Jadi, maka jadi(kan)lah!

Jadi, maka jadi(kan)lah!
Kamu bilang kamu mau harta
Tapi cuma sebatas doa

Jadi, maka jadi(kan)lah!
Kamu bilang kamu mau cinta
Tapi hati tak kau jaga

Jadi, maka jadi(kan)lah!
Kamu bilang kamu mau berubah
Tetapi kamu tetap berlaku sama

Sesungguhnya pada tiap-tiap kejadian, adalah sebuah penjadian
Sedang penjadian itu adalah kolaborasi usaha dan doa. Tangan kita, Tangan Manusia, Dengan Izin-Nya.

Kun Fayakun bukan kalimat pasrah, apalagi menyuruh kita lemah.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” (QS 13:11)

Untuk itu, jadi(kan)lah!

Belajar Ikhlas

“Biar dikit yang penting ikhlas”, ungkapan seperti ini sudah merupakan percakapan yang sering kali kita dengar dalam keseharian kita, ikhlas, sebuah kata yang sering kali dihubung-hubungkan dengan kegiatan derma dan kegiatan baik lainnya.  Saya jadi bertanya-tanya hakikat dan definisi ikhlas seperti apa, tulisan ini saya sunting dari berbagai sumber, semoga bisa sedikit menjelaskan perihal Ikhlas.

Ikhlas, terletak pada niat dalam hati. Luar biasa sekali pentingnya niat ini, karena niat adalah pengikat amal. Orang-orang yang tidak pernah memperhatikan niat yang ada di dalam hatinya, bersiaplah untuk membuang waktu, tenaga, dan harta dengan tiada arti. Keikhlasan seseorang benar-benar menjadi amat penting dan akan membuat hidup ini sangat mudah, indah, dan jauh lebih bermakna.

Apakah ikhlas itu? Orang yang ikhlas adalah orang yang tidak menyertakan kepentingan pribadi (baca : hawa nafsu) atau imbalan duniawi dari apa yang telah ia kerjakan. Seorang yang ikhlas, terfokus pada satu tujuan, yaitu bagaimana agar apa yang dilakukannya (apapun) diterima/diridhoi oleh Allah SWT. Mengapa demikian? Karena hidup ini adalah milik-Nya, segala isi semesta dan non-semesta adalah kepunyaan-Nya, pemilik dari segala apa yang dapat termiliki, oleh karenanya sudah seharusnya kita mengerjakan apa-apa berdasarkan ridho-Nya, jika sudah demikian, terasa indah nian hidup ini bukan?

Katakanlah, “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam ( menjalankan ) agama.” ( QS Az-Zumar [39] : 11 )

Hai manusia, sesungguhnya Tuhan kita sudah terang-terangan menjabarkan tujuan penciptaan, sebuah kejadian yang kebanyakan orang melupakan, kita diseru untuk menyembah alias mengabdi alias beribadah kepada-Nya dengan sepenuh-penuhnya ketaatan/ketundukan secara murni. Murni dalam hal ini adalah bersih tanpa ada rekayasa terselubung dibaliknya. Sebuah kegiatan atas dasar iman, tentu saja ini tidak hanya mengenai kegiatan agama secara ritual, namun secara aktual.

Al-Imam Al-Ghazali r.t. mencatatkan dalam kitab Ayyuhal Walad (Wahai Anakku) hakikat ikhlas, seperti berikut:

Wahai anakku yang tercinta,

Dan engkau juga bertanya kepadaku tentang ikhlas, maka ikhlas itu bahawa engkau menjadikan segala amalanmu hanya untuk Allah Ta’ala dan hati engkau tidak berasa senang dengan pujian manusia dan juga engkau tidak peduli dengan kecaman mereka.

See?
Dapatkah kau memahaminya? Atau, Maukah kau memahaminya? Memahami tak hanya dari akal pikiran saja, namun hati beserta nurani-nya.

“Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (Al-Hajj: 46).

Imam Al-Ghazali pernah ditanya, “Apakah mungkin para ulama (para da’i) saling berselisih?” Ia menjawab,” Mereka akan berselisih jika masuk pada kepentingan dunia.”

