LaGi BeTe

Sumber gambar : gblpride.com
Sumber gambar : gblpride.com

LaGi BeTe. Dimana-mana bahas, biasalah, bahasan tabu emang gampang viral hilir mudik diberaneka media sosial, dan pastinya juga, muncul dah tuh, ceracau pro dan kontra-nya. Mau ikutan komen di laman mereka, kok ya males ntar malah jadi debat kusir yang sedang bekerja. Mendingan kitanya nyap-nyap di laman sendiri, dari pada ikutan update status trus pake hestek “no mensyen” atau tambahan komen, “yang merasa jangan tersinggung”, yekan?.

Abisan baca salah satu tulisan di WA tentang LGBT, langsung inget sama temen-temen sendiri yang emang bisa dibilang masuk kedalam kelompok tersebut. Diantara beberapa temen saya ini ada yang emang mengakui kalau dirinya “begitu”, ada yang backstreet, dan ada pula yang masih ambigu.

Dari sekitar…sebentar, satu, dua, tiga, empat dan lima, temen yang boleh dibilang lumayan deket, temen yang juga merupakan kelompok LaGi BeTe itu, setidaknya saya bisa menarik satu hal persamaan dari mereka, sebuah keyword yang sangat kuat dan mencolok, dan kemungkinan besar merupakan root of case yang akhirnya membuat mereka menjadi seperti itu. Yakni,

“Kekurangan Peran Seorang Ayah”

Ndak bisa dipungkiri memang, peran ayah sangat-sangat-sangat mempengaruhi sekali karakter anak. Berikut sekilas cerita tentang kelima temanku itu,

Yang pertama, kawanku ini lahir dari keluarga yang dia selalu ulang-ulang kalau lagi curhat “keluarga gue broken pay”. Bapaknya mantan bandar narkoba, berpindah keyakinan demi rela menikahi ibunya. Sibuk dengan usaha bisnisnya sendiri, untuk beli “keperluan” nya sendiri biar nggak sakaw. Dia sendiri suka kabur dari rumah kalau ayahnya itu sedang “kumat”, soalnya udah pasti kena amukan ama pukulan. Tentu, hal tersebut akhirnya menjadikan Ibunya tak hanya mengurus rumah tangga, tapi juga menjadi penyokong kebutuhan rumah  tangga. Ibunya (saat itu) bekerja serabutan, aku ingat ketika sedang bermain dirumahnya pada suatu siang, ibunya yang sangat ramah itu berpamit kepada kami untuk pergi bekerja, di sebuah arena bilyar. Baginya, kehangatan sebuah keluarga hanyalah fantasi belaka. Jadi ingat juga pas dia bilang minta ajarin cara jalan laki. Saya tabok-tabokin karena gemas sangat, dianya kecapekan karena katanya susah. (Saya malah susah jalan selenggak-lenggok dia, rada iri dikit). Ah, apa kabarmu sekarang ya?

Yang kedua, kawanku yang satu ini memang tidak menyatakan dengan gamblang bahwa dia adalah salah satu dari kelompok LaGi BeTe itu, namun sangat mencolok sekali jikalau dilihat dari penampilannya, kegemaran musiknya, cara berjalannya, cara bicaranya yang lebih kemayu dari pada sayah. Entah ayahnya kemana, yang jelas, sejak dibangku sekolah menengah, dia sudah ikut membantu ibunya berjualan demi menambah uang saku. Hingga sekarang bahkan, ia menjadi semacam tulang punggung keluarga. Memang tak banyak ia bercerita tentang ayahnya, namun setiap bertemu dengannya, ia selalu bicara tentang ibunya, dan mimik wajahnya akan berubah menjadi tidak senang jika aku bertanya lanjut  tentang hal yang berkaitan dengan ayahnya. Sampai sekarang pula, saya tidak pernah lihat wajah ayahnya, baik saat main kerumahnya maupun di sosial medianya.

Yang ketiga, yang satu ini, ada ayahnya, sering juga bercerita tentang ayahnya, meski lebih sering ia bicara tentang ibunya. Yang membedakan adalah tentang komunikasi ia kepada ayahnya, bisa dikatakan (mungkin) hanya sebatas hubungan yang berkaitan dengan kebutuhan anak dan kewajiban ayah memberi nafkah. Pergi saat gelap, pulang saat gelap. Beberapa kali yang selalu ia ulang ceritanya adalah betapa ayahnya begitu keras dan galak. Sangat jarang ia berbincang dengan ayahnya. Yang kuketahui, dia “begitu” tak lama setelah disakiti dan dicampakkan oleh pacar lawan jenisnya. Ya mungkin, mungkin nih ya, dia mengalami trauma dengan sosok lelaki, atau mungkin bukan trauma melainkan tidak adanya rasa percaya terhadap kaum pria (kebanyakan mungkinnya lu pay ah!). Ya, sampai sekarang, ia masih belum move on si mantannya juga karena kampretnya, itu laki masih suka kasih perhatian yang nggak wajar, padahal kan mantannya itu sudah beristri.

Yang keempat, kalau yang ini mirip-mirip lah ceritanya kayak yang kedua dan ditambah yang ketiga. Dan jauh pula ia merantau beda pulau selepas sekolah menengah. Dan kalau yang ini, ia sudah berkomitmen untuk move-on dari pasangan sejenisnya itu. Dan sekarang ini ceritanya sedang berusaha memantaskan diri dan gencar menggiatkan doa agar lekas diberi pasangan yang bukan sejenis. Semoga senantiasa dikuatkan bro!

Yang kelima, saking kentalnya sisi feminimnya, dulu, saya sampai kadang suka lupa kalau dia itu lelaki. Jadi kebiasaan kalau duduk sebelahan suka nyender-nyender, hahaha. Skip. Tidak jauh berbeda, ia sejak kecil sudah ditinggal wafat ayahnya, sebagai anak bungsu yang sebagian besar kakaknya adalah perempuan, ia memang tidak kenal dengan didikan dari seorang lelaki (ayah). Kehilangan sosok maskulin sejak kecil, ditambah lingkungan sehari-hari yang mungkin agak terisolasi dengan lingkungan sekitarnya kemungkinan besar menjadi salah satu faktornya.

Sesuatu sekalih *exhausted* 🙁 , dulu waktu masih punya tipi juga, pernah dengar seorang artis yang mengaku dirinya gay dari berita ghibahtainment. Hal itu ia akui alasannya karena “kerinduannya” akan kasih sayang seorang ayah yang ia tidak dapat sejak kecil. Juga, aku pernah baca salah satu artikel yang menyebutkan bahwa kalau yang kekurangan peran seorang ayah itu adalah seorang perempuan, perempuan tersebut akan susah membuat kriteria pasangan idaman. Dan memang begitu kalau aku perhatikan, beberapa kali setelah kuketahui ia memiliki pasangan sesama jenis, salah satu teman perempuanku tak pernah berhasil menjawab pertanyaan sederhana itu.

Memanglah benar, sosok ayah tidak akan pernah tergantikan. Karena konon, sosok ayah-lah yang mengajarkan hal-hal yang menyangkut cara berpikir rasional. Dan menurut beberapa penelitian, seorang anak yang dibesarkan tanpa figur ayah akan lebih dominan emosional mereka ketimbang rasionalnya.

Jadi ngeri sendiri kalau ingat kata-kata Pak Bachtiar,

“Sekarang itu banyak anak yang berayah namun ‘yatim’ “

Ah, apa betul Indonesia saat ini sedang mengalami fenomena Fatherless Country ?

Depok, 9 Februari 2016 | 01.25