Tulisan Ulang : Di Jalan Cinta Para Pejuang, Biarkan Cinta Berhenti Pada Titik Ketaatan

Namanya Julaibib, begitulah dia biasa dipanggil. Nama ini sendiri mungkin sudah menunjukkan ciri fisiknya yang kerdil dan pendek. Nama Julaibib adalah nama yang tidak biasa dan tidak lengkap. Nama ini, tentu bukan ia sendiri yang menghendaki. Bukan pula orangtuanya. Julaibib hadir ke dunia tanpa mengetahui siapa ayah dan ibunya. Demikian pula orang-orang, semua tidak tahu, atau tidak mau tahu tentang nasab Julaibib. Bagi masyarakat Yatsrib, tidak bernasab dan tidak bersuku adalah cacat sosial yang sangat besar.

Julaibib yang tersisih

Tampilan fisik dan kesehariannya juga menjadi alasan sulitnya orang lain ingin berdekat-dekat dengannya. Wajahnya jelek terkesan sangar, pendek, bunguk, hitam, dan fakir. Kainnya usang, pakaiannya lusuh, kakinya pecah-pecah tidak beralas. Tidak ada rumah untuk berteduh, tidur hanya berbantalkan tangan, berkasurkan pasir dan kerikil. Tidak ada perabotan, minum hanya dari kolam umum yang diciduk dengan tangkupan telapak tangan. Abu Barzah, pemimpin Bani Aslam, sampai-sampai berkata tentang Julaibib, “Jangan pernah biarkan Julaibib masuk diantara kalian! Demi Allah jika dia berani begitu, aku akan melakukan hal yang mengerikan padanya!” demikianlah keadaan Julaibib pada saat itu.

Namun jika Allah berkehendak menurunkan rahmatNya, tidak satu makhluk pun bisa menghalangi. Julaibib menerima hidayah, dan dia selalu berada di shaf terdepan dalam shalat maupun jihad. Meski hampir semua orang tetap memperlakukannya seolah ia tiada, tidak begitu dengan Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam Shollallahu ‘alaihi wasallam sang rahmat bagi semesta alam. Julaibib yang tinggal di shuffah Masjid Nabawi, suatu hari ditegur oleh Sang Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam, “Julaibib…”, begitu lembut beliau memanggil,

“Tidakkah engkau menikah?”
“Siapakah orangnya Ya Rasulallah Shollallahu ‘alaihi wasallam”, kata Julaibib, “yang mau menikahkan putrinya dengan diriku ini?”

Julaibib menjawab dengan tetap tersenyum. Tidak ada kesan menyesali diri atau menyalahkan takdir Allah pada kata-kata maupun air mukanya. Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam juga tersenyum. Mungkin memang tidak ada orang tua yang berkenan pada Julaibib.
Tapi hari berikutnya, ketika bertemu dengan Julaibib, Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam menanyakan hal yang sama. “Julaibib, tidakkah engkau menikah?”. Dan Julaibib menjawab dengan jawaban yang sama. Begitu, begitu, begitu. Tiga kali. Tiga hari berturut-turut.
Dan di hari ketiga itulah, Sang Nabi menggamit lengan Julaibib dan membawanya ke salah satu rumah seorang pemimpin Anshar.

“Aku ingin menikahkan putri kalian.”, kata Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam pada si empunya rumah, “
“Betapa indahnya dan betapa barakahnya”, begitu si wali menjawab berseri-seri, mengira bahwa sang Nabi lah calon menantunya.
“Ooh.. Ya Rasulallah Shollallahu ‘alaihi wasallam, ini sungguh akan menjadi cahaya yang menyingkirkan temaram di rumah kami.”
“Tetapi bukan untukku”, kata Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam,
“ku pinang putri kalian untuk Julaibib”
“Julaibib?”, nyaris terpekik ayah sang gadis
“Ya. Untuk Julaibib.”
“Ya Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam”, terdengar helaan nafas berat. “Saya harus meminta pertimbangan istri saya tentang hal ini”
“Dengan Julaibib?”, istrinya berseru,
“Bagaimana bisa? Julaibib berwajah lecak, tidak bernasab, tidak berkabilah, tidak berpangkat, dan tidak berharta. Demi Allah tidak. Tidak akan pernah putri kita menikah dengan Julaibib”
Perdebatan itu tidak berlangsung lama. Sang putri dari balik tirai berkata anggun, “Siapa yang meminta?”

Sang ayah dan sang ibu menjelaskan.

“Apakah kalian hendak menolak permintaan Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam? Demi Allah, kirim aku padanya. Dan demi Allah, karena Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam yang meminta, maka tiada akan dia membawa kehancuran dan kerugian bagiku”.

Sang gadis yang shalehah lalu membaca ayat ini :

“Dan tidaklah patut bagi lelaki beriman dan perempuan beriman, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata” (QS. Al Ahzab : 36)

Dan sang Nabi dengan tertunduk berdoa untuk sang gadis shalihah, “Ya Allah, limpahkanlah kebaikan atasnya, dalam kelimpahan yang penuh barakah. Jangan Kau jadikan hidupnya payah dan bermasalah..”

Doa yang indah.

Pelajaran dari Kisah Julaibib

Kita belajar dari Julaibib untuk tidak meratapi diri sendiri, untuk tidak menyalahkan takdir, untuk selalu pasrah dan taat pada Allah dan RasulNya. Tidak mudah menjadi Julaibib. Hidup dalam pilihan-pilihan yang sangat terbatas. Memang pasti, ada batas-batas manusiawi yang terlalu tinggi untuk kita lampaui. Tapi jika kita telah taat kepada Allah, jangan khawatirkan itu lagi. Ia Maha Tahu batas-batas kemampuan diri kita. Ia tidakkan membebani kita melebihi yang kita sanggup memikulnya. Urusan kita sebagai hamba memang taat kepada Allah. Lain tidak! Jika kita bertidakwa padaNya, Allah akan bukakan jalan keluar dari masalah-masalah yang di luar kuasa kita. Urusan kita adalah taat kepada Allah.

