi hari, hidup adalah selalu tentang pilihan. Pilihan apakah akan beranjak, atau 5 menit lagi. Lalu berangsur-angsur memilih, apakah menyiapkan sarapan dulu, atau mandi?. Begitu seterusnya. Dengan iringan tik-tak-tik-tak waktu yang sama sekali tidak bisa diajak kompromi kalau-kalau ada pilihan yang ingin diulang pada waktu sebelumnya, sehingga menyebabkan efek domino yang tidak jarang menyulitkan tahapan proses yang ada di depannya.

Prioritas.

Apakah kegiatan mengatur prioritas adalah sebuah prioritas itu sendiri? saya pun sedang menyelami kedalamnya. Jika setiap manusia ini diciptakan untuk menjadi sebaik-baik manusia, maka yang harus dilakukan adalah menjadi manusia yang banyak-banyak memberikan manfaat kepada orang atau lingkungannya. Jika demikian adanya, maka ada sebuah peran dalam diri masing-masing manusia.

Ya. Setiap diri memiliki peran. Setiap diri memiliki sebuah hal yang harus ia kerjakan dan kontribusikan. Lalu jika ada orang yang lalai dalam menyelami apa yang seharusnya diperani, maka kemungkinan besar, orang tersebut memandang dirinya adalah sebagai sebuah dampak kehidupan. Bukan penggerak apalagi pencipta dampak kehidupan.

Apakah kita sudah memiliki peran spesifik dalam hidup? atau justru kita masih ber-entah-entah dan melewati hidup tanpa menjadikan diri kita sebagai “Manusia dengan Peran” sebagai prioritas?

Berperanlah.

Depok, 28 November 2016

Jangan Sampai

Jangan sampai hanya karena perkataan dan komentarmu yang kau kirim dan sebar-sebarkan ke khalayak itu kemudian menjadikan seseorang ragu untuk mendekat dan mengenali ilmu agamanya sendiri.

Jangan sampai gara-gara gaya berpikir kausalitasmu itu membuat orang lain menjadi membenci orang-orang yang sudah berpuluh tahun mengabdikan dirinya untuk beribadah kepada Allah.

Jangan sampai gara-gara opini gagah-gagahan yang super realistik itu menjadikan kau membenci orang-orang yang hendak belajar ilmu agama sembari berkata, hati-hati, nanti kau jadi kolot.

Jangan ya.

Depok, 3 November 2016

Apakah Kita?

Apakah kita telah terlupa dengan tujuan kita? Apakah kita sudah sedia jika Allah yang maha kuasa dengan serta merta menyudahi hidup kita? Apa yang kelak kita akan tunjukkan kepada-Nya? Apakah kita akan tertanam dibawah nisan dengan bangga? atau sia-sia? Ah betapa menyesalnya jika memang demikian.

Sebaik-baik pengajaran adalah dengan teladan. Dan pelajarilah, sudah ribuan teladan yang semasa hidupnya adalah menjadi hamba-hamba Tuhan. Menyuarakan apa perintah dan nilai-nilai yang Allah ajarkan lewat amalan kehidupan.

Setiap perubahan diawali dengan pemikiran. Jaga baik-baik pikiran sedari awal.

Depok, 27 September 2016

Tentang Berkeluh Kesah

Berkeluh kesah itu buruk untukmu. Tapi baik ketika keluh kesahmu itu disampaikan kepada pemilik hidup.

Tidak perlu kecewa karena Allah percaya apa yang sedang kita derita. Tak perlu khawatir karena Allah sebaik-baik pelindung.

Kuatkan dirimu untuk tidak bergantung pada keadaan dan mahluknya. Karena tiada daya upaya melainkan dari sisi Allah.

Berkeluh kesahlah, dan awali keluh kesah itu dengan istighfar.

 

Depok

22 September 2016

 

 

Cermin

Jika ada orang yang paling banyak kesalahannya, itu adalah saya orangnya.

Sebelum menjustifikasi orang lain, marilah kita coba melihat betul-betul ke dalam diri kita. Seperti saat bercermin, mungkin jarang dari diri kita melihat kurangnya, lebih banyak mengabaikan kurangnya lalu merasa baik-baik saja. Sama seperti hidup bersama orang lain. Apakah kita termasuk orang yang lekas menyimpulkan? atau mungkin lebih parah? apakah kita sudah setiap saat mengoreksi diri dari kekurangan? atau lebih sering membuat catatan panjang daftar kesalahan orang lain? Menuntut hak dari orang lain?

