Tips : Merencanakan Menu Keluarga dan Manajemen Kulkas

Sumber gambar : .quickanddirtytips.com
Sumber gambar : .quickanddirtytips.com

Selama ini kita mungkin mengira bahwa salah satu peran seorang Ibu dalam keluarga adalah menjadi koki atau juru masak keluarga. Maraknya video singkat resep-resep masakan yang beraneka ragam-pun semakin banyak beredar luas di media sosial, ironisnya, kebanyakan dari para ibu mungkin lebih habis menggunakan waktunya untuk menonton satu-per-satu aneka resep yang secara visual sangatlah memanjakan mata ketimbang mempraktekannya. Kemudian ketika kembali ke dapur dalam kehidupan nyata, masih saja banyak ibu-ibu yang kebingungan, besok masak apa ya? atau yang lebih parah lagi, hari ini masak apa ya? (ini mah nyindir diri sendiri 😛 ).

Bahkan beberapa ibu akhirnya menjadi stres untuk urusan perut ini. Ada yang beralasan tidak bisa masak (padahal banyak sekali panduan dengan takaran yang mendetail), atau malas memasak karena terlalu memakan waktu. Belum lagi urusan setelah memasaknya, cucian piring yang berminyak dan kotor pun langsung menunggu untuk diladeni, membuat pekerjaan masak ternyata bukanlah perkara recehan.

Padahal jika ditelisik lebih dalam, akar permasalahannya ternyata satu, Tidak Ada Perencanaan.

Bersyukur sekali saya kepada Allah karena saya diberi kesempatan untuk bisa mengikuti  program Matrikulasi Ibu Profesional yang digagas oleh Ibu Septi Peni Wulandani, yang dalam salah satu materinya dibahas mengenai “Perkembangan Peran Seorang Ibu”. Dalam materi itu dibahas tentang peran Ibu yang selama ini hanya menjadi tukang masak keluarga, maka untuk menjadi seorang Ibu yang profesional, kita harus meng-upgrade diri menjadi seorang perencana menu keluarga.

Saya sendiri merasakan bahwa jika kita hanya mengandalkan mood untuk mempersiapkan makanan untuk keluarga, maka bersiaplah bagi kita untuk mengalami hal-hal sebagai berikut:

  1. Boros uang karena terlalu sering membeli masakan jadi.
  2. Menurunnya skill memasak karena akhirnya sudah terlalu nyaman dengan membeli makanan jadi.
  3. Kecanduan junk food yang beresiko mendatangkan obesitas, kekurangan gizi dan berbagai macam penyakit.
  4. Tidak berselera dan tidak terbiasa makan makanan rumahan (jadi picky kalau sama makanan).
  5. Terputus rantai frasa “Kangen masakan Ibu” alias tidak ada yang ngangenin masakan buatan kita 😛

Setelah riset sana-sini (baca : baca buku Bunda Cekatan dan blogwalking), maka berikut saya rangkum beberapa tips utuk membantu kita untuk meningkatkan peran kita menjadi seorang manajer menu keluarga.

1. Mempersiapkan menu per-10 hari.

Kenapa 10 Hari? patokan ini adalah patokan minimum, alasannya sederhana, supaya tidak mudah bosan dengan jenis menu yang disediakan. Bayangkan saja jika nanti keluarga bosan kalau hari senin makannya sayur bayaaaam terus, kan jadi nggak seru kalau ketebak gitu. Dibuat per sepuluh hari supaya menu masakan selalu surprise 🙂 . Lebih kece kalau misal udah gape banget bikin menu-menu tertentu, kita bisa upgrade satu per satu menu baru untuk kita sisipkan di jadwal kita. Ah, jadi pekerjaan menantang kan kalau gini jadinya?. Oh iya, nggak cuma makanan besar aja ya, kita juga harus siapkan menu-menu kudapan untuk ngurang-ngurangin anggaran jajan di luar.

2. Membuat jadwal belanja dan daftar bahan makanan yang dibutuhkan.

Sumber gambar : thenextweb.com
Sumber gambar : thenextweb.com

Setelah tahu menu-menu yang akan dibuat, kita kemudian mulai membuat daftar bahan-bahan yang diperlukan. Idealnya untuk sayur-sayuran mampu bertahan 3-4 hari, nah kalau sudah, Ibu silahkan mengatur waktunya untuk belanja pekanan atau per 3-4 hari. Ingat ya, selalu bawa catatan belanja ketika ke pasar dan bawa uang secukupnya. Ini demi kesehatan dompet anda, serius. Kalau temen ada juga yang belanjanya per-pekan. Ini sih tergantung menunya juga yang udah kita buat ya.