Perbedaan pendapat itu boleh, yang tidak boleh adalah perpecahan. Jangan sampai karena kebodohan kita, kita jadi egois dan maunya sendiri, tidak menjadikan Al-Quran dan Hadist sebagai acuan utama ketika kita melakukan suatu pekerjaan. Kebodohan disini bukan dalam segi intelektualitas saja, akan tetapi bodoh bisa berarti orang yang tidak lagi mencari-cari Tuhan-Nya (ilmu). Jangan sampai hati kita keras lagi tertutup cahayanya Allah dikarenakan menilai benar tidak sebuah pekerjaan hanya dari pengetahuan (hawa nafsu) serta pemikiran pribadi. Perhatikanlah ketika kita tengah berselisih paham akan suatu hal, tak akan dapat terurai benang kusut tersebut karena yang diperselisihkan adalah masalah dunia. Masalah yang tidak nyata, yang sering kali menjerumuskan kita tanpa kita dapat menyadarinya.

Katakanlah: “Sesungguhnya solatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-An’am: 162).

Ayat diatas menurut saya adalah ayat “gombal” nya kita kepada Allah, yang setiap hari kita ucapkan dalam sholat. Namun hanya sekedar menjadi “energi bunyi”, ya… menjadi pribadi yang ikhlas adalah sebuah kunci pintu surga. Beribadah secara benar namun tidak ikhlas sama seperti beribadah dengan ikhlas dengan cara yang salah.

Fudhail bin Iyadh memahami perkataan “ihsan” dalam firman Allah surah Al-Mulk ayat 2 yang berbunyi, “Liyabluwakum ayyukum ahsanu `amala, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya” dengan makna “akhlasahu” (yang paling ikhlas) dan “ashwabahu” (yang paling benar). Katanya, “Sesungguhnya jika amal dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar, maka tidak diterima. Dan jika amal itu benar tetapi tidak ikhlas, juga tidak diterima sehingga amal itu haruslah ikhlas dan benar. Ikhlas jika dilakukan kerana Allah Azza wa Jalla dan benar jika dilakukan sesuai dengan sunnah.”

Rasulullah saw. bersabda, “Ikhlaslah dalam beragama; cukup bagimu amal yang sedikit.”

Tatkala Jibril bertanya tentang ihsan, Rasulullah saw. berkata, “Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihatmu.”

Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali dilakukan dengan ikhlas dan mengharap ridha-Nya.”

Imam Syafi’i pernah memberi nasihat kepada seorang temannya, “Wahai Abu Musa, jika engkau berijtihad dengan sebenar-benar kesungguhan untuk membuat seluruh manusia ridha (suka), maka itu tidak akan terjadi. Jika demikian, maka ikhlaskan amalmu dan niatmu kerana Allah Azza wa Jalla.”,

Ngeri banget ya kalau haluan ibadah kita nantinya dikarenakan hanya ingin mendapat kepopuleran di mata sesama manusia, Naudzubillahmindzalik!.

Oleh karena itu tidak heran jika Ibnul Qoyyim memberi perumpamaan seperti ini, “Amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang mengisi kantongnya dengan kerikil pasir yang akan memberatkannya tapi tidak bermanfaat.”, Kawan, perjalanan hidup ini

Dalam kesempatan lain beliau berkata, “Jika ilmu bermanfaat tanpa amal, maka tidak mungkin Allah mencela para pendeta ahli Kitab. Jika ilmu bermanfaat tanpa keikhlasan, maka tidak mungkin Allah mencela orang-orang munafik.”

Demikianlah sebuah keikhlasan, menyebabkan beramal menjadi nikmat, tidak membuatkan ia penat dan segala pengorbanan tidak terasa berat. Sebaliknya, amal yang dilakukan dengan riya’ akan menyebabkan amal tidak terasa nikmat. Pelakunya akan mudah menyerah dan selalu kecewa.

