Bagaimana Menjadi Ibu Profesional? | Part 1

Menjadi seorang ibu adalah sebuah keniscayaan (bi idznillah, insyaa Allah). Namun seberapa siap kita mengemban amanah itu? sedangkan seingat saya, sejak sd, tidak pernah ada mata pelajaran khusus untuk pendidikan “How to be a Professional Mother?”. Padahal jelas, ibu adalah  madrasah yang pertama bagi tiap manusia. Beruntung, kini teknologi internet berhasil menggiring saya kepada tautan-tautan yang mempertemukan kepada teladan-teladan pertanyaan tadi. Mulai dari kisah para istri nabi, keluarga imran, keluarga ibrahim, hingga wanita-wanita mulia yang berprofesi sebagai seorang Ibu, salah satunya Ibu Septi Peni. Beliau bukan hanya sekedar ibu, namun ia juga aktif bergerak di masyarakat untuk memberikan penyuluhan kepada ibu-ibu lainnya, tajuknya sangat menarik, yakni “Bunda Shalihah”. Beliau dengan pelatihannya, berusaha untuk merevitalisasi makna ibu, ya, seorang ibu yang bersungguh-sungguh menjalankan tugas hidupnya.

Kisah ibu Septi memang sudah lama sekali saya baca. Ya, tentang ibu rumah tangga yang tidak menyekolahkan anak-anaknya seperti sebagian banyak keluarga lain, namun kini ketiga anaknya justru berhasil di bidangnya masing-masing. (Untuk lebih lengkapnya bisa baca disini). Dari link tersebut, saya pun mulai mencari-cari beliau di saluran youtube, sampailah kepada video berdurasi 20 menitan yang berisi tentang pemaparan resume tahapan bagaimana menjadi ibu yang profesional. Bisa dilihat dibawah :

Dimulai dengan menginstall bahwa anak adalah amanah yang harus kita jaga dengan mempersiapkan diri, bu septi menjelaskan tentang fitrah seorang anak :

1. Homo Ludens, anak adalah mahluk yang senang dengan permainan dengan bermain.

Bagaimana kita bisa mendidik anak? jika bermain dengan anak saja kita tidak bisa?. Bermain memang terdengar mudah, tapi mempersiapkan suasana bermain bagi anak menjadi PR besar jika kita tidak terbiasa berkomunikasi dengan anak-anak. Mungkin ada sebagian dari kita yang merasa kesulitan untuk menyamakan frekuensi untuk bisa masuk ke anak-anak, atau juga kita tidak sadar bahwa kita tidak menggunakan bahasa sederhana yang bisa dimengerti anak. Yes. Mengajak anak bermain pun kita harus pelajari. Persiapkan. (btw tadi juga lihat channel Kompas TV, ada seorang ibu yang kreatif banget bikinin aneka mainan dari kardus bekas, lihat disini).

2. Rentang konsentrasi anak adalah 1 menit di kalikan dengan umurnya.

Jangan sampai, kelak kita mengajari anak membaca di usia 5 tahun, kita paksa dia untuk bisa berkonsentrasi 10 menit. Siapkan ice breakin setiap 5 menit untuk mereka. Tenang, seorang anak itu fitrahnya punya keingintahuan yang tinggi, yes, naturalnya mereka adalah mahluk pembelajar, sehingga tugas kita sebetulnya adalah tinggal membuat mereka tidak sekedar bisa belajar, tapi suka belajar. Kalau ada anak yang tidak suka belajar, silahkan pertanyakan kepada diri kita sendiri. Sudah oke apa belum? 😛

Masa emas anak-anak ada di usia 0-3 tahun. Pada masa-masa inilah sebaiknya orang tua meletakkan prioritas waktunya kepada anak-anak. Dan untuk perkembangan otak, 80% ada pada masa 0-8 tahun, sehingga sangat baik jika pada masa itu kita sudah membekali diri dengan kurikulum terbaik untuk kita berikan pada anak-anak kita.

Pembentukan karakter ada pada masa 0-12 tahun. Selepas masa ini, mereka akan hidup dengan bekal karakter yang sudah terinstall. Setidaknya ada 4 learning model yang diperkenalkan oleh ibu septi, yang menurut beliau akan cocok digunakan untuk segala rentang usia, yaitu :

1. Intelectual Curiousity, bagaimana kita bisa menaikkan rasa ingin tahu anak-anak.
2. Creative Imagination, bagaimana kreatifitas anak-anak bisa berkembang bersama dengan kita.
3. Art of Discovery Invention, bagaimana akhirnya anak-anak bisa menjadi penemu-penemu dari apa yang selama ini mereka pelajari.
4. Noble Attitude, bagaimana anak akhirnya bisa memiliki ahlak yang mulia, dan kelak menjadi khalifah di muka bumi.

Setelah menjelaskan prolog tentang fitrah anak dan learning model, ibu septi menjelaskan bahwa ada beberapa tahapan untuk menjadi seorang ibu profesional.

Bersambung aja ya 🙂

Depok, 30 Juni 2016