Bu, Sebelum Anda Buang-buang Duit ke Salon, Cari Tau Dulu Arti “Me Time”

BAGIAN SATU

Sering banget deh pasti liat postingan mahmud atau mahtu yang berseliweran di media sosial. Biasanya mereka pasang tagar #metime di salon spa, kafe malah yang ekstrim dia ngelakuin solo trip gitu.

Bikin mupeng?

Tapi pernah mikir nggak sih? Sebetulnya Me Time itu apa? Kalau kita gugling, kita bakalan nemu ini:

“Me-Time” adalah waktu untuk diri sendiri tanpa kehadiran orang lain, sehingga kita bisa beraktivitas sendirian (atau bahkan tidak melakukan apa-apa).

Trus, kalau udah sendirian, emang mau ngapain? Jangan-jangan selama ini kita berdalih butuh Me Time untuk “lari sejenak dari tanggung jawab”. Kalau begitu, kayaknya sayang banget ya kan?, abis setengah juta buat spa dari ujung rambut ampe kaki, pulang-pulang “welcome to the jungle” lagi.

Atau ada juga yang Me Time nya dengan shopping, bilangnya buat menghargai kerja keras diri. Kemudian nggak jarang pas sampai rumah mikir, “Ngapain gue beli ini ya? Kayaknya  nggak penting-penting amat..”, begitulah akhirnya nyesel dan numpuk-numpuk barang dalam rumah. Mamam.

Beberapa bulan lalu iseng ikutan kulwap (Kuliah Whatsapp) IIP untuk memahami arti “Me Time“. Pertamanya sih mikir, “yaelah, ginian aja dibahas..”, tapi mah, udahannya sungguh bikin mikir-kir-kir. Persepsi saya tentang makna Me Time jadi meluas. Jadi ini hasil dari materi Me Time yang saya dapat:

Who am I? 

Sumber : weewatch.com
Sumber : weewatch.com

Jadi seorang ibu, bagaimanapun memang dibutuhkan kesadaran dan keseriusan. Apalagi ditengah seabrek pekerjaan yang rasa-rasanya bisa bikin kaki di kepala, kepala di kaki. Tapi, apapun alasannya, sebaiknya kita tidak melupakan siapa diri kita sebenarnya.

Bu, kita ini dianugerahi potensi akal, perasaan dan fisik. Semuanya pasti ada potensinya. Itu yang kudu kita gali dan gali terus. Jangan-jangan selama ini kita sibuk dengan mengejar pencapaian orang lain. Jangan-jangan selama ini kita memperjuangkan sesuatu yang kita tidak tahu untuk apa. Ngeri kali, macam zombie aja kalo gitu.

Kalaulah memang Me Time adalah adalah waktu untuk sendirian dan melakukan aktivitas semau kita. Maka kenalilah dulu apa yang sebetulnya kita ingin dan butuhkan. Coba jawab, saya ini adalah? Mengapa saya harus melakukan A B C D ..? Apa yang sebetulnya saya butuhkan saat ini? apa potensi saya?

“Saya ini punya peran sebagai hamba Allah, anak, istri, ibu dan bagian dari lingkungan masyarakat, maka saya harus melakukan…., dan saya butuh…., lalu potensi atau modal yang saya punya adalah….”

Kunci Utamanya adalah Mengenal Diri. Me dulu, baru Time.

Apa yang sebetulnya kita cari dalam Me Time?

Siapalah yang nggak penat kalau saban hari ngerjain rutinitas yang itu-itu aja, baik yang kerja di ranah publik (karyawati kantoran) atau ranah domestik (ibu rumah tangga), masing-masing punya segunung tanggungan yang harus diselesaikan. Capek, penat, lelah, lesu, lunglai, bikin moody… sudah jelas.

Gara-gara kondisi itulah, kemudian kita semacam butuh yang namanya “draining situation“, alias keluar dari tekanan tersebut. Biasanya, kemudian kita akan berasa lebih nyaman.

Tapi apa yang kayak gitu namanya Me Time?

Ternyata yang demikian itu baru “kondisi minimal”. Karena itu baru menjalankan fungsi Me Time sebagai ajang relaksasi.

Iya, Me Time itu punya dua bagian. Fungsi relaksasi (relaxing) dan fungsi aktualisasi diri (flourishing).

Ketika sudah kenal dengan diri kita sendiri, kita butuh Me Time yang lain, yaitu aktualisasi diri. Bahasanya diibaratkan, kita melakukan Me Time dalam rangka mengupgrade diri, kalo bayangin bunga, dia mekar berkembang (flourish). Indah banget kan ya?

Kalau udah gitu, kita akan sadar bahwa Me Time bukan sekedar bebas dari realita saat ini, tapi Me Time adalah waktu dimana kita menemukan makna diri kita yang sebenarnya, diri kita yang terbaik, dan diri kita yang bahagia.

Sumber : pinterest
Sumber : pinterest

Jangan sampai, kita berdalih Me Time, tapi nyatanya terjebak dalam kondisi “Lazy Time”. Kalau kelamaan gitu-gitu terus, lama-lama hidup makin tidak produktif, merembet ke perasaan tidak bahagia bahkan tidak berharga lagi. Ngenes. Mulai deh, abis itu banding-bandingin hidup kita dengan orang lain. Abis itu sirik, Naudzubillah!

Ciri-ciri aktivitas Me Time yang bisa bikin “mekar berkembang” itu, meskipun kita capek ngejalaninnya, udahannya kita seneng banget dan semacam kayak ada “nilai tambah” dalam diri kita.

Yah intinya, buat ngedapetin Me Time yang berkualitas. Kita perlu, dan harus, kenal lebih jauh siapa sih diri kita (Me) lalu apa yang dibutuhkan dalam keseharian.

Dengan begitu, momen Me Time bisa jadi ajang untuk meningkatkan kualitas kehidupan dan pribadi kita.

Saya bersyukur akhirnya, dengan bangga saya katakan, saya selalu punya Me Time setiap hari, saat menulis blog, saat hadir dalam setiap kegiatan di yayasan dan RBK, saat bebenah rumah, saat nyuapin anak, saat ber-youtube tentang kajian/seminar, daaaan segudang aktivitas lainnya yang “ini gue bangetttt!”.

Bersambung.

Depok, 20 November 2017
(c) Silmina Ulfah