Julaibib telah dihajatkan langit mesti tercibir di bumi. Ia lebih pantas menghuni surga daripada dunia yang bersikap tidak terlalu bersahabat padanya. Saat syahid, Sang Nabi begitu kehilangan. Tapi ia akan mengajarkan sesuatu kepada para sahabatnya. Maka ia bertanya diakhir pertempuran.

“Apakah kalian kehilangan seseorang?”
“Tidak Ya Rasulallah Shollallahu ‘alaihi wasallam!”, serempak sekali. Sepertinya Julaibib memang tidak beda ada dan tiadanya di kalangan mereka.
“Apakah kalian kehilangan seseorang?”, Sang Nabi bertanya lagi. Kali ini wajahnya merah bersemu.
“Tidak Ya Rasulallah Shollallahu ‘alaihi wasallam!”. Kali ini sebagian menjawab dengan was-was dan tidak seyakin tadi. Beberapa menengok ke kanan dan ke kiri.
Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam menghela nafasnya. “Tetapi aku kehilangan Julaibib”, kata beliau.
Para sahabat tersadar,“Carilah Julaibib!”
Maka ditemukanlah dia, Julaibib yang mulia. Terbunuh dengan luka-luka, semua dari arah muka. Di sekitarnya tergolek tujuh jasad musuh yang telah ia bunuh. Sang Rasul, dengan tangannya sendiri mengafani Sang Syahid. Beliau Shollallahu ‘alaihi wasallam menshalatkannya secara pribadi. Dan kalimat hari berbangkit. “Ya Allah, dia adalah bagian dari diriku dan aku adalah bagian dari dirinya.”

Di jalan cinta para pejuang, biarkan cinta berhenti di titik ketaatan.

Sumber : Jalan Cinta Para Pejuang (Ust. Salim A Fillah)

Kesempatan

1a62eb8fc1b874bf340ffff60bbb7b4a
sumber : http://islamicartdb.com/

Selalu ada kesempatan, karena hidup itu proses. Yang baik menjadi lebih baik, yang tidak baik menjadi baik, yang tidak baik menjadi sedikit lebih baik, bahkan bisa juga sebaliknya. Jika memang ketika ada manusia yang menolak proses tersebut, bisa dibilang bahwa manusia tersebut sesungguhnya telah berhenti berproses. Berproses untuk bisa menerima dinamika hidupnya sendiri.

Jika di dalam dunia ini, yang kau kehendaki adalah kesempurnaan. Maka kau telah memilih untuk hidup sendirian. Dalam ketidaktahuan bahwa ternyata kesempurnaan hanya bisa dihimpun dari buah pikiran yang dihasilkan dari Ilmu yang diridhai Tuhan. Menerima kekurangan dan tidak berhenti mempelajari ilmu-ilmu yang menguatkan iman.

Pernah, bahkan sering. Saya diuji dihadapkan dengan hal-hal yang paling tidak saya sukai. Namun proses yang tidak sempat kuketahui dari mana datangnya, akhirnya memaksa saya untuk mau bahkan mencintai apa yang tidak kusukai tersebut. Demi proses yang lebih baik, demi tangga hidup yang harus kulewati. Karena selesai tidak selesai harus dikumpulkan.

Oke kuberitahu salah satunya adalah pelajaran Elektro. 

Pun, jika belakangan memang banyak pertanyaan-pertanyaan tentang pasangan. Kini, yang kuketahui adalah, manusia itu mampu berubah, dinamis. Dan perasaan. Jika alasan dan tujuan hanya disandarkan pada perasaan. Maka ketahuilah bahwa rasa itu bisa hilang. Harus ada yang dibangun, harus ada yang diperjuangkan, harus ada yang membuat selisih paham dalam hidup berkeluarga kelak bukan tentang uang makan, jadwal arisan, undangan, mengajak anak jalan-jalan, apalagi hanya cemburu-cemburuan.

Harus ada yang dikomitmenkan dan dipersembahkan untuk Tuhan. Membangun generasi yang menyandarkan hidupnya pada AlQuran, mencintai Alquran dan mengabdikan dirinya untuk Tuhan.

Apa aku berlebihan?

Masih belajar. Depok, 23 Juni 2015

Ghirah : Bukan Sekedar Cemburu

Pagi tadi abis share BM dari grup satu ke grup yang lainnya. Kali ini tentang Ghirah dan Tantangan Terhadap Islam karya Buya Hamka. Isinya tentang analogi makna ghirah dan perwujudan sebagai umat Islam. Yang bikin kontroversi, ada salah satu sahabat yang japri dan bahas tentang konten BM tersebut. Memang agak kontroversi karena mangangkat nama Mahatma Ghandi yang selama ini kita kenal sebagai tokoh perdamaian yang pluralis, digambarkan sebagai tokoh yang intoleran. Berikut bagian yang membuat saya tergelitik untuk mencari informasi tentang Mahatma Ghandi. Well fyi, saya ini paling malas dengan perdebatan, cukup memberikan penjelasan satu kali atas pertanyaannya, kemudian saya akan berhenti sampai disitu, sembari memperdalam dan mencari kebenaran. (Semoga Allah senantiasa memampukan dan memandaikan hamba untuk mencari ilmu serta memetik hikmahnya).

Buya Hamka mengkritik keras umat Muslim yang memuji-muji Mahatma Gandhi tanpa pengetahuan yang memadai. Gandhi memang dikenal luas sebagai tokoh perdamaian yang menganjurkan sikap saling menghormati di antara umat beragama, bahkan ia pernah mengatakan bahwa semua agama dihormati sebagaimana agamanya sendiri. Pada kenyataannya, Gandhi berkali-kali membujuk orang-orang dekatnya yang telah beralih kepada agama Islam agar kembali memeluk agama Hindu. Kalau tidak dituruti keinginannya, Gandhi rela mogok makan. Itulah sikap sejatinya, yang begitu cemburu pada Islam, sehingga tidak menginginkan Islam bangkit, apalagi memperoleh kemerdekaan dengan berdirinya negara Pakistan.

