Jangan

Jangan berikan cinta aku besar-besar
Jangan!
Cukup berikan cintamu pada Allah saja
Lalu katakan padaku bahwa kau cinta aku karena-Nya

Rumah

Aku membayangkan tinggal di hutan, dalam sebuah rumah kayu yang dikelilingi oleh rerimbunan yang beraroma segar saat pagi datang, atau selepas hujan. Tanahnya padat dan tak jauh dari rumah aku bisa mendengar melodi gemericik air mengalir.

Kala hujan datang, aku akan menyalakan perapian, menyiapkan secangkir coklat panas dan kue ketan, dan membaca buku-buku yang ditulis dari hati, sampai-sampai menyentuh hati.

Menjelang malam, aku bisa mendengar sahutan jangkrik, daun tersibak angin, tentu, masih gemericik air, tak ada bising motor.

Rumah adalah surga,
Jadikan ia tempat anda bersuka,
Bercita,
Jadikan ia sebaik-baiknya tempat yang pernah ada didunia
Rumah (kita)

Air Keran, dan Mi Instan

Hai para saksi-saksi bisu perjuangan,
Hari ini bahkan nostalgia mulai berceritera.

Aku ingat saat kamu, air keran, menjadi kawan saat tak ada air untuk yang terdahaga.

Dan juga kamu, wahai mi instan, menjadi penghalang antara lambung dengan tulang belakang.

Kalian adalah dua diantara sekian banyak saksi-saksi bisu perjuangan yang akan kubanggakan.

Kalian yang menguatkan
Kalian yang menyaksikan
Kamu dan kamu.

Rencana Kedua

Aku tersesat di hutan hujan
Tanahnya basah
Aromanya lumut
Hijau tua muda dimana-mana
Ada bebunyian desis serangga
Sahut-sahutan primata
Ricik-ricik air
Reranting terkibas angin

Punggungan yang pijaki ini begitu sempit, setapak dua tapak
Embun di kacamata-ku menyulitkan aku menemukan marker yang disemat tim sweeper
Di bebatangan pohon
Tali rapia merah

Aku yakin ini jalur yang sama tadi,
Tapi beda pohon, Aku gemetar
Aku kedinginan
Aku berkeringat
Aku tersesat
Aku menyesat

Harusnya ada, aku berdebat dengan diri sendiri
Sambil diam, aku tetap berjalan ke Utara

Aku tak suka rencana kedua
Pikirku itu hanya meyakinkan kita bahwa akan ada kegagalan di rencana pertama atau kasarnya, merencanakan pengkhianatan terhadap rencana pertama

Namun ternyata tidak semua yang mendua itu menyakitkan,
Kini aku sadar bahwa rencana kedua adalah rencana saat rencana pertama tak mampu melawan situasi yang tak mampu kita prediksi
Rencana kedua adalah rencana yang memang tidak kita harapkan untuk kita jalankan, namun harus ada. Yah..Semacam ban serp!

Kurogoh bagian kepala tas carrier
Alat komunikasi! Aku terpekik tanpa suara, dengan tangan gemetar
Kuputar tuning volume
Kotak kecil itu bersuara kresek, tapi lirih-lirih kudapatkan suara lain…
“Monitor…”

Thanks God!

Solusi?

“Menurut kamu, solusi itu artinya apa?”, seorang teman melontarkan pertanyaan sederhana sore tadi.  Seperti orang merantau ditanya jalan daerah setempat, agak ragu saya menjawab, “Yaa.. apa yaa… Jalan Keluar?”.  Saya pun jadi penasaran juga, akhirnya saya tanya balik, “Emang apa?”.  Dan teman saya ini pun menjawab, “Solusi itu, Jalan Penyelesaian”, sambil nyengir-nyengir karena ternyata memang berhasil mendefinisikan kata Solusi itu dengan tepat.

Masalah adalah perkara yang sering kali menjadikan kita jenuh, marah, sedih, dan berbagai energi yang negatif. Pasti banyak diantara kita yang rasanya ingin segera memperbaiki permasalahan tersebut dan tidak sedikit yang hanya segera ingin keluar dari masalah tersebut, ya, secara tidak sadar kita seringkali mengharapkan untuk bisa keluar dari zona permasalahan tanpa mau berusaha untuk meng-ada-kan jalan penyelesaiannya.  Padahal, satu-satunya hal yang mampu membuat kita bertahan hidup adalah  masalah, dan udah hukum alam kalo masalah itu punya tingkatan, masa iya mario bross itu punya musuh langsung kura-kura bersayap?. Ya enggak kan?, awal-awal tuh gampang-gampang dulu, nanti kalau stage 1 udah tamat, baru deh ketemu musuh yang lebih aneh-aneh lagi.

