Jangan Sampai

Jangan sampai hanya karena perkataan dan komentarmu yang kau kirim dan sebar-sebarkan ke khalayak itu kemudian menjadikan seseorang ragu untuk mendekat dan mengenali ilmu agamanya sendiri.

Jangan sampai gara-gara gaya berpikir kausalitasmu itu membuat orang lain menjadi membenci orang-orang yang sudah berpuluh tahun mengabdikan dirinya untuk beribadah kepada Allah.

Jangan sampai gara-gara opini gagah-gagahan yang super realistik itu menjadikan kau membenci orang-orang yang hendak belajar ilmu agama sembari berkata, hati-hati, nanti kau jadi kolot.

Jangan ya.

Depok, 3 November 2016

Cermin

Jika ada orang yang paling banyak kesalahannya, itu adalah saya orangnya.

Sebelum menjustifikasi orang lain, marilah kita coba melihat betul-betul ke dalam diri kita. Seperti saat bercermin, mungkin jarang dari diri kita melihat kurangnya, lebih banyak mengabaikan kurangnya lalu merasa baik-baik saja. Sama seperti hidup bersama orang lain. Apakah kita termasuk orang yang lekas menyimpulkan? atau mungkin lebih parah? apakah kita sudah setiap saat mengoreksi diri dari kekurangan? atau lebih sering membuat catatan panjang daftar kesalahan orang lain? Menuntut hak dari orang lain?

Mungkin diri kita terlalu sombong untuk mengakui benih-benih kesombongan yang mulai muncul didalam hati. Kita mungkin lantang meneriakkan tidak peduli dengan omongan orang lain. Tapi jelas-jelas perasaan merasa diremehkan itulah yang dimana asal muasal kesombongan itu bermula. Kita mengaku membawa perubahan, tapi kebiasaan-kebiasaan buruk kita tidak selalu kita rubah. Membicarakan kesalahan orang, keburukan orang, aib orang, malas belajar, tidak disiplin dan selalu beralasan. Tidak berani mengakui dan lupa bahwasannya apa yang ada disekeliling kita adalah cermin bagi kita. Atau yang lebih parah, yakni, kita lupa siapa jati diri kita sebenarnya.

Jangan-jangan kita tidak sadar bahwa kita sedang mempersiapkan bom waktu untuk diri kita sendiri. Di kemudian hari, apa yang kita kerjakan hari ini, pastilah akan dimintai pertanggung jawabannya. Semoga kita selalu menjadi manusia yang berdoa sebelum bertindak, meminta keridhoan Allah sebelum memutuskan hendak bicara dan berlaku apa. Semoga tidak ada penyesalan dikemudian hari.

Ya, memang tidak ingin dipuji kau katakan. Tapi diri selalu haus akan perhatian. Hati selalu butuh pembenaran. Bukankah kita terlalu sering melakukan hal-hal yang diluar kewajiban? ketimbang mempersiapkan diri dari berbagai perubahan?

Depok, 14 September 2016

Cinta Tidak Pernah Salah Tempat

Bukan begini yang kuingini. Katamu membatin. Siapa sangka kalau jalan cerita yang sudah kau rancang dan perkirakan sedemikian kini begitu meleset, jauh, sangat jauh dari apa yang saat ini kau hadapi. Hingga kau terhempas, jatuh dan terperosok. Menjadikan sebuah luka yang membuatmu kesakitan, luka mematikan.

Seseorang yang mengaku pernah terluka parah bercerita kepadaku. Bahwa cinta adalah tentang bagaimana akhirnya kau nanti bisa bersama-sama membangun kehidupan sempurna. Meski pada perjalanannya, bisa jadi cinta sedemikian hebat membuatmu menderita.

“Bersabarlah, lawan sakitmu dengan sakit, lawan sakitmu walau sakit, jangan menyerah, tetaplah berjalan dengan kepala tegak, karena akan selalu ada yang membawakan kepadamu obat dari luka-lukamu itu, kemudian mengembalikan cinta pada tempatnya. “

Selepas Deras. 20 Maret 2015

Bukan. Sekali lagi bukan.

14

Kepercayaan hari akhirat, memberikan satu pandangan khas tentang menilai bahagia atau celaka manusia

Bukan yang hidup mewah dan mereka yang tercapai segala keinginannya. Bukan. Sekali lagi bukan.

Lalu akan kemana kau berlari setelah kau tahu tujuan-tujuan hidupmu sudah semakin menjauh
Kembali lagi ke titik awal?

Lantaran lengah diperjalanan, habis perbekalan, dan memaklumi sedikit derajat perbedaan, sedikit sekali, hanya nol koma nol lima derajat. lambat laun ternyata semakin menjauh dari poros jalan utama. Entah kemana. Menuju yang “sepertinya” lewat sini, dan “nampaknya” ini baik adanya.

Lupa! Semuanya!

 

Komitmen

Sudah dua hari ini saya mendengarkan kajian Ust. Bachtiar Nasir di @pejuangsubuh melalui youtube. Dua hari pula bertekad ingin mengatur komitmen untuk bisa bangun pagi lalu diisi dengan dzikir dan mulai bekerja. Dan bagian tidak enaknya, selama itu pula saya tidak bisa mengalahkan kantuk pagi gerimis ini. Malunya.

