Manusia Terhormat

Sumber gambar : sladeroberson.com

Sumber gambar : sladeroberson.com

Manusia itu kadang harus memaksa dirinya sendiri. Memaksa untuk tidak selalu mengikuti semua yang diinginkan, memaksa diri sendiri untuk berani padahal tidak, memaksa diri untuk merasa cukup padahal masih ingin yang lebih, memaksa diri untuk menolak beberapa macam kesenangan dan memaksa diri untuk mau bangun, beranjak, mencari pengetahuan supaya hidupnya semakin terarah, kuat prinsipnya dan tidak menye-menye.

Berapa lama bagi kita untuk memahami kalimat “Hidup di dunia hanya sebentar saja” ? sementara kita abai terhadap amanah yang dibebankan pada kita, abai terhadap kewajiban sebagai manusia, tidak peduli lagi pada martabat dan secara tidak sadar akhirnya, enggan untuk hidup sebagai manusia yang terhormat.

Manusia terhormat tidak diukur dari bagaimana dia berpakaian, tidak diukur dari kendaraan yang ia punya, juga tidak dilihat dari jabatan pekerjaan. Manusia terhormat adalah manusia yang tahu akan batasan dan norma-norma. Manusia terhormat mampu menahan diri untuk melampaui batas, padahal sebetulnya ia punya kekuatan untuk dapat melampauinya. Manusia terhormat tidak pernah berkhianat, walaupun ia yakin seumur hidupnya ia mampu menyembunyikannya dari orang yang dikhianatinya. Manusia terhormat itu berprinsip bahwa hidup ini untuk mengabdikan diri kepada Tuhan, lalu ia menjadikan Alquran sebagai pegangan. Dan teladan orang shalih sebagai tuntunan.

Sungguh, menjadi manusia terhormat adalah gelar yang tersebab dari pilihan-pilihan berasaskan kebenaran.

Kelapa Dua, 28 Mei 2016

Semoga

Semoga esok saya jadi pribadi yang lebih baik lagi. Semoga kebodohan saya diangkat sedikit demi sedikit. Semoga bisa menjadi pengingat diri. Bahwa setiap keputusan datang bersama konsekuensi. Menjadi baik, tidak melulu sampai harus pura-pura baik. Meski memang, sulit sekali mengaku sakit. Sulit sekali, meminta orang lain berubah sesuai kehendakmu. Kamu ya kamu. Aku ya aku. Kita masing-masing punya ranah kehendak untuk diri kita. Kita punya pandangan masing-masing tentang cara hidup, cara mencintai dan cara menerjemahkan visi.

Pontang panting. Banting-banting. Yang dikejar akan selalu berlari. Yang diam akan selamanya diam. Yang taqwa yang diberi segala rupa.

Alhamdulillah ala kulli haalSegala puji bagi Allah dalam setiap keadaan.

Rumah

Malam Nisfu Sya’ban

Kalau Kau Agak Sedikit Luang

Foto oleh  Michael Nichols

Foto oleh Michael Nichols

Kalau kau agak sedikit luang. Coba pandangi pohon-pohon besar. Yang daunnya rimbun meneduhkan. Maka kau akan lihat dia diam. Tidak berdaya melawan ketika kau pantek dia dengan paku. Kau akan temui ia sunyi karena tak berpita suara. Paling banter, kalau kau tendang-tendang, paling ia hanya kan memberikan sedikit gerimis untukmu. Malah, semakin besar pohonnya, semakin sedikit gerimisnya. Itu juga kalau habis hujan.

Tapi coba kau pandangi sekali lagi, lamat-lamat. Tatap yang tajam. Kalau perlu kau panjat ia. Maka mungkin kau akan melihat sesuatu yang berbeda dari biasanya. Pohon itu bersenandung lewat terpaan angin, menggetarkan daun dan reranting. Lembut sekali. Dari situ kau akan sadar bahwasannya pohon itu tidak  diam, sepagian dan siang ia bekerja keras menghasilkan oksigen untuk kau napas. Sembari itu juga, akarnya bekerja tanpa membuat gaduh sekelilingnya, menjalar menghisap apa yang bisa dihisap untuk diambil sari patinya. Tanpa gaduh, tanpa merecoki akar pohon lain.

Semakin besar pohon, semakin teguh akarnya menghujam bumi, semakin kuat pula ia terhadap guncangan angin. Coba perhatikan, pohon punya banyak manfaat untuk kehidupan, menjadi tempat sarang burung, serangga, tupai, hingga pangkalan ojek.

