Survival

Yang udah nonton Hunger Games pasti tau bagaimana suasana hutan tropis, hijau dimana-mana, bebunyian burung, embun, kabut, lembab, sejuk.

Selama nonton film ini, saya jadi teringat saat pertama kalinya saya merasakan simulasi survival kala SMA, tidak ada pendaki yang ingin tersesat di hutan. Untuk itulah mereka melakukan persiapan perjalanan.

Kang Heri Macan, seorang guru alam, bilang pada kami. Hutan Indonesia macam surga, hanya orang-orang bodoh saja yang tidak bisa bertahan karena kelaparan disana, hujan ada, segala tanaman begitu beragam. Kau hanya tinggal pelajari bagaimana memilah dan memilih mana yang tidak beracun. Sekali lagi, aku mendapatkan pelajaran, di hutan(pun) kemauan belajar mampu membuatmu bertahan.

Masih lekat dalam ingatan saya kala itu, saat saya diamanahkan menjadi komandan siswa. Menjadi pemimpin bagi 14 saudara-saudara yang lainnya, kalau tidak salah, itu adalah hari ke empat, kondisi tim saat itu sudah payah, terutama para nisa.

Singkat cerita, setelah memastikan anggota tim berada di shelternya masing-masing, kemudian saya dipanggil instruktur untuk mengepak perlengkapan saya dan menuju sebuah tempat, sebelum pergi, mereka menyuruh saya untuk membuat sebuah pesan kepada anggota tim, tertulis disurat itu bahwa ceritanya saya harus meninggalkan pendidikan dikarenakan sudah tidak tahan dengan tempaan yang dialami. Waktu menunjukkan pukul 2 dini hari, saat itu saya dibawa ke sebuah tempat, saya sudah mencium aroma skenario yang dibuat untuk materi SAR.

Gelap, kelaparan, pakaian basah, dingin, ngantuk dan sendirian pula, haya ada sahutan suara primata, burung dan angin. Sekitar 300-400 meter saat itu jarak saya dengan camp saudara-saudara saya yang lain. Saya tidak mendirikan bivoac, dan hanya merebahkan diri di semak-semak yang penuh embun, dinginnya sampai menusuk tulang. Sudah terlalu letih tubuh saya saat itu untuk mengeluarkan alat penerangan, perbekalan? Yang benar saja, makanan kami sudah di sita sejak pagi pertama kami singgah. Di carrier saya cuma ada beras dan garam. Pelan-pelan saya membayangkan hangatnya rumah, makan nasi padang lengkap dengan buah semangka. Perutku geruyukan. Saya pun tertidur, di tanah basah kaki gunung Salak.

 

***

Sepaginya, saya di gugah oleh kakak instruktur, saya pun langsung di briefing untuk rencana materi SAR, lebih tepatnya skenario SAR. Diceritakan bahwa saya harus berpura-pura pingsan dan sakit. Sementara akhirnya saya tahu pada saat yang sama, dicamp saudara-saudara saya, telah terjadi drama yang hiperbolic, “Silmina Ulfah kabur!”. Menggelikan.

Hampir satu jam lebih saya “menunggu” ditemukan oleh rekan-rekan saya yang lain. Membosankan sekali. Jantung berdebar kala suara gebahan khas instuktur terdengar. Sebagai informasi, pada saat saya menjalani diklat, curah hujan sedang tidak ada, artinya suhu akan jauh lebih dingin dibandingkan saat ada hujan.

Akhirnya saat-saat yang ditunggu datang juga. Meskipun saya dalam keadaan “pingsan” ditambah dengan mata berair, dalam hati, saya bersorak senang. Mission Accomplished. Langsung saja saya di angkut menggunakan tandu buatan dari batang pohon sebesar bambu tandu yang tidak rata dan jalinan tali pramuka dengan konstruksi yang memprihatinkan, saya pun hanya bisa maklum saat kepala saya terantuk sana-sini, rasanya jadi pingsan betulan.

Sesampainya di camp, skenario belum berakhir….

Ceritanya Bersambung

Dua Puluh Ribu

Mulai sekarang saya bertekad untuk belajar menabung yang notabene sejak dulu selalu gagal dalam menabung. Mo di celengan plastik sampai di bank, selalu saja berakhir dengan saldo yang memprihatinkan. Saya menerapkan sebuah cara baru, yakni  setiap saya mendapatkan uang pecahan 20.000-an saya akan “menyembunyikan” di tempat yang tidak terjangkau oleh mata secara langsung. Ide ini saya dapatkan dari kakak saya, gara-gara dia baca salah seorang temannya (baca : following-an nya) di TL, (lupa namanya siapa).