 Ghirah. Sebelum baca tentang aneka sumber, saya memahami makna ghirah sebagai semangat. “Dijaga ya ghirahnya..” (Dijaga ya semangatnya/Istiqomah ya). Tapi ternyata bukan itu. Menurut Buya Hamka dalam Bukunya yang berjudul Ghirah dan Tantangan Terhadap Islam, ghirah artinya menjaga syaraf diri (hal. 3) atau cemburu (hal. 9). Ghirah adalah simbol masih hidupnya jiwa seseorang. Ghirah adalah nyawa.

Kembali lagi bahas tentang Gandhi, berikut ini ada penjelasan yang lebih lengkap dari BM yang saya terima. Dalam artikel tersebut memaparkan tentang catatan penting tentang Ghandi yang ditulis oleh Buya Hamka. Berikut isinya :

“Terdapat juga pada orang besar suatu bangsa. Kita hanya mendengar Mahatma Ghandi sebagai seorang yang berfaham luas. Yang berprikemanusiaan tinggi. Yang percaya juga kepada Islam Almasih dan Muhammad di samping mempertahankan Agama Hindunya. Diapun mempercayai kitab Veda. Begitu luas fahamnya. Tetapi kalau martabat agamanya, agama Hindu tersinggung, dia bersedia pula mati. Dia bersedia puasa sampai mati.

Di zaman perjuangan kemerdekaan di bawah pimpinan kongres, belumlah terjadi perpecahan di antara pemimpin Hindu dengan pimpinan Muslimin. Di keliling Gandhi beridirlah berpuluh pemimpin. Hindu dan Muslim, laki-laki dan perempuan, “Mother India” menyatukan mereka semuanya. Ada Dr. Anshari almarhum, disamping Motital Nehru, ada Abul Kalam Azad di samping Gopalachari. Semuanya bersatu, tua dan muda berdiri disamping Gandhi. Diantara pemimpin yang banyak itu terdapatlah seorang putri Hindu bangsawan rupawan, yang menjadi hiasan majelis, karena cantiknya. Yaitu adik Yawaharal Nehru, Viyaya Lakshmi Pandit. Dan disamping itu ada pula seorang pemuda Islam bernama Dr. Said Husain.

Semboyan selama ini adalah Persatuan Hindu-Muslim membela ibu pertiwi. Bande Mataram! Sebelum persatuan karena cita luhur itu terlaksana, namun jiwa kedua remaja ini: Viyaya Husain telah berpadu lebih dahulu. Berlain agama tidak mendiding asmara mereka lagi. Cinta telah mempertemukan hati kedua pemuda itu.

Keduanya sama berpendidikan tinggi, dan penuh dengan cita-cita. Moga-moga redalah angin permusuhan yang telah berurat-berakar di antara golongan Islam dengan golongan Hindu. Perkawinan mereka jadi lambangnya. Gandhi yang luas faham, sampai digelarkan “Nabi”nya Persatuan India. Dan Motial Nehru bangsawan hartawan yang luas faham pula. Yang telah mengorbankan harta bendanya untuk menyokong perjuangan “Ibu India”. Tentulah keduanya akan mempermudah pertemuan kedua kekasih itu!

“Tidak, tidak, tidak….! Darah Aria yang tinggi, darah Hindu keturunan Pandit akan diserahkan kepada seorang Islam. Tidak!

Ayahnya Motial membujuk, janganlah dilangsungkan perkawinan itu. Dan abangnya Yawaharal Nehru pun, yang terkenal luas fahamnya, meminta jangan dilangsungkan, karena masyarakat Hindu tidak akan menerimanya. Tetapi tidak berhasil! Viyaya hendak melangsungkan juga. Bukankah dia lebih berkuasa atas dirinya sendiri? Sebab dia telah dewasa dan terpelajar pula? Kesudahannya Gandhi pun turun tangan. Dia pergi kepada Viyaya. Dia meniarap di bawah kaki puteri jelita itu. Dan berkata bahwa dia tidak akan mengangkat kepalanya, sebelum Viyaya berjanji bahwa perkawinan itu tidak akan dilangsungkan. Viyaya patah!

Seorang wanita yang berbudi halus, yang di zaman kini telah menjadi seorang wanita terbesar di dunia, tidaklah dapat bertahan lagi, di hadapan suatu pribadi yang sebesar yang meniarap di bawah kakinya. Viyaya terpaksa tunduk! Dan menerima seketika Gandhi memilihkan buat dia seorang pemuda Hindu buat jadi suaminya. Dan untuk mencegah pengaruh kenangannya kepada pemuda Said Husain, pemuda ini diutus ke Amerika Serikat buat belajar. Dan di sanalah pemuda itu hidup sampai 20 tahun.

Beberapa lama kemudian meninggallah suami Viyaya. Sedang Said Husain masih ada di Amerika, dan belum kawin. Apa hendak dikata, masa telah berlalu 20 tahun. Dan uban pun telah mulai menjuntai di kepala mereka. Datang juga dia ke Amerika itu, buat menziarahi kekasihnya. Tetapi apa hendak dikata. Zaman muda telah berlalu. Mereka telah menjadi sahabat yang kekal akan ganti perkawinan. Setelah India merdeka, Dr. Said Husain diangkat menjadi Duta Besar India yang pertama buat Mesir. Setelah itu dia pun meninggal. Dan semua orang yang mengerti akan jiwa manusia, akan tetap melihat bekas luka hati yang mendalam pada wajah “Wanita terbesar di abad itu”.

Begitulah kiranya, silahkan berpendapat masing-masing.

Wallahualam bi shawab

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّإِثْمٍ فَإِنَّ اللّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa [398] karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS: Al Maidah:3)

Bekerja Untuk Apa?

10982066_941766149167081_3710288883099525682_n

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

Tiada ilmu yang lebih utama selain belajar dan mempelajari Alquran. Dibuka dengan sedikit penjelasan tentang agama samawi, sejarah munculnya ras dari keturunan Nabi Yakub  dan Nabi Isa. Prolog yang membuka cakrawala tentang agama samawi, sebuah pondasi untuk bisa “percaya diri” atas agama yang Allah sudah anugerahkan kepada kita, Islam.