Kita ini manusia. Rakus sekali. Membabat habis pohon untuk menciptakan ruang-ruang baru yang justru merusak ekosistem-nya sendiri. Padahal pohon itu bukan benda mati. Dia hidup, dan menghidupkan. Segelintir manusia dengan tanpa beban menebang pohon untuk masa depan anak cucunya sendiri. Namun ada pula manusia yang menanam pohon berpuluh tahun sampai jadi hutan. Prinsip hidupnya “Saya akan menanam pohon sampai saya mati”, yang seperti ini sempat dicerca sebagai orang kurang waras.

Kita ini manusia, spesies bumi yang berakal. Tidak banyak yang sadar, bahwa kontribusi untuk alam ini sedikit sekali. Hanya memikirkan bagaimana bertahan hidup, tanpa memikirkan bagaimana caranya hidup dan menghidupkan.

Hai Manusia, mengapa kita tidak belajar dari pohon? yang senantiasa memberikan manfaatnya untuk kehidupan, tanpa pilah pilih siapa yang ingin ia naungi. Bahkan jika ia tak sempat disosor oleh codot dan manusia, ia dengan rela menjatuhkan buah-buahnya. Dengan ikhlas dan sukacita.

Kelapa Dua Depok

16 Mei 2016

Yang Paling Paling

Sumber gambar : favim.com

Sumber gambar : favim.com

Orang yang paling sering ngeledekin ke temennya “Kepoooo~”, biasanya dia sendiri adalah orang yang gatel tangannya kalo sehari dia nggak stalker rivalnya, gebetannya, hatersnya, loversnya dan orang yang mengganggu batas-batas gengsinya.

Orang yang juga sering berkata “Baperrr…” atau “Ah lu mah baperan orangnya”, juga biasanya ternyata dia adalah manusia yang tingkat kebaperannya berada diatas wajar. Sebetulnya dia itu baper, cuma ketutup sama cara dia bersikap dan berkalimatnya. Golongan ini akan bersikap tangguh dan selalu posting hal-hal yang menggambarkan bahwa dirinya nggak gampang tersinggung, dirinya nggak gampang baper. Orang-orang yang seperti ini paling takut kalo sampe dikatain “baper”. Bagi mereka, dijuluki seperti itu, sama saja diinjak harga dirinya.

Terakhir, orang yang hobi sekali pasang tagar #antimainstream dalam setiap akhir postingannya, … dia… dia itu sebetulnya orang yang paling mainstream sedunia maya. Bukankah menjadi antimainstream sudah terlalu mainstream?. Selalu meneriakkan jargon “be your self”, tapi tindak tanduknya ngikut sana sini. Ndak punya prinsip. Takut dibilang ketinggalan jaman. Takut dikatain “soo.. yesterday!”.

Menjadi berbeda boleh-boleh saja. Karena menjadi berbeda artinya berubah, dan setiap perubahan itu adalah pertumbuhan. Mengenai hasil perubahan itu sendiri, tak perlulah lagi kau menjadi auditor dan evaluator manusia lain. Karena perkara paling rumit di dunia adalah berhadapan dengan orang yang tidak mampu melihat dirinya sendiri. Ya, sukar sekali, menghadapi orang yang tidak kenal dengan dirinya sendiri. Sukarnya bertambah 100 persen kalau dia menolak kritikan dari orang lain. Tidak ingat bahwa setiap manusia punya blind spot. Titik kekurangan atau titik kelebihan yang hanya orang lain yang mampu melihatnya. Come on! Buka seluas-luasnya untuk kritikan dan saran. Supaya kamu berubah. Supaya kamu bertumbuh. Bukan sekedar menjadi “dewasa”. Begini lho, maksudnya saya cuma mau bilang, jangan jadi manusia yang kerjaannya sibuk intai manusia lain, cari lemahnya manusia lain, cari aibnya orang lain. Udah lah, sibuk aja perbaiki diri. Baru dari situ, buahnya adalah baiknya lingkunganmu.