Berikut saya rangkum sedikit ciri-ciri orang yang Ikhlas, Orang-orang yang ikhlas memiliki ciri-ciri yang dapat dilihat, diantaranya:

1. Sentiasa beramal dan bersungguh-sungguh dalam beramal, baik dalam keadaan bersendirian atau bersama orang ramai, baik ada pujian ataupun celaan. Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, “Orang yang riya’ memiliki beberapa ciri; malas jika bersendirian dan rajin jika di hadapan orang ramai. Semakin berghairah dalam beramal jika dipuji dan semakin berkurang jika dicela.”

Perjalanan waktulah yang akan menentukan seseorang itu ikhlas atau tidak dalam beramal. Dengan melalui berbagai macam ujian dan cobaan, baik yang suka mahupun duka, seseorang akan terlihat kualitas keikhlasannya dalam beribadah, berdakwah dan berjihad.

Al-Qur’an telah menjelaskan sifat orang-orang beriman yang ikhlas dan sifat orang-orang munafik, membuka penipuan dan keburukan orang- orang munafik dengan berbagai macam cirinya.

“Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, tidak akan meminta izin kepadamu untuk (tidak ikut) berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa. Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhirat, dan hati mereka ragu-ragu, kerana itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguannya. ” [At-Taubah ayat 44-45]

Pengen nge-bold hal-hal yang paling penting ternyata gak bisa karena keseluruhan ayat diatas sudah merupakan intisari yang mendalam. Tentu bagi orang-orang yang mau memikirkan-Nya. Yaiyalah, gimana Tuhan memberikan cahaya-Nya (ilmu) tapi manusianya sendiri ogah-ogahan belajar, mencari-cari ilmu.

2. Terjaga dari segala yang diharamkan oleh Allah, baik dalam keadaan bersama manusia atau jauh dari mereka. Disebutkan dalam hadits,

“Aku beritahukan bahwa ada suatu kaum dari umatku datang di hari kiamat dengan kebaikan seperti Gunung Tihamah yang putih, tetapi Allah menjadikannya seperti debu-debu yang berterbangan. Mereka adalah saudara-saudara kamu, dan kulitnya sama dengan kamu, melakukan ibadah malam seperti kamu. Tetapi mereka adalah kaum yang jika bersendirian akan melanggar apa yang diharamkan Allah.” (HR Ibnu Majah)

Tujuan yang hendak dicapai oleh orang yang ikhlas adalah ridha Allah, bukan ridha manusia sehingga mereka sentiasa memperbaiki diri dan terus beramal, baik dalam keadaan bersendirian atau ramai, dilihat orang atau tidak, mendapat pujian atau celaan kerana mereka yakin Allah Maha melihat setiap amal baik dan buruk walau sekecil manapun.

3. Dalam dakwah, akan terlihat bahwa seorang da’i yang ikhlas akan merasa senang jika kebaikan dapat direalisasikan di tangan saudaranya sesama da’i, sebagaimana dia juga merasa senang jika terlaksana oleh tangannya.

Para da’i yang ikhlas akan menyedari kelemahan dan kekurangannya. Oleh kerana itu mereka sentiasa membangun amal jama’i dalam dakwahnya, mengukuhkan wasilah dan sistem dakwah. Berdakwah untuk kemuliaan Islam dan umat Islam, bukan untuk meraih populariti dan membesarkan diri atau kelompoknya semata-mata.

 

Semoga tulisan diatas dapat bermanfaat bagi kita semua, dan Allah memudahkan kita untuk menjadi insan pilihan-Nya yang ikhlas. Aamiin

“Sesungguhnya solatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-An’am: 162)

 

Mimpi Pohon

Aku bercita-cita menjadi pohon raksasa
Menaungi segala yang ada dibawahnya
Meneduhkan
Tampak dari kejauhan
Terkenal dengan aneka sebutan

Tapi aku sadar betul
Dalam tinggiku yang sekarang pun
Angin semakin kencang menerjang
Hujan petir semakin menakutkan
Bahkan parasit semakin banyak bermunculan
Haruskah kutetap menjadi pohon besar?
Atau kupangkas saja setiap tunas yang bermunculan?

