Kucing dan Kehidupan Kedua…Mimpi itu, dari Mana Datangnya

Kau percaya kehidupan kedua? kehidupan yang konon, tidak mengenal arti kematian. Kehidupan yang hidup. Kehidupan yang entah bagaimana perhitungan dan dimensinya. Aku sedang memikirkan Yeko saat ini. Salah satu kucingku. Sedang dimana dia? belum pulang sejak kemarin. Aku cemas dan khawatir. Terlebih, sore ini, petir dan halilintar bahkan membuat Dugong dan Induk Yeko, Yuko, bersembunyi dibawah meja dan lemari.

Aku sedang memikirkan dunia kedua untuk para kucingku kelak. Apakah mereka nanti juga ada? apakah nanti mereka bisa bicara? apakah nanti mereka bisa menanggalkan ekspresi sok-cool-menyebalkannya itu dan beralih ke seribu ekspresi tawa-cemberut-kecut-masam-nyengir? Aku menantikannya. Disana, aku akan meminta mereka membesarkan badannya sampai seukuranku, dan aku akan memeluknya erat-erat. Apakah mereka akan ingat denganku? Apakah mereka ingat aku sering sekali menjahilinya saat tidur? Rindu, sampai bertemu, kucing-kucingku. Terima kasih sudah percaya pada kami.

Depok, 11 Desember 2015

Cerita Maknyak, Zuko dan Burik

ku

Zuko menatap Burik, ia tahu ia harus minta maaf karena malam tadi ia mencakar-cakar wajah Burik saat ia sedang menyusu.

ku2

“Entahlah..” Batin Burik mengabaikan Zuko karena kejadian itu sudah terlampau sering terjadi.

ku3

Faktanya adalah, bahwa Burik lebih kooperatif saat menjadi model.

ku4

Maknyak mungkin ingin memamerkan bulu-bulunya yang sekarang jauh lebih kece dibanding pertama kali ia datang di rumah kami. Atau mungkin juga maknyak mau selfie

Selamat Jalan Kuning

kucing
Mami dan anak-anaknya

Sudah hampir dua minggu lalu, ada seekor kucing yang melahirkan di teras rumah, anaknya ada 3 ekor. Warna abu-abu, belang dan kuning. Belum lagi kuberi nama kepada kitten-kitten ini, seekor yang berwarna kuning kutemui tadi pagi sudah terbujur kaku, ia mati. Aku sedih sekali, jangan-jangan karena ketidak tahuanku dalam penanganan hewan ini. Setelah aku tanya kepada Merlyn, kemungkinannya ada dua, kedinginan atau ketindihan induknya. Huah.. perasaan bersalah langsung menyergap. Kuganti tempat tidurnya dengan kotak buah yang lebih besar dari sebelumnya. Ku bungkus si Kuning dengan kain, dan kutitipkan pada Bano untuk dikuburkan karena aku tak tega.

Pancoran Mas-20131218-02339
RIP Si Kuning

Sebetulnya kalau dibilang pencinta kucing ya nggak juga, terakhir punya kucing ya sekitaran tahun 99-an lalu. Namanya Pus, warnanya abu-abu, kelahirannya kira-kira bareng sama si Ami. Gak tahu kemana, karena saat itu kami pindah rumah sekeluarga, dengan alasan keselamatan, kucing itu tidak dibawa. Kucing itu nurut luar biasa, doyan makanan apa saja yang disuguhkan oleh majikannya, tempe, tahu dan nasi. Jadi ingat, bahkan si Pus ini juga doyan aja dikasih makan ajibon sama nasi. Pus juga tidak pernah buang air dirumah, tepatnya setelah dimarahi sama Bapak dan di geret ke kamar mandi agar ia tahu kemana ia harus membuang hajatnya dan tidak disembarang tempat. Alhasil, Pus akan buang air di luar rumah atau paling banter di WC rumah. Pus juga nggak manja karena memang kami dirumah jarang sekali bermain dengan si Pus, dia juga jarang berantem dengan kucing lain, yah flat saja begitu. Tapi begitu kami pindah, rasa kangen baru muncul. Setelah 2 tahun di Jawa, kami kembali ke Depok, tak ada lagi Pus. Semoga ia berada di tempat yang nyaman sekarang. 

Baru kali ini beli makanan khusus kucing, kemarin si Mami cuma dikasih bandeng presto sama Ikan cue, dalam rangka memberikan nutrisi terbaik kepada busui Mami alias si induk, aku merogoh kocek Rp. 37.000 untuk sekilo makanan kucing, aromanya mirip aroma makanan ikan tapi ini ada aksen wangi coklatnya. Rasanya agak tawar dan ikan-ikan gitu (dicobain dong saking penasarannya :D).

Pancoran Mas-20131218-02341
Si Mami lagi jilatin anaknya 🙂

Well selamat jalan Kuning, semoga Allah memberkahimu disana. Terima kasih sudah hadir di keluarga kami meskipun hanya sebentar.