3. Mengatur isi kulkas dan dapur (Manajemen Kulkas dan Dapur).

Sumber gambar : Sharon Tan
Sumber gambar : Sharon Tan

Nahh, ini nih.. salah satu ilmu yang baru nangkring di kuping, karena selama ini nggak begitu peduli ama bagaimana kita menyimpan makanan di kulkas. Ternyata setelah dievaluasi, emang nggak jarang juga buang bumbu-bumbu yang keburu kering atau busuk di kulkas. Sayur juga, keburu layu sebelum diolah karena nggak ada perencanaan. Asal beli aja pas ke pasar, bermodalkan “Ah kayaknya enak nih kalau masak ini”, atau “Ih tomat seger-seger amat, jadi pengen bikin jus”, berakhir menjadi wacana. Ya Allah, mubazir kan kalau gini. Semoga Allah mengampuni hamba yang suka buang bahan makanan dan makanan sisa.

Untuk mengatur bahan masakan, sebaiknya kita menyiapkan beberapa wadah untuk mengklasifikasikan bahan masakan.

  1. Untuk sayuran, siapkan  beberapa kotak makan yang kita isi dengan bahan sayuran sekali masak yang sudah dicuci bersih dan sudah ditiriskan. Dengan begini, sayuran akan terjaga kesegarannya. Jangan lupa bersihkan bagian-bagian sayuran yang sudah membusuk agar tidak menyebar ke yang lainnya.
  2. Untuk daging-ikan-ayam, cuci bersih dan letakkan dalam wadah tertutup. Naronya di freezer ya. Untuk nugget-nuggetan apa sosis-sosis gitu, kalau sudah dibuka plastiknya, simpan dalam kondisi tertutup supaya nggak bikin kulkas bau.
  3. Siapin bumbu karena saya udah buktiin kalau masak jadi lebih cepet banget ketika bumbu-bumbu sudah tersedia. Lumayan kan saving barang 10 menitan pas lagi masak. Kupas kulit bawang-bawangan, cuci bersih, keringkan, masukkan kedalam wadah. Untuk cabe, segera buang bagian-bagian kalau ada yang busuk. Ini bisa sih dijadiin dalam satu kotak makan gitu. Kita bisa prepare tiap pekan untuk bumbu-bumbu ini. Lebih asoy lagi kalau ibu bikin bumbu-bumbu dasar sendiri. Bumbu putih, bumbu kuning dan bumbu merah. Beuh, ini mah ntar tinggal cemplang-cemplung aja kayak abang nasi goreng liwat.

Begitulah tips yang saya rangkum dari berbagai sumber. Disini diperlukan komitmen para ibu untuk disiplin dengan perencanaan yang sudah dibuat. Untuk menjadi ahli, kita harus mengasah jam terbang kita, kalau mau ngaktifin kebiasaan kita menjadi sebuah habits, paling nggak kita kudu konsisten untuk melakukannya dalam 90 hari. Insya Allah, dengan begitu kedepannya kita akan bisa mencapai target-target menjadi Ibu Profesional yang lebih menantang lagi. Misalnya aja, setelah mahir mengatur menu, jadwal belanja dan mengatur kulkas, kita bisa mengembangkan kemampuan kita untuk benar-benar memperhitungkan asupan gizi keluarga. Masyaa Allah, semoga kebaikan yang kita upayakan ini adalah bentuk konkret kita menjalani peran Ibu yang Allah amanahkan kepada kita.

Ingatlah ketika letih dan jengah menghampiri saat kita kerjakan semua itu, ada karunia  dan ridho dari Allah sebagai gantinya. Karena yakinlah, menjalani amanah adalah ibadah.

Salam Pengabdian.

Depok, 212-2016

Referensi :

  1. Manajemen Kulkas Bersih Hemat Sehat
  2. Bunda Cekatan : 12 Ilmu Dasar Manajemen Rumah Tangga
  3. Tips Manajemen Dapur Untuk Ibu Sibuk