Pengalaman Legalisir Dokumen Medical Checkup dan Buku Imunisasi Anak ke Notaris

Berikut ini saya akan menjelaskan pengalaman saya waktu mengurus Waarmerking atau legalisir dokumen medical checkup dan buku imunisasi anak sebagai persyaratan sebelum minta legalisir TETO. Dokumen ini merupakan syarat wajib untuk pembuatan visa resident ke Taiwan.

Setelah saya baca-baca, ternyata legalisir itu beda dengan Waarmerking, pantas saja petugas legalisir TETO memberi catatan berulang kali untuk memastikan bagaimana perlakuan legalisir yang dimaksud untuk dokumen Medical Checkup dan Buku Imunisasi Anak. Lalu apa bedanya:

Legalisir : Dokumen disahkan dan ditanda tangani di hadapan notaris, sehingga tanggal legalisir sama dengan tanggal dokumen tersebut.

Waarmerking : Dokumen tersebut diregistrasikan dalam buku catatan notaris karena dalam dokumen tersebut sudah dibubuhi tanda tangan oleh pihak-pihak yang bersangkutan.

Penampakan Kantor Notaris Dewi Palupi (Sumber foto: Google Map)

Penampakan Kantor Notaris Dewi Palupi, (Sumber foto: Google Map)

Continue Reading

Pengalaman Medical Checkup dan Vaksin sebagai Persyaratan Visa Resident Taiwan

Kali ini saya akan berbagi pengalaman waktu mengurus tes kesehatan dan suntik vaksin (23 April 2018) sebagai salah satu syarat untuk penerbitan visa resident Taiwan. Bagi anda yang sekadar mengunjungi Taiwan untuk liburan, tahapan ini tidak perlu anda lakukan. Untuk lebih lengkap mengenai persyaratan dokumen yang harus disiapkan, silahkan kunjungi website resmi TETO (Taipei Economic and Trade Office) di sini.

Sayangnya, dalam link diatas tidak tertera untuk visa resident bagi istri yang akan menetap karena suami bekerja di Taiwan. Saya pun harus menelepon TETO untuk memastikan dokumen apa saja yang perlu disiapkan. Medical checkup yang harus diserahkan nanti adalah medical checkup dengan format “Form B”.  Soalnya kalau untuk visa kerja, formatnya beda lagi ya.

Format B Medical Checkup Jika Anda Ingin Membuat Visa Resident

Format B Medical Checkup Jika Anda Ingin Membuat Visa Resident

Bagi yang belum tahu, TETO adalah kantor perwakilan yang memiliki kewenangan dalam hal penerbitan visa ke Taiwan. Mengapa tidak di kedutaan Taiwan? karena Indonesia hanya mengakui satu negara Cina yaitu Cina Daratan. Sehingga Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan negara Taiwan.

Continue Reading

Pengalaman Membuat Paspor untuk Anak (Bayi 7 Bulan) di Depok

Kali ini saya bakalan share pengalaman pas bikinin paspor buat anak saya yang saat pembuatan paspor kemarin berusia 7 bulan. Paspor yang dibuat jenis paspor biasa ya, bukan e-paspor, karena kantor imigrasi Depok hanya melayani paspor jenis biasa. Berikut 6 langkah yang saya lakukan saat membuat paspor untuk anak di kantor imigrasi Depok:

  1. Siapkan dokumen persyaratan untuk anak usia dibawah 17 tahun.
  2. Booking tanggal untuk urus paspor pakai aplikasi antrian online.
  3. Tunjukkan lembar barcode antrian saat datang ke kantor imigrasi sesuai tanggal yang tertera.
  4. Tunggu panggilan untuk pengecekan kelengkapan dokumen.
  5. Tunggu panggilan untuk sesi wawancara dan pengambilan pas foto.
  6. Bayar pembuatan paspor via Pos Indonesia yang mangkal di depan kantor.
  7. Ambil paspor 3 hari (kerja) kemudian, atau minta dikirim via pos.

1. Siapkan dokumen persyaratan untuk anak usia dibawah 17 tahun

Semua dokumen harus ada yang ASLI dan FOTOKOPI-nya ya. Trus semua dokumen harus dalam kertas A4 (JANGAN DIPOTONG). Oh iya, sebetulnya kedua orang tua itu harus ada pas bikin paspor anak, tapi kalau emang misalnya sang ayah nggak bisa ambil cuti kantor, wajib lampirin surat pernyataan tidak bisa datang. Berikut penjelasannya:

  • KTP kedua orang tua (harus e-KTP ya), ini juga cara fotokopinya jangan sampai salah ya, jadi peletakan KTP ayah dan ibunya HARUS DALAM SATU LEMBAR atas bawah.
  • Kartu keluarga.
  • Buku Nikah Orang Tua, ini juga harus dalam satu lembar ya, yang atas itu halaman yang ada fotonya, bawahnya yang halaman data kedua orang tua.
  • Akta kelahiran anak.
  • Paspor kedua orang tua, formatnya sama kayak fotokopi KTP, peletakan atas bawah yang halaman ada fotonya, atas bawah.

    format fotokopi dokumen paspor, jangan sampai salah ya biar ga ribet suruh motokopi ulang

  • Surat pernyataan orang tua  + Materai 6.000. Ini tiap kantor imigrasi punya format yang beda-beda. Kemarin saya pakai format hasi googling, ternyata sampai sana salah, akhirnya suruh ganti sama pak satpam dan dikasih surat dengan format yang benernya. Kenapa nggak download di webnya? yes, waktu itu web-nya error (404 something lah). Ini format suratnya, silahkan download formatnya di link berikut  surat-pernyataan-kedua-orang-tua.
  • Surat pernyataan orang tua tidak datang + Materai 6.000. Ini kemarin saya juga pakai format dari kantor imigrasi lain, ternyata sampai sana salah dan suruh ganti juga. Silahkan download format suratnya di link berikut Surat-Pernyataan-Orang-Tua-Tidak-Datang

Catatan: Berhubung waktu itu ayahnya keburu dinas ke luar kota, dan surat yang sebelumnya udah saya siapin pakai ttd suami asli disuruh ganti, akhirnya saya terpaksa malsuin tanda tangan suami deh pakai format yang baru. Reminder lagi ya, dokumen semua di fotokopi di kertas full A4, kayak KTP gitu gausah dipotong.