Begitu banyak ucapan pengerdilan
Yang menjadikan akarku tak sehat
Semakin rapuh dan putus asa
Hampir tumbang

Memang tidak ada cara menguatkan
Selain merawat akar-akarku
Memberikan air syukur
Dan sejumput pupuk ilmu
Yang berkelanjutan
Tak berkesudahan
Hingga waktuku yang telah ditetapkan

Bismillahirrohmanirrohiim
Aku punya mimpi menjadi pohon besar
Namun miliki mental rumput
Walau hujan angin badai berontak
Aku hanya akan bergoyang
Tak boleh tumbang
Aamiin

Introspeksi

Umar r.a berkata, dia masuk kepada Nabi s.a.w tiba-tiba ia mendapatkan Nabi s.a.w sedang menangis, maka ditanya, apakah yang menyebabkan engkau menangis ya Rasulullah? Jawabnya, aku telah didatangi oleh Malaikat Jibril a.s dan berkata kepadaku :

Sesungguhnya Allah malu akan menyiksa seorang yang telah beruban di dalam islam, maka bagaimana orang yang beruban tidak malu berbuat maksiat terhadap Allah ta’ala

Jleb banget kan hadistnya, coba baca berkali-kali, Allah, Tuhan kita, “malu” menyiksa kita yang telah beruban, maka bagaimana kita sendiri yang tidak malu ketika berbuat maksiat? , Rasa-rasanya memang terlalu naif jika kita berkomentar, kita hanya manusia biasa yang tak luput dari dosa, atau sekedar, namanya juga manusia, suka khilaf.

Dear friend, menjauhi maksiat adalah kebaikan, jika memang fungsi diri kita sebagai manusia yang diwajibkan untuk berbuat kebajikan terhadap sesama belum bisa mampu kita kerjakan, bagaimana dengan menjauhi kegiatan maksiat?

Jika kita yang tak tahu kapan kunjung ajal tiba, sanggupkah kita menyempurnakan amal ibadah kita sebelum kita berpulang?

Jika kita yang merasa sudah banyak beramal,  pernahkah terbesit olehmu,  Apakah Allah ridha?

Karena merasa benar dengan seberat biji sawi kesombongan, hanya akan melenyapkan amal.

Iman Islam

Anugerah adalah tentang Iman
Pilihan adalah tentang Islam
Allah maha menentukan
Jalan mana yang Ia pilihkan

Karunia adalah tentang Iman
Keberkahan adalah tentang Islam
Allah maha pemilik aturan
Agar kita semua temukan kebahagiaan

Iman adalah Islam
Keduanya adalah kesatuan
Lalu bagaimana mungkin kau memisahkan?
Iman yang bukan Islam
Dan Islam yang tak beriman

Kemana Lagi?

Lalu kemana lagi akan kupalingkan wajah penuh hina ini?
Jika Kau, Tuhanku yang Pengasih dan Pengampun dosa berpaling?
Aku tak punya arah lagi, jika demikian adanya.
Karena segala mata penjuru adalah Milik-Mu
Dimensi ruang adalah Milik-Mu
Segala semesta dan non-semesta ini adalah kerajaan-Mu

Lalu kepada siapa lagi hamba meminta?
Jika Kau, Allah-ku yang Maha Kaya tidak meridhoi segala perkara?
Aku tak punya akal lagi, jika demikian adanya.
Karena segala daya adalah pemberian-Mu
Kesanggupanku adalah “Penjadian-Mu”
Kun Faya Kun

Jadi “Ustadzah” Perdana

Kemarin, salah satu kawan SMA saya tiba-tiba bertanya kepada saya, untuk apa coba? “Minta Tausiyah”, W.O.W, *Mmmezing…Mmmezing*, Demi apa dan sejak kapan saya dipilih untuk menjadi sosok ustadzah??. Tapi dari obrolannya yang serius, saya pun memastikan bahwa kawan lama saya ini tidak sedang bercanda, masalahnya adalah saat ini dia sedang mengalami demotivasi kerja, pengen ngelakuin sesuatu yang bermakna tapi ngga tau apa, Cukup sulit bukan? mengingat riwayat saya yang bukan “siapa-siapa”, hanya satu dari sekian banyak orang keren yang terdampar di Depok. *Ups*.

