Bu, Sebelum Anda Buang-buang Duit ke Salon, Cari Tau Dulu Arti “Me Time”

BAGIAN SATU

Sering banget deh pasti liat postingan mahmud atau mahtu yang berseliweran di media sosial. Biasanya mereka pasang tagar #metime di salon spa, kafe malah yang ekstrim dia ngelakuin solo trip gitu.

Bikin mupeng?

Tapi pernah mikir nggak sih? Sebetulnya Me Time itu apa? Kalau kita gugling, kita bakalan nemu ini:

“Me-Time” adalah waktu untuk diri sendiri tanpa kehadiran orang lain, sehingga kita bisa beraktivitas sendirian (atau bahkan tidak melakukan apa-apa).

Trus, kalau udah sendirian, emang mau ngapain? Jangan-jangan selama ini kita berdalih butuh Me Time untuk “lari sejenak dari tanggung jawab”. Kalau begitu, kayaknya sayang banget ya kan?, abis setengah juta buat spa dari ujung rambut ampe kaki, pulang-pulang “welcome to the jungle” lagi.

Atau ada juga yang Me Time nya dengan shopping, bilangnya buat menghargai kerja keras diri. Kemudian nggak jarang pas sampai rumah mikir, “Ngapain gue beli ini ya? Kayaknya  nggak penting-penting amat..”, begitulah akhirnya nyesel dan numpuk-numpuk barang dalam rumah. Mamam.

Beberapa bulan lalu iseng ikutan kulwap (Kuliah Whatsapp) IIP untuk memahami arti “Me Time“. Pertamanya sih mikir, “yaelah, ginian aja dibahas..”, tapi mah, udahannya sungguh bikin mikir-kir-kir. Persepsi saya tentang makna Me Time jadi meluas. Jadi ini hasil dari materi Me Time yang saya dapat:

Who am I? 

Sumber : weewatch.com
Sumber : weewatch.com

Jadi seorang ibu, bagaimanapun memang dibutuhkan kesadaran dan keseriusan. Apalagi ditengah seabrek pekerjaan yang rasa-rasanya bisa bikin kaki di kepala, kepala di kaki. Tapi, apapun alasannya, sebaiknya kita tidak melupakan siapa diri kita sebenarnya.

Bu, kita ini dianugerahi potensi akal, perasaan dan fisik. Semuanya pasti ada potensinya. Itu yang kudu kita gali dan gali terus. Jangan-jangan selama ini kita sibuk dengan mengejar pencapaian orang lain. Jangan-jangan selama ini kita memperjuangkan sesuatu yang kita tidak tahu untuk apa. Ngeri kali, macam zombie aja kalo gitu.

Kalaulah memang Me Time adalah adalah waktu untuk sendirian dan melakukan aktivitas semau kita. Maka kenalilah dulu apa yang sebetulnya kita ingin dan butuhkan. Coba jawab, saya ini adalah? Mengapa saya harus melakukan A B C D ..? Apa yang sebetulnya saya butuhkan saat ini? apa potensi saya?

“Saya ini punya peran sebagai hamba Allah, anak, istri, ibu dan bagian dari lingkungan masyarakat, maka saya harus melakukan…., dan saya butuh…., lalu potensi atau modal yang saya punya adalah….”

Kunci Utamanya adalah Mengenal Diri. Me dulu, baru Time.

Apa yang sebetulnya kita cari dalam Me Time?

Siapalah yang nggak penat kalau saban hari ngerjain rutinitas yang itu-itu aja, baik yang kerja di ranah publik (karyawati kantoran) atau ranah domestik (ibu rumah tangga), masing-masing punya segunung tanggungan yang harus diselesaikan. Capek, penat, lelah, lesu, lunglai, bikin moody… sudah jelas.

Gara-gara kondisi itulah, kemudian kita semacam butuh yang namanya “draining situation“, alias keluar dari tekanan tersebut. Biasanya, kemudian kita akan berasa lebih nyaman.

