Menghargai Diri, Menghargai Proses

Hati saya yang terlalu sempit atau memang saya harus menerima bahwa orang yang telah mempergunakan candaannya yang bagi saya kurang ngajar itu sebagai sebuah intermezzo? kadang saya suka heran terhadap orang-orang yang mengaku lebih memahami semua yang saya kerjakan, atau menilai saya dari apa yang saya sedang kerjakan.

Dimana arti menghargai proses? kalau ujung-ujungnya, saya bisa melihat gerak-gerik yang sangat tidak nyaman dari anda? Tapi akhirnya dari sikapmu yang seperti itu, saya mulai belajar untuk tidak menjustifikasi seseorang dari apa yang mereka pilih dari kehidupannya. Ya, tiap manusia akan mempertanggungjawabkan apa yang sudah mereka kerjakan dan pilih didunia.

Saya akan belajar lagi untuk tidak peduli pada apa penilaian orang lain. Karena saya yang mejalani hidup saya. Saya tidak suka hidup dalam ketakutan pada mahluk, saya adalah manusia yang seharusnya takut pada ketentuan Allah. Apakah mungkin Allah turunkan Rasul, Sahabat, Thabiin hanya sebagai pajangan dan kisah-kisah belaka? Apakah mungkin Dari sekian ratus kitab yang tertulis berisikan tentang cara bertaqwa kepada Allah itu kesemuanya adalah salah? Apakah mungkin, kita hanya bersandar pada terjemahan “Sekenanya” dan bahkan dirinya sendiri tidak mampu menyelesaikan apa yang sedang ia baca?

Lalu ketika kelak saya berdiri di hadapan Allah untuk bersaksi, apakah orang-orang yang memberikan penilaian itu akan mampu bertanggungjawab terhadap apa yang saya kerjakan? Jaminan apa yang mereka bisa berikan sehingga saya harus menjalankan perbuatan A, B dan C?

Saya sendiri menginginkan kebenaran, disisi lain saya memahami bahwa Allah tidak mungkin turun langsung dan bicara pada saya tentang jalan mana yang harus saya pilih. Jadi, berhentilah memberikan justifikasi kepada orang yang menurut anda berbeda.

Silmina Ulfah | Depok,  29 Maret 2017