Dimensi Baru, Menjadi Ibu (Bagian Satu)

24 hari lalu, seorang bayi perempuan lahir dari rahim saya. Ya, belum genap setahun saya beradaptasi menjadi seorang istri, kini bertambah lagi status baru saya, menjadi seorang ibu. Satu tangga kehidupan harus dinaiki lebih tinggi lagi, satu amanah dan dimensi baru harus diselami betul-betul. Bukan pekerjaan sambilan, apalagi selingan.

Namanya Daniya Arijidhuha. Sejak tahu akan mendapatkan anak perempuan, ayahnya langsung menyebutkan nama ini. Belakangan ternyata, ia bercerita bahwa ia tipikal orang yang menyukai untuk mengingat hal-hal tertentu yang ingin selamanya ia kenang, termasuk ibu saya. Ya, ibu saya bernama Dani. Kalau dipikir-pikir, suku kata “ya” bisa saja dihubung-hubungkan dengan suku awal nama pak suami.

Bayi perempuan kami lahir pada tanggal 13 Mei 2017, 6 hari melewati HPL yang diinfokan dokter. Menjelang 7 Mei 2017, gelombang cinta itu belum juga muncul. Dengan berbekal ilmu seadanya, saya hanya memperbanyak doa dan gerak supaya memicu janin untuk menemukan jalan lahirnya. Saya perbanyak pergerakan saya dengan berkunjung kerumah sepupu, bahkan mengambil resiko tinggi dengan mengendarai motor matic dan membonceng sang sepupu.

Keesokannya, saya diajak berjalan-jalan (literally, jalan-jalan) ke Purwokerto. Gempor bukan main. Disini saya mulai merasakan ngilu-ngilu di bagian bawah perut saya. Mungkin saat itu kepala janin menyenggol-nyenggol panggul. Tepat hari Jumat, saya berjalan pagi sejauh kurang lebih satu setengah kilometer yang rasa-rasanya langkah saya semakin melambat, saya betul-betul cepat sekali kelelahan. Pulangnya, saya memilih naik ojek yang ternyata membawa kepada awal cerita perjalanan si bayi.

Sampai di rumah, saya sholat dhuha dan pada rakaat kedua saya merasakan seperti ada keputihan yang keluar. Setelah salam, saya ke kamar mandi dan tersenyum kala mengetahui bahwa ada bercak darah pada celana saya. Saatnya bersiap untuk menyambut momen persalinan. Perut mulai sering kencang, tapi saya belum merasakan nyeri. Hingga menuju isya, saya hanya perbanyak istirahat untuk mengumpulkan tenaga.

Jumat, 12 Mei 2017 (Pukul 21.00 WIB)

Selepas isya saya sudah tidur dan saya ingat pada pukul 21.00 saya terbangun karena merasakan perut yang mulas seperti akan datang bulan disertai hasrat ingin berkemih kira-kira setiap 20 menit sekali. Di saat yang sama, saya merasakan lapar, hari itu saya baru makan satu kali sebelum ashar. (mengingat himbauan dokter dan bidan yang menghimbau saya berdiet karena bobot bayi diperkirakan sudah melebihi 3,5 kg).

Saya mulai mencatat kedatangan gelombang cinta itu. Rasanya semakin lama semakin intens dan kuat. Entah ini karena mindset saja atau memang rasanya benar-benar seperti itu. Saya mulai menghubungi suami untuk memberi tahu bahwa sepertinya bayi ini akan lahir. Ia langsung pesan tiket kereta paling pagi keesokan harinya.

Jumat, 12 Mei 2017 (Pukul 23.00)

Saya sudah mondar-mandir, sepertinya ilmu untuk mengendalikan rasa mulas dengan bernapas seketika saja hilang. Yang ada dipikiran saya adalah, bagaimana cara supaya saya bisa lekas mengejan. Saya bangunkan adik ipar, mamah dan abah untuk memberi tahu mereka tentang apa yang saya rasakan. Saya bilang, rasa mulasnya sudah 10 menit sekali.

