Belajar Lagi Untuk Memahami Diri

Kekosongan pikiran, banyak pekerjaan tapi seperti tak tahu mau diapakan adalah sejenis penyakit akut yang bisa tiba-tiba menyerang ditengah-tengah kehidupan kita. Sebut saja namanya “Masalah”. Hampir semua nasihat bermuara pada satu hal yaitu dengan melakukan perbaikan diri.

Hampir-hampir, saya pun beberapa-kali pernah, terlalu tergesa-gesa menyimpulkan, gegabah menentukan jalan sehingga menyelesaikan sebuah masalah dengan cara dan perilaku yang sama dengan hal yang membuat saya terjerembab. Singkat kata, seolah mengobati luka dengan yang bukan obatnya. Fatal. Padahal jika ditelisik, sudah pasti, masalahnya ternyata ada didalam diri kita sendiri.

Seorang teman menasihati, Al-Quran adalah petunjuk, penjelas dan pembeda. Disaat hati terguncang, menyesakkan hingga membuat sakit sampai ke ubun-ubun. Dimasa-masa itulah, penentuan langkah kita sebagai “pembeda” setelah berbagai petunjuk-petunjuk sudah pernah datang kepada kita. Segala jawaban sudah tertera nyata, tinggal hati yang mau rela menjalankannya. Pengabdian kepada Allah bukan semata-mata ikrar kata belaka, karena ketika kita berjanji, sesungguhnya itu adalah ikatan yang paling nyata adanya.

Al-Quran sulit karena kita yang menganggapnya begitu. Dan apa namanya jika ketika ada seseorang yang berikrar rela mengabdikan kehidupannya untukmu, memberikan jiwa raga dan hartanya hanya padamu, lalu kau uji dia dengan memberikan halangan untuk bisa sampai pada rumahmu, tapi ia malah ia berbalik kebelakang dan mengumpatmu?

Rasa-rasanya panggilan 5 kali sehari yang menggema belum cukup mengingatkan kita tentang, siapa kita? mau apa kita? dan akan kemana kita setelah ini?

Belum titik habis.