2. Booking tanggal untuk urus paspor pakai aplikasi antrian online.

Proses ini lumayan bikin drama karena ribeds. Mulai 2017 kemarin, kita nggak bisa asal dateng aja ke kantor imigrasi buat bikin paspor. Semua harus daftar dulu buat antri via online. Kamu bisa daftar via websitenya atau via aplikasi android/ios.

Waktu saya buka website, itu tanggal full semua sampai sekitar dua bulan kedepannya. Akhirnya coba install aplikasinya, ternyata sama aja!. Keder ya kan, masa harus ke kantor imigrasi bandara soetta sih, jauh kan dari depok. Akhirnya coba hubungin Customer Support (CS) nya imigrasi via whatsapp.

Responnya juga agak lama, yah Alhamdulillah akhirnya dijawab juga sih, nanya-nanya ini gimana kok full terus. Katanya sih suruh sering refresh aja, nanti kalau muncul tanggal yang masih ada kuota, langsung daftar. Nggak lama, diinfo katanya ada tanggal tersedia, saya langsung buruan buka appsnya.

Dari situlah saya kenapa nulis persiapan dokumen di awal. Karena pengalaman saya, pas dikasih tau ada kuota kosong itu hari senin, ternyata yang tersedia tanggalnya dua hri setelahnya alias hari rabu-nya.

Ini prosesnya abis install apps-nya di android gampang kok. Cuma masukin nama lengkap anak kita aja sebagai pemohon, sama NIK (liat di KK), nanti kita dapet kode booking, sama keterangan kita harus dateng jam berapa. Saya ngeprint biar nanti gak ribet-ribet harus ngasih liat HP.

sumber gambar : ashtravelling.com

sumber gambar : ashtravelling.com

Baca yang teliti ya :)

Baca yang teliti ya 🙂

3. Tunjukkan barcode antrian saat datang ke kantor imigrasi sesuai tanggal yang tertera.

Registrasi dan minta nomor antrian di pos satpam

Registrasi dan minta nomor antrian di pos satpam

Datang ke  kantor sesuai waktu dan alamat yang tertera di jadwal. Waktu itu saya hadir sebelum pintu gerbang dibuka. Sebelum kita bisa masuk ke dalam Kanim, seluruh berkas akan di cek di pos satpam dan kita akan diminta untuk mengisi formulir pengajuan paspor.

Setelah isi formulir, kita baru akan diberikan nomor antrian berupa name tag yang wajib dikalungkan dan dipersilahkan untuk masuk ke dalam gedung. Karena kemarin ada beberapa surat yang salah format, saya diberikan format surat yang benar dari pak satpam. Saya melengkapi formulir dan isian surat di warung yang ada di depan kanim. Disana juga tersedia materai dan beberapa alat tulis untuk membantu pengisian.

Kalau ada format fotokopi yang salah atau kurang, di dalam area gedung kanim terdapat koperasi yang menyediakan layanan fotokopi. Namun biasanya harga diatas standar (lebih mahal) dan harus mengantri jika sedang ramai.

4. Tunggu panggilan untuk pengecekan kelengkapan dokumen.

Antrian pertama untuk verifikasi dokumen oleh petugas imigrasi

Antrian pertama untuk verifikasi dokumen oleh petugas imigrasi

Setelah mendapatkan kalung nomor antrian, kita tinggal menunggu berkas di cek kelengkapannya oleh petugas imigrasi. Kalau di pos satpam tadi, hanya ‘screening‘ awal saja supaya yang masuk hanyalah mereka yang benar-benar sudah siap.

Setelah nomor kita dipanggil, kita harus menunjukkan barcode antrian online dan seluruh kelengkapan dokumen. Proses tidak sampai 5 menit, kemudian kita akan diberikan nomor lagi untuk masuk tahap interview dan foto.

5. Tunggu panggilan untuk sesi wawancara dan pengambilan pas foto.

Ruang sebelah kiri tempat wawancara dan foto

Ruang sebelah kiri tempat wawancara dan foto

Setelah nomor dipanggil, kita masuk ke ruangan khusus untuk wawancara dan foto. Kita akan diarahkan ke meja petugas yang kosong untuk proses penginputan data dan wawancara terlebih dahulu.

Tidak perlu tegang karena kemarin saya hanya verifikasi data untuk diinput ke komputer secara manual. Jika sudah e-ktp tentu proses sudah lebih cepat karena data otomatis keluar semua. Berhubung anak saya belum ada e-KTP (meski sudah punya KIA), jadi data-data ya manual lagi diinput sambil nanya-nanya ke saya. Formulir yang sebelumnya saya isi pun sepertinya hanya untuk berkas saja karena pak petugas isi data anak dari akte lahirnya langsung.

Proses ini tidak terlalu lama (sekitar 10-15 menit), sambil ditanya-tanya dalam rangka apa memangnya pembuatan paspor ini. Setelah itu, kita antri untuk pengambilan foto paspor, didalam ruangan tersebut disediakan tempat duduk untuk menunggu nama kita dipanggil.