Tiba di IGD saya agak lemas pas tahu bahwa baru pembukaan satu oleh bidan kedua. Setelah bidan pertama memberikan informasi angin segar alias PHP dengan menginfokan kalau sudah pembukaan tiga. Mamah memberi pilihan apakah saya ingin pulang, atau tetap di RS. Saya minta untuk tetap di RS saja, akhirnya sebuah kamar dipesankan karena tidak kuat membayangkan lagi untuk merasakan kontraksi saat dibonceng  motor.

Di kamar, saya menyalakan murotal Quran . Adik dan mamah tidur di sofa sambil keberisikan saya yang bolak-balik ke kamar kecil dan mengerang. Saya tidak bisa tidur dan yang dipikiran hanya ingin lekas hilang rasa melilit yang munculnya semakin sering saja.

Jumat, 13 Mei 2017 (Pukul 04.30 WIB)

Mamah akhirnya sholat tahajud dan menenangkan saya dengan sabarnya. Dipijatnya kaki saya, dielus-elusnya perut saya sambil zikir. Alhamdulillah, meredakan kegelisahan saya. Setelah azan subuh, flek darah semakin banyak keluar. Adzan subuh berkumandang dan saya sholat sambil duduk di sofa. Kontraksi menyergap semakin sering dan rasanya semakin nikmat membuat saya bahkan tidak sanggup untuk membungkukkan badan.

Selepas sholat subuh, bidan ke kamar memeriksa sudah mencapai pembukaan tiga. (Apa?! Baru tiga? Kupikir ini sudah lima atau tujuh! perasaan rasanya semakin tidak keruan). Saya sudah tidak bisa bicara lagi kecuali mengucap Allah dan istighfar. Bidan menginfokan kalau pagi itu Dokter kami sedang jalan-jalan pagi (Rumah dokter ini masih satu pagar dengan Rumah Sakit), sehingga saya kemudian diajak untuk ke ruang bersalin untuk dibantu pengecekan.

Jumat, 13 Mei 2017 (Pukul 05.40 WIB)

Sekitar hampir jam enam pagi, dokter melakukan pengecekan yang membuat saya semakin bersemangat. Kata Dokter, sudah masuk pembukaan sembilan. Saya, Mamah dan beberapa bidan kaget sekaligus senang. Para bidan mulai menyiapkan tempat bersalin. Saya, tentu saja, semakin meringis menikmati gelombang cinta buah hati.

Selang infus mulai dipasang, (setelah lahir, saya baru bisa protes dan rewel sekali bertanya-taya mengapa harus dipasangkan infus segala). Diluar kamar, saya bisa mendengar beberapa saudara saya mulai berdatangan. Serasa sedang bertanding dengan banyak supporter. Mungkin jika dihitung-hitung, ada sepuluh kerabat keluarga yang menunggu kehadiran jabang bayi.

Jumat, 13 Mei 2017 (Pukul 08.30 WIB)

Singkat cerita, setelah dibantu didorong kaki kanan oleh mamah, kaki kiri oleh mbak Puah, perut di tekan oleh bidan puput dan dihadapan jalan lahir, sudah menunggu dua bidan lainnya, dengan dua kali tarikan napas penghabisan, bayi kami lahir. Byar, adem sekali perut terasa. Si bayi ditaruh di perut saya. Saya hanya bisa berucap hamdalah tiada hentinya. Mamah menangis sambil menciumiku. Proses yang lumayan panjang ini disponsori oleh rasa kantuk yang luar biasa. Sehingga tiada bosannya, Mamah, Mbak Puah dan Bidan meningatkan saya untuk tidak tertidur.

Yang saya ingat setelah itu, si Bayi dibawa ke ruangan lain. Para sanak saudara menghampirinya, saya bisa mendengar dari ruang bersalin. Sementara saya harus dipermak karena mendapatkan tindakan episiotomi, maklumlah karena si Bayi ini berbobot hampir jumbo yaitu 3.8 kg. Kalau tidak salah saat saya tanya ada berapa jahitan, si mbak bidan bilang 10 jahitan. Hampir sejam saya harus menunggu jahitan rapi dan observasi selama dua jam untuk di cek pendarahannya. Sambil menunggu itu semua, saya mengabari Bapak, dan keluarga di Depok.

Bersambung.

Bumiayu, 8 Juni 2017 

Pada Akhirnya Cinta

Mencintai seseorang bisa saja terjadi karena pada awalnya menyukai bagaimana parasnya ia, menyukai cara berbicaranya, menyukai prestasi-prestasinya dan hal-hal lain yang tampak olehmu.

