Cerpen : Dua Jenis Pria

Andria, apa yang ada dipikiranmu sekarang?. Pernyataanku yang lebih mirip pertanyaan itu harusnya kau jawab tempo hari. Hari itu aku harus berpura-pura doyan makan martabak manis yang dipesannya. Biasanya aku hanya makan martabak telur buatan abang-abang Lebaksiu. Sejak kecil, sepuluh dari sepuluh tukang martabak yang kutemui pasti dari Lebaksiu. Sampai aku berkesimpulan bahwa keterampilan membuat martabak hanya diturunkan dari leluhur yang lahir di Lebaksiu. Sampai dimana cerita Andria tadi? Oke, syarat.

Syarat apa. Kalau tidak gara-gara bertemu dengan teman dari temannya yang mau menikah itu, pasti aku sudah menanyakan kedua kalinya. Apa Andria sengaja mencari keramaian agar aku tak berani bertanya lagi?. Aku menatap langit-langit kosan, berharap bercak-bercak di triplek itu membentuk kata memberi jawaban, apa yang aku harus berangkat ke undangan besok? betapa melelahkannya pertanyaan ini.  Aku tak bisa menjawabnya sendiri, biasanya aku bertanya kepada Bang Ardy, abangku satu-satunya. Tapi dia selalu pergi, setiap hari. Selalu sibuk sampai-sampai beberapa tahun belakangan tidak sempat menengok Bunda di kampung. Aku bangun pagi, ia sudah berangkat, aku tidur ia belum pulang.

Seperti biasa aku menuliskan masalahku dalam secarik kertas untuk berkomunikasi dengannya, berharap dia tidak terlalu kelelahan malam ini dan menuliskan pendapatnya untukku.

 ***

“Ada dua jenis Pria didunia ini, yang pertama adalah mereka yang mau tapi tidak mampu, golongan ini masuk kategori pria payah. Lalu, mereka yang mampu tapi tidak mau, golongan ini masuk kategori pria brengsek.”

Pagi ini sangat dingin sekali, semakin menusuk hingga ketulang rasanya saat membaca komentar Bang Ardy atas berlembar-lembar curhatanku. Payah atau Brengsek. Kadang aku suka menyesal kalau cerita ini itu ke Bang Ardy, tapi mau bagaimana lagi, kota bengis ini mengajarkanku untuk berhati-hati menaruh kepercayaan kepada orang lain. Setidaknya, Bang Ardy tidak berniat mencelakakanku.

Andria. Kuraih telepon genggamku, kuketik pesan singkat untuknya,

Andria, maaf hari ini aku tak bisa menemanimu ke undangan Malika. Aku harus menengok Bunda, maafkan.

Kumatikan telepon genggamku, mungkin sampai beberapa hari kedepan. Samar-samar aku mendengar suara putus-putus, suaranya meletup-letup. “Pria payah…pria payah…“.

—-

24 November 2015

Cerpen : Di Bawah Purnama Taman Kota

Gambar : http://seattle.urbansketchers.org/2014/05/revisiting-columbia-city.html
Gambar : http://seattle.urbansketchers.org/2014/05/revisiting-columbia-city.html

“Kau dimana?”, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel-tidak-pintar-ku. Tahu yang kusukai dari teknologi pesan singkat ini? Ya, kau tak perlu khawatir lawan bicaramu sudah membaca atau belum, atau kau tidak perlu lelah berprasangka karena si lawan bicaramu hanya tahu, pesan itu sudah terkirim atau belum. Begini ya, bukannya aku benci teknologi, tapi aku benci membuat orang lain memiliki purba sangka terhadapku.

“Tempat biasa”, kubalas pesan singkat itu, ngomong-ngomong, meskipun pesan singkat, aku tak suka jika pesanku ditulis singkat. Seperti “yang” menjadi “yg”, atau “boleh juga” menjadi “ole uga”. Gara-garanya, suatu hari pernah aku mengirimkan pesan singkat yang panjang, lalu si lawan bicara hanya balas satu huruf “Y” untuk mengatakan “Iya”, seperti tidak dihargai rasanya,  saat bertemu ia jelaskan bahwa yang ia lakukan itu demi mengirit semata, satu huruf untuk satu rupiah, kumaklumi akhirnya. Dan berjanji, sebokek-bokeknya, kau harus selalu sisihkan untuk pulsa jika ingin bicara. Lagipula, lebih mudah menjelaskan, “Maaf tak kubalas, aku tak punya pulsa”, ketimbang berbusa-busa menjelaskan “aku tak apa-apa”, ketika lawan bicara-mu tak puas dengan balasan singkat karena mengira aku sedang ketiban masalah. Repot memang, kalau kau hidup di era dimana orang lain ingin sekali tahu tentang kehidupanmu.