Saya menunggu lumayan lama (15-20 menit), setelah dipanggil petugas foto, disini juga kita ditanya-tanya sebentar untuk verfikasi data dan tujuan pembuatan paspor. Foto paspor wajib berlatar bekalang putih jadi bayi tidak bisa dipangku dan harus diposisikan sedemikian rupa supaya tubuh kita tidak menutupi background putih.

Setelah memilih foto yang paling oke diantara beberapa jepretan, kita akan diberikan resi pembayaran pembuatan paspor yang bisa dibayarkan via Pos Indonesia atau bank lainnya. Saya memilih via pos karena mobilnya mangkal di depan kanim.

6. Bayar pembuatan paspor via Pos Indonesia yang mangkal di depan kantor.

Foto mobil pos indonesia yang mangkal, diambil warung seberang kanim tempat saya numpang isi formulir sebelum dapat no antrian ke pos satpam

Foto mobil pos indonesia yang mangkal, diambil warung seberang kanim tempat saya numpang isi formulir sebelum dapat no antrian ke pos satpam

Mobil pos indonesia terdapat persis di depan pos satpam. Serahkan resi dari imigrasi dan uang tunai Rp. 355.000 untuk biaya paspor. Setelahnya, kita akan mendapatkan ibukti pembayaran dan jadwal kapan paspor bisa diambil. Pos Indonesia menawarkan layanan pengantaran paspor, dan tanpa pikir panjang saya menggunakan jasa mereka.

7. Ambil paspor 3 hari (kerja) kemudian, atau minta dikirim via pos

IMG_20171213_102401

Informasi jika anda ingin mengambil sendiri ke kanim. Nantinya anda tinggal menyerahkan bukti pembayaran ke loket khusus yang ada di sisi sebelah kiri gedung kanim. Waktu pembuatan paspor saya sendiri, saya juga datang langsung dan tinggal menyerahkan bukti bayar plus menunjukkan KTP asli.

Untuk yang ingin diantar ke rumah menggunakan jasa pos, kita akan diminta untuk mengisi formulir khusus dengan tanda tangan diatas materai 6.000. Mungkin ini untuk bukti ke kanim kalau  emang bener-bener kita yang request. Proses pengiriman dimulai dari 3 hari kerja setelah paspor jadi.

Lama pengiriman untuk Jabodetabek 1-2 hari, dan kita diberikan no telp petugas pos jika sewaktu-waktu ingin konfirmasi kalau belum sampai. Selain itu, kita juga dijelaskan mekanisme saat menerima paspor, harus memberikan beberapa fotokopi identitas (KTP ortu dan akta kelahiran) kepada kurir. Hal ini untuk memastikan bahwa paspor diberikan kepada orang yang tepat.

Biayanya pengirimannya Rp. 27.000 dan itu udah termasuk materai.

Horee, dah jadi

Horee, dah jadi

Informasi lainnya yang mungkin akan bermanfaat:

  1. Usahakan datang tepat waktu dan dokumen sudah lengkap sehingga bisa lebih awal dapat nomor antrian.
  2. Proses saya sendiri (plus bolak balik ganti surat-surat dan isi formulir) bikin saya kebagian antrian lebih lama, padahal datang pas belum buka. Jadi datang jam 08.00 WIB selesai semua sekitar jam 12.00 WIB. Itu udah sampai bayar ya.
  3. Bawa alat tulis sendiri seperti pulpen, tipe-x dan materai biar lebih efisien.
  4. Bagi ibu-ibu bawa bayi, tersedia ruang laktasi untuk menyusui.
  5. Disediakan aqua gelas gratis buat pengunjung, well sebenernya ada corber buat ngopi-ngopi tapi pas saya dateng nggak digelar hehe.
  6. Siapkan uang cash untuk bayar via pos indonesia Rp. 355.000,- biar nggak usah cari-cari ATM
  7. Kanim Depok tidak hanya melayani warga yang ber-KTP Depok, jadi dari mana aja bisa urus disini ya.
  8. Gunakan pakaian yang sopan, jangan pakai kaos oblong, sendal jepit dan celana pendek ya. Pakailah jilbab atau atasan (kemeja) dengan warna selain putih.
  9. Website kanim Depok yang bahas tentang paspor : http://depok.imigrasi.go.id/?page_id=45921
  10. Jam Pelayanan: Senin – Kamis : Pukul 7.30 – 16.00, Jumat : Pukul 7.30 – 16.30, Sabtu-Minggu : Libur
  11. Alamat : Jalan Boulevard Raya Komplek Perkantoran Pemda Depok Grand Depok City Kota Depok
Pas lagi antri wawancara dan isi data ke sistem

Pas lagi antri wawancara dan isi data ke sistem

Antri pas mau nunggu dipanggil buat foto

Antri pas mau nunggu dipanggil buat foto

 

IMG_20171213_102211_1

IMG_20171213_102219

Loket pos indonesia

Koperasi tempat fotokopi, antriii

Koperasi tempat fotokopi, antriii

Alhamdulillah seneng sekarang pelayanan jauh lebih baik ketimbang beberapa tahun lalu pas saya bikin paspor. Selain lebih rapi, teratur dan bersih, seneng aja gitu jadi nggak banyak calo. Wong pas ambil antrian aja muka kita dipoto, jadi pas di LCD antrian nampilin muka kita loh. Good Job! semoga segera bisa melayani e-paspor ya!

Depok, 16 Februari 2018

Bu, Sebelum Anda Buang-buang Duit ke Salon, Cari Tau Dulu Arti “Me Time”

BAGIAN SATU

Sering banget deh pasti liat postingan mahmud atau mahtu yang berseliweran di media sosial. Biasanya mereka pasang tagar #metime di salon spa, kafe malah yang ekstrim dia ngelakuin solo trip gitu.

Bikin mupeng?