Namun itu pada awalnya…

Jika pada akhirnya kau memutuskan untuk bersamanya sepanjang hidupmu, maka kau pun harus mencintai apa yang kemudian baru tampak darinya. Mencintai proses kalian berdua. Karena ketika kau berkomitmen menjadi sepasang suami istri, kalian akan berubah. Dari dua menjadi satu. Bersama-sama saling menjaga, bersama-sama saling ingatkan taqwa dan ridha Sang Pemilik Cinta.

© Silmina Ulfah | Bumiayu 24 April 2017

Bukan Sekedar Tujuan Tuan

Jadi apa tujuanmu pagi ini?, kau tahu? selama hidup ini jika kau tak pernah menanyakan pertanyaan ini kepada hatimu. Sia-sia. Sia-sia hidupmu!. Bahkan tanaman sirih tahu betul ia harus merambat, supaya tidak mati dan layu. Kau…kau manusia, bukan tanaman, harusnya lebih cerdas daripada itu.

Yang membuatmu sulit itu bukannya keinginanmu belum terpenuhi. Tapi karena kau khawatir akan hidup susah hari ini dan nanti. Kau meruwetkan pikiranmu sendiri dengan was-was tak beralasan, itu karena kau tak mengenal tujuan.

Bukan sekedar tujuan tuan, tapi tujuan Tuhan.

Kau mengerti? Ah, seharusnya kau mengerti kawan.

Desas-desus manusia membanjiri pikiranmu. Kau kemudian iku-ikut arus tersebut dengan duduk mendengarkan, sesekali memberikan komentar asal. Kubilang, tinggalkan. Sebelum nanti kau menyesal karena kau tahu kondisinya akan semakin menyeramkan. Tinggalkan desas-desus itu sebelum kau menyesal karena tidak ada yang kau bisa harapkan selain pertolongan Tuhan. Atau lebih parah, tinggalkan sekarang, sebelum kau mempertanyakan kekuasaan Tuhan.

©SILMINA ULFAH | BUMIAYU, 12 APRIL 2017

[Review] Pengalaman Menjadi Freelancer via Projects.co.id

Gambar diatas adalah screenshot honor yang saya dapatkan untuk penulisan artikel dengan tema Lifestyle di cintaihidup.com, kok bisa?

Pernah punya niat untuk dapat uang tambahan dari online? lewat menulis? mungkin pengalaman saya ini bisa menjadi salah satu jawabannya. Sebagai seorang ibu yang sedang mempersiapkan kelahiran alias cuti kerja. Saya beruntung mendapatkan informasi adanya sebuah platform marketplace yang bisa mempertemukan saya dengan pemberi kerja.

Apalagi, pekerjaan itu berkaitan dunia tulis menulis. Tanpa ragu saya langsung register untuk menjadi membernya. Marketplace itu bernama projects.co.id. Awalnya saya sempat meragukan apakah saya benar-benar akan mendapatkan pekerjaan dari sini. Soalnya pernah juga punya pengalaman yang sama di situs serupa. Tapi, beberapa kali saya apply penawaran kerja, selalu saja “kalah” bid dari pesaing.

Tepatnya sehari setelah saya membuat keanggotaan dan apply beberapa penawaran menulis, akhirnya saya berhasil mendapatkan dua project. Masing-masing saya diminta untuk menulis artikel berjumlah 900 kata keatas. Keduanya menuntut saya untuk rajin-rajin riset konten supaya tidak ditemukan “unoriginal text” alias kalimat copas-an, meskipun hanya satu kalimat.

Rasanya? Wow sekali. Bagi saya yang baru ini, tantangan menjadi seorang creative content ternyata sangat-sangat membuat degdegan. Meskipun target saya itu hanya diminta dua judul perhari. Tapi percayalah, ini sama sulitnya dengan membuat abstraksi tesis. Biasanya saya menulis sesuai dengan mood, atau lebih parah… saya menulis kalau saya ingat!. Bersyukur saya jadi terpacu untuk bisa memproduksi tulisan yang tidak hanya mementingkan diri sendiri, tapi juga para pembaca.