Menabung pada dasarnya adalah mempersiapkan kebutuhan dimasa mendatang dengan menyisihkan pendapatan kita, baik kebutuhan primer hingga tersier.  Ibaratnya kalo kita main pistol-pistolan, pastinya kita akan mengumpulkan peluru sebanyak-banyaknya supaya ga kalah pas lagi perang.  (lebay banget ga si perumpamaannya?) . Sering denger kan orang bilang “Aku orangnya rajin dan gemar menabung”, sempet bertanya-tanya pula, kenapa sih harus “Nabung?”, kenapa ga Gemar berolahraga, atau Rajin Ngepel?. Ternyata sekarang saya melihat bahwa orang-orang yang pandai menabung adalah orang-orang dengan memiliki persiapan dan perencanaan yang matang. Cerdas, yang penting, jangan sampai kegiatan menabung ini berpindah haluan ke arah Kikir. Apa-apa perhitungan, mau sedekah sayang, Naudzubillah. Jadilah Penabung yang Dermawan.

Dan dalam seminggu ini saya berhasil menyembunyikan 40.000 itu artinya, selama seminggu saya hanya berhasil “ketemu” pecahan uang 20.000-an 2 kali doang sodara-sodara. Saya jadi lucu sendiri, baru kali ini saya betul-betul memperhatikan setiap lembaran yang saya terima, dari loket karcis KA, kembalian mini market, kembalian wateg, dan baru sadar ternyata pecahan 20.000, yang saat ini bergambar wajah Bapak Oto Iskandar  Di Nata ini termasuk jarang sekali saya terima (saking meratiinnya, saya juga baru tahu juga kalau nama Dinata itu dipisah, Di Nata).

(Baru pulang kantor, baru kali ini niat banget minta jemput  karena ga mau mecahin duit 20.000-an)

Sekian

Back To Speedy..

Setelah hibernate dari layanan TELKOM Speedy dan beralih ke modem wireless,  akhirnya di awal April ini saya kembali menggunakan layanan Speedy gara-gara transmisi data yang tidak stabil  kalo pake modem wireless, yah memang transmisi data in line lebih ga bikin hati sumpek, apalagi dengan cuaca yang seperti sekarang yang bikin noise meningkat di udara sana (*sok tau).

Ceritanya kakakku lagi mau ngurus buat ngaktifin layanan Speedy, pas iseng nanya ada layanan apa lagi, eh ditawarin paket sosialita, sebuah paket baru khusus buat pelajar hanya dengan membawa kartu pelajar yang masih aktif. Dan yang bikin surprise adalah, kita bisa dapatkan layanan sama kayak yang biasa saya pake, yang bisanya Rp. 215.000/bulan, sekarang dengan paket promo baru itu kita Cuma keluar kocek Rp. 108.000/bulan, dengan speed yang sama dan kuota yang sama (3 Giga).

Sekian sekilas info setelah hibernate blogging (-,-)7 *toyor self*

Berbagilah

Berbagilah, belajar pada air hujan
Menjatuhkan dirinya ke bumi, satu arah, tanpa pamrih
Mengguyur tanah, menyejukkan bumi
Bahkan ia menghadirkan pelangi.

Tidak seperti air mancur,
yang menyeruak kelangit dan jatuh kembali,
Berpamrih

Karena memberi itu fitrah,
Seperti gravitasi yang menarik air hujan kebumi
Sunatullah.

Berbagilah, tidakkah kau lihat kedamaian itu?
Berbagilah, maka kau akan temukan bahagia
Mereka bahagia, bahkan Tuhan-pun begitu
Berbagilah maka kau akan menerima

Berpamrilah dengan ridha-nya
Berpamrilah dengan berdoa
Berpamrilah dengan cinta-Nya pada kita
Berpamrilah dengan cara-Nya
Dengan Berbagi

3 Telepon Genggam Pertamaku

Kalau ditanya kapan pertama kali punya handphone? jawabannya adalah saat ulang tahun yang ke 15, kelas 1 SMA. Tiba-tiba mama kasih kejutan gitu pas pulang sekolah, eh ada bungkusan plastik bertuliskan “Global”, gak sangka ternyata isinya buat gue. Ini dia penampakannya.

Sumber : http://www.minddriller.com/

Waktu itu masih norak gitu, liat deh bagian belakangnya, tu bisa diselipin foto gitu, secara waktu itu HP kamera VGA aja masih jarang. Tombolnya tu gendut-gendut, jadi jempol ga sakit klo buat sms-an, unyu deh.