Tapi pernah mikir nggak sih? Sebetulnya Me Time itu apa? Kalau kita gugling, kita bakalan nemu ini:

“Me-Time” adalah waktu untuk diri sendiri tanpa kehadiran orang lain, sehingga kita bisa beraktivitas sendirian (atau bahkan tidak melakukan apa-apa).

Trus, kalau udah sendirian, emang mau ngapain? Jangan-jangan selama ini kita berdalih butuh Me Time untuk “lari sejenak dari tanggung jawab”. Kalau begitu, kayaknya sayang banget ya kan?, abis setengah juta buat spa dari ujung rambut ampe kaki, pulang-pulang “welcome to the jungle” lagi.

Atau ada juga yang Me Time nya dengan shopping, bilangnya buat menghargai kerja keras diri. Kemudian nggak jarang pas sampai rumah mikir, “Ngapain gue beli ini ya? Kayaknya  nggak penting-penting amat..”, begitulah akhirnya nyesel dan numpuk-numpuk barang dalam rumah. Mamam.

Beberapa bulan lalu iseng ikutan kulwap (Kuliah Whatsapp) IIP untuk memahami arti “Me Time“. Pertamanya sih mikir, “yaelah, ginian aja dibahas..”, tapi mah, udahannya sungguh bikin mikir-kir-kir. Persepsi saya tentang makna Me Time jadi meluas. Jadi ini hasil dari materi Me Time yang saya dapat:

Who am I? 

Sumber : weewatch.com

Sumber : weewatch.com

Jadi seorang ibu, bagaimanapun memang dibutuhkan kesadaran dan keseriusan. Apalagi ditengah seabrek pekerjaan yang rasa-rasanya bisa bikin kaki di kepala, kepala di kaki. Tapi, apapun alasannya, sebaiknya kita tidak melupakan siapa diri kita sebenarnya.

Bu, kita ini dianugerahi potensi akal, perasaan dan fisik. Semuanya pasti ada potensinya. Itu yang kudu kita gali dan gali terus. Jangan-jangan selama ini kita sibuk dengan mengejar pencapaian orang lain. Jangan-jangan selama ini kita memperjuangkan sesuatu yang kita tidak tahu untuk apa. Ngeri kali, macam zombie aja kalo gitu.

Kalaulah memang Me Time adalah adalah waktu untuk sendirian dan melakukan aktivitas semau kita. Maka kenalilah dulu apa yang sebetulnya kita ingin dan butuhkan. Coba jawab, saya ini adalah? Mengapa saya harus melakukan A B C D ..? Apa yang sebetulnya saya butuhkan saat ini? apa potensi saya?

“Saya ini punya peran sebagai hamba Allah, anak, istri, ibu dan bagian dari lingkungan masyarakat, maka saya harus melakukan…., dan saya butuh…., lalu potensi atau modal yang saya punya adalah….”

Kunci Utamanya adalah Mengenal Diri. Me dulu, baru Time.

Apa yang sebetulnya kita cari dalam Me Time?

Siapalah yang nggak penat kalau saban hari ngerjain rutinitas yang itu-itu aja, baik yang kerja di ranah publik (karyawati kantoran) atau ranah domestik (ibu rumah tangga), masing-masing punya segunung tanggungan yang harus diselesaikan. Capek, penat, lelah, lesu, lunglai, bikin moody… sudah jelas.

Gara-gara kondisi itulah, kemudian kita semacam butuh yang namanya “draining situation“, alias keluar dari tekanan tersebut. Biasanya, kemudian kita akan berasa lebih nyaman.

Tapi apa yang kayak gitu namanya Me Time?

Ternyata yang demikian itu baru “kondisi minimal”. Karena itu baru menjalankan fungsi Me Time sebagai ajang relaksasi.

Iya, Me Time itu punya dua bagian. Fungsi relaksasi (relaxing) dan fungsi aktualisasi diri (flourishing).

Ketika sudah kenal dengan diri kita sendiri, kita butuh Me Time yang lain, yaitu aktualisasi diri. Bahasanya diibaratkan, kita melakukan Me Time dalam rangka mengupgrade diri, kalo bayangin bunga, dia mekar berkembang (flourish). Indah banget kan ya?

Kalau udah gitu, kita akan sadar bahwa Me Time bukan sekedar bebas dari realita saat ini, tapi Me Time adalah waktu dimana kita menemukan makna diri kita yang sebenarnya, diri kita yang terbaik, dan diri kita yang bahagia.

Sumber : pinterest

Sumber : pinterest

Jangan sampai, kita berdalih Me Time, tapi nyatanya terjebak dalam kondisi “Lazy Time”. Kalau kelamaan gitu-gitu terus, lama-lama hidup makin tidak produktif, merembet ke perasaan tidak bahagia bahkan tidak berharga lagi. Ngenes. Mulai deh, abis itu banding-bandingin hidup kita dengan orang lain. Abis itu sirik, Naudzubillah!

Ciri-ciri aktivitas Me Time yang bisa bikin “mekar berkembang” itu, meskipun kita capek ngejalaninnya, udahannya kita seneng banget dan semacam kayak ada “nilai tambah” dalam diri kita.

Yah intinya, buat ngedapetin Me Time yang berkualitas. Kita perlu, dan harus, kenal lebih jauh siapa sih diri kita (Me) lalu apa yang dibutuhkan dalam keseharian.

Dengan begitu, momen Me Time bisa jadi ajang untuk meningkatkan kualitas kehidupan dan pribadi kita.

Saya bersyukur akhirnya, dengan bangga saya katakan, saya selalu punya Me Time setiap hari, saat menulis blog, saat hadir dalam setiap kegiatan di yayasan dan RBK, saat bebenah rumah, saat nyuapin anak, saat ber-youtube tentang kajian/seminar, daaaan segudang aktivitas lainnya yang “ini gue bangetttt!”.