Saya tidak akan membahas mengenai detail penjelasan tadabbur ayat per ayat surat Al-Baqarah 141 dan 142. Karena memang penjelasan kajian akhirnya melebar dan beberapa hal langsung menjadi oase atas segala dilematika dalam pilihan hidup yang sedang dijalani.

Ternyata, kita ini  manusia terlalu panjang angan. Ingin kesana kemari, menjadi ini itu, tapi lupa pada tujuan penciptaan. Yakin sudah ber-islam, tapi tidak disertakan dengan sikap, mental dan kepribadian islam. Entah pengaruh turun-temurun bangsa kita yang manut-manut saja dengan perubahan peradaban, atau memang ada yang salah dengan pemahaman kita ini. Seolah saat ini bangsa kita, “Sudah miskin, takut miskin”, lucu memang, tapi menjadi tidak lucu lagi karena memang mayoritas (bahkan lulusan perguruan tinggi terkenal sekalipun) masih menganut mental “karyawan”. Entah apapun pekerjaannya, siapa pemilik perusahaannya, yang  penting pangan, sandang dan papan terpenuhi. Ada pula yang sudah menyadari, sudah mengabdi bertahun-tahun, tapi takut keluar dari zona nyamannya, karena terbiasa menikmati apa yang biasa didapatkan. Mau riba kek, mau rampok hasil bumi sendiri lalu dikirim keluar negeri, mau tambah memiskinkan negara sendiri, sudah tidak terpikirkan, karena sudah nyaman. Kalau sudah begini, tanyakan kepada diri sendiri “Seberapa kau yakin bahwa Tuhanmu adalah yang maha kaya dan maha pemurah?”, atau lebih mengerucut lagi menjadi “Apa visi hidupmu?”

Allah telah jelas memberi tahu kepada kita apa visi manusia:, “iyyaka na’bud wa iyyaka nasta’in”. “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan memohon pertolongan”. Atau yang lebih tegas lagi dikatakan, “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. Itulah visi seorang muslim yang Allah sematkan langsung kepada kita, manusia. Hak Allah adalah disembah, dan hak hamba-Nya adalah mendapat pertolongan Allah. Lalu mengapa masih ragu meninggalkan jalan yang justru membuatmu sibuk mengumpulkan sesuatu yang tidak berarti, membuatmu tidak bisa mengikuti kajian untuk mengenal Allah dengan mempelajari Alquran, membuatmu tidak bisa berdedikasi dan mengabdi kepada umat islam, membuatmu bahkan tidak bisa berkumpul dengan keluargamu?. Lalu pada akhirnya kita menyesal (dan kebanyakan memang begitu, belakangan, terlambat), karena ternyata usaha dan kerja keras kita, apa yang telah kita kumpulkan, adalah sesuatu hal yang justru membebani hidup kita, bukannya meringankan langkah kita selanjutnya. Semuanya lenyap, menguap.

Apa yang lebih buruk dari kehilangan tujuan? Apa yang lebih melelahkan dari perjalanan tanpa titik pertemuan dengan sang Rabb? Apa yang lebih membuat kita menyesal daripada waktu yang kita gunakan tanpa dasar taat kepada Allah?

Bekerjalah..bukan untuk bekerja semata. Bekerjalah karena itu caramu beribadah kepada Allah, Bekerjalah karena disitu kau perjuangkan agama Allah, Bekerjalah karena disitu kau memberikan manfaat kepada umat Islam. Bekerjalah dan bekerjasamalah untuk Islam.

Mungkin setelah menjawab rentetan pertanyaan itu, baru kita bisa menjawab tantangan Masyarakat Ekonomi Asean yang akan resmi dibuka pada penghujung tahun 2015 ini. Jangan sampai mimpi buruk bahwa Indonesia akan menjadi bulan-bulanan negara tetangga menjadi sebuah kenyataan, hanya karena para pemuda-pemudi islamnya tidak mau serius menyikapi ini semua. “Nafsi, Nafsi”, Sendiri-sendiri, dan akhirnya ekonomi Indonesia mencapai titik kehancuran dan lemah, sehingga situasi tersebut akan lebih mudah lagi menggerogoti pribadi bangsa kita. Bukankah fakir dekat sekali dengan kekufuran? (“Fakir sangat dekat dengan kekufuran.” HR.Al-Baihaki). Islam-pun dengan sangat, dan sangat mudah dijajah. Apa masih mau bersantai ria?

Kembalilah kepada Alquran. Ikuti kajian-kajian islam karena pengajian itu bukan sekadar mencari pahala, mengisi waktu luang atau mencari ketenangan jiwa semata-mata, ini tentang bagaimana kemudian kita mengaplikasikan ilmu  yang Allah berikan kepada kita dengan ajaran Alquran, dengan contoh yang sudah pernah diperintahkan Allah melalui Rasulullah SAW. Karena ujung dari semua ini kita bicara tentang keberlangsungan peradaban islam, keberlangsungan hidup manusia dan nasib generasi kita.

“Barang siapa (dari umatku) yang ketika bangun pagi tidak memikirkan nasib umat, maka dia bukan umatku”, (HR. Ahmad)

Wallahu A’lam Bishawab

Sedikit renungan sepulang Kajian Kamis Malam oleh Ust. Bachtiar Nasir.

#Day 24 : Ketergesaan Dan Kecerobohan Adalah Bahan Bakarnya Kesengsaraan

Ada, beberapa buku yang hingga kini. Masih sering kubolak-balik lembarannya. Dan salah satu nya adalah karya Dr. Aidh Abdullah Al-Qarni, MA berjudul “Agar Menjadi Wanita Paling Bahagia di Dunia”, buku itu tak terlalu tebal seperti karya beliau Laa Tahzan. Tapi isinya, luar biasa luas. Memenuhi dahaga nasihat dan keilmuan. Berikut akan kutulis ulang salah satu bab-nya.

