Dua Puluh Ribu

Mulai sekarang saya bertekad untuk belajar menabung yang notabene sejak dulu selalu gagal dalam menabung. Mo di celengan plastik sampai di bank, selalu saja berakhir dengan saldo yang memprihatinkan. Saya menerapkan sebuah cara baru, yakni  setiap saya mendapatkan uang pecahan 20.000-an saya akan “menyembunyikan” di tempat yang tidak terjangkau oleh mata secara langsung. Ide ini saya dapatkan dari kakak saya, gara-gara dia baca salah seorang temannya (baca : following-an nya) di TL, (lupa namanya siapa).

Menabung pada dasarnya adalah mempersiapkan kebutuhan dimasa mendatang dengan menyisihkan pendapatan kita, baik kebutuhan primer hingga tersier.  Ibaratnya kalo kita main pistol-pistolan, pastinya kita akan mengumpulkan peluru sebanyak-banyaknya supaya ga kalah pas lagi perang.  (lebay banget ga si perumpamaannya?) . Sering denger kan orang bilang “Aku orangnya rajin dan gemar menabung”, sempet bertanya-tanya pula, kenapa sih harus “Nabung?”, kenapa ga Gemar berolahraga, atau Rajin Ngepel?. Ternyata sekarang saya melihat bahwa orang-orang yang pandai menabung adalah orang-orang dengan memiliki persiapan dan perencanaan yang matang. Cerdas, yang penting, jangan sampai kegiatan menabung ini berpindah haluan ke arah Kikir. Apa-apa perhitungan, mau sedekah sayang, Naudzubillah. Jadilah Penabung yang Dermawan.

Dan dalam seminggu ini saya berhasil menyembunyikan 40.000 itu artinya, selama seminggu saya hanya berhasil “ketemu” pecahan uang 20.000-an 2 kali doang sodara-sodara. Saya jadi lucu sendiri, baru kali ini saya betul-betul memperhatikan setiap lembaran yang saya terima, dari loket karcis KA, kembalian mini market, kembalian wateg, dan baru sadar ternyata pecahan 20.000, yang saat ini bergambar wajah Bapak Oto Iskandar  Di Nata ini termasuk jarang sekali saya terima (saking meratiinnya, saya juga baru tahu juga kalau nama Dinata itu dipisah, Di Nata).

(Baru pulang kantor, baru kali ini niat banget minta jemput  karena ga mau mecahin duit 20.000-an)

Sekian

Yah…

Derap heels-nya menggaung di tangga stasiun cikini
Sesekali ia melihat jam tangan emasnya, berkilau
Sama seperti kilau sapuan lipstik di bibirnya
Tangan kirinya, menggenggam smart phone yang takhenti-hentinya menyerukan notification sejak dari stasiun bogor tadi

“Mi, nanti mami pulang jam berapa, Adek mau minta bantuin tugas adek nih..”

Perempuan itu menghela napas,

“Iya, mami lembur dek, kamu minta tolong sama mba aja ya, nanti mami pulang mami bawain makanan kesukaan kamu deh”

“yah..”

 

Sepedamu dan Sepedaku

Aku : “Mau kemana?”

Dia : “Jalan-jalan..sama kamu…mau nggak?”

Aku : “Mmm..mau, kemana?”

Dia : “Kehatimuu~”

Aku : “Oh”

Dia : “Kok?”

Aku : “Kirain kehatimu..”

Dia : “Eaaaa…Eaaaa…Eaaa!” (senyam senyum)

Aku : (Dalam hati) “Kapan ya, bisa satu sepeda?”

Dia : (Dalam hati juga) “Kapan ya, bisa selalu ngajak dia satu sepeda?”

Lorong Bergerak

 

Kau ingin duduk?
Saat ada ibu hamil berdiri didepanmu
Kau pura-pura tidur

Ya..
Di lorong bergerak ini
Kau tampakkan wajah melasmu
Dihadapan ibu dengan garis wajah yang renta

Kalian ingin duduk?
Dengan kursi lipatmu?
Berkelakar dengan obrolan tak penting kalian?

Kau ingin duduk?
Silahkan duduk di lorong bergerak yang terakhir

Gadi : Galau Abadi

Galau sebetulnya udah ada dari dulu, mungkin kelak namanya jadi Resah . . atau bimbang, entahlah.. mungkin kau harus lari ke hutan, lalu belok ke pantai.

Nah kalo peratiin temen-temen yang masih belia (zzzz) yang masih bau lengkoas ituh.. pasti banyak banyet istilah galawers, yang dulunya alayers berubah jadi galawers. Ditambah lagi semaraknya lagu-lagu melayu yang mendayu-dayu yang  bikin mata sayu.  Sebetulnya mereka tu ga salah, galau itu sejenis emosi yang menggantung yang bikin perasaan jadi melaw, tapi apapun situasinya,  mo gimana pun galau kalian, kalian ga sendiri.

Saya juga pernah (masih ga ya?) .. ngerasain yang namanya galau, tapi ternyata men.. banyak loh cara untuk mengatasi rasa galau ituhh.. salah satu caranya adalah berkumpul dengan temen-temen yang hebat, temen-temen yang menggunakan waktu mereka secara produktif dan proaktif. Dimana mereka punya segudang inspirasi yang bikin masalah yang membuat kita galau itu bagaikan setitik embun di benua savana.

Dan yang utama, cara terbaik untuk mengatasi rasa galau adalah dengan bersahabat dengannya, terima galau itu apa adanya.

(Bersambung…)

Sekarang atau Nanti?

Sekarang atau nanti
Terserah situ
Lha situ pemeran utamanya
Situ lakon-nya

Mo di bawa kemana juga terserah situ
Saya bukan sutradara
Bukan juga penulis cerita
Saya cuma figuran

Berlalu
Lewat begitu saja