Bersambung.

Depok, 20 November 2017
(c) Silmina Ulfah

 

Hati-Hati Hati Busuk

Diri ini lebih sering buat gimana cara merawat kulit wajah, membaguskan penampilan dan mencerdaskan pikiran. Sambil sedikit-sedikit lupa bahwa ada hati yang harus dijaga kebersihannya.

Kalau hati kita sering gelisah. Bisa jadi itu berasal dari hati yang ingin dipuji, diperhatikan, dan dipandang.

Padahal namanya hati. Kalau sudah buruk, ya buruklah semua. Ibarat kalau botol, mungkin tampak luar ia kelihatan mewah, tapi siapa sangka kalau dalamnya isi comberan.

Diri sering terkecoh dengan topeng dunia. Topeng yang justru kelak akan menghinakan diri ketika ia menguasai isi hati. Termasuk didalamnya kebanggaan terhadap status dan jabatan. Juga rasa bangga terhadap apa yang dimiliki, berharap sekalimat pujian dari orang-orang.

Orang yang sibuk dengan penilaian mahluk, sungguh hidupnya tidak akan tenang. Kalau dengan diri sendiri saja ia tidak nyaman. Bagaimanalah orang lain bisa nyaman berada didekatnya.

Merasa sudah berjasa, juga satu dari sekian banyak penyebab busuknya hati. Semoga diri ini selalu dijaga dari hal-hal demikian. Benar kiranya bahwa musuh sejati bukanlah mereka yang menyakiti dengan perkataannya atau tindak-tanduknya. Musuh sejati itu berasal dari busuknya hati.

Sungguh hanya dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tenang.

Menulis adalah menasihati diri sendiri.

Depok, 16 Oktober 2017

[REVIEW] Dove Original Light & Smooth Deodorant – Home Tester Club

Pas banget deodorant spray habis dan saya kepikiran buat beli deodorant lain. Kebetulan join di Home Tester Club dan dia ada nawarin produk deodorant. Nggak pakai lama akhirnya saya apply untuk mencobanya. Kali ini saya bakalan sedikit cerita dan berbagi pengalaman saya menggunakan produk Dove Original Light & Smooth Deodorant ini.

Wah, dapat dua. Yang satu untuk teman atau saudara nih.

Wah, dapat dua. Yang satu untuk teman atau saudara nih.

Saya paling suka dengan signature aroma khas dove-nya, juga kemasan yang simple namun elegan karena ada warna emas pada logonya. Aroma khas dove ini memang menjadi favorit saya dibanding deodorant lainnya. Aromanya Soft, sweet dan creamy.

Cairannya tidak membuat lengket dan melembabkan kulit ketiak, setuju dengan claim satu-satunya deodoran yang mengandung 1/4 moisturising cream. Namun memang, menurut saya ini kalau untuk aktifitas outdoor, kurang bisa menahan bau badan dari keringat berlebih. Untuk mencerahkan, saya belum lihat ada yang signifikan (mungkin karena saya baru pakai semingguan ini aja).

Loved the design!

Loved the design!

Dove ini juga tidak membuat kerak pada bagian ketiak pakaian, ini yang membuat saya suka untuk deodorant model roll on. Biasanya saya menghindari roll on (biasanya saya pilih bentuk padat atau spray) karena terganggu dengan efek samping yang diberikan. Namun Dove beda.

Lembut dan nggak lengket.

Lembut dan nggak lengket.

Sebulan kedepan, kalau memang bisa mencerahkan dan menghaluskan, saya bakalan rekomenin ke teman-teman.

Depok, 25 Agustus 2017

[REVIEW] Bumbu Instan Bamboe Asia Tom Yum – Ikan Ekor Kuning

Ketika waktu sangat sempit, bayi anda sedang tidur dan anda sangat enggan terkena cipratan minyak saat menggoreng ikan, maka Bumbu Bamboe Asia Tom Yum adalah jawaban atas segala kegundahan itu. Berbekal sisa satu wortel di kulkas dan setengah kilo ikan ekor kuning, anda bisa mendapatkan sajian yang levelnya lumayan ketimbang beli masakan jadi di warteg/warpad.

Penampakan Bumbu Instan Bamboe Asia Tom Yum. Loved the packaging!

Penampakan Bumbu Instan Bamboe Asia Tom Yum. Loved the packaging!

Rasa-rasanya, tiada salahnya ketika belanja bulanan anda menyetok beberapa jenis bumbu instan sebagai inspirasi ketika mager mulai melanda. Salah satunya bumbu instan favorit saya sih ya si Bamboe ini. Favorit karena dia nyediain aneka ide masakan yang lebih variatif ketimbang merk lainnya. Selain itu dia modelnya kayak bumbu udah ditumis gitu alias mateng.

Petunjuk penyajian dan informasi lainnya.

Petunjuk penyajian dan informasi lainnya.

Tapi kalo kata saya mah, se-instan-instan-nya bumbu instan, ini cuma enak kalo kita tambahin bumbu sendiri juga. Buat tom yum ikan ini, berikut detail resepnya dan perkiraan biaya masak (Nggak termasuk garam, gula, gas, air) :

– Ikan ekor kuning 3 pcs (Rp. 15.000,-)
– Bawang Putih 5 siung (Rp. 1000,-)
– Daun jeruk 5 lembar (Rp. 100,-) > iya emang murah, orang gopek dapet serauk
– Sereh 2 batang (Rp. 500,-)
– Wortel sebats (Rp. 1000,-)
– Lemon 1 buah (Rp. 1000,-)
– Kecap Ikan 1 sdm (Rp. 200,-)
– Kaldu Jamur Merang (Rp. 700,-) > bisa di skip
– Setengah bungkus bamboe Tom Yum (Rp. 3000,-)

Pastanya begini modelnya.