Ketergesaan Dan Kecerobohan Adalah Bahan Bakarnya Kesengsaraan

Impian yang terwujud adalah sebaik-baik impian

Bila tidak, maka kita telah bersamanya dengan bahagia

Kelembutan adalah tingkatan tertinggi yang dicapai oleh manusia dalam mengalahkan amarahnya. Sabar adalah berbuat hati-hati dan tidak tergesa-gesa. Dua hal tersebut akan berperang melawan kegelisahan. Barang siapa tidak mempunyai dua hal itu, niscaya ia tidak akan memiliki kebaikan dan hidup dalam kegelisahan. Dengan kelembutan banyak hal bisa diselesaikan. Sebaliknya dengan kekerasan malah membuat suatu masalah menjadi lebih buruk.

Manusia penyabar akan menyesal jika pekerjaannya hanya  menghasilkan kesia-siaan. Sedangkan orang bodoh jauh dari penyesalan dan akibatnya akan lebih buruk. Maka dari itu, jika manusia bisa saling mengawasi dan mengingatkan niscaya manusia akan bisa menemukan ketentraman batin.

Agama kita (Islam, red), sangatlah menganjurkan pada umatnya untuk berlaku lembut, halus dan penyabar. Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya kelembutan tidak akan ada pada sesuatu kecuali akan membuatnya semakin indah dan jika kelembutan hilang dari sesuatu akan membuatnya semakin jelek.”

Pelita : “Kebanyakan manusia telah menghabiskan waktu dalam hal-hal yang tidak bernilai.”

Tempat paling terhormat di dunia adalah pelana kuda (untuk berjihad)
Dan sebaik-baik teman sepanjang waktu adalah buku

Dr. Aidh Abdullah Al-Qarni

#Day 22 : Sekutip Doa

Kutipan dari Ust. Yusuf Mansur. Yang membuat sejenak berhenti dari aktifitas menyapu sore ini. Setelah beliau paparkan sebuah tausiyah yang berjudul “Ustadz Yusuf Mansur, Yakin Jilid 9, Datang dan Bicaralah pada Allah SWT, Wisatahati ANTV” di Youtube. Ngomong-ngomong tentang ust, aku tidak melulu mengacu pada satu guru. Dan memang, masing-masing guru-pun ada ciri khas-nya masing-masing, ada yang kajiannya tentang syariah, ada pula yang mengusung tema khilafah, juga tentang sedekah, tentang ahlak seorang muslim dan muslimah dan banyak lainnya. Islam itu luas, jangan sampai kita menutup hati tentang pengetahuan yang disampaikan dengan ilmunya Allah. Berikut kutipan doa yang menarik bagi saya dari ust. Yusuf Mansur.

“Kita berdoa mudah-mudahan keyakinan kita itu  keyakinan orang-orang yang benar. Yakin boleh, percaya diri ahsan, (lebih baik). Tapi jangan lupa, kembalikan lagi ke Allah…kembalikan lagi ke Allah…kembalikan lagi ke Allah. Pulangin kepada yang punya keyakinan itu sendiri dan yang membuat keyakinan itu menjadi terwujud. Dan Dia-lah Allah, yang senang sekali kalau kita itu percaya kepada Dia.”

Semoga Allah menjauhkan diri dari sikap taqlid dan membimbing hamba sehingga termasuk kepada golongan orang-orang yang beruntung (dengan beriman kepada Allah). Aamiin.

#Day 15 : Tawaran dan Jawaban

2
Ilustrasi : Beautiful Mind

Depok, 15.05 WIB

“Ul, telfon nih dari Novi katanya”, Kakakku memberikan ponselnya padaku. Sambil memutar otak membayangkan beberapa wajah Novi yang kukenal, tidak begitu banyak. Tak perlu lama mengingat ketika pertama mendengar sapa “Halo” dari ujung sana. Ternyata betul, dari kantorku bekerja dulu. Singkat cerita aku ditawari untuk kembali bekerja disana. Pertanyaan yang pertama dan aku tahu mungkin ini akan menjadi pertanyaan sulit untuknya. “Jam kerjanya masih sama ya seperti dulu?”. Ada jeda sebentar, beliau menjawab, “Yaa, begitu deh..”.

Dua jam sebelumnya…

Pagi tadi seperti biasa aku mengikuti kajian di kawasan Tebet. Dan pulangnya, mampir sebentar ke Islamic Book Fair di Balairung UI. Sepanjang perjalanan dari Stasiun Tebet ke Stasiun Pocin. Aku duduk disebelah ibu-ibu berseragam, kutaksir usianya mungkin 40-an. Sedang berteleponan, dengan rekan kerjanya. Dari mulai menjadwalkan meeting, project-project, aku masih bisa mendengar betapa sibuk dan tidak punya banyak waktunya Ibu ini. “Iya saya ada di kantor cuma hari senin aja pak, bayangin Selasa sampai Jumat saya dua minggu ini keluar kota terus, dan Seninnya ngebut untuk buat laporan-laporannya pak, jadi bla bla bla.. ini bukan milestone saya pak tapi .. bla bla bla”. Sampai di Lenteng, beliau selesai bicara di telepon. Lalu beralih menyapa saya.

Ibunya : “Mbak turun mana?”

Saya : “Pocin bu”

Ibunya : “Oh pocin, kirain Bojong, Saya sebenernya dari Bogor dan ga tau daerah Semplak Bojong itu dimana, soalnya mau ke Pusdiklat bla bla bla..”

Saya : “Wah maaf bu, saya juga kurang tau bu..”