Masih Alhamdulillah diberi usia. Disiplin aturan utamanya, diakhiri dengan pantang menyerah.

Secoret Dua Coret

Percayalah bahwa hidup ini sangat cepat peredarannya. Bahkan kau amat sulit  mengingat kapan tepatnya pertama kali kau masuk ke sekolah taman kanak-kanak, karena itu sudah terlalu lampau dan kini kau ada di masa sekarang. Tak bisa ingat lagi karena waktu terlalu terburu-buru dan hadir dengan segala hal baru yang dilahirkan setiap detiknya. Otakmu kesulitan merekamnya. Ya, karena waktu terlalu cepat bergulir.

Lalu dalam dirimu yang sekarang, adakah terbesit pertanyaan? apa yang sedang kau perjuangkan sekarang? untuk apa dan siapa? Aku tak hendak mengguruimu dengan aneka pertanyaan yang mungkin baru dalam hidupmu. Mungkin kau masih berambisi untuk menjadi manusia paling bahagia didunia dengan segala yang ada, dan atau belum ada pada dirimu. Menjadi manusia yang paling aman. Mengikuti perkembangan jaman dengan arusnya yang deras mengalir entah kemana. Kau ketakutan karena jika kau gagal mengikuti arus dunia, kau akan terhantam jatuh, miskin dan merana. Hidup di kontrakan yang atapnya bocor, anak-anak yang bandel dan kendaraan butut dan ketakutanmu itu membuat mu terlupakan  tentang satu hal yang paling  mendasar : Yakni Tidak ada kata “Tuhan” lagi dalam segala perkara urusanmu.

Kau merasa dirimu aman-aman saja. Pahami ini saudaraku. Bahwasannya kita ini bukan sedang menunggu mati. Tapi kita sedang mengantri. Kau sendiri yang melangkahkan dirimu untuk sampai gerbang keabadian.

Berbait Kalimat

Aku menamaimu huruf
Sejak pertama kita kenal
Tak ada arti, selain huruf itu sendiri

Lambat laun kita berjumpa
Lagi dan lagi
Setiap hari
Sejak kemarau kedua
Ini penghujan ketiga

Aku mengenalmu sebagai kata
Mulai menarik dengan berbagai kombinasi makna
Kau mulai punya cerita
Walau terbata

Aku mulai memperhatikanmu
Memberikan pintu kecil di hatiku
Hanya daun pintu

Sudah berlembar bulan kubolak-balik kalenderku
Sudah bergeser dua hari tanggal lahirku

Lalu aku menamaimu kalimat
Mengenalmu semakin dekat
Kau menjadi sahabat

Hatiku terbuka
Akalku menolaknya
Egoku menghadang
Masa laluku menarik kebelakang

Aku memilih bungkam
Dalam diam aku membuat sendiri cerita masa depanku
Dalam cerita aku menjelma menjadi bait
Menuntun mu, kalimatku, dalam cerita kau dan aku

Untuk Para Terkhianat

Hai kawan, kau lusuh tampak
Ada sungai di pipimu yang tak kunjung kering
Layu, kau lesu
Kata orang, kau ditimpa pengkhianatan
Remuk kau jadinya
Tak hanya remuk katamu
Kau berasa macam daging berjalan
Hatimu hilang, terbang
Aku bukanlah dewa yang dapat mengabulkan inginmu
Karena inginmu itu aku tak tahu, apakah itu baik untukmu
Mungkin Tuhan sedang beri ajar padamu
Ingatlah, sebaik-baiknya buah hikmah pengkhianatan adalah kesetiaan
Aku percaya kelak kau akan menjadi manusia paling setia didunia
Aamiin

Benci!

Pernahkah kau rasa benci pada dirimu sendiri?
Benci karena tanpa sadar kau telah membuat orang lain tersakiti, terendahkan, malu dan berbagai rasa yang tidak enak?

Hari ini kukatakan, aku benci aku!
Aku benci ucapan yang terlontar tanpa pikir!
Aku benci sangkaan buruk yang tidak terbukti!
Aku benci keangkuhan yang mendarah daging!
Aku benci kelemahan hati ini!
Aku benci membuat orang lain bersalah karena aku  yang salah!

Aku hanya benci, jika sampai mati aku masih menjadi orang seperti yang sekarang ini.

Ampuni aku Tuhan
Ajari hamba
Bimbing hamba
Tolong…

Laa Ila ha Ilallah

Tak Bisa

Kau tak akan pernah bisa memaksaku untuk mencintaimu.

Sederhana saja
Karena kau terlalu mudah untuk dicintai
Perihal tentang dirimu terlalu indah
Pesona yang ada pada dirimu terlalu menarik
Tentu saja, karena kau memiliki terlalu banyak alasan untuk dapat dimiliki oleh tiap wanita

Tapi akhirnya aku mau mencintaimu karena satu kekuranganmu
Sebuah rahasia terbesar tentang dirimu
Kekurangan yang tak pernah kau sesali

Kau hanya bisa mencintaiku