Pastanya begini modelnya.

Cara masak, liat bungkusnya plus feeling dah. Waktu masak sekitar 20 menitan dan total  biaya abis Rp. 22.500,- untuk makan 3 orang. Kan! seorang berarti kena 7.500-an doang. Kalo beli ikan di warung padang seorang kena Rp. 15.000,-. You win! and saved Rp. 22.500,- *grin*

Penampakannya! Soo, Yummy!

Penampakannya! Soo, Yummy!

Review rasa : Tom yum banget lah, dulu suka kangen kalo makan di Steamboat  yang di margonda. Tapi sejak belajar bikin sendiri, jadi ga pengen kesana lagi. Kalo ga salah inget, sekali makan steamboat (bisa buat bertiga), itu sekitaran 80 ribu deh.

Nilai buat bumbu instan ini : 4/5

Saran : Next kalo tetep mau ikan, mungkin bisa cari jenis ikan yang strukturnya lebih setrong dan nggak cepet hancur pas di rebus. Mending fillet ikan yang tebel-tebel. Variasi lainnya kalian bisa pake cumi, udang, atau olahan seafood seperti crab stick atau bakso-baksoan.

#silminarecipe #silminareview #hematinshay #tomyum #fishtomyum #bumbuinstan #makananinstan

Depok, 18 Agustus 2017

Ide Masakan Gunung #2 : Terong Goreng Tabur Cabai Bawang Pakai Tepung Bakwan MamaSuka

Jangan keder ya sama nama resepnya haha, abisan bingung mau namain apa untuk resep kali ini. Yak, ide menu masakan yang kayaknya bakal cucok sama lidahnya orang Indonesia ini bisa jadi pilihan buat lauk pas lagi naik gunung. Selain bikinnya gampang, akhirnya kita juga bisa makan makanan yang bernutrisi ini. Jangan salah, akhirnya saya cari tau juga manfaatnya ni terong, dan ternyata dia emang punya khasiat ngatur asam lambung, pokoknya ramah banget ini makanan buat di usus.

Kita ini emang harus pilih-pilih ya sayuran yang dibawa itu harus tahan sama gempetan barang-barang di tas. Dan kayaknya nih ya, terong salah satu sayur yang setrong lah. Langsung aja nih resep sama cara bikinnya.

Bahan :
– Terong Ungu 1 buah (Rp. 1000,-)
– 1/4 bungkus tepung bumbu, saya pakai Miwon Tepung Bakwan Mamasuka 250G (beli di Indomaret Rp. 5700,-) berarti sekitaran Rp. 1.500 lah ya kepakenya.
– Bawang Merah 3 siung (Rp. 500,-)
– Bawang Putih 2 siung (Rp. 500,-)
– Cabe Merah & Rawit masing-masing 2 (Rp. 500,-)
– Garam secukupnya (bawa aja dari rumah, gratis >,<)

*itu harga perkiraan ya pas yang bumbu, aslinya mah lebih murah pastinya, itu buat acuan aja.

Mamasuka Tepung Bakwan

Mamasuka Tepung Bakwan

Cara buat :
– Iris kira-kira setengah cm terong
– Aduk 1/4 bungkus tepung bumbu dengan air, di kira-kira aja sampai mengental dan bisa bungkus irisan terong.
– Goreng dalam minyak panas, inget, tunggu panas dulu si minyaknya biar bagus hasilnya. Kalau warnanya udah agak coklat, angkat.
– Cincang bawang dan cabe, goreng sampai kering dan angkat.
– Taburin ke atas terong, dan tambahkan garam sedikit.

Sumpah, gampang beud.

Sumpah, gampang beud.

Total abis Rp. 4.000,- (belum termasuk minyak goreng dan gas yah). Cukuplah buat 3 orang makan.

Resep ini bisa juga buat ide pas lagi laper banget tapi pengen yang cepet-cepet gitu, kayak tadi pagi, belom sempet ke tukang sayur, adanya ini doang di kulkas. 15 menit, kelar dan si terong ini berhasil menjadi pemadam kelaparan sayah.

Ternyata emang lebih aman kita nyetok tepung bakwan, soalnya dia rasanya nggak terlalu asin, jadi kalau buat goreng sayuran pas. Beda kalau tepung-tepung bumbu yang buat daging, dia kurang cocok buat terong ini menurut saya. Pakai mamasuka ini teksturnya juga jadi ngembang gitu tapi tetep krenyes.

Recook? Of course!

#silminarecipe #mamanusantara #hematinshay

Depok, 14 Agustus 2017

Ide Masakan Gunung : Bikin Brownies Pake Teflon (Review Nutricake)

Kapan lagi ya kan bikin kuweh ga pake mikser dan cuma pake sendok!

Saya hobi travelling. Jaman di MAPA pas kuliah, kalau makan mah mayan ada gizinya karena itu tuntutan silabus setiap melakukan ekspedisi yang ngewajibin bikin menu harian (harus ada karbo, protein dan vitamin) berikut perhitungan kalori sehari 2500-3500 kalori pas lagi jalan menggunung. Iya diitungin, jadi kalo pas belanja bawa kalkulator sama catetan buat cari yang kalorinya tinggi pleus harga murah. Melototin tabel kalori snacks lamaa bener, yang nggak ngerti mungkin ngirain mau ngutil.

Pas belakangan, suka open trip dan nanjak bareng sama temen yang lain, main menunya back to basic, kalo nggak mie instan ya sarden. Padahal kalau dipikir-pikir tiap jalan ke swalayan, itu banyak banget makanan instan yang lainnya. Mungkin karena kita belum pernah coba jadi sangsi kalau mau coba-coba pas di gunungnya. Mangka dari itu, kali ini saya bakalan bikin series makanan instan. Kali aja yekan ada yang mau candle light dinner di gunung. (masa pake emi lodoh doang?!)