Saya juga menemukan momen dimana menulis itu sebagai kegiatan profesional yang benar-benar menjanjikan. Saya jadi ingat resolusi untuk bisa berkomitmen menulis minimal sehari satu tulisan. Dan kini, berkat projects.co.id saya (mulai) meniti komitmen itu.

Pekerjaan yang Saya Dapatkan dari Projects.co.id

Berikut saya tambilkan salah satu pekerjaan yang saya dapatkan dari projects.co.id.

SS-projectscoid

 

Pada project ini, saya diminta untuk membuat artikel bertema psikologi. Si Owner (pemberi kerja) memberikan kata kunci untuk tulisan yang saya buat. Kata kunci diberikan satu per satu secara bertahap. Setelah dianggap ok, tulisan akan di publish di website (www.dosenpsikologi.com). Kemudian owner melanjutkan pemberian tugas kepada saya.

Berikut penilaian saya selama (baru semingguan) menggunakan projects.co.id

  1. Tampilan portal sangat user-friendly.
  2. Bahasa yang digunakan mudah dimengerti.
  3. Mudah untuk menjelajah pekerjaan yang ditawarkan.
  4. Format sangat lengkap sehingga kita sebagai pencari kerja akan mudah sekali melihat detail pekerjaan yang ditawarkan.
  5. Menggunakan rekening bersama sehingga terjamin dari segala bentuk kecurangan.
  6. Ada fitur chat untuk bisa komunikasi cepat dengan si pemberi kerja.
  7. Ada notifikasi via sms untuk setiap bid yang kita dapatkan.
  8. Ketika kita “kalah” bid, akan masuk informasi ke email kita. Kita juga bisa tahu, berapa dan siapa yang akhirnya memenangkan pekerjaan tersebut.
  9. Tersedia tips-tips yang sangat bermanfaat. Misalnya supaya kita bisa mendapatkan project, supaya terhindar dari penipuan, tips optimasi profil kita supaya agar meningkatkan kesempatan mendapatkan pekerjaan dll.
  10. Mudah untuk menarik dana dari sistem ke rekening kita. Verifikasi melalui nomor telepon yang kita daftarkan di projects.co.id.
  11. Tidak ada biaya transfer tambahan untuk bank tertentu. (saya pakai BCA, daftar bank lain yang tidak dikurangi biaya transfer antara lain : BNI, BNI Syari’ah, Mandiri dan CIMB Niaga. Selain dari itu, biaya dipotong Rp. 7.500 per sekali penarikan.

Kira-kira segitu dulu ulasan pengalaman saya menggunakan projects.co.id yang so far so good. Semoga bisa bermanfaat buat teman-teman semua. 🙂

 

Silmina Ulfah | Bumiayu, 10 April 2017

[Review] Nyobain Ramen dan Sushi-nya Tanoshii (Depok)

Kadang kita harus hati-hati sama mata kita. Cuma gara-gara nonton What Owning a Ramen Restaurant in Japan is Like di Youtube, suami jadi ngiler dan kepingin makan ramen. Hari sudah gelap pula, mata juga hampir kiyep-kiyep karena seharian sudah beraktifitas diluar sampai sore. Kadang saya bingung, kenapa saya yang hamil tapi dianya yang “ngidaman”.

Anyway, gara-gara ragu sama review dari zomato, akhirnya saya minta rekomen dari beberapa temen saya yang suka icip-icip aneka makanan alias doyan makan.  Oh kalau di resto “DBK” biasa aja kayak mie instan, kalo di “TKR” hambar juga kayak mie instan, kalau yang paling lumayan sih di Tanoshii, kata temen saya. Yaudah abis itu saya nelpon buat nanyain buka sampe jam berapa. ternyata kedai ramen ini tutup jam setengah 10 malam.

Fix, abis suami pulang isya-an kita cus ke Tanoshii. Padahal gerimis-gerimis kecil ituh. Kan maen dah, langkah tiada gentar. Saya sendiri jadi mikirin besok-besok berarti kudu makin ketat pengeluaran, nggak ada hengot-hengot lagi >,< . (dasar emak-emak!).

