Bapak H.O.S Tjokroaminoto : Raja Jawa Tanpa Mahkota (Review Film)

“Lelap terus, dan kau pun dipuji sebagai bangsa terlembut di dunia. Darahmu dihisap dan dagingmu dilahap sehingga hanya kulit tersisa.

Siapa pula tak memuji sapi dan kerbau ? orang dapat menyuruhnya kerja dan memakan dagingnya. Tapi, kalau mereka tahu hak-haknya, orang pun akan menamakannya pongah, karena tidak mau ditindas.

Bahasamu terpuji halus di seluruh dunia, dan sopan pula. Sebabnya, kau menegur bangsa lain dalam bahasa kromo dan orang lain menegurmu dengan bahasa ngoko. Kalau kau balikkan, kau pun dianggap kurang ajar.

Tidaklah wajar untuk melihat Indonesia sebagai sapi perahan yang diberi makan hanya disebabkan susunya. Tidaklah pada tempatnya untuk menganggap negeri ini sebagai suatu tempat di mana orang datang dengan maksud mengambil hasilnya”

H.O.S Tjokroaminoto

Dapatkah kau bayangkan pidato yang semacam diatas dilontarkan saat Indonesia ini masih dalam pemerintahan Hindia Belanda. Zaman dimana pribumi, yang lahir di Nusantara menjadi budak di negerinya sendiri. Visualiasi yang cukup mewakili suasana era 1900-an awal, para orang tua terdahulu merasakan penjajahan atas hak yang paling asasi. Untuk hidup selamat dan sejahtera. Akan kuanggap hadirnya film Guru Bangsa: Tjokroaminoto sebagai tanda keberanian dan keberhasilan dunia perfilman Indonesia. Betapa tidak, tokoh ini bagi saya bahkan lebih hebat daripada pahlawan superhero manapun  yang sebelumnya menduduki tangga box office dan meraup keuntungan jutaan gulden, eh, dollar maksud saya.

Indonesia lahir dari keberanian. Hijrah, adalah pesan akar mula pemikiran yang ternyata sejak kecil Pak Tjokro sudah kenal. Pindah, menuju tempat yang lebih baik, dengan Iqra. Yang kemudian hari menjadi sikap politik Sarekat Islam, organisasi politik pertama di Hindia Belanda (Indonesia), sebelumnya, organisasi tersebut bernama Sarekat Dagang Islam. Sebuah perkumpulan atau organisasi pertama yang terbentuk di Indonesia, didirikan oleh K.H. Samanhudi sebagai bentu penolakan atas masuknya pedagang asing yang ingin menguasai perekonomian saat itu. Baru mulai tidak sampai setengah jam, pandangan mata sudah kabur karena air menggenang, sesak sekali kalau membayangkan perih perjuangan bangsa melawan penjajah Belanda.

Film ini mengambil plot dimana perjuangan Pak TJokro dalam pencarian makna Hijrah dan realisasinya kala itu. Meninggalkan lingkungan kebangsawananya, menjadi kuli di pelabuhan. Iqra dan Hijrah juga membawa Pak Tjokro untuk ke Surabaya, mendirikan Sarekat islam. Menjadi guru bagi para ideolog bangsa seperti Soekarno, Semaun, Musso, Hatta, Syahrir, Agus Salim dan Tan Malaka. Dinamika dalam tubuh Sarekat Islam yang bergejolak terutama saat Volkstraad dibentuk. Pasalnya, kubu Semaun Musso menganggap pergerakan yang dijalankan oleh Pak Tjokro dinilai lamban, juga perselisihannya karena kubunya memilih pergerakan di bidang agraria ketimbang pendidikan. Dalam film ini juga saya terkesima dengan kecerdasan The Grand Old Man Agus Salim serta gambaran ahlak beliau yang berbudi, terpelajar, bijak dan rendah hati.

Ingin sekali menontonnya lagi. Dan satu pesan yang sampai sekarang masih terngiang :

Jadi, sudah sampai mana Hijrah saya? kamu? kita?

Jakarta, Sabtu, 27 Juni 2015