Di taman ini, pertama kali aku bertemu dengannya. Waktu itu aku sedang menyelesaikan sketsa suasana remaja masa kini bermain skateboard, lama sekali kuselesaikan sketsa itu karena lebih banyak aku plonga-plongo melihat kelincahan mereka terutama ketika salah satu diantara mereka gagal bermanuver dan nyungsep. Di waktu yang sama, dia sedang menyelesaikan tugas fotografinya bertema ekspresi. Dia mendatangiku untuk meminta ijin menggunakan ekspresi wajah bengong-ku sebagai ajuan tugasnya, aku melongo.

“Andria.”, dia mengulurkan tangannya padaku. Aku, menggunakan alasan tanganku belepotan tinta cina untuk tidak menyambut salamannya, dan memberikan isyarat tangan namaste.

“Deli.”, kataku singkat, padat, kikuk. Aku selalu gugup menghadapi orang-orang baru, dan kadarnya melesat tinggi jika yang kau temui itu seorang bidadari jelita.

 Andria tersenyum sambil mengamati sketsa yang kupangku. Alamak, indah betul manusia ini. Aku pura-pura haus dengan memesan minum ke penjaja kopi bersepeda. Mana ada orang haus minum kopi. Baru kenal beberapa menit sudah acak-acakan rasanya.

Tiap tengah bulan, aku selalu menyempatkan diri ke taman kota ini. Apalagi kalau bukan karena ingin menikmati purnama. Kalau sedang tidak ingin diganggu, aku pasang earphone untuk mencegah terjadinya interaksi sesama manusia. Kurasa ini purnama ke 336 dalam  hidupku, atau purnama ke 216 saat menyadari betapa memukaunya ia, atau purnama ke 6 aku mengenal Andria. Seorang wanita yang mungkin akan sangat mempengaruhi garis takdirku, wanita bermata coklat yang tingkah laku-nya seperti tak pernah mengenal kata lelah, wanita yang dalam berisiknya selalu bisa memahami diamnya aku,  wanita yang tak pernah kupahami selera musiknya, punk cabaret.

“Dari jam berapa disini?”, Andria datang seperti dewi kwam im, tiba-tiba lantai taman menjelma teratai. Kadang aku benci sekali bagaimana imajinasiku berlebihan menghadapi manusia yang satu ini, makanya kalau bertemu Andria, aku lebih suka melepas kacamataku.

“Baru saja, selepas adzan isya”, aku selalu mencari kesibukan dengan mengobrak-abrik tas. Sial, tiba-tiba aku ingin sekali punya ponsel-pintar, supaya bisa pura-pura membaca sesuatu yang genting, yang mungkin padahal hanya membuka tutup perbincangan sebuah grup yang bahkan tak pernah kau baca isinya sekalipun sebelumnya.

“Cari apa?”, Andria bertanya sambil menyodorkan sebuah hard cover berselimut plastik.

Cari jodoh, tentu saja jawaban yang demikian ini hanya mampu kusampaikan dalam hati. Aku sudah memikirkannya, aku sudah bicarakan juga dengan Bunda, tentang Andria. Suatu hari aku akan mengutarakannya, aku akan menawarkan diri menjadi pasangan hidupnya. Dibawah purnama.

“Cari… apa ini”, aku sedang malas berbohong. Kuraih hard cover berselimut plastik itu.

Undangan
Malika & Edo
Kepada:
Andria Bimala
di tempat

“Sahabatku akan menikah minggu ini, temani aku ya?”, dia duduk di bangku kayu berjarak satu meter didepanku. Aku mematung.