Tanoshii Ramen & Donburi

Sampai di Tanoshii kita jadi satu-satunya pelanggan. Tanoshii ini bentuknya ruko tiga lantai yang gabung sama studio58 (studio musik). Suasana temaram karena lampu yang dipake warna kekuningan, saya sendiri sukanya yang begini, nggak silau. Bangku-meja kayu sederhana (nggak ada bantalannya buat duduk, jadi ga betah lama-lama saya 😛 ). Pas masuk berasa suasana jepangnya, musik lagu-lagu jepang. Hiasan dinding gambar sketsa komik ala-ala jepang gitu. Untuk fasilitas lain, ada toilet yang lumayan bersih (baca : nggak bau) dan juga ada free wifi.

Pas buka daftar menu, saya seneng karena menu-menunya ada foto masakannya, jadi kebayang makanannya kayak apa, ada penjelasannya juga di tiap menunya. Untuk ukuran sushi ramen, cenderung terjangkau harganya.

Yang kocak, suami malah milih sushi (bukannya daritadi pengen makan ramen -,-” ??). Tapi yasudah, akhirnya dia pilih Tobiko Roll dan saya pilih Beef Spicy Ramen. Dan tetiba kepengin es krim matcha (dalem hati, ah paling eskrimnya biasa aja, gak apa-apalah, cuma lima belas ribu ini). Sama untuk minum kita pesen teh panas. (pesen minum cuma satu karena saya bawa botol minum).

Pesanan Datang!

Nggak lama kemudian, datenglah itu es krim sama teh panas. Saya girang banget karena isinya ada dua scope dan dari warnanya kebayang itu pasti teh ijonya berasa. Teh panas juga disuguhkan, saya suka sama gelas keramik-nya (pengen bawa pulang).

Matcha Ice Cream

Pas kita nyobain…., bener ternyata! esgrimnya enak banget! matchanya berasa banget, pengalaman pernah beli eskrim matcha malah banyakan rasa susu-nya. Tapi ini beda, teksturnya agak padat dan aromanya sedap! Kami syuka sekalih!. Ini pas makanan kita udah abis, kita pesen satu porsi lagi. (iya..kita doyan!). Nilai 4.5/5!

Matcha Ice Cream Tanoshii
Matcha Ice Cream Tanoshii

Tobiko Roll

Pas dateng, doeng!.. agak kaget karena sizenya piyik-piyik ketimbang resto sushi yang di “STMBT” sama di “TKR”. Dalem hati berbisik, ini mah mana kenyang!. Isinya ada delapan potong. Disajikan bersama jahe merah, wasabi dalam wadah piring keramik. Pas dicobain, Waakk.. ini entah emang karena udah lama nggak makan sushi apa gimana, ini enak!. Terakhir nyoba di warung “STMBT” yang deket stasiun pocin itu, cuma kayak nasi di kepel-kepel trus dikasih ikan aja soalnya. Kali ini saya angkat jempol untuk sushi seharga 27.000-an ini. Ternyata ukurannya pas yah di mulut, jadi ngunyahnya juga enak. Nggak kudu megap-megap gimana gitu kan jadinya. Luarnya ada telur ikan dan mayo, dalemnya ada krenyes-krenyesnya.  Nilai 3.75/5!

Tobiko Roll Sushi
Tobiko Roll Sushi

Beef Spicy Ramen

Saya nggak pernah nyobain tekstur mie Ramen yang asli kayak gimana. Perasaan lidah saya untuk tekstur mie-nya sih seperti mie biasa saja. Kenyalnya kayak mie instan gitu, cuma ukurannya aja lebih gede sedikit. Tapi keistimewaan ramen ini ada di kuahnya!. Iya kuahnya itu sedep, kentel dan berasa spicy-nya. Ketimbang ramen yang ada di resto “GKNTPN” di dmall itu, ini jelas jadi juaranya. Pernah juga nyobain ramen di resto “TKR”, itu malah hambar ama aroma langu rumput lautnya mengganggu. Meh.

Beefnya empuk, penyajian menarik!. Saya kasih nilai 3.75/5!

Spicy Beef Ramen
Spicy Beef Ramen

Karena masih berasa laper dan penasaran, kita pesen satu menu lagi yaitu Crispy Roll.