IMG_20170811_115538

BAHAN DAN CARA MASAK

Untuk postingan perdana ini saya bakalan review brownies-nya Nutricake. Bahan lain yang kudu disiapin cuman telur satu butir, margarin 100 gram (setengah sachet yang bentuk persegi itu lho) dan air 5 sendok makan. Campur semuanya, dan aduk sampai rata.

Kentelnya langsung pas pake 5 sendok makan air

Kentelnya langsung pas pake 5 sendok makan air

Brownies ini bisa di kukus atau di panggang. Karena saya niatnya buat ide masak di gunung, saya bakalan pakai cara panggang diatas teflon (saya pakai ukuran 20 cm). Kalau kalian ga punya teflon buat naik gunung, kalian bisa pakai nesting juga kok.

Saya pakek teflon 20 cm

Saya pakek teflon 20 cm

KUNCINYA SATU! Pakai api keciiiiil, biar gak gosong dan biar matangnya merata. Cara ngecek uda mateng apa belum, tinggal tusuk pakai garpu. Kalau garpunya bersih, itu uda mateng. Kalau di garpu masih ada tertinggal adonan, tungguin lagi sampe mateng. Kemaren ngetes di rumah si ini bisa mateng sekitar 20 menitan.

Apinya lebih kecil dari ini yaa, soalnya saya pake segini jadi agak cepet gosong

Apinya lebih kecil dari ini yaa, soalnya saya pake segini jadi agak cepet gosong

RASANYA KAYAK GIMANA SIH?

Awalnya nggak expect yang muluk-muluk, taunya pas uda jadi ini enak banget loh!. Menurut saya manisnya pas, gak kurang ga lebih. Dan istimewanya ini ada choco chipsnya!, nyoklat juga (nggak rasa coklat abal pokoknya). Nggak ada sensasi milky nya. Pas lah, ibarat kata ini brownies versi original. Jadi kalau kalian suka sensasi creamy, milky, kalian bisa pakein susu kental manis pas udah mateng, atau taburan keju.

Ajib yah! teflon doang padahal.

Ajib yah! teflon doang padahal.

Tekstur? moist gitu, nggak bikin seret atau enek.  Satu porsi ini menurut saya idealnya cukup untuk 3 orang. Cucok dinikmati bareng kopi. (aduh jadi kangen kemping!).

Desainnya eye-catching, plastiknya tebel, aman buat travelling

moist dan manisnya pas!

ABIS BERAPA?

Harga per-Agustus 2017
Nutricake 230 gram Rp. 12.500,-
Telur satu butir katakanlah Rp. 1.500,-
Margarin setengah sachet Rp. 3.000,-.

Total Rp. 17.000,- saja sodara-sodara!

Lumayanlah, kalau mau mevvah-mevvah-an di gunung. Meskipun emang kalo udah treking tiga jam mah, biskuit togo juga abis-abis aja.

Intinya, recommended!

Nilai : 4.5/5

 

Depok, 12 Agustus 2017

 

 

Dimensi Baru, Menjadi Ibu (Bagian Satu)

24 hari lalu, seorang bayi perempuan lahir dari rahim saya. Ya, belum genap setahun saya beradaptasi menjadi seorang istri, kini bertambah lagi status baru saya, menjadi seorang ibu. Satu tangga kehidupan harus dinaiki lebih tinggi lagi, satu amanah dan dimensi baru harus diselami betul-betul. Bukan pekerjaan sambilan, apalagi selingan.

Namanya Daniya Arijidhuha. Sejak tahu akan mendapatkan anak perempuan, ayahnya langsung menyebutkan nama ini. Belakangan ternyata, ia bercerita bahwa ia tipikal orang yang menyukai untuk mengingat hal-hal tertentu yang ingin selamanya ia kenang, termasuk ibu saya. Ya, ibu saya bernama Dani. Kalau dipikir-pikir, suku kata “ya” bisa saja dihubung-hubungkan dengan suku awal nama pak suami.

Bayi perempuan kami lahir pada tanggal 13 Mei 2017, 6 hari melewati HPL yang diinfokan dokter. Menjelang 7 Mei 2017, gelombang cinta itu belum juga muncul. Dengan berbekal ilmu seadanya, saya hanya memperbanyak doa dan gerak supaya memicu janin untuk menemukan jalan lahirnya. Saya perbanyak pergerakan saya dengan berkunjung kerumah sepupu, bahkan mengambil resiko tinggi dengan mengendarai motor matic dan membonceng sang sepupu.

Keesokannya, saya diajak berjalan-jalan (literally, jalan-jalan) ke Purwokerto. Gempor bukan main. Disini saya mulai merasakan ngilu-ngilu di bagian bawah perut saya. Mungkin saat itu kepala janin menyenggol-nyenggol panggul. Tepat hari Jumat, saya berjalan pagi sejauh kurang lebih satu setengah kilometer yang rasa-rasanya langkah saya semakin melambat, saya betul-betul cepat sekali kelelahan. Pulangnya, saya memilih naik ojek yang ternyata membawa kepada awal cerita perjalanan si bayi.

Sampai di rumah, saya sholat dhuha dan pada rakaat kedua saya merasakan seperti ada keputihan yang keluar. Setelah salam, saya ke kamar mandi dan tersenyum kala mengetahui bahwa ada bercak darah pada celana saya. Saatnya bersiap untuk menyambut momen persalinan. Perut mulai sering kencang, tapi saya belum merasakan nyeri. Hingga menuju isya, saya hanya perbanyak istirahat untuk mengumpulkan tenaga.