Seorang perempuan yang mengajakmu pergi ke undangan pernikahan sahabatnya?. Yang benar saja, itu artinya ia memberikanku peluang dari teman biasa menjadi teman hidup. Setidaknya itu yang adikku ceritakan padaku saat ia meminta ijin untuk pergi bersama pria yang sekarang menjadi suaminya. Kupandangi undangan pernikahan itu. Tentu peluang yang semacam ini, tak tahu kapan lagi akan aku alami lagi. Kukatakan padanya.

“Dengan satu syarat”, seumur hidup baru sekali ini malam terasa begitu mencekam, jantungku pun rasanya mau mencelat. Kulanjutkan persyaratanku.

“Bulan depannya, kita yang mengundang mereka.”

5 November 2015

Cerpen : Eleanor dan Asep

Asep : “Kalau kusimpulkan, cara terbaik menaklukkan wanita adalah dengan cara membuat mereka dungu.”

Eleanor : “Bah, maksudmu sep?”

Asep : “Ya, seperti bunga akhir abad, kau tahu? dia sakit karena tak mau makan hanya karena tak berkabar dua hari dengan Minke?”

Eleanor : “Itu bukan dungu, bodoh. Itu rindu.”

Asep : “Begitu ya? Ah, lalu saat Minke mengajak guru bahasanya ke Wonokromo, Annelies lari dan menangis ke kamarnya, enggan lagi bicara. Itu namanya apa?”

Eleanor : “Ternyata kau yang dungu Sep. Itu cemburu.”

Asep : “Kau memang ahlinya Nor. Pantas saja banyak wanita dekat denganmu”

Eleanor : “Mau kuberi tahu caranya Sep?”

Asep : “Tentu.”

Eleanor : “Buat mereka jatuh cinta.”

Asep : “Apa itu akan membuat mereka dungu? maksudku, apa itu bisa membuat mereka rindu dan cemburu dalam satu waktu?”

Eleanor : “Lebih dari itu.”

 

Depok, 13 Oktober 2015

 

Cita-Cita Singgih

Nama bocah itu Singgih. Dengan mata berkilat-kilat ia meminta tanganku untuk disalaminya, salimnya pas. Ia mencium punggung  tanganku dengan menempelkan bibir dan hidungnya. Lalu mendongakkan wajahnya padaku sambil tersenyum dan berkata, “Terima kasih untuk ilmu hari ini Pak!”, aku hanya mengangguk sambil tersenyum merasa dihargai. Satu-satunya anak yang melakukan hal demikian, sementara murid lain hanya menempelkan di  dahi atau pipi lalu langsung berlalu begitu saja.

Sejak awal kedatanganku di sekolah terpencil ini, aku selalu penasaran tentang kehidupan selepas sekolah bocah laki-laki bernama Singgih itu. Perawakannya gembil, rambutnya kriting dan satu matanya juling. Belakangan aku tahu itu jenis juling exotropia. Agaknya, karena matanya itu, tidak ada yang mau berteman dengan Singgih. Dan Singgih hanya tertawa dan tersenyum setiap kawan-kawannya mengerjai dan mengejeknya, anak itu benar-benar tidak sadar bahwa dirinya menjadi bahan olokan.

Suatu waktu saya pernah memanggil Singgih ke ruang guru dan bertanya padanya,

“Kau tahu siapa yang meletakkan katak-katak itu dalam tasmu?” Anak itu hanya tersenyum memamerkan giginya yang putih gemerlap dan lesung pipit yang memanjang di pipi gembilnya yang sebelah kiri.

“Paling-paling ulah Cahyo pak”, sambil menggaruk pelan telinganya, ia menatapku, dan yang seperti yang sudah-sudah, aku tidak tahu harus menatap matanya yang sebelah mana.

“Tidak marah?”, aku menyelidik.

“Hehehe, mengapa harus marah pak, tentu maksudnya ingin menghibur, tidak bermaksud jahat..”, ujarnya

“Kau terhibur?”, tanyaku penasaran.

“Tidak pak, buku-bukuku berlendir katak…”, terdiam sejenak lalu menambahkan, “Tapi kan yang lain nampak terhibur..dan tertawa, aku tidak suka kelahi dan bermusuhan pak, aku dan cahyo berteman pak..”.

Ya kau anggap dia teman, tapi tidak sebaliknya.

