Bukan Sekedar Tujuan Tuan

Jadi apa tujuanmu pagi ini?, kau tahu? selama hidup ini jika kau tak pernah menanyakan pertanyaan ini kepada hatimu. Sia-sia. Sia-sia hidupmu!. Bahkan tanaman sirih tahu betul ia harus merambat, supaya tidak mati dan layu. Kau…kau manusia, bukan tanaman, harusnya lebih cerdas daripada itu.

Yang membuatmu sulit itu bukannya keinginanmu belum terpenuhi. Tapi karena kau khawatir akan hidup susah hari ini dan nanti. Kau meruwetkan pikiranmu sendiri dengan was-was tak beralasan, itu karena kau tak mengenal tujuan.

Bukan sekedar tujuan tuan, tapi tujuan Tuhan.

Kau mengerti? Ah, seharusnya kau mengerti kawan.

Desas-desus manusia membanjiri pikiranmu. Kau kemudian iku-ikut arus tersebut dengan duduk mendengarkan, sesekali memberikan komentar asal. Kubilang, tinggalkan. Sebelum nanti kau menyesal karena kau tahu kondisinya akan semakin menyeramkan. Tinggalkan desas-desus itu sebelum kau menyesal karena tidak ada yang kau bisa harapkan selain pertolongan Tuhan. Atau lebih parah, tinggalkan sekarang, sebelum kau mempertanyakan kekuasaan Tuhan.

┬ęSILMINA ULFAH | BUMIAYU, 12 APRIL 2017

Ada Yang Kurang

“Kau sudah tahu polanya, untuk menyembuhkanmu, kau tahu kau tidak butuh obat dan dokter”

“Ya aku tahu itu, aku hanya perlu tidur”

“Ada yang kurang”

“Ya, aku perlu merapikan ibadahku”

“Adalagi”

“Ya aku harus lebih peduli dengan diriku sendiri”

“Semoga Allah mengampuni kita”

“Aamiin”

 

4 November 2015, 1.26 am

Monolog : Sakit

“Bisa saja kutulis segala rupa kosa kata paling kasar dan menyakitkan hati. Tak kulakukan. Sesederhana, karena itu artinya aku menikam hatiku sendiri. Amboi, betapa pilu.”

“Ya sudah, lupakanlah.”

“Ah, seharusnya kau tak kuajak bicara, bisakah sesekali kau hanya mendengarkan? tak usah komentar!”

“Benar-benar marah rupanya?”

“Tak usah bertanya.”

“Tadi tak boleh komentar, sekarang tak boleh bertanya. Kalau kata Gus Muh, “Aku harus bagaimana?””

“Kau ini, benar-benar!”

“Kata anak jaman sekarang, kau hanya perlu liburan.”

“Aku bukan anak alay!!”

“Tapi gelagatmu… lagipula kau sangat alamiah”

“Sialan!”

“Nah, kadang kau cantik kalau sedang marah”

“Kubalas kau nanti, aku sedang tak berselera menambah jumlah musuh”

“Tak akan kau lakukan, sudah, sana, istirahat”

“Kadang aku berdoa, supaya aku berhenti berbincang dengan diriku sendiri”

“Hahaha, hati-hati, nanti malah kebalikannya. Kau akan beranak pinak, pasti seru, pasti gaduh”

“Gawat, bisa porak-poranda pikiranku”

 

13 Oktober 2015

Monolog : Pada Permulaan

“Jadi bagaimana? sudah kau dapatkan alasannya? bagaimana perjalananmu?”

“Ah, kau tahu aku bagaimana, masih saja pura-pura tidak tahu.”

“Loh, bagaimana, aku hanya ingin memastikan ketika kau mulai kehilangan dirimu lagi, kau tahu harus kembali kemana”

“Ya, ya, tak perlulah kau bongkar-bongkar lagi”

“Biarpun begitu, kau tahu kan, aku mencintaimu melebihi manusia lain di bumi ini”

“Ya, kau kan tak punya pilihan lain, kau tinggal didalam diriku”

“Apa aku harus pergi?”

“Jangan, tetaplah disitu. Ya, aku akan belajar dari masa lalu, berkejaran dengan waktu untuk bisa membahagiakan dirimu”

“Sampai bertemu nanti, sampai bertemu di dunia yang tiada mengenal kata mati”

“Kau menakutiku?”

“Tidak, kan itu memang akan terjadi”

“Yah, baiklah. Maafkan”

“Kumaafkan”

 

Rumah, 28 September 2015