Jumat, 12 Mei 2017 (Pukul 21.00 WIB)

Selepas isya saya sudah tidur dan saya ingat pada pukul 21.00 saya terbangun karena merasakan perut yang mulas seperti akan datang bulan disertai hasrat ingin berkemih kira-kira setiap 20 menit sekali. Di saat yang sama, saya merasakan lapar, hari itu saya baru makan satu kali sebelum ashar. (mengingat himbauan dokter dan bidan yang menghimbau saya berdiet karena bobot bayi diperkirakan sudah melebihi 3,5 kg).

Saya mulai mencatat kedatangan gelombang cinta itu. Rasanya semakin lama semakin intens dan kuat. Entah ini karena mindset saja atau memang rasanya benar-benar seperti itu. Saya mulai menghubungi suami untuk memberi tahu bahwa sepertinya bayi ini akan lahir. Ia langsung pesan tiket kereta paling pagi keesokan harinya.

Jumat, 12 Mei 2017 (Pukul 23.00)

Saya sudah mondar-mandir, sepertinya ilmu untuk mengendalikan rasa mulas dengan bernapas seketika saja hilang. Yang ada dipikiran saya adalah, bagaimana cara supaya saya bisa lekas mengejan. Saya bangunkan adik ipar, mamah dan abah untuk memberi tahu mereka tentang apa yang saya rasakan. Saya bilang, rasa mulasnya sudah 10 menit sekali.

Tiba di IGD saya agak lemas pas tahu bahwa baru pembukaan satu oleh bidan kedua. Setelah bidan pertama memberikan informasi angin segar alias PHP dengan menginfokan kalau sudah pembukaan tiga. Mamah memberi pilihan apakah saya ingin pulang, atau tetap di RS. Saya minta untuk tetap di RS saja, akhirnya sebuah kamar dipesankan karena tidak kuat membayangkan lagi untuk merasakan kontraksi saat dibonceng  motor.

Di kamar, saya menyalakan murotal Quran . Adik dan mamah tidur di sofa sambil keberisikan saya yang bolak-balik ke kamar kecil dan mengerang. Saya tidak bisa tidur dan yang dipikiran hanya ingin lekas hilang rasa melilit yang munculnya semakin sering saja.

Jumat, 13 Mei 2017 (Pukul 04.30 WIB)

Mamah akhirnya sholat tahajud dan menenangkan saya dengan sabarnya. Dipijatnya kaki saya, dielus-elusnya perut saya sambil zikir. Alhamdulillah, meredakan kegelisahan saya. Setelah azan subuh, flek darah semakin banyak keluar. Adzan subuh berkumandang dan saya sholat sambil duduk di sofa. Kontraksi menyergap semakin sering dan rasanya semakin nikmat membuat saya bahkan tidak sanggup untuk membungkukkan badan.

Selepas sholat subuh, bidan ke kamar memeriksa sudah mencapai pembukaan tiga. (Apa?! Baru tiga? Kupikir ini sudah lima atau tujuh! perasaan rasanya semakin tidak keruan). Saya sudah tidak bisa bicara lagi kecuali mengucap Allah dan istighfar. Bidan menginfokan kalau pagi itu Dokter kami sedang jalan-jalan pagi (Rumah dokter ini masih satu pagar dengan Rumah Sakit), sehingga saya kemudian diajak untuk ke ruang bersalin untuk dibantu pengecekan.

Jumat, 13 Mei 2017 (Pukul 05.40 WIB)

Sekitar hampir jam enam pagi, dokter melakukan pengecekan yang membuat saya semakin bersemangat. Kata Dokter, sudah masuk pembukaan sembilan. Saya, Mamah dan beberapa bidan kaget sekaligus senang. Para bidan mulai menyiapkan tempat bersalin. Saya, tentu saja, semakin meringis menikmati gelombang cinta buah hati.

Selang infus mulai dipasang, (setelah lahir, saya baru bisa protes dan rewel sekali bertanya-taya mengapa harus dipasangkan infus segala). Diluar kamar, saya bisa mendengar beberapa saudara saya mulai berdatangan. Serasa sedang bertanding dengan banyak supporter. Mungkin jika dihitung-hitung, ada sepuluh kerabat keluarga yang menunggu kehadiran jabang bayi.

Jumat, 13 Mei 2017 (Pukul 08.30 WIB)

Singkat cerita, setelah dibantu didorong kaki kanan oleh mamah, kaki kiri oleh mbak Puah, perut di tekan oleh bidan puput dan dihadapan jalan lahir, sudah menunggu dua bidan lainnya, dengan dua kali tarikan napas penghabisan, bayi kami lahir. Byar, adem sekali perut terasa. Si bayi ditaruh di perut saya. Saya hanya bisa berucap hamdalah tiada hentinya. Mamah menangis sambil menciumiku. Proses yang lumayan panjang ini disponsori oleh rasa kantuk yang luar biasa. Sehingga tiada bosannya, Mamah, Mbak Puah dan Bidan meningatkan saya untuk tidak tertidur.

Yang saya ingat setelah itu, si Bayi dibawa ke ruangan lain. Para sanak saudara menghampirinya, saya bisa mendengar dari ruang bersalin. Sementara saya harus dipermak karena mendapatkan tindakan episiotomi, maklumlah karena si Bayi ini berbobot hampir jumbo yaitu 3.8 kg. Kalau tidak salah saat saya tanya ada berapa jahitan, si mbak bidan bilang 10 jahitan. Hampir sejam saya harus menunggu jahitan rapi dan observasi selama dua jam untuk di cek pendarahannya. Sambil menunggu itu semua, saya mengabari Bapak, dan keluarga di Depok.

Bersambung.

Bumiayu, 8 Juni 2017