***

Memasuki bulan kedua, aku masih belum bisa beradaptasi dengan lingkungan desa ini. Terlebih dengan tempat yang menjadi singgahanku ini. Aku harus tidur diatas dipan kayu beralaskan tembikar, lantainya tanah dan yang paling menyengsarakan, aku harus berjalan 50 meter untuk buang air besar, menuju jamban kali. Desa yang dipilihkan untuk aku ini memang di pedalaman, butuh waktu 12 jam dari Jakarta dengan mobil ke arah selatan dan menempuh 6 jam berjalan kaki dari batas akhir jalanan kendaraan bermotor. Aku ingat sekali, menjelang kilometer keempat, langkahku sempat gentar, hampir-hampir menyerah dan berbalik.

Pukul 23.00 WIB, dan Aku masih harus menyelesaikan laporanku sebagai sukarelawan pengajar Sekolah Dasar di Desa ini, harus selesai malam ini karena besok petugas pos akan datang ke balai desa untuk dibawa ke kantor pos kota terdekat. Jadwal petugas pos hanya seminggu sekali, dan aku tak mau sampai laporanku menjadi sangat terlambat. Juga, aku tak mau Bunda terlampau khawatir akan keadaanku disini, kusampaikan betapa asri dan indahnya Desa ini, pemandangannya seperti dalam gambar kalender-kalender di rumah, ladang-ladang jagung yang berpetak-petak, pepohonan rimbun dan semak dengan bunga-bunga yang tak pernah kulihat sebelumnya. Juga kuceritakan pada Bunda tingkah laku para murid yang ajaib. Tentu bagian makan nasi pera, hampir terperosok ke dalam sumur saat tali timba putus dan hampir membakar rumah saat masak air dari tungku tidak kuceritakan pada Beliau, khawatir Bunda akan menyusul kemari dan menjemputku. Kututup surat kepada Bunda dengan ucapan, Doakan dan restui segala pekerjaan Atma BundaAtma rindu Bunda. Kukecilkan api lampu minyak, hendak tidur. Hasrat buang hajat menjalar melilit perut. Apa harus malam ini juga?

***

 “Nah, kalian, siapa yang akan mulai menjelaskan awal mula kejadian ini?”, nada suaraku kuatur agar tidak terdengar seperti orang marah. Singgih dan Cahyo mematung, menunduk layu menatap ujung sepatu mereka sendiri.

Pagi ini kudapati mereka berkelahi didepan kelas, sampai-sampai bibir Cahyo berdarah. Info dari beberapa murid, itu karena Singgih menanduknya. Kulihat juga, beberapa kancing pakaian seragam mereka terlepas. Seragam mereka tampak semakin lusuh dan urakan, seperti berandal cilik. Belum kuketahui penyebabnya, kusampaikan pada Bapak Kepala Sekolah, katanya, sebaiknya aku temui orang tuanya. Murid lain pun tak banyak beri keterangan, seperti sudah bukan rahasia umum lagi kalau Cahyo gemar mengusik Singgih, lebih-lebih ketika musim ujian kenaikan kelas tiba. Cahyo dan Singgih beradu rangking satu dan dua sejak mereka sekelas. Singgih memulai sekolah langsung loncat ke kelas dua, tanpa TK. Saat itu kondisinya, sekolah ini mencapai titik terpuruknya, saat Singgih mendaftar, saat itu pula sekolah ini mulai kekurangan guru sehingga terpaksa tidak membuka kelas baru. Satu guru bisa mengajar sampai-sampai 3 kelas. Padahal saat itu usia Singgih seharusnya sudah duduk di kelas 3 SD, sebelumnya ia terlambat didaftarkan karena tak ada biaya. Bapak Kepala Sekolah pun memberikan keringanan, Singgih boleh diperbolehkan mengikuti kelas dua. Setelah mengikuti ujian khusus dengan nilai sangat baik.