Waktu SMP, saya mendapatkan arti motivasi adalah sebagai dorongan, sesuatu (spirit) yang  mendorong sehingga orang melakukan suatu hal. Nah kawan saya ini mengalami de-motivasi, atau semacam kehilangan arah, mau apa sih sebetulnya, yang bikin kita ga semangat kerja dan seterusnya. Udah gitu, pesan singkat lanjutan berisi “Ayolah pay, soalnya lo terlihat senang terus, hehe”, Hehe, semua orang punya masalah, tapi ketahuilah, orang yang tidak terlihat punya masalah berarti dia berhasil (sejenak) menyembunyikannya *Assek*.

Yah saya pun terbengong-bengong menanggapi pertanyaan sekaligus pernyataan kawan saya ini, mari kita bahas dari sudut pandang saya ketika  mengalami masalah yang sama. Ketika saya mulai mengalami stuck, biasanya saya akan memosisikan diri saya sebagai partikel, melihat bumi hanya sekepalan tangan dan bertanya, hai partikel, tujuan kamu dibuat itu untuk apa sih? iya kamu, yang kecil, kamu yang tak berdaya upaya, kamu yang tinggal dibumi, yang kalo diliat dari monas cuma segede beras, untuk apa? untuk apa?, Jengjeng… lalu larutlah saya ke lautan pasifik, tenggelam sampai ke dasar.

Dan Tidaklah Aku Menciptakan Jin dan Manusia Kecuali untuk Beribadah Kepada-Ku (Adz Dzariyat : 56)

(Ngomong-ngomong, kalimat negasi diatas menunjukan betapa Maha Tunggalnya Allah ya..Tidaklah, Kecuali..Subhanallah). Lihatlah, bahwa tidaklah kau hidup, melainkan sudah ada ketetapan disisi-Nya, Beribadah, luas sekali kawan, makna ibadah ini, menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Kitab Al-Ubudiyah, “Ibadah adalah nama yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah dari perkataan dan perbuatan baik yang bersifat dhahir ataupun yang batin.”, tentu kita sebagai manusia yang baligh memahami betul mana-mana saja sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah. Secara manusia tu punya yang namanya nurani, sebuah karunia Allah yang mampu membedakan yang baik dan buruk. Jadi yang pertama saya lakukan adalah menyadari bahwa sejatinya kita sebagai manusia, memosisikan segala kegiatan dalam rangka mencari ridha-Nya, semata.

Lalu bagaimana lagi? seperti yang kita ketahui, bangsa kita didominasi oleh pemikiran mainstream seperti, “Nanti kalau kamu lulus SMA, masuk perguruan tinggi negeri, kerja di perusahaan besar, menikah, punya rumah, punya anak dan seterusnya”, sampai kita tidak dapat berplanning lagi. Betapa kecil lingkup tujuan hidup, jika hanya membangun keluarga bagi diri kita sendiri, sedangkan bakti kepada tetangga? masyarakat? bangsa? agama?, woh woh woh, boro-boro, yang ada kita diteriakin“Lebay Lo!”, sudahlah siapa yang ga tau kalau oknum pejabat yang korupsi itu orang-orang yang menyenyam bangku perguruan tinggi, siapa pula yang ga tau kalau para koruptor itu mungkin salah satu dari mereka adalah tokoh yang dikagumi semasa SD, SMP, SMA atau kuliah. Ga ada yang tau sejak kapan ia punya egosentris yang sangat besar seperti itu.

Lihatlah dunia ini sebagai maya, dan akhirat sebagai yang nyata, pahamilah bahwa dunia adalah semu dan akhirat menunggu, sadarilah bahwa dunia adalah tempat singgah sedang akhirat adalah tujuan kita.

Membangun bangsa ini supaya setiap anak mendapatkan pendidikan layak adalah tanggung jawab bersama, peduli kita semua dan sesuatu yang bukan tugas lembaga atau pemerintah, bukankah pendidikan yang menjadikan peradaban? pendidikan yang mengembangkan segala sektor? bukankan tulisan yang membedakan zaman? ini adalah sebuah peluang bagi kita, sebuah program berjangka yang bertujuan menyejahterakan sesama manusia, sehingga terbentuk perdamaian dunia. Allah mencintai manusia yang peduli pada manusia lainnya, Allah meridhai pekerjaan untuk kemaslahatan umat banyak.