Tapi apa yang kayak gitu namanya Me Time?

Ternyata yang demikian itu baru “kondisi minimal”. Karena itu baru menjalankan fungsi Me Time sebagai ajang relaksasi.

Iya, Me Time itu punya dua bagian. Fungsi relaksasi (relaxing) dan fungsi aktualisasi diri (flourishing).

Ketika sudah kenal dengan diri kita sendiri, kita butuh Me Time yang lain, yaitu aktualisasi diri. Bahasanya diibaratkan, kita melakukan Me Time dalam rangka mengupgrade diri, kalo bayangin bunga, dia mekar berkembang (flourish). Indah banget kan ya?

Kalau udah gitu, kita akan sadar bahwa Me Time bukan sekedar bebas dari realita saat ini, tapi Me Time adalah waktu dimana kita menemukan makna diri kita yang sebenarnya, diri kita yang terbaik, dan diri kita yang bahagia.

Sumber : pinterest
Sumber : pinterest

Jangan sampai, kita berdalih Me Time, tapi nyatanya terjebak dalam kondisi “Lazy Time”. Kalau kelamaan gitu-gitu terus, lama-lama hidup makin tidak produktif, merembet ke perasaan tidak bahagia bahkan tidak berharga lagi. Ngenes. Mulai deh, abis itu banding-bandingin hidup kita dengan orang lain. Abis itu sirik, Naudzubillah!

Ciri-ciri aktivitas Me Time yang bisa bikin “mekar berkembang” itu, meskipun kita capek ngejalaninnya, udahannya kita seneng banget dan semacam kayak ada “nilai tambah” dalam diri kita.

Yah intinya, buat ngedapetin Me Time yang berkualitas. Kita perlu, dan harus, kenal lebih jauh siapa sih diri kita (Me) lalu apa yang dibutuhkan dalam keseharian.

Dengan begitu, momen Me Time bisa jadi ajang untuk meningkatkan kualitas kehidupan dan pribadi kita.

Saya bersyukur akhirnya, dengan bangga saya katakan, saya selalu punya Me Time setiap hari, saat menulis blog, saat hadir dalam setiap kegiatan di yayasan dan RBK, saat bebenah rumah, saat nyuapin anak, saat ber-youtube tentang kajian/seminar, daaaan segudang aktivitas lainnya yang “ini gue bangetttt!”.

Bersambung.

Depok, 20 November 2017
(c) Silmina Ulfah

 

Hati-Hati Hati Busuk

Diri ini lebih sering buat gimana cara merawat kulit wajah, membaguskan penampilan dan mencerdaskan pikiran. Sambil sedikit-sedikit lupa bahwa ada hati yang harus dijaga kebersihannya.

Kalau hati kita sering gelisah. Bisa jadi itu berasal dari hati yang ingin dipuji, diperhatikan, dan dipandang.

Padahal namanya hati. Kalau sudah buruk, ya buruklah semua. Ibarat kalau botol, mungkin tampak luar ia kelihatan mewah, tapi siapa sangka kalau dalamnya isi comberan.

Diri sering terkecoh dengan topeng dunia. Topeng yang justru kelak akan menghinakan diri ketika ia menguasai isi hati. Termasuk didalamnya kebanggaan terhadap status dan jabatan. Juga rasa bangga terhadap apa yang dimiliki, berharap sekalimat pujian dari orang-orang.

Orang yang sibuk dengan penilaian mahluk, sungguh hidupnya tidak akan tenang. Kalau dengan diri sendiri saja ia tidak nyaman. Bagaimanalah orang lain bisa nyaman berada didekatnya.

Merasa sudah berjasa, juga satu dari sekian banyak penyebab busuknya hati. Semoga diri ini selalu dijaga dari hal-hal demikian. Benar kiranya bahwa musuh sejati bukanlah mereka yang menyakiti dengan perkataannya atau tindak-tanduknya. Musuh sejati itu berasal dari busuknya hati.

Sungguh hanya dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tenang.

Menulis adalah menasihati diri sendiri.