Dan langsunglah si Ibu bercerita ini itu sepanjang Stasiun UP sampai Pocin, cuma tiga stasiun tapi banyaak sekali yang beliau curhatkan. Iya ini pimpinan baru, jadi banyak perubahan, masuk kantor aja wajib mbak sekarang kasi liat ini (sambil kasih liat IDcard), udah gitu yang jaga marinir, Trus ini itu, capek banget, sampai suami bilang saya suruh kos aja, udah dua hari ini mbak saya nggak ketemu anak saya. Bayangin aja saya sampe rumah jam 11 malam, kadang suka ditelpon Bos untuk kerjakan laporan. Nggak ngerti lagi deh, pikirannya udah dunia aja itu orang.  Mottonya, kalau bisa dikerjain sekarang kenapa nunggu besok. Makanya saya kadang cuma bisa nyium anak doang yang udah tidur, atau belum bangun. Saya berangkat dari rumah jam setengah lima pagi mbak dari Bogor. Paling ketemu anak Sabtu dan Minggu, dan itu momen saya buat ketemu anak, nyapin anak dari tangan sendiri, itu mbak rasanya saya antara seneng dan nggak tega, ga bisa deh nyalahin anak kalau yang aneh-aneh, kan kitanya yang emang nggak perhatian sama dia. Anak saya ada dua mbak, yang paling kecil SD kelas enam, eh bukan, baru masuk SMP deh. Kadang saya mikir sampai kapan gini.

Aku  mendengarkan dengan terengah-engah, senyum, ngangguk-ngangguk, iya-iya. Dan hanya sedikit pertanyaan balik yang kusampaikan, salah satunya “Kalau suami Ibu kerja juga?”, lalu beliau menjawab “Iya kerja tapi di swasta..”. Dan tibalah saya di Stasiun Pocin. Saya memegang tangan beliau sambil berkata “Yaudah ya bu, semangat bu, terima kasih dan hati-hati”. Kamipun berpisah. Sebetulnya gatel banget pengen bilang “Yaudah bu resign aja..”, apalagi pas denger kalau anaknya yang aneh-aneh karena dia ga bisa jaga, itu  tiba-tiba rekaman suaranya Pak Bachtiar Nasir ingin sekali kusampaikan pada beliau, “Anak itu titipan Allah, janganlah lagi kau titipkan pada orang lain”,  cuma takutnya beliau tersinggung. Hehe.

Well, hari ini dapat pelajaran lagi. Kadang Allah kasih jawaban sebelum tawaran datang kepada kita. Yang kita perlukan hanyalah membaca kebutuhan diri. Jasad itu milik bumi, jadi wajar jika keinginan yang muncul adalah tentang hal-hal yang membuat diri ini nyaman tinggal di Bumi. Tapi ketahuilah, ruhiyah ini milik akhirat, yang setiap hari meronta ingin pulang kesana. Loh, kenapa jadi ujug-ujug serem begini ngomongnya. Ya kadang, kita buta terhadap apa yang ada persis didepan mata kita. Dan menganggap bahwa dunia dan kebahagiaan itu harus dikejar habis-habisan. Padahal, apa yang harus kita perjuangkan hanyalah Ridha Allah semata. Disitulah kemudian Allah menanamkan yang namanya surga dunia. Yakni, Ketenangan Jiwa.

Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai; lalu masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku (QS al-Fajr [89]: 27-30).

#Day 14 : Sebuah Doa Rasul

“Ya Allah, aku adukan kepada-Mu lemahnya kekuatanku, habisnya upayaku, dan kehinaanku dalam pandangan manusia. Wahai Yang Maha Penyayang melebihi sekalian penyayang, Engkaulah Tuhan orang-orang yang tertindas. Dan Engkaulah Tuhanku. Kepada siapakah Engkau serahkan diriku? Kepada orang asing yang akan memandangku dengan muka masam atau kepada musuh yang Engkau kuasakan kepadanya segala urusanku? Tiada keberatan bagiku, asalkan Engkau tidak murka kepadaku. Perlindungan-Mu sudah cukup bagiku. Aku berlindung kepada-Mu dengan nur Dzat-Mu yang menyinari segala kegelapan, dan dengannya menjadi baik segala urusan dunia dan akhirat, aku berlindung dari turunnya kemarahan-Mu kepadaku atau kemurkaan-Mu kepadaku. Aku sanggup berbuat apa saja, hingga Engkau ridha. Tiada daya dan upaya melainkan dengan-Mu.”

Buku ini berisi kisah Nabi dan sahabat serta fadhilah yang  bisa kita selami maknanya
Buku ini berisi kisah Nabi dan sahabat serta fadhilah yang bisa kita selami maknanya

Sepetik doa diatas berhasil membuat mata memanas dan memerah, seolah merasakan betapa pedih dan menyakitkannya apa yang dialami oleh kekasih Allah pada saat beliau pergi ke Thaif. Beliau pergi ke kota tersebut dengan harapan dapat meng-islam-kan kabilah Tsaqif yang berjumlah besar sehingga dengan begitu, kaum muslimin diharapkan terbebas dari berbagai penderitaan dan Thaif menjadi pondasi penyebaran agama Islam. Tapi apa yang beliau dapatkan setibanya di Thaif? Cacian, hardikan, makian dan pengusiran.

 

 

 

“Oh, kamukah orang yang diutus oleh Allah sebagai Nabi?”

“Apakah Allah tidak menemukan selain kamu untuk diutus sebagai rasul?”

“Aku tidak mau berbicara dengan kamu. Sebab, jika kamu memang seorang nabi seperti pengakuanmu, lalu aku menolakmu, tentu aku tidak lepas dari musibah. Jika kamu pembohong, maka aku tidak mau bicara pembohong.”

Hingga pada saat Nabi Muhammad sudah tidak dapat mengharapkan mereka dan bersiap untuk kembali ke Mekkah, mereka menyuruh anak-anak di kota Thaif untuk mengikuti Rasulullah dan mereka mengganggu, mencaci serta melempari Nabi Muhammad dengan batu sampai kedua sandal beliau berlumuran darah. Ya Allah…

Sampai ditengah perjalanan, doa diataslah, yang beliau panjatkan sehingga Allah mengutus malaikat Jibril untuk memberi salam dan berkata,

“Allah Subhaanahu wata’ala mendengar ucapanmu dan jawaban kaummu, dan Dia mengutus kepadamu malaikat penjaga Gunung agar siap melaksanakan apapun perintahmu kepadanya.” 