Dan Apa yang lebih membahagiakan dari dicintai-Nya?

Bicara Toleransi

“Mi, bapak ada?”
“Bapaknya kerja”
“Oh gitu.. mi depan rumah ada yang  kebaktian, kita laporin fpi yuk, gimana menurut kamu?”
“Yah kalo menurut saya si toleransi aja pak, kita kan juga sering ngadain pengajian dirumah-rumah”
“Wah parah kamu mi, akidahnya..parah”, sambil berlalu.

Kira-kira seperti itulah percakapan yang diceritakan antara adikku dan seorang tetangga minggu lalu. Tertawa geli aku dibuatnya saat pertama kali adik saya cerita.

Aku sendiri tidak paham secara harfiah apa makna toleransi itu sendiri. Sepemahaman saya, agama berisi peraturan dalam hidup bersosial, salah satunya bagaimana menjaga kerukunan antar umat beragama. Yah, menurut saya (yang bukan seorang cendekiawan apalagi udztadzah), bahwa sejatinya kita tidak bisa memaksakan kehendak kita untuk menjadi “sama”, menjadi serupa dalam memilih agama. Dan saya yakin bahwa Allah membenci peperangan, membenci perselisihan, untuk itu kita hanya perlu introspeksi ditambah dengan mencari tahu bagaimana Rasulullah SAW, berdampingan dengan orang-orang yang berbeda keyakinan.  Ya, Agama ini mengajarkan bagaimana seharusnya kita hidup rukun.

Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.  Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (Q.S.Al Hujurat {49} : 13).

Kita diciptakan berbeda-beda bukan untuk saling mengungguli satu sama lain, bukan untuk menyakiti satu sama lain, kita diciptakan dengan berbagai macam bentuk, suku, budaya, warna kulit, bahasa, tidak bukan agar kita bisa saling mengenal satu sama lain. Pasti pernah dengar pepatah, “Tak Kenal Maka Tak Sayang” , Mana bisa saling sayang kalau kenal aja nggak.

Perkenankan saya untuk bercerita sebuah kisah Rasulullah SAW yang selalu berhasil membuat saya haru setiap kali saya membacanya,

Alkisah, hiduplah Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta, setiap hari ia berkata kepada seiap orang yang mendekatinya, “Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya”.

Setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah SAW melakukannya setiap sampai Beliau SAW wafat. Setelah kewafatan Rasulullah, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.

Suatu hari Abubakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.ha. Beliau bertanya kepada anaknya, “Anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan”, Aisyah r.ha menjawab pertanyaan ayahnya, “Wahai ayah engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja”. “Apakah Itu?”,tanya Abubakar r.a. Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana”, kata Aisyah r.ha.

Ke esokan harinya Abubakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abubakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepada nya. Ketika Abubakar r.a. mulai menyuapinya, si pengemis bertanya, “siapakah kamu ?”. Abubakar r.a menjawab, “aku orang yang biasanya”. “Bukan !, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku”, jawab si pengemis buta itu. Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut, setelah itu ia berikan padaku”.

Abubakar r.a. tidak sanggup menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, “Aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW”. Pengemis itu-pun menangis dan kemudian berkata, benarkah demikian?, selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia”,Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abubakar r.a.

Ini adalah salah satu teladan yang beliau contohkan kepada kita, beliau mengajakan bagaimana kita berlaku pada saudara-saudara kita yang berbeda keyakinan, Kawan, saat ini memang banyak issu-issu yang diberitakan media secara berlebihan, sehingga kita terjebak dalam situasi adu domba, saling  menyalahkan, saling menghujat, saling menghina dan yang paling parah adalah, merasa paling benar, yang ujung-ujungnya terjadi tindak kekerasan serta anarki.

Marilah kita bersama-sama saling  mendoakan kebaikan dan saling nasihat-menasihati kebaikan. Sesungguhnya Toleransi akan memproduksi Perdamaian Hakiki.