Mungkin diri kita terlalu sombong untuk mengakui benih-benih kesombongan yang mulai muncul didalam hati. Kita mungkin lantang meneriakkan tidak peduli dengan omongan orang lain. Tapi jelas-jelas perasaan merasa diremehkan itulah yang dimana asal muasal kesombongan itu bermula. Kita mengaku membawa perubahan, tapi kebiasaan-kebiasaan buruk kita tidak selalu kita rubah. Membicarakan kesalahan orang, keburukan orang, aib orang, malas belajar, tidak disiplin dan selalu beralasan. Tidak berani mengakui dan lupa bahwasannya apa yang ada disekeliling kita adalah cermin bagi kita. Atau yang lebih parah, yakni, kita lupa siapa jati diri kita sebenarnya.

Jangan-jangan kita tidak sadar bahwa kita sedang mempersiapkan bom waktu untuk diri kita sendiri. Di kemudian hari, apa yang kita kerjakan hari ini, pastilah akan dimintai pertanggung jawabannya. Semoga kita selalu menjadi manusia yang berdoa sebelum bertindak, meminta keridhoan Allah sebelum memutuskan hendak bicara dan berlaku apa. Semoga tidak ada penyesalan dikemudian hari.

Ya, memang tidak ingin dipuji kau katakan. Tapi diri selalu haus akan perhatian. Hati selalu butuh pembenaran. Bukankah kita terlalu sering melakukan hal-hal yang diluar kewajiban? ketimbang mempersiapkan diri dari berbagai perubahan?

Depok, 14 September 2016

Kutipan dan Komentar : The Book of Character | Bagian Satu

Sumber : abduzeedo.com
Sumber : abduzeedo.com

Halaman 141 

“Misalnya, kau ingin bertaubat dan berhenti melakukan dosa. Sering kali hasrat terpuji ini dirumitkan oleh pikiranmu sendiri. Apakah keinginanmu itu semata-mata karena Allah, karena takut dan cinta kepada-Nya? Jika benar, kau akan bersungguh-sungguh meninggalkan dosa karena takut kepada Allah yang Maha Melihat dan Maha Mengetahui, bahkan tatkala engkau sendirian. Ataukah kau bertaubat karena merasa malu dan menghindari celaan manusia? Atau mungkin kau ingin memberi kesan yang baik kepada anak-anak, keluarga, atau kawan-kawan, dan tidak ingin mereka meniru perbuatan burukmu sehingga kau berusaha berperilaku sesuai dengan aturan agama? Ataukah kau takut dikucilkan, ditolak, bahkan dihukum oleh masyarakat? Atau mungkin tujuanmu hanya agar orang-orang tidak menggunjingkanmu?

Apabila kau memang tulus, semestinya kau tidak memedulikan pujian atau celaan mereka. Memang wajar dan alami jika kita merasa takut dan terluka oleh celaan dan kritikan orang lain. Namun seringkali kritikan dan celaan mereka itu mengandung kebenaran. Kita merasa pedih melihat cela dan kekurangan diri kita. Rasa sedih itu akan mendorong kita berusaha memperbaiki diri. Tindakan seperti ini dibenarkan. Sikap yang tidak dibolehkan adalah menolak mentah-mentah kritik dan celaan mereka.”

Ada beberapa manusia  yang merasa gengsi untuk berubah. Gengsi karena menolak kebenaran dari kritik dan cela yang dilayangkan pada manusia tersebut. Supaya tidak berprasangka mari kita sebut manusia itu adalah kita. Setelah mendapat cela dan kritikan, barulah kita sadari bahwasannya kadar kebenaran dari kalimat kritik yang dilayangkan tersebut adalah 90% benar adanya. Permasalahannya, tinggal di kitanya. Mau diolah ataukah mau disangkal. Menyangkal tidak selalu dengan mengatakan tidak. Tapi menggunakan alasan dan permasalahan lain untuk menutupi issue utama, itu juga termasuk bentuk penyangkalan. Atau yang parah, membandingkan orang lain dengan diri kita, menganggap diri kita lebih baik.

Memperbaiki diri tidak semudah memperbaiki kata-kata yang ditulis menggunakan pensil. Tidak semudah menghapusnya dengan penghapus karet. Memperbaiki adalah proses hidup manusia yang melewati olah pikir, pengolahan kata yang kemudian menjadi doa-doa yang tertutur kepada Yang Maha Segalanya dan akhirnya berwujud tindakan kita dalam melewatinya. Proses dari perbaikan adalah perubahan. Perubahan adalah perbedaan kondisi sebelum dan setelah proses perbaikan. Boleh jadi menurutmu (dan menurutnya) lebih baik, biasa saja atau bahkan malah lebih buruk. Pendapat apapun sah-sah saja. Karena yang utama adalah niat suci lillahitaala semata yang dinilai. Berubah untuk-Nya. Lebih baik untuk-Nya. Karena kita ini cuma hamba. Hamba-Nya semata.

Jatibarang, 9 Juli 2016