Rasanya?, kalau dibanding Tobiko, ini lebih unik lagi karena ada diatas sushinya ada kulit salmonnya yang crispy. Pertama liat sih, salmonnya yang silver-silver ini mirip sama alumunium foil wkwk. Pas dicobain kok ya nagih gitu. Kayaknya saya sanggup makan tiga piring!. Bentuk juga sama, masih piyik-piyik, cuma saya bener-bener  kehibur sama rasanya 😀 . Saya kasih nilai 3.8/5!

Crispy Roll Sushi
Crispy Roll Sushi

Saya cukup puas nongkrong di mari. Abis makan, kami bahagia. Nggak begah, nggak kurang juga. Passs. Juga karena kocek yang kirain bisa sampe dua ratus ribu ternyata  nggak sampe segitu. Yepp, kita ngabisin seratus dua puluh tujuh ribu sajah sodara-sodara!. Tanoshii,  meskipun kamu keliatannya sepi, pokoknya kamu jangan tutup ya!.

Pas kita mau pulang, juga udah ada beberapa meja lain yang terisi pelanggan. Keduanya terdiri dari ibu-ayah-anak, saya liat orderannya itu donburii gitu, saya jadi penasaran juga. Kapan-kapan saya mau coba Donburii-nya juga ah!.

Silmina Ulfah | Depok, 2 April 2017

Menghargai Diri, Menghargai Proses

Hati saya yang terlalu sempit atau memang saya harus menerima bahwa orang yang telah mempergunakan candaannya yang bagi saya kurang ngajar itu sebagai sebuah intermezzo? kadang saya suka heran terhadap orang-orang yang mengaku lebih memahami semua yang saya kerjakan, atau menilai saya dari apa yang saya sedang kerjakan.

Dimana arti menghargai proses? kalau ujung-ujungnya, saya bisa melihat gerak-gerik yang sangat tidak nyaman dari anda? Tapi akhirnya dari sikapmu yang seperti itu, saya mulai belajar untuk tidak menjustifikasi seseorang dari apa yang mereka pilih dari kehidupannya. Ya, tiap manusia akan mempertanggungjawabkan apa yang sudah mereka kerjakan dan pilih didunia.

Saya akan belajar lagi untuk tidak peduli pada apa penilaian orang lain. Karena saya yang mejalani hidup saya. Saya tidak suka hidup dalam ketakutan pada mahluk, saya adalah manusia yang seharusnya takut pada ketentuan Allah. Apakah mungkin Allah turunkan Rasul, Sahabat, Thabiin hanya sebagai pajangan dan kisah-kisah belaka? Apakah mungkin Dari sekian ratus kitab yang tertulis berisikan tentang cara bertaqwa kepada Allah itu kesemuanya adalah salah? Apakah mungkin, kita hanya bersandar pada terjemahan “Sekenanya” dan bahkan dirinya sendiri tidak mampu menyelesaikan apa yang sedang ia baca?

Lalu ketika kelak saya berdiri di hadapan Allah untuk bersaksi, apakah orang-orang yang memberikan penilaian itu akan mampu bertanggungjawab terhadap apa yang saya kerjakan? Jaminan apa yang mereka bisa berikan sehingga saya harus menjalankan perbuatan A, B dan C?

Saya sendiri menginginkan kebenaran, disisi lain saya memahami bahwa Allah tidak mungkin turun langsung dan bicara pada saya tentang jalan mana yang harus saya pilih. Jadi, berhentilah memberikan justifikasi kepada orang yang menurut anda berbeda.

Silmina Ulfah | Depok,  29 Maret 2017

 

#MemesonaItu Yang Seperti Ini

Sumber gambar : MrWallpaper.com
Sumber gambar : MrWallpaper.com

Tidak ada satupun salon kecantikan di dunia ini yang mampu memancarkan sebuah pesona sejati. Bahkan kosmetik paling mahal-pun tidak akan  ada yang mampu melakukannya. Itu karena …

#MemesonaItu ada pada orang yang ketika kita melihatnya, kita tidak merasa kurang pada keadaan diri kita. Karena kita tahu, yang membuat orang itu memesona bukanlah tentang apa yang sudah ia miliki sekarang ini. Ya, Pesona tidak  akan pernah membuat kita iri karena pesona sejati hanya akan membuat kita terinspirasi atau bahkan jatuh hati, itu karena pesona laksana pancaran intan. Sebuah pencapaian yang hanya didapatkan oleh jiwa-jiwa yang tangguh melewati proses diri dalam siklus kehidupan.