 “Apapun yang engkau perintahkan akan kulaksanakan. Bila engkai sukai, akan kubenturkan gunung-gunung yang ada di sekitar kota ini sehingga siapa saja yang tinggal di antaranya akan hancur binasa. Atau apapun hukuman yang engkau inginkan.”

Lalu inilah jawaban Rasulullah yang menakjubkan :

“Aku hanya berharap kepada Allah Subhaanahu wata’ala, seandainya saat ini mereka tidak menerima Islam, Semoga kelak di antara keturunan mereka akan lahir orang-orang yang menyembah dan beribadah kepada Allah Subhaanahu wata’ala.”

Lalu siapa lagi yang patut dijadikan contoh selain Rasul kita yang satu ini. Jangan katakan “aku sudah sabar” jika belum membaca Sirah Nabawiyah dan kisah para sahabat dalam mempertahankan Agama Allah ini. Karena sungguh, apa yang kekasih Allah rasakan selama mengenalkan Allah kepada bangsa Arab penuh dengan darah dan air mata. Kita yang mengaku sebagai pengikutnya, jangankan perkara maslahat umat. Terkadang, baru diuji dengan kritik dan celaan saja sudah membuat lesu, bahkan tak jarang, mendoakan yang aneh-aneh agar orang tersebut merasakan hal yang setimpal.

 

Apalah hamba ini, semakin lama hidup di Bumi
Semakin lupa diri
Fungsi kehidupan yang hakiki
Lalu mengharapkan ketenangan hati
Padahal diri malas sekali membaca Kitab Illahi Lalu mengklaim diri sebagai muslim sejati
Oh Tuhan yang maha pembolak balik hati
Jangan kau biarkan kami beriman di malam hari lalu kafir ketika datang pagi
Jadikan iman dan janji suci sebagai apa yang kami genggam sampai hari nanti
Ampuni segala dosa kami ya Rabbi

 

 

Bersegera Dalam Taat : Tanpa Tapi

1412248966987

Lagi. Undangan sebuah kajian kami si Bank BI hadir dari salah satu kawan di grup WA. Langsung ngangguk-ngangguk aja pas baca judulnya “Bersegera Taat Dalam Syariat”, M. Fatih Karim, seorang ustad yang dikenal juga sebagai orang yang sangat berpengaruh dalam “hijrah” nya Ustad Felix Siauw. Tak jauh berbeda dengan kajian Felix Siauw, beliau selalu memberi pemahaman tentang konsep khilafah. Islam secara kaffah (utuh).

Bicara taat, dimulai dengan membicarakan tentang pribadi masing-masing diri manusia. Sebelum bicara tugas manusia untuk amar maruf, nahi mungkar (dakwah). Sebelum bicara tentang menegakkan syariat Islam di penjuru dunia. Mari kita berkenalan dengan bagaimana memiliki pribadi yang islami. Atau bahasa kerennya, Syakhsiyah Islamiyah.

“Sesungguhnya Allah tidak menilai atas rupamu serta harta kekayaanmu, akan tetapi dia hanya menilai hati dan amal perbuatanmu” (HR. Muslim dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah)

Kepribadian adalah perwujudan sebuah pola pikir pada manusia, kepribadian adalah tentang bagaimana sia berSIKAP dan berPIKIR dalam memenuhi kebutuhan hidup. Kepribadian sendiri tersusun atas dua hal, aqliyah dan nafsiyah.

Aqliyah, adalah Cara yang digunakan untuk memikirkan suatu pengambilan keputusan hukum berdasarkan kaidah tertentu yang diyakini/diimani. (Cara Berpikir)

Nafsiyah, adalah Cara untuk memenuhi tuntutan naluri dan kebutuhan fisik berdasarkan kaidah yang diyakini/diimani. (Cara Bersikap)

Kedua cara tersebut tentulah harus berdasarkan satu hal mendasar dalam hidup, sebuah akar bernama Aqidah Islam. Ya, Rasul kita, Nabi Muhammad SAW, bergulat menyampaikan aqidah di Mekah sebelum akhirnya hijrah ke Madinah, tidak tanggung-tanggung, beliau menyampaikan aqidah selama 13 tahun. Sebuah pondasi sebelum masuk kepada syariah. Ya, “Ayat Iman” direpetisi sebelum bicara halal haram. Karena tentu, manusia tak akan sanggup mengemban amanah sebelum mengikatkan jiwa, raga dan nyawanya pada Allah semata. Atas dasar apa, para pejuang Allah dulu, mau bertempur pada perang Badar, perang Uhud, perang Khaibar? Atau pasukan AL-Fatih saat hampir putus asa menaklukkan Konstantinopel dulu, menggotong kapal mereka ke atas gunung? Sudah barang tentu jawabannya adalah atas dasar Iman kepada Allah. Mereka adalah orang-orang yang menjadikan aqidah Islam sebagai asas bagi Aqliyah dan Nafsiyah mereka. Keduanya sekaligus. Bukan hanya akal islam, tapi berlaku bukan Islam. Bukan pula berlaku islam tanpa dasar aqidah islam. “Hanya mau mengambil keputusan sebagai syariah”.

Ketika Syakhsiyah Islam sudah terbentuk, sebagai manusia, bukan artinya ia terlepas dari berbuat kesalahan. Akan tetapi, ketika mereka melakukan kesalahan, ia memohon ampunan Allah dan berusaha tidak mengulanginya lagi. Ini adalah tentang “tidak terjerumus di lubang yang sama”, perkara jatuh mah ya jatuh aja tetep 😀 . Ibarat belajar naik sepeda, kita jatuhnya tidak pada spot yang sama, kemungkinan jatuh bisa ke sawah, atau ke becekan. hehe.

Tidak cukup sampai pada batas tahu. Ketika manusia sadar bahwa ia harus memiliki kepribadian Islam, tentu ia juga harus meningkatkan irtifa aqliyah (menajamkan pola pikir), yaitu dengan senantiasa menambahkan keilmuan dan prakteknya. Tingkatkan taat dengan memperbanyak amal.  Persembahkan yang terbaik. Atau kalau bahasanya Ustad Bachtiar Nasir pada satu kesempatan (yang jadi favorit di youtube) “Jangan berikan yang sisa untuk Islam”.