Tidak mudah ternyata Singgih untuk bisa diterima dikelasnya, olokan demi olokanpun mulai terdengar sejak pertama kali Singgih memperkenalkan namanya, Singgih Alam. Lalu satu lengkingan suara bernada menakut-nakuti menyahut, “Alam..Alam Kubuur!”, yang lain bersorak disertai tawa lepas penghinaan. Tidak ada yang mau duduk sebangku dengan Singgih. Hingga tiba masa kenaikan kelas tiga. Singgih menduduki rangking satu, dari situ satu dua temannya mulai melunak dan mau bicara pada Singgih. Cahyo, yang merasa tergeser kedudukannya, meraung-raung memukul ibunya saat pembagian rapor. Sejak saat itu, Cahyo kesumat pada Singgih.

Setengah jam mereka tak ada yang mau memulai menceritakan penyebab perkelahian mereka. Kusuruh mereka bersalaman, Cahyo nampak lama dan ragu untuk menanggapi jabatan Singgih. Aku bidik matanya sambil kuangkat daguku. Tanpa energi, tangannya seperti hanya melewati angin, menyentuh ujung-ujung jari tangan Singgih. Baiklah, sepulang sekolah ada pekerjaan tambahan, mendatangi kedua orang tuanya.

***

Kami berjalan berbaris bertiga, masing-masing seperti menjaga jarak. Aku paling depan, disusul oleh Cahyo kemudian Singgih. Menyusruk-nyusruk jalan Cahyo, membuat debu naik menutup pandangan orang dibelakangnya. Aku tengok kebelakang, jalannya dibetulkan. Seratus meter, dia lakukan lagi. Anak batu.

Rumah pertama adalah rumah Cahyo, rumah orang kaya untuk ukuran desa ini. Lantainya bertegel, juga ada bangku di teras rumahnya. Aku meminta Singgih menunggu di warung tak jauh dari rumah Cahyo. Nampak, ibunya sedang menyuapi balita di teras.

“Assalamualaikum”, Aku ucapkan salam. Sementara Cahyo berjalan cepat sambil menunduk.

“Walaykumussalam… Ya Allah kenapa itu bibirmu nak,”, Ibunya bergegas menyongsong anaknya, mengangkat dagu Cahyo. Si Anak menepis, langsung kabur ke kamarnya.

Aku salami Ibunya, dan ia mempersilahkan aku duduk. Aku buka dengan informasi singkat nilai akademis anaknya yang baik-baik saja lalu kuceritakan kejadian perkelahian anaknya dengan Singgih.

“Naaak, Cahyooo… kemari”, Ibunya memanggil Cahyo untuk mendengarkan muasal kejadian itu. Lama diam sambil menoleh kearahku, malu betul ia rupaya. Seperti kuduga, masalah persaingan. Ayah Cahyo menjanjikan membelikan sepeda kalau Cahyo rangking satu, melihat nilai ulangan matematikanya yang terpaut jauh dari Singgih, Cahyo marah putus asa.

“Aku…. Aku cuma katakan kalau Singgih pasti mencontek saat ujian matematika, makanya nilainya bagus begitu, pasti curang, dia langsung tubruk aku dan mengenai bibirku sampai berdarah begini, aku balas dorong dia..”. Pelan sekali suaranya, sambil anak itu memegangi matanya malu ditatap ibunya.

***

“Ibu, permisi.. ada lihat anak SD berambut keriting duduk disini bu?”, Tanyaku pada Ibu penjaga warung, sambil mataku menyisir sekitar lingkungan warung mencari Singgih.

“Iya ada didalam mas, ijin sholat dzuhur tadi, tunggu saja sebentar ya… Anaknya pak Rosidi kan?”, Si Ibu bertanya balik.

“Oh.. iya mungkin bu. Saya kurang tahu namanya”, kataku tersenyum.

Singgih keluar rumah, berpamitan dengan Ibu warung. Si Ibu warung memberikan bungkusan berisi pisang rebus dan kacang tanah rebus.

“Ini, untuk adikmu dirumah ya, salam untuk Bapak Ibu”

“Terima kasih Budhe Sum”, Singgih mencium tangan Ibu warung

“Masih jauh rumahmu Nggih?”, Aku bertanya

“Sekitar dua puluh menit setelah lewati sungai Pak”, …. ” Pak, saya mohon jangan bilang saya berkelahi pak, ke Bapak dan Ibu, tentu mereka akan marah dan sedih pak”, Matanya berair, langkahnya melambat.