Depok, 16 Oktober 2017

Menghargai Diri, Menghargai Proses

Hati saya yang terlalu sempit atau memang saya harus menerima bahwa orang yang telah mempergunakan candaannya yang bagi saya kurang ngajar itu sebagai sebuah intermezzo? kadang saya suka heran terhadap orang-orang yang mengaku lebih memahami semua yang saya kerjakan, atau menilai saya dari apa yang saya sedang kerjakan.

Dimana arti menghargai proses? kalau ujung-ujungnya, saya bisa melihat gerak-gerik yang sangat tidak nyaman dari anda? Tapi akhirnya dari sikapmu yang seperti itu, saya mulai belajar untuk tidak menjustifikasi seseorang dari apa yang mereka pilih dari kehidupannya. Ya, tiap manusia akan mempertanggungjawabkan apa yang sudah mereka kerjakan dan pilih didunia.

Saya akan belajar lagi untuk tidak peduli pada apa penilaian orang lain. Karena saya yang mejalani hidup saya. Saya tidak suka hidup dalam ketakutan pada mahluk, saya adalah manusia yang seharusnya takut pada ketentuan Allah. Apakah mungkin Allah turunkan Rasul, Sahabat, Thabiin hanya sebagai pajangan dan kisah-kisah belaka? Apakah mungkin Dari sekian ratus kitab yang tertulis berisikan tentang cara bertaqwa kepada Allah itu kesemuanya adalah salah? Apakah mungkin, kita hanya bersandar pada terjemahan “Sekenanya” dan bahkan dirinya sendiri tidak mampu menyelesaikan apa yang sedang ia baca?

Lalu ketika kelak saya berdiri di hadapan Allah untuk bersaksi, apakah orang-orang yang memberikan penilaian itu akan mampu bertanggungjawab terhadap apa yang saya kerjakan? Jaminan apa yang mereka bisa berikan sehingga saya harus menjalankan perbuatan A, B dan C?

Saya sendiri menginginkan kebenaran, disisi lain saya memahami bahwa Allah tidak mungkin turun langsung dan bicara pada saya tentang jalan mana yang harus saya pilih. Jadi, berhentilah memberikan justifikasi kepada orang yang menurut anda berbeda.

Silmina Ulfah | Depok,  29 Maret 2017

 

#MemesonaItu Yang Seperti Ini

Sumber gambar : MrWallpaper.com
Sumber gambar : MrWallpaper.com

Tidak ada satupun salon kecantikan di dunia ini yang mampu memancarkan sebuah pesona sejati. Bahkan kosmetik paling mahal-pun tidak akan  ada yang mampu melakukannya. Itu karena …

#MemesonaItu ada pada orang yang ketika kita melihatnya, kita tidak merasa kurang pada keadaan diri kita. Karena kita tahu, yang membuat orang itu memesona bukanlah tentang apa yang sudah ia miliki sekarang ini. Ya, Pesona tidak  akan pernah membuat kita iri karena pesona sejati hanya akan membuat kita terinspirasi atau bahkan jatuh hati, itu karena pesona laksana pancaran intan. Sebuah pencapaian yang hanya didapatkan oleh jiwa-jiwa yang tangguh melewati proses diri dalam siklus kehidupan.

Kita tahu bahwa orang yang #MemesonaItu adalah juga mereka yang sadar dan memahami betul apa yang menjadi tujuan hidup dirinya, sehingga apapun yang ia lakukan bukanlah sekedar ikut-ikutan apalagi gaya-gayaan. Dan kau tahu? bahkan ketika ia gagal, pesonanya justru semakin berpendaran, karena ia memilih untuk segera bangkit dari kekalahan dan melakukan perbaikan.

Orang yang #MemesonaItu merawat dirinya bukan sekedar karena hanya ingin  tampil cantik dan menawan. Tapi ia melakukannya sebagai bentuk syukur atas pemberian Tuhan. Ia akan berusaha untuk selalu memberikan senyuman yang menawan, bukan demi pujian dan sorotan, tapi demi menjadi wanita impian, yaitu mereka yang cerdas dalam menjaga kehormatan.