Ujian demi ujian manusia senantiasa meningkat, oleh karenanya kita bisa seimbangi dengan menguatkan nafsiyah kita (perbaiki amalan wajib, sempurnakan dengan ibadah sunnah). Dengannya, kita akan menjadi manusia yang kokoh.

Pertolongan Allah hanya akan diberikan kepada mereka yang menjadi kekasih Allah, siapa mereka, yakni orang-orang yang bertaqwa. Seperti yang tercantum pada firman-Nya :

[3:133] Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,

Bersegera, langsung. Sama seperti ketika ada notifikasi pesan di ponsel kita. *Duh, kalah suara azan kalau jaman sekarang, Astaghfirullah*

Beruntunglah orang-orang yang senantiasa mengingat kematian. After life. Akhirat. Namun sayang, kebanyakan manusia lalai akan dunia sebenar-benar dunia. (saya juga) T,T

[66:6] Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

Berikut sabda Rasulullah SAW. yang di dengar Nu`man Bin Basyir ra yang menggambarkan siksaan paling ringan di neraka.

Dari Nu`man Bin Basyir ra: Aku mendengar Rasulullah SAW. bersabda :

“Sesungguhnya seringan-ringan siksaan siksaan penghuni Neraka pada hari Qiamat ialah seseorang yang diletakkan di bawah dua telapak kakinya dua bara api neraka sehingga mendidih otak yang ada di kepalanya (dari sebab panasnya kedua bara api neraka tersebut). Dia mengira bahawa tidak ada orang lain yang lebih dashyat siksaan daripadanya, padahal dialah orang yang paling ringan siksaannya”. (Hadis Riwayat Bukhari & Muslim).

Ada sebuah kisah yang disampaikan Ustad Fatih Karim tentang makna BERSEGERA dalam taat. Adalah kisah salah seorang sahabat Rosulullah Saw bernama Handzalah bin Abu Amir r.a. saat itu masih pengantin baru. Layaknya pasangan yang baru menikah, tentu ia bersama istrinya melaksanakan sunnah malam pengantin.

Saat ia masih berada dalam pelukan sang istri, ia mendengar gemuruh pertempuran dan seruan Rasulullah Saw untuk berperang di medan Perang Uhud. Tanpa pikir panjang, Handzalah pun melepaskan pelukan istrinya, lalu bergegas menyambut panggilan itu dan bergabung dengan pasukan kaum Muslimin menghadapi pasukan kafirin. Ia menyibak barisan hingga dapat berhadapan langsung dengan komandan pasukan musuh, Abu Sufyan bin Harb. Ia hampir mampu membunuh Abu Sufyan, namun tiba-tiba ia ditikam oleh anak buah Abu Sufyan, Syaddad bin Al-Aswad, hingga meninggal dunia. Ia pun mati syahid.

Kabar kematian Handzalah sampai kepada Rasulullah Saw. Beliau pun bersabda, “Sesunguhnya sahabat kalian (Handzalah) dimandikan oleh malaikat, maka tanyakanlah bagaimana kabar keluarganya.”

Mendengar sabda Rosul tadi, para sahabat terheran-heran, mengapa Handzalah dimandikan malaikat. Bukankah orang yang gugur di medan jihad (mati syahid) tidak perlu dimandikan? Para sahabat pun kemudian menemui istri Handzalah. Istrinya berkata, “Ketika mendengar panggilan untuk berperang, suamiku langsung menyambutnya, padahal ia dalam keadaan junub.”

Ketika para sahabat mengabarkan hal itu kepada Rosulullah Saw, beliau berkomentar pendek. “Itulah sebabnya ia telah dimandikan oleh malaikat” (Ibnu Hisyam, As-Sîrah an-Nabawiyah li Ibni Hisyâm).

Dan banyak kisah lain yang diceritakan pada kajian kali ini tentang bagaimana kuatnya mental para sahabat Rasulullah yang digambarkan karena pribadi-pribadinya yang luar biasa tangguh dan taat. Sami’na wa Ato’na. Kami Dengar dan Kami Taat.

Mari saling mengingatkan dalam taat. Dan bersegera dalam taat.

Pedang Itu Bernama Lidah

sumber : wikipedia
sumber : wikipedia

Ada yang belum kenal dengan pedang Damaskus? Senjata yang tershohor karena ketajamannya. Senjata ini adalah senjata khusus yang digunakan oleh pasukan Persia pada saat Perang Salib. Pedang ini dibuat dari baja Damaskus yang diolah khusus sehingga memiliki permukaan yang sangat tajam. Pedang ini mampu membelah sutra yang dijatuhkan diatasnya dan mampu membelah pedang lain tanpa mengalami kerusakan sama sekali.

Teknik pembuatannya disembunyikan rapat-rapat hingga tidak semua pandai besi di Damaskus tahu. Itu pula yang menyebabkan punahnya teknik pembuatan pedang Damaskus. Konon katanya, teknologi metalurgi saat ini pun belum mampu membuat pedang yang tajamnya menandingi pedang Damaskus. Ada sebuah penelitian yang mengatakan bahwa Pedang Damaskus dilapisi semacam kaca dipermukaannya, sungguh membuktikan bahwa betapa canggihnya ilmuwan pada masa lalu.

Tapi,tahukah anda bahwa lidah jauh lebih tajam dari pedang Damaskus?

Luka yang dihasilkan pedang bisa jadi sembuh. Tak jarang bekasnya pun turut hilang. Berbeda dengan luka hati akibat tusukan lidah. Dia nampak seperti luka yang mengabadi. Kembali menganga ketika kita ingat. Bahkan, luka hati itu dapat terwariskan hingga generasi sekian dan sekian.

Dari Abu Hurairah Rasulullah bersabda :

“Sesungguhnya seorang hamba yang mengucapkan suatu perkataan yang tidak dipikirkan apa dampak-dampaknya akan membuatnya terjerumus ke dalam neraka yang dalamnya lebih jauh dari timur dan barat.” (HR. Bukhari Muslim)