“Sudah, tenang saja. Bapak hanya ingin main kerumahmu kok, sudah sudah..”, Aku usap-usap kepalanya menyemangati,

Diperjalanan, Singgih banyak cerita tentang cita-citanya. Ia bilang ingin sekali jadi Insinyur listrik, supaya desa ini tetap terang walau malam. Juga supaya bisa membetulkan toa-toa masjid. Supaya merdu adzan tidak membuat orang kesal. Aku hanya mendengarkan. Membatin.

Desa ini bahkan tidak ada sekolah menengah atasnya. Harus keluar desa baru ada. Masa pengabdianku untuk mengajar hanya tinggal beberapa minggu lagi, setelah mengurusi kelulusan kelas Singgih. Lalu, aku hanya punya waktu sebulan untuk mengurus laporan kerja menjadi relawan pengajar desa ini dan administrasi lainnya sebagai persyaratan keberangkatan beasiswa masterku ke Inggris.

Ah, Singgih… cita-citamu itu membuat gusar aku.

“Bisa kan pak? menurut pak guru, apa saya bisa menjadi Insiyur pak?”, Pertanyaannya semakin membuatku gelisah.  Aku hanya tersenyum dan mengangguk. Tentu saja kau bisa, asalkan kau keluar dari desa ini.

“Setiap malam aku berdoa pak, semoga semakin berkembang desa ini, semakin banyak sekolah sekolahnya, tak perlu keluar desa untuk SMA dan kuliah nanti”, matanya menatap langit yang mulai masuk sore.

Aku sendiri hanya bisa meng-aamiin-kan. Aku jadi kesal sendiri karena merasa hanya bisa mengambil manfaat dari desa ini untuk kepentinganku seorang. Tiba-tiba aku merasa berhutang banyak kepada desa ini. Hatiku mendung.

***

Kami tiba dirumahnya, jauh lebih reot ketimbang tempat yang kutinggali. Rumah gubuk, lantai tanah. Bukannya tak ingin menyilahkan masuk, karena memang tidak ada ruang tamu didalam. Aku dipersilahkan duduk di dipan depan rumahnya. Dipanggilkannya orang tuanya. Singgih anak pertama dari dua bersaudara, adiknya perempuan masih 3 tahun. Ayahnya bekerja membersihkan masjid dan mengajar mengaji setiap sore. Ibunya… Ibunya hanya dirumah saja. Singgih menuntun ibunya dari dalam rumah, sepersekian detik kupikir ibunya sakit. Tidak sakit, Ibunya tunanetra. Aku bantu dengan meminggiri nampan suguhan di dipan. Aku salimi ibunya.

“Assalamualaikum pak guru, mohon maaf sampai merepotkan mengantar Singgih pulang kerumah..”, Ibunya membuka obrolan, nampak dari gelagatnya tidak nyaman, takut tamunya tidak nyaman dengan suguhan dan rumah yang sangat seadanya. Bapak Singgih duduk disebelah saya, perawakannya kurus tinggi, wajahnya selalu tersenyum.

“Waalaikumsalam bu, tidak apa-apa bu, hanya ingin bersilaturahim saja. Kebetulan saya belum pernah berkunjung ke rumah anak-anak, dan beberapa minggu lagi, setelah pembagian rapor saya juga harus kembali ke kota untuk dan meninggalkan desa ini, Singgih anak juara kelas. Tentu bangga punya anak rajin seperti Singgih bu?”, Singgih harap-harap cemas, kalau-kalau aku membuka wacana tentang kasus perkelahiannya hari ini.

Diperjalanan tadi, aku tanyakan lagi mengapa ia berkelahi.

“Aku tak pernah marah pada Cahyo, mau dia katakan aku ini juling, jelek, gendut, alam kubur.. aku tak pernah marah pak.. Aku marah karena ia sebut-sebut Ibuku. Ia katakan Ibu si Buta dari gua hantu, tak heran anaknya seperti monyet katanya. Ia juga menyebar fitnah kalau dulu Ibu mencari ilmu hitam di goa, makanya Ibu buta. Dan kalau ke kota, ibu akan menjadi pengemis. Aku sedih dan marah pak… Ibuku dihina begitu… ibuku itu orang baik pak.  Meski buta, juga tak pernah menyusahkan siapapun, tak juga pernah mengemis.”