Orang yang #MemesonaItu tidak perlu membanding-bandingkan pesona dirinya dengan pesona orang lain. Karena ia tahu setiap orang memiliki zona pesona yang berbeda-beda. Ia akan lebih disibukkan untuk membandingkan dirinya yang sekarang, dengan dirinya di masa lalu. Karena baginya, seharusnya kita menjadi diri yang disibukkan untuk terus menjadi pembelajar, demi perubahan diri yang mendewasakan.

Pesona itu tidak butuh pengakuan, karena pesona adalah sesuatu yang disematkan.

Orang yang #MemesonaItu bukan artinya lahir tanpa kekurangan. Bedanya, ia tak mengeluh atas kekurangannya itu, dan fokus terhadap kemampuan lain yang bisa ia maksimalkan. Orang dengan pesona tidak pernah sibuk dengan penilaian orang yang melemahkan, dan menjadikan sebuah kritikan sebagai sesuatu yang justru menguatkan.

#MemesonaItu adalah tentang cara kita memelihara kebaikan sejak dalam pikiran. Karena setiap kebaikan tidak akan melahirkan sesuatu kecuali keindahan. Keindahan sikap dan sifat dalam keseharian. Dan dibutuhkan seni menikmati pertumbuhan untuk terus bisa memancarkan keindahan.

Apa itu seni menikmati pertumbuhan?. Personal kita dibentuk oleh apa yang kita baca, dengar, lihat dan rasakan. Saat kita dihadapkan pada persoalan, kita akan diminta untuk menggabungkan segala pengalaman dan pembelajaran itu untuk bisa diselesaikan. Yang menarik, seringkali kita akan temukan jawaban dari pancaran pesona orang-orang disekeliling kita.

Kata orang, karakter itu terbentuk dari sebuah kebiasaan selama hidupnya. Itulah mengapa bagi saya, orang-orang berkarakter dan mereka yang memiliki prinsip adalah orang-orang yang memesona. Apa yang mereka kerjakan bahkan menjadi bahan renungan. Apa yang mereka katakan menjadi bahan pemikiran yang mendalam. Apa yang mereka hasilkan banyak memberikan manfaat dalam keseharian.

Seperti R.A. Kartini, dengan pesona pemikirannya. Cut Nyak Dien, dengan pesona ketangguhannya atau pesona gadis keturunan Pakistan peraih nobel perdamaian bernama Malala Yousafzai dalam melawan penindasan anak-anak dan memperjuangkan hak pendidikan bagi mereka. Bagi saya, inilah pesona sejati.

#MemesonaItu adalah jiwa yang penuh cinta. Tampil memesona-lah! mulai dari merawat diri dan berani tampil percaya diri. Pancarkan pesonamu itu, karena yang seperti kamu hanya ada satu. Dan yakinlah, kamu juga punya pesona itu! 🙂

505

Mempertanyakan Konsistensi

Pernah tidak, rasanya kau ingin sekali menulis sesuatu, namun tidak juga tertulis karena tidak tahu  mau mulai dari mana. Karena begitu banyak jendela-jendela dipikiran kita yang minta diperhatikan dan merasa layak untuk dituliskan terlebih dahulu. Menjadi manusia bermanfaat itu memang tantangan yang bukan main-main. Kita tidak hanya diminta untuk sekedar menyelesaikan pekerjaan saja, tapi juga meningkatkan hasil pekerjaan sehingga manfaatnya bisa semakin luas dirasakan oleh orang lain.

Kadang saya sendiri juga bertanya-tanya, mengapa begitu banyak orang yang seolah-olah menginginkan mendapatkan ini itu tanpa terlebih tahu apa tujuannya. Tujuan sangat penting, niat juga tidak kalah penting. Mau sebanyak dan setinggi apapun pencapaian kita, kalau kitanya tidak tahu itu untuk apa, jangan menyesal kalau nanti ujung-ujungnya mengeluh dan menyerah, sia-sia sudah semua perkara.