Kita tahu bahwa orang yang #MemesonaItu adalah juga mereka yang sadar dan memahami betul apa yang menjadi tujuan hidup dirinya, sehingga apapun yang ia lakukan bukanlah sekedar ikut-ikutan apalagi gaya-gayaan. Dan kau tahu? bahkan ketika ia gagal, pesonanya justru semakin berpendaran, karena ia memilih untuk segera bangkit dari kekalahan dan melakukan perbaikan.

Orang yang #MemesonaItu merawat dirinya bukan sekedar karena hanya ingin  tampil cantik dan menawan. Tapi ia melakukannya sebagai bentuk syukur atas pemberian Tuhan. Ia akan berusaha untuk selalu memberikan senyuman yang menawan, bukan demi pujian dan sorotan, tapi demi menjadi wanita impian, yaitu mereka yang cerdas dalam menjaga kehormatan.

Orang yang #MemesonaItu tidak perlu membanding-bandingkan pesona dirinya dengan pesona orang lain. Karena ia tahu setiap orang memiliki zona pesona yang berbeda-beda. Ia akan lebih disibukkan untuk membandingkan dirinya yang sekarang, dengan dirinya di masa lalu. Karena baginya, seharusnya kita menjadi diri yang disibukkan untuk terus menjadi pembelajar, demi perubahan diri yang mendewasakan.

Pesona itu tidak butuh pengakuan, karena pesona adalah sesuatu yang disematkan.

Orang yang #MemesonaItu bukan artinya lahir tanpa kekurangan. Bedanya, ia tak mengeluh atas kekurangannya itu, dan fokus terhadap kemampuan lain yang bisa ia maksimalkan. Orang dengan pesona tidak pernah sibuk dengan penilaian orang yang melemahkan, dan menjadikan sebuah kritikan sebagai sesuatu yang justru menguatkan.

#MemesonaItu adalah tentang cara kita memelihara kebaikan sejak dalam pikiran. Karena setiap kebaikan tidak akan melahirkan sesuatu kecuali keindahan. Keindahan sikap dan sifat dalam keseharian. Dan dibutuhkan seni menikmati pertumbuhan untuk terus bisa memancarkan keindahan.

Apa itu seni menikmati pertumbuhan?. Personal kita dibentuk oleh apa yang kita baca, dengar, lihat dan rasakan. Saat kita dihadapkan pada persoalan, kita akan diminta untuk menggabungkan segala pengalaman dan pembelajaran itu untuk bisa diselesaikan. Yang menarik, seringkali kita akan temukan jawaban dari pancaran pesona orang-orang disekeliling kita.

Kata orang, karakter itu terbentuk dari sebuah kebiasaan selama hidupnya. Itulah mengapa bagi saya, orang-orang berkarakter dan mereka yang memiliki prinsip adalah orang-orang yang memesona. Apa yang mereka kerjakan bahkan menjadi bahan renungan. Apa yang mereka katakan menjadi bahan pemikiran yang mendalam. Apa yang mereka hasilkan banyak memberikan manfaat dalam keseharian.

Seperti R.A. Kartini, dengan pesona pemikirannya. Cut Nyak Dien, dengan pesona ketangguhannya atau pesona gadis keturunan Pakistan peraih nobel perdamaian bernama Malala Yousafzai dalam melawan penindasan anak-anak dan memperjuangkan hak pendidikan bagi mereka. Bagi saya, inilah pesona sejati.

#MemesonaItu adalah jiwa yang penuh cinta. Tampil memesona-lah! mulai dari merawat diri dan berani tampil percaya diri. Pancarkan pesonamu itu, karena yang seperti kamu hanya ada satu. Dan yakinlah, kamu juga punya pesona itu! 🙂

505

Mempertanyakan Konsistensi

Pernah tidak, rasanya kau ingin sekali menulis sesuatu, namun tidak juga tertulis karena tidak tahu  mau mulai dari mana. Karena begitu banyak jendela-jendela dipikiran kita yang minta diperhatikan dan merasa layak untuk dituliskan terlebih dahulu. Menjadi manusia bermanfaat itu memang tantangan yang bukan main-main. Kita tidak hanya diminta untuk sekedar menyelesaikan pekerjaan saja, tapi juga meningkatkan hasil pekerjaan sehingga manfaatnya bisa semakin luas dirasakan oleh orang lain.

