Kutipan dan Komentar : The Book of Character | Bagian Satu

Sumber : abduzeedo.com
Sumber : abduzeedo.com

Halaman 141 

“Misalnya, kau ingin bertaubat dan berhenti melakukan dosa. Sering kali hasrat terpuji ini dirumitkan oleh pikiranmu sendiri. Apakah keinginanmu itu semata-mata karena Allah, karena takut dan cinta kepada-Nya? Jika benar, kau akan bersungguh-sungguh meninggalkan dosa karena takut kepada Allah yang Maha Melihat dan Maha Mengetahui, bahkan tatkala engkau sendirian. Ataukah kau bertaubat karena merasa malu dan menghindari celaan manusia? Atau mungkin kau ingin memberi kesan yang baik kepada anak-anak, keluarga, atau kawan-kawan, dan tidak ingin mereka meniru perbuatan burukmu sehingga kau berusaha berperilaku sesuai dengan aturan agama? Ataukah kau takut dikucilkan, ditolak, bahkan dihukum oleh masyarakat? Atau mungkin tujuanmu hanya agar orang-orang tidak menggunjingkanmu?

Apabila kau memang tulus, semestinya kau tidak memedulikan pujian atau celaan mereka. Memang wajar dan alami jika kita merasa takut dan terluka oleh celaan dan kritikan orang lain. Namun seringkali kritikan dan celaan mereka itu mengandung kebenaran. Kita merasa pedih melihat cela dan kekurangan diri kita. Rasa sedih itu akan mendorong kita berusaha memperbaiki diri. Tindakan seperti ini dibenarkan. Sikap yang tidak dibolehkan adalah menolak mentah-mentah kritik dan celaan mereka.”

Ada beberapa manusia  yang merasa gengsi untuk berubah. Gengsi karena menolak kebenaran dari kritik dan cela yang dilayangkan pada manusia tersebut. Supaya tidak berprasangka mari kita sebut manusia itu adalah kita. Setelah mendapat cela dan kritikan, barulah kita sadari bahwasannya kadar kebenaran dari kalimat kritik yang dilayangkan tersebut adalah 90% benar adanya. Permasalahannya, tinggal di kitanya. Mau diolah ataukah mau disangkal. Menyangkal tidak selalu dengan mengatakan tidak. Tapi menggunakan alasan dan permasalahan lain untuk menutupi issue utama, itu juga termasuk bentuk penyangkalan. Atau yang parah, membandingkan orang lain dengan diri kita, menganggap diri kita lebih baik.

Memperbaiki diri tidak semudah memperbaiki kata-kata yang ditulis menggunakan pensil. Tidak semudah menghapusnya dengan penghapus karet. Memperbaiki adalah proses hidup manusia yang melewati olah pikir, pengolahan kata yang kemudian menjadi doa-doa yang tertutur kepada Yang Maha Segalanya dan akhirnya berwujud tindakan kita dalam melewatinya. Proses dari perbaikan adalah perubahan. Perubahan adalah perbedaan kondisi sebelum dan setelah proses perbaikan. Boleh jadi menurutmu (dan menurutnya) lebih baik, biasa saja atau bahkan malah lebih buruk. Pendapat apapun sah-sah saja. Karena yang utama adalah niat suci lillahitaala semata yang dinilai. Berubah untuk-Nya. Lebih baik untuk-Nya. Karena kita ini cuma hamba. Hamba-Nya semata.

Jatibarang, 9 Juli 2016