Ya kadang saya juga masih bertanya-tanya kenapa saya begitu ingin menulis dan menjadi penulis. Bertanya-tanya motifnya sampai-sampai tidak selesai satu tulisanpun pada akhirnya. Lima tahun lalu saya pernah membuat semacam target untuk bisa menerbitkan satu buah buku dalam tiga tahun. Nyatanya, ini sudah lebih mundur dua tahun dari rencana dan belum ada sebuah buku pun yang terbit.

Tapi satu hal yang ingin saya yakinkan pada diri saya sendiri. Yakni bahwa menulis adalah tentang menyelam-nyulam makna yang sudah dipelajari. Menyuarakan batin dan suara hati. Menasehati diri sendiri dan generasi. Karena jasad akan mati, namun karya akan abadi.

Silmina Ulfah | Depok, 24 Maret 2017

Nasihat : Mengingat Nama-Nya

Kenikmatan dalam merasakan cinta-Nya Allah adalah sebenar-benarnya nikmat. Apalah kita di dunia ini? kita adalah mahluk yang hanya diminta untuk beribadah kepada-Nya. Mahluk yang diminta dalam setiap tarikan nafasnya mengingat Allah, dalam setiap kehendak aktivitasnya untuk Allah, selamanya.

Apakah kita kecewa pada manusia? tidak. Kita tidak akan pernah sekalipun kecewa pada manusia kalau kita tidak berharap darinya. Kita tidak akan pernah merasa disakiti ataupun dikhianati oleh manusia kalau kita tidak bersandar pada mereka. Kitalah yang keliru dalam memandang itu semua.

Kita kecewa karena kita jauh dari Allah. Kita merasa disakiti karena kita tidak selalu berusaha dalam setiap detiknya untuk bisa mengingat nama-Nya.

Silmina Ulfah | Depok, 8 Maret 2017

Nasihat : Apakah Kita Akan Begini-Begini Saja?

Begitu banyak orang berkata ingin mencapai keselamatan dunia dan akhirat. Tapi untuk perkara menjaga hati dan pikiran dari buruknya prasangka saja tak mampu ia jaga. Bukankah kita sering membaca sekalimat “…kebanyakan mereka tidak mau memikirkan”, “..kebanyakan manusia tidak beriman”, “…kebanyakan manusia tidak bersyukur”, “…kebanyakan manusia tidak memperhatikan.” dan “kebanyakan-kebanyakan” lainnya?

Apakah kita akan masuk ke dalam orang yang banyak itu? Atau kita memutuskan untuk menjadi bagian yang “sedikit”?

Kosa kata apa lagi yang Allah perlu sampaikan kepada kita supaya kita mau menurut pada-Nya? Perumpamaan dan tanda-tanda apa lagi yang akhirnya harus Allah munculkan dikepala kita untuk kita renungi supaya tidak ada sedetikpun pikiran kita kecuali dzikir? Tidak ada lagi aktivitas sia-sia yang kita kerjakan sehingga melalaikan yang seharusnaya kita tunaikan? Apa lagi?

Yang sedikit itu, memilih sabar ketika terasa diuji. Yang sedikit itu, memilih sedikit makan dan tidur untuk memaksimalkan ibadah-ibadah sunnah. Yang sedikit itu, memikirkan hak-hak orang lain yang Allah titipkan pada harta dan jiwa kita. Yang sedikit itu, menahan amarah dan dan lembut dalam berkata-kata.

Atau apakah kita akan begini-begini saja?

Silmina Ulfah | Depok, 3 Maret 2017

Pada Suatu Pagi

Pada suatu pagi yang anginnya menusuk tulang. Ia berjalan menyusuri pelataran yang lantainya dingin, tanpa alas kaki. Tiada alasan kecuali sebuah keyakinan bahwa Tuhan-Nya yang memerintahkan. Tiada keinginan selain iman islam dan ampunan.