Kalo gambar yang dibawah ini, HP kedua gue, tepatnya kelas 2 SMA, soalnya HP Nokia 2100 -nya dikasiin ke Kakek, hehe. Hp kedua lebih macho, Ericsson Hiu alias Ericsson R310. Inget banget pas beli tu harganya Rp. 700.000 , second. Tapii, sukaaa banget, meskipun agak ribet kalo dikantongin, jadi biasanya dijadiin gantungan tas. Secara waktu SMA suka naek gunung, HP ini di puncak Gn. Gede masih dapet sinyal lo0ohh..jadi beruntung deh pake HP ini, ga alergi sama air pula. (*pernah kecuci dimesin gara2 lupa keluarin dari kantong >,<).  Hp ini juga pernah dipake jadi pengapus sama adek gue yang waktu itu masi SD, secara antenanya dari karet, dia maen pake buat apusan ajah. Hape yang paling sering jatoh, trus klo ada temen kelas minjem, balikinnya dilempar gitu, mentang-mentang bentuknya kaya ulekan, katanya untuk membuktikan kalo HP gue tu tahan banting. #zzz

Sumber : http://m3.idg.se

Karena HP diatas rusak (terlalu sering berendam di air, sehingga dia suka ngambek), beralihlah saya ke Nokia 6110. Pas di ulang tahun kle 17 saya (*ihiiyy). Tampilannya lebih peminim. Ada kameranyaaaa. VGA, (kalo poto pake kamera VGA, mukague keliatan jauh lebih cakep, daripada poto pake hp kamera 8 MP). Tragisnya riwayat HGP yang ini ga banget, dicopet di angkot 112 (Kp. Rambutan – Depok), dengan modus komplotan, yang di angkot-angkot, yang pura-pura batuk, trus gue dipepet2-in sama temennya, gak ngeh, eh raib dah.

sumber : carakahana.blogspot.com

Jadi…Apa HP pertamamu?

Tentang Senyum

Tersenyum katanya memancarkan kecantikan sejati…
Entahlah…ironisnya produk-produk kecantikan semakin bertebar.
Bahkan semakin banyak pula klinik yang menawarkan operasi plastik,
Hey… sekarang jamannya Go Green, dimana-mana orang mah ngurangin penggunaan plastik #eh.

Ya begitulah, senyum… si pembuat rileks otot wajah, yang faktanya, saat tersenyum hanya dibutuhkan 17 tarikan otot wajah, sementara untuk wajah cemberut/marah, otot wajah akan tegang karena dipaksa menarik 32 otot. Gak heran banyak yang bilang kalau senyum itu, obat awet muda.

Pernah senyum saat luka?
Senyum saat duka?
Seyum saat jiwa sedang membara?
Saat dunia seperti tak berpihak pada kita?
Bahkan saat orang-orang terdekat mengkhianati kita?
Teruskanlah..

Karena kelak luka tak selamanya…
Duka kan berganti suka…
Dunia akan merangkul kita…
Mereka akan kembali pada kita…
Oleh karenanya…Tersenymlah…

Nostalgia : Pelatihan SAR Nasional Wanita

Bersama Para Srikandi Dari Berbagai Penjuru Indonesia

Pelatihan SAR Nasional khusus wanita yang pernah kuikuti beberapa tahun lalu merupakan salah satu pengalaman yang tak terlupakan. Bagaimana sibuknya saya pada waktu itu dalam mempersiapkan perlengkapan dan peralatan, karena saya akan pergi selama 14 hari ke Cibodas (*Rekor).  Acara ini diselenggarakan oleh Yayasan Survival Indonesia yang di ketuai oleh Heri Macan, biasa saya memanggilnya kang Heri.  Beliau adalah anggota perkumpulan pencinta alam gunung hutan tertua di Indonesia, WANADRI.

Kegiatan ini berisi pengenalan dasar kepada para relawan SAR. Kegiatan ini dibagi menjadi dua bagian, 7 hari materi kelas meliputi navigasi, survival, Medical First Responder, organisasi SAR, komunikasi lapangan, dan lain- lain. Dan 5 hari materi lapangan yang dilaksanakan di area Gunung Geger Bentang (Cibodas), saat itu pertengahan tahun (kemarau), sehingga pada malam hari udara sangat dingin. (sebagai informasi, suhu saat musim hujan pada malam hari akan lebih hangat jika dibandingkan dengan cuaca sedang kemarau).

Materi Pembuatan Api (Aseli Pegel Abis!)