“Ibu… aku pernah sekali waktu menangis-nangis, saat diejek juling… Ibu katakan padaku, Tak apa nak.. mata yang paling baik adalah mata yang dari penglihatannya ia mengambil pelajaran dan bersyukur kepada Allah nak. Tak perlu lagi bersedih nak.. apalagi marah. Sudah…mata seperti apapun adalah mata yang paling indah, kalau.. mata itu digunakan untuk melihat kebaikan…Tengok Ibu, punya mata tapi tak bisa melihat, bersyukurlah kau dengan apa yang ada padamu…”

Hatiku bergerimis menyimak cerita Singgih. Gambaran Bunda melembayang, Ah betapa aku rindu padamu Bun.

“Maksud kedatangan saya kemari bu, ingin sekali mengajak Singgih melanjutkan sekolah di Jakarta…”, Hanya dalam seperjalanan pulang, tak sulit untuk menimbang-nimbang keputusan ini, niat hati berkunjung  melahirkan perihal baru. Aku akan boyong Singgih untuk mengantarkan pada cita-citanya yang luhur itu, kukira tabunganku akan cukup. Bunda, pun pasti tak berkeberatan membantu merawat Singgih selama aku kuliah nanti. Lagipula, Singgih pasti akan akrab dengan adik kesayanganku Bagas, usia mereka hanya terpaut setahun. Ibunda Singgih tercenung mendengarkan permintaanku. Kumantapkan sekali lagi,

“Ya bu, saya sayang sekali dengan Singgih ini, saya melihat potensi yang sangat besar pada dirinya. Semoga Ibu tidak berkeberatan jikalau saya mengajak Singgih untuk melanjutkan SMP di Jakarta.”, Saya menoleh kepada Bapak Singgih, menunggu-nunggu jawaban. Ah, jika mereka tak mengijinkan, hatiku tak bisa tenang. Melanjutkan kuliah di universitas idamanpun menjadi tak berselera lagi. Belum pernah aku begini peduli sama manusia selain aku dan keluargaku sendiri. Bapak Singgih memohon izin kedalam untuk mempertimbangkan keputusan besar ini dengan sang ibu, aku sendiri paham, barangkali harta berharga yang  mereka punya hanya anak-anaknya. Dan kini, ada orang asing hendak membawanya pergi jauh salah satunya.

***

Apa kabar Mas Atma? kudoakan sehat selalu di Inggris sana. Sedang musim apa disana?

Tentu suasananya berbeda sekali dengan Indonesia ya Mas?

Ini pertama kalinya Singgih menggunakan surat elektronik, Baik betul mas Bagas mengajariku membuat akun email ini Kak. Wah ini lebih canggih ternyata ya Mas, hanya beberapa menit bisa menembus jarak ribuan kilometer. Nanti kalau Singgih sudah jadi orang yang pintar, Singgih mau pasang internet di desa, supaya bisa bersurat ke Bapak dan Ibu setiap hari. 

Sekarang Singgih duduk di kelas 2 SMP kak, disini Singgih punya banyak teman, bahkan beberapa diantaranya sering Singgih main kerumahnya. Lastri, Eko dan Imam namanya. Kami sering belajar berkelompok, kadang juga belajar di rumah. Bunda baik sekali Mas, biasanya  kami dibuatkan kue-kue ketika sedang  belajar berkelompok. Semoga Singgih bisa cepat-cepat jadi orang sukses supaya bisa membalas budi baik Mas Atma dan Bunda, semuanya, mulia untuk kalian. Aamiin.

Terima kasih, karena mau membantu Singgih mewujudkan cita-cita Singgih. Singgih akan rajin dan giat belajar!

Kapan Mas Atma pulang ke Indonesia? Singgih rindu sekali. 

Salam sayang

Singgih Alam

Mataku berkaca-kaca membaca surat dari Singgih. Singgih, keluarganya dan desanya, selalu menjadi pelita dalam hatiku. Meski tugas dan project menumpuk, tekanan sana sini, hatiku masih tetap bisa tenang. Terima kasih Tuhan. Ya Singgih, Mas Atma-mu ini akan segera selesaikan studi dan pulang menemui kalian semua.