Bersamanya, ditinggalkan segala perkara dunia. Meski perkara itu sebelumnya ia lakukan bukan untuk dunianya. Alih-alih demikian, belakangan ia kesulitan memilah siapa sebenarnya yang lebih utama. Allah, atau persoalan yang ada dihadapannya.

Robbighfirli, Warhamni, Wajburni, Warfa’ni, Warzuqni, Wahdini, Wa’afinii, Wa’fuannii

Tuhanku ampuni aku, sayangi aku, tutuplah aib-aibku, angkatlah derajatku, berilah aku rizqi, berilah aku petunjuk, sehatkan aku, maafkan aku.

Depok, 23 Februari 2017 | Silmina Ulfah

Nasihat : Tidak Cukup dengan Aamiin.

IMG_20170213_032139

Sering kali kita mendengar seorang menceritakan teladan-teladan dan menyisipkan harapan semoga kita semua yang mendengarkan cerita tersebut bisa juga mendapatkan kebaikan dari Allah. Kemudian biasanya, para penyimak akan kompak berkata “Aamiin..”. Aamiin memiliki arti singkat Kabulkan doa kami. Ini berdasarkan fi’il (kata kerja salam Bahasa Arab) merupakan permohonan kepada Allah SWT agar doa kita diijabahkan oleh-Nya.

Persoalannya adalah, Tidak cukup dengan kata Aamiin. Tidaklah sebuah ilmu sampai kepada kita melainkan Allah menghendaki kita untuk mempraktekkan ilmu tersebut. Tidak juga akan sampai ilmu kepada kita melainkan kelak akan dimintakan pertanggung jawaban atas respon kita terhadap hidayah Allah tersebut.

Semua orang ingin berakhir di surga-Nya Allah, surga firdaus, surga tertinggi. Tapi setiap hari apakah kita sudah benar-benar serius merencanakan ibadah-ibadah kita kepada Allah?

Apakah kita sudah menyempurnakan setiap amal yang kita kerjakan? Apakah hati ini sudah ikhlas dan niat ini terjaga dari segala bentuk riya? Apakah kita sudah bertaubat atas segala kekeliruan yang sudah kita kerjakan? mulai dari maksiat yang dilakukan oleh mata, telinga, mulut, tangan, kaki dan hati?

Tidak cukup dengan Aamiin. Sungguh, betapa beruntung orang-orang diberikan kenikmatan dalam mengerjakan ibadahnya. Tidakkah kita iri dengan orang-orang yang mendapatkan kenikmatan dari tangisan dalam sujud sholat tahajudnya? sedangkan kita, berkemul tak peduli mengabaikan janji Allah yang disediakan bagi orang-orang yang bangun malam?

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ اْلآخِرِ، فَيَقُوْلُ: مَنْ يَدْعُوْنِي فَأَسْتَجِيْبَ لَهُ، وَمَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ.

“Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun pada setiap malam ke langit dunia ketika tinggal sepertiga malam, seraya menyeru: ‘Siapa yang berdo’a kepada-Ku, maka Aku memperkenankan do’anya, siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku memberinya, dan siapa yang memohon ampunan kepada-Ku, maka Aku mengampuninya.”

HR. Al-Bukhari (no. 7494), Muslim (no. 758 (168)), at-Tirmidzi (no. 3498), Abu Dawud (no. 1315, 4733) dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah (no. 492) dan Ibnu Khuzaimah dalam kitab at-Tauhiid (I/280).

Betapa Maha Baik Allah yang setiap harinya sudah mengingatkan kita manusia untuk bangun pada malam hari dan memberikan kesempatan kepada kita untuk dikabulkan doanya dan diampuni dosanya.

Boleh jadi kesulitan kita untuk bangun pada tiap sepertiga malam disebabkan oleh maksiat kita yang kita kerjakan. Atau bisa juga karena kita tidak tahu akan keutamaan bangun malam ini. Namun apapun alasannya, ketika kita sudah diberikan ilmu dan pengetahuan oleh Allah tentang keutamaan orang-orang yang mendirikan tahajud. Hendaklah ia menunaikannya, dan berdoa agar senantiasa istiqomah dalam pengerjaannya.