Yang paling kuingat dari esensi kegiatan pencarian dan evakuasi ini adalah ke-sukarelawan-an. Maksudnya, kegiatan ini adalah kegiatan no reward and no punishment. Dalam kegiatan SAR sesungguhnya, kau akan merasakan bagaimana kompleksnya, mencari korban yang bahkan kita pun tak kenal dengan tetangganya (sangking kagak kenalnyah). Kau akan bingung mencari-cari alasan bagaimana kau mau mengorbankan waktu, uang dan tenaga untuk kegiatan ini. No Reward, No Punishment.

Dalam tingkat lanjut pelatihan SAR, kau akan diajarkan bagaimana mengkordinir anggota kalian dalam melakukan pencarian karena ada struktur organisasi dalam kegiatan ini. Kang Heri yang kutahu, ia punya banyak sekali pengalaman dan Kang Pipin, bahkan ia pernah tersesat ketika melakukan pencarian (Tim SAR yang di-SAR, hehe) di bukit barisan selama 2 bulan. Sungguh kegiatan yang menguras tenaga dan mempertaruhkan nyawa sendiri.

Belajar Orientasi Medan - Basic Of Navigation

Badan SAR Nasional sendiri masih dibawah naungan Departemen Perhubungan, bukan lembaga independen apalagi komersil. Anggotanya pun semuanya berasal dari latar belakang yang berbeda – beda namun memiliki satu tujuan sosial yang sama, Search dan Rescue.

Sebuah lagu ciptaan Bang Iwan Abdurrahman (WANADRI), yang konon diciptakan ditengah-tengah pencarian rekannya.

Keheningan alam di tengah rimba sunyi
Kuberjalan seorang diri sbagai seorang kelana
Kudambakan jiwaku padamu oh Tuhanku
Kuberdoa sepenuh hati smoga tercapai tujuanku

Kuberjuang penuh tekad demi nusa dan bangsa
Dingin, hening dan sepi di daun angin berbisik
Hai kelana tabahkan hatimu
Tuhan slalu besertamu

 

*Tiba-tiba kangen Cibodas

Life Is Good

Beberapa waktu lalu setelah hadir di acara Mario Teguh Golden Wise, ada satu kalimat yang telah memberiku kekuatan dan energi positif. Ya, Hidup Itu Indah.

Seketika mengingat betapa murah hatinya Dia memberiku begitu banyak nikmat yang tak dapat kutulis satu per satu. Namun betapa banyaknya pula keluhanku yang terlontar.

Hidup adalah keindahan, sebuah kesenian yang tercipta dari Zat Maha Segala. Bersyukur, karena kebahagiaan sudah dipersiapkan bagi insan manusia yang mau melihatnya, yang mau membacanya, ya.. Yang mau iqro (Baca).

Bacalah lingkungan sekitar
Bacalah bagaimana orang – orang sukses dapat menikmati setiap detik hidupnya
Bacalah bagaimana para Alim Ulama memberikan ilmunya kepada kita
Bacalah bagaimana orang – orang yang tidak bersyukur dipenuhi oleh keluhan dan kesialan
Bacalah bagaimana orang – orang menghindari masalah yang akan membuat masalah baru baginya
Bacalah bagaimana ia memperlakukan orang lain
Bacalah bagaimana alam memberikan petuah tersirat, kedamaian
Bacalah bagaimana langit selalu membuatmu tersenyum saat kau melihatnya
Bacalah bagaimana cinta dapat membuat kita bersama
Bacalah bahwa kebenaran akan membawa kebaikan

Sebuah Persiapan

Tahun pencerahan
Tahun perubahan
Itulah yang kurasakan saat ini, menapaki kembali tangga-tangga kehidupan, bangkit dari pos peristirahatan. Sambil menentukan arah, kukeluarkan sisa-sisa perbekalan, kuhitung jumlahnya. Cukup.
Ku gelar peta-nya, mencoba melihat tujuan itu, puncak Everest.
Perlahan ku telusuri kontur jalur yang akan kulalui, “Ah, terlalu curam..”, Sifat pengecutku keluar.
Akhirnya ku memilih jalur aman, yang interval konturnya relatif konstan, dan yang terpenting adalah, banyak vegetasi alam-nya, dan tentu saja, air terjun.
Masih kupandangi peta usang itu.
Dengan senyuman dan kemantapan, akan kutemukan fenomena menakjubkan, akan ku bangun mimpi disini, akan ku berikan pengabdianku untuk tanah ini, untuk alam ini, Untuk Tuhan-ku.

Masihkah ada ruang di pucak sana
Atau sudah penuh dengan para pemenang lain
Apa nasib mereka yang terhempas ke lembah?
Haruskah kutemui dan mengevakuasi mereka?

Aku terdiam.