Allah Mencintai Kebaikan dan Kesucian

Said menjadi semacam “ayat” bahwa kesucian cinta karena Allah akan melahirkan keberkahan dan keajaiban yang tidak pernah di sangka sangka. Allah itu baik dan suci, dan Allah mencintai kebaikan dan kesucian.”

(halaman 148 – Api Tauhid)

Akankah lahir kembali yang semacamnya? seorang seperti Badiuzzaman Said Nursi?. Dilahirkan dari rahim suci perempuan taat bernama Nuriye dan seorang pemuda yang  senantiasa menghiasi nafasnya dengan dzikrullah. Yang menjaga betul halal dan haram. Bahkan lembu lembunya tidak ia izinkan makan rumput yang bukan seharusnya, Mirza namanya. Dipertemukan dengan cara paling indah, karena ketaatan keduanya. Saat mengandung anak-anaknya, termasuk mengandung Said, Nuriye tidak menginjakkan kakinya ke atas bumi dalam keadaan suci, dan tidak meninggalkan sholat malam, kecuali saat uzur. Nuriye tidak mengizinkan dirinya menyusui anak-anaknya terutama Said, dalam keadaan tidak suci. Maka wajarlah Allah Yang Maha Suci memberikan anugerah-Nya kepada suami istri sederhana ini anak-anak yang shalih. Anugerah paling tampak terasa ada pada anak mereka bernama Said. Sejak bayi, Said tidak mau menyusu pada siang hari bulan Ramadhan, sejak kecil selalu tertarik menanyakan fenomena-fenomena alam dan bertanya tentang keberadaan Tuhan. Tumbuh menjadi seorang anak yang haus akan ilmu Agama hingga rela menempuh jarak jauh dengan berjalan kaki untuk menemukan sumber-sumber ilmu. Saat remaja, ilmunya bahkan mengungguli para ulama di masanya. Dan hingga kini dikenang sebagai Ulama , Mujadid dan Sufi Besar.

Salah satu hikmah yang kurangkum,

Keshalihan generasi penerus kita tidak akan terwujud secara autopilot. Tapi terwujud dari semenjak kita memilih cara hidup kita saat ini. Dengan memilih menjadi manusia-manusia yang taat pada Sang Pencipta. Menjadi manusia shalih.

Bismillahirrahmanirrahiim. Ya muqollibal qulub, tsabbit qolbi ‘alaa diinik

Depok, 22 Juli 2015