Ah itu kan masalah persepsi definisi aja, wong Jalan Keluar dan Jalan Penyelesaian itu beda tipis kok, 11/12. Sinonim memang cenderung punya arti yang sama, namun saya percaya bahwa kata (bahasa) masing-masing memiliki energi yang berbeda-beda, itu sebabnya  hingga saat ini saya masih belajar untuk bisa menggunakan bahasa yang tepat agar tercipta jalinan komunikasi yang baik. Jangan sampai alam bawah sadar kita mengafirmasi kata-kata Jalan keluar sebagai tindakan untuk “Kabur” dari permasalahan, dan berharap masalah tersebut akan selesai dengan sendirinya.

Yah mungkin ini secuil tulisan ribet dan sepercik pemikiran njlimet mengenai definisi Solusi. Intinya mah, selalu positif kala menghadapi aneka permasalahan, jangan keluar, tapi selesaikan. Sekian.

Hidup

Aku tak mau hidup, teriaknya
Aku udah ga sanggup lagi, lirihnya
Aku sudah tak punya mimpi, keluhnya
Aku tak kenal lagi siapa aku!, jeritnya

Padahal hidup adalah satu-satunya cara untuk mati
Kesanggupan adalah daya untuk menghidupkan
Mimpi adalah bahan bakarnya hidup
Kenalilah dirimu, sehingga kau bisa kenal siapa Tuhanmu
Bagaimana bisa kau keluhkan itu semua?

Jika memang kau pikir dirimu tidak berguna bahkan bagi dirimu sendiri, saatnya untuk menjadikan dirimu bisa menjadi sarana orang lain untuk menjadi orang sukses

Karena hidupmu, belum tentu diciptakan untukmu sendiri
Hidupmu untuk Tuhanmu
Dengan menghidupkan hidupnya mahluk lain

Momen Jumat Pagi

Pagi ini saya akan menceriterakan sebuah momen absurd, yak betul tepatnya 10 menit sebelum saya memposting tulisan ini. Seperti biasa saya diantar sama kakak ke stasiun, pas uda mau sampe stasiun, saya lihat seorang bapak muda menggendong anaknya yang berumur kira-kira tiga tahun di punggungnya. Ooh..so sweet…, sayangnya kali ini momen itu “enggak banget“, karena ada sepuntung rokok menyala di mulutnya sang bapak, jadi ketika ia berjalan melawan arah angin, saat itu pula kepulan asap racun menerpa wajah sang anak, sang anak hanya bisa mengerenyitkan mata dan kurasa menahan nafas.

Ya ampun, ingin rasanya saya mengambil anak itu dari gendongannya, kita semua tahu bahwa asap kepulan sang perokok bahkan lebih beracun bagi orang disekitarnya, atau lebih dikenal sebagai perokok pasif. Ini artinya, si perokok aktif seharusnya sadar betul bahwa kenikmatannya menyengsarakan manusia dan alam sekitarnya. Yah, dari keegoisannya,  jelas-jelas ia telah membahayakan paru-parunya sendiri.

Jika dirinya sendiri-pun sudah ia abaikan, bagaimana mungkin ia memerdulikan yang lain?. Jika Tuhannya, Allah, tidak menyukai segala perbuatan aniaya, bagaimana mungkin ia menampik jika dikatakan bahwa rokok adalah Tuhan-nya?

Sementara diluaran sana, banyak calon orang tua dengan hidup sehat menunggu dititipkan anak. Karena anak adalah penolong kita kelak, hanya doa anak yang sampai pada kita. Marilah kita maknai hakikat hidup, dengan menyadari bahwa rokok itu memang benda merugikan bagi diri sendiri bahkan bagi banyak orang. Dan apakah kau melihat saat ini, bahwa tidak merokok adalah kebaikan.

Saya, Silmina Ulfah, Tidak Merokok, Bukan Anti Rokok.

Renungan

Pernah ga si, ngerasa bodoh, karena nyeletuk kata-kata yang bikin situasi becanda jadi buruk? Nggak enak banget rasanya brooo…sumpah! dan hari ini saya melakukannya…*tampar mulut sendiri*, bahkan saya malu untuk nyeritainnya lagi, merasa ga punya otak deh.

Diam itu emas
Emas itu punya harga
Bicara itu seperti harga
Kadang bisa mahal dan murah

Dan bicara-an saya tadi…
Adalah yang murahan

Mini Story Sebuah Negeri

Terkisah sebuah negeri yang amat kaya. Baik alam dan manusianya. Katanya, kebanyakan manusianya hidup dalam keadaan yang berada,  berada dibawah garis kemiskinan. Kemiskinan harta. Ironis.

Karena “katanya” merasa kekurangan harta, segelintir penduduknya mengambil yang bukan haknya, uang yang seharusnya ditujukan kepada rakyatnya. Tragis.

Penduduk yang “katanya” berada, berada dibawah kemiskinan itu meneriakkan keadilan, menuntut kebenaran. Menagih “hak-hak”-nya. Menyalahkan para tukang tilaplah yang menyebabkan mereka miskin. Makin Sadis.

Tukang tilap makin takut miskin. Orang miskin makin miskin.

Marilah kita berdoa supaya kita menjadi orang kaya, agar terhindar dari kemiskinan, kebodohan dan ketidakbersyukuran. Hidup ini manis.