Kadang saya sendiri juga bertanya-tanya, mengapa begitu banyak orang yang seolah-olah menginginkan mendapatkan ini itu tanpa terlebih tahu apa tujuannya. Tujuan sangat penting, niat juga tidak kalah penting. Mau sebanyak dan setinggi apapun pencapaian kita, kalau kitanya tidak tahu itu untuk apa, jangan menyesal kalau nanti ujung-ujungnya mengeluh dan menyerah, sia-sia sudah semua perkara.

Ya kadang saya juga masih bertanya-tanya kenapa saya begitu ingin menulis dan menjadi penulis. Bertanya-tanya motifnya sampai-sampai tidak selesai satu tulisanpun pada akhirnya. Lima tahun lalu saya pernah membuat semacam target untuk bisa menerbitkan satu buah buku dalam tiga tahun. Nyatanya, ini sudah lebih mundur dua tahun dari rencana dan belum ada sebuah buku pun yang terbit.

Tapi satu hal yang ingin saya yakinkan pada diri saya sendiri. Yakni bahwa menulis adalah tentang menyelam-nyulam makna yang sudah dipelajari. Menyuarakan batin dan suara hati. Menasehati diri sendiri dan generasi. Karena jasad akan mati, namun karya akan abadi.

Silmina Ulfah | Depok, 24 Maret 2017

Nasihat : Mengingat Nama-Nya

Kenikmatan dalam merasakan cinta-Nya Allah adalah sebenar-benarnya nikmat. Apalah kita di dunia ini? kita adalah mahluk yang hanya diminta untuk beribadah kepada-Nya. Mahluk yang diminta dalam setiap tarikan nafasnya mengingat Allah, dalam setiap kehendak aktivitasnya untuk Allah, selamanya.

Apakah kita kecewa pada manusia? tidak. Kita tidak akan pernah sekalipun kecewa pada manusia kalau kita tidak berharap darinya. Kita tidak akan pernah merasa disakiti ataupun dikhianati oleh manusia kalau kita tidak bersandar pada mereka. Kitalah yang keliru dalam memandang itu semua.

Kita kecewa karena kita jauh dari Allah. Kita merasa disakiti karena kita tidak selalu berusaha dalam setiap detiknya untuk bisa mengingat nama-Nya.

Silmina Ulfah | Depok, 8 Maret 2017

Nasihat : Apakah Kita Akan Begini-Begini Saja?

Begitu banyak orang berkata ingin mencapai keselamatan dunia dan akhirat. Tapi untuk perkara menjaga hati dan pikiran dari buruknya prasangka saja tak mampu ia jaga. Bukankah kita sering membaca sekalimat “…kebanyakan mereka tidak mau memikirkan”, “..kebanyakan manusia tidak beriman”, “…kebanyakan manusia tidak bersyukur”, “…kebanyakan manusia tidak memperhatikan.” dan “kebanyakan-kebanyakan” lainnya?

Apakah kita akan masuk ke dalam orang yang banyak itu? Atau kita memutuskan untuk menjadi bagian yang “sedikit”?

Kosa kata apa lagi yang Allah perlu sampaikan kepada kita supaya kita mau menurut pada-Nya? Perumpamaan dan tanda-tanda apa lagi yang akhirnya harus Allah munculkan dikepala kita untuk kita renungi supaya tidak ada sedetikpun pikiran kita kecuali dzikir? Tidak ada lagi aktivitas sia-sia yang kita kerjakan sehingga melalaikan yang seharusnaya kita tunaikan? Apa lagi?

Yang sedikit itu, memilih sabar ketika terasa diuji. Yang sedikit itu, memilih sedikit makan dan tidur untuk memaksimalkan ibadah-ibadah sunnah. Yang sedikit itu, memikirkan hak-hak orang lain yang Allah titipkan pada harta dan jiwa kita. Yang sedikit itu, menahan amarah dan dan lembut dalam berkata-kata.

Atau apakah kita akan begini-begini saja?

Silmina Ulfah | Depok, 3 Maret 2017