Tidak cukup dengan Aamiin.

Bangun dan sholatlah!

Silmina Ulfah – Depok, 21 Februari 2017

 

Nasihat : Nikmat Penglihatan dari Allah

Sumber Gambar : drthomasphillips.com
Sumber Gambar : drthomasphillips.com

Terlalu banyak yang dipikir, bisa jadi itu semua karena kurang zikir. Kadang manusia itu aneh, dikasih penglihatan untuk melihat tanda-tanda kebesaran Allah, malah dipakai untuk melihat yang diharamkan oleh Allah. Misalnya, asyik memanjakan syahwat dengan melihat aurat atau melihat tontonan yang sama sekali tidak ada manfaat bagi hidup kita. Padahal, Allah anugerahkan mata untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah.

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Surat Al-A’raf Ayat 179)

Mu’adz, seorang anak 11 tahun yang hafal quran 30 juz, bersungguh-sungguh dalam usaha penghafalannya. Setiap hari menempuh 20 km oleh sang ayah hanya untuk bisa belajar Alquran. Di hari pertamanya hanya diminta setor satu ayat, begitu seterusnya. Jika pada pertemuan berikutnya ada kesalahan pembacaan, ia diminta untuk kembali keesokan harinya. Putus asa?, kalau bukan karena pertolongan Allah dan dukungan kedua orang tua, tentu Mu’adz sudah menghentikan cita-citanya untuk menjadi seorang penghafal Quran.

Yang menarik perhatian, Mua’dz dikaruniai Allah mata yang tidak bisa melihat. Sehingga ketika Mu’adz telah menyelesaikan hafalan 30 juznya, kisahnya menjadi perhatian banyak orang sampai ia berkesempatan diwawancarai oleh Syaikh Fahd Al-Kanderi dari salah satu stasiun televisi.

Dan, kisah-nya pun menjadi inspirasi dan renungan banyak orang ketika Mu’adz menceritakan betapa ia merasa bersyukur bahwa Allah ‘mengambil penglihatannya’.

“Alhamdulillah, Dia telah memberikanku nikmat dengan mengambil penglihatanku. Subhanallah…Alhamdulillah.., Dalam salat, saya sama sekali tidak pernah berdoa agar Allah mengembalikan penglihatanku”.

Ketika ditanya mengapa, Mu’adz melanjutkan :

“Agar saya dapat memohon pengampunan Allah kelak di hari kiamat. Hingga Allah akan meringankan sebagian adzabku (andai diriku nanti diadzab).”

“Kelak aku akan berdiri di hadapan-Nya dalam keadaan bergetar dan ketakutan. Lalu Dia bertanya kepadaku, “Apa yang telah kamu lakukan dengan Al-Quran?”, semoga Allah mau meringankan siksaanku, dan Allah merahmati siapapun yang dikehendaki-Nya. Dia telah memberikan nikmat Al-quran kepadaku dan Alhamdulillah apabila saya ingin pergi kemana bila saya mau, saya dapat pergi seorang diri, akan tetapu ayahku mencemaskanku.”

Penjelasan Mu’adz membuat penanya bergetar sampai melelehkan air mata, dan juga semua kru yang berada disana. Kemudian Syaikh Fahd Al-Kander mengajak kita semua merenungkan,

“Pada saat ini, saya teringat banyak kaum muslimin yang mampu melihat namun bermalas-malasan dalam menghafal kitab Allah, Al-Quran. Ya Allah, bagaimana alasan mereka besok (di hadapan-Mu)?”

Semoga kita bisa melihat hal ini sebagai tanda-tanda kekuasaan Allah, supaya kita senantiasa memperbaiki diri dan meningkatkan taqwa kita kepada Allah.

 

Depok, 25 Januari 2017

Silmina Ulfah