Tapi dari semua tipikal manusia yang saya omongin diatas. Saya paling ngeri dengan orang yang satu ini : Orang yang menganggap dirinya lebih suci dan lebih baik ketimbang orang lain. Biasanya orang-orang itu beranggapan bahwa dosanya lebih “mendingan” dari kebanyakan orang. Ataupun, orang-orang itu beranggapan bahwa kebaikannya jauh-jauh lebih buanyak ketimbang orang disekelilingnya. Tidak sampai disitu. Pandirnya, kemudian ia juga mengira bahwa Tuhannya akan memaklumi kedunguannya, memaklumi kesibukannya sehingga orang itu tidak sempat lagi belajar ilmu-Nya. Padahal, tak ada artinya amal tanpa ilmu. Karena justru, amal yang tanpa dilandasi ilmu itu, akan berujung pada persengketaan bin kebinasaan. Saya jadi teringat kata-kata Imam Ghazali,

“Ilmu tanpa amal adalah gila dan pada masa yang sama, amalan tanpa ilmu merupakan suatu amalan yang tidak akan berlaku dan sia- sia.”

Apalah daya upaya, kecuali Allah yang menyelamatkan kita semua dari kebodohan diri. Saya curiga kedepannya, saya akan menjadi manusia yang paling saya “ngeri-kan” sekarang, makanya saya tuliskan saja sekalian. Mana tau bisa jadi pengingat diri kedepan. Atau bahkan jangan-jangan, ketika saya menulis ini juga, ada setitik kesombongan karena sudah mengklasifikasikan orang-orang dan menganggap diri sendiri lebih baik. Ah, kalo kalian baca tulisan ini, saya ingin bilang satu hal ini, “Kalau ada orang yang paling bodoh, itu adalah saya, oleh karenanya, ajarkan saja, kritik saja”. 

Sebelum ditutup, saya mau bilang lagi kalo saya uda mulai-mulai ngerasa jadi manusia yang saya ngeriin itu. Astaghfirullah.

Tertanda, Silmina, Tulisan ini dibuat dalam rangka melatih keberanian.

Rumah, 12 Mei 2016

Usahain Lebih Juga

Sumber : cargocollective.com

Sumber : cargocollective.com

Udah lama banget rasanya nggak ngetik banyak sampe akhirnya dari kemaren seharian nulis-nulis dan nulis. Well, emang lebih tepatnya ngetik sih. Belajar hal baru lagi, nggak tau kenapa, emang nampaknya tahun 2016 ini tahun percepatan, sengaja banget akhir taun kemaren nggak bikin resolusi. Satu-satunya hal yang dijadiin harapan ya satu aja. Global, nggak detail-detail amat. “Jadi manusia yang lebih sabar dan banyak bersyukur”. Dan imbasnya, sampai hari ini, banyak banget hal, mostly hal baru, yang singgah buat dihadepin. Heup!

Kayaknya emang kita kudu sering-sering kontemplasi, daripada ngelist keinginan-keinginan yang nggak berseri itu… banyak banget!. Karena ujung-ujungnya itu lagi itu lagi, belajar, mengajarkan, mendengar, menyampaikan… ituu aja terus.

Ada hal yang belakangan lumayan jadi pikiran. Tau kan, dunia ini gaduh banget. Iya gaduh. Walaupun cuman depan gadget, nggak besuara. Tapi konten yang kita serap dari situ bikin gaduh pikiran, sampe hati, sampe bikin kadang susah tidur. Berisik banget!

Dari situ, dapet kesimpulan bahwa.

Dalam hal-hal tertentu, semisal lu tau segala macem permasalahan dari akar-akarnya ataupun masalah kronis tiap-tiap orang yang disekelilinglu, atau orang yang nggak gitu kenal balik sama lu, nggak akan menjadikan lu manusia solutif juga. Alias, biasa aja juga sih.  Tau masalahnya dimana, tapi nggak mau mbenerin ya sama aja boong. Yang ada malah kroscek sana kroscek sini, intai sana intai sini. Akhirnya perang pemikiran, perang komentar, salah-salahan, berantem. Melelahkan sekalih.

Ketika kita memiliki ekspektasi yang tinggi, iringilah harapan tinggi itu dengan respon yang tinggi pula. Misalnya lu mau punya keluarga yang harmonis? ya luangin waktu ekstra juga buat membangun komunikasi yang bersahaja.

Semua manusia memiliki asal-usul pemikirannya sendiri. Jalurnya bisa saja berbeda dengan lu lu orang, dan untuk menuju persamaan pandangan itu, tidak perlulah dengan cara meng-aku-kan ataupun dengan cara menyalahkan yang kau anggap salah (atau kau anggap mungkin kedepannya akan salah). Mending balik. Bertapa. Belajar lagi. Baca sejarah-sejarah bagaimana orang-orang dulu (yang pantes dijadiin panutan),  nyelesein masalah mereka. Kan sebenernya sunatullah aja. Ye nggak? (Iyein)

Ya gitu lah intinya

Mau lebih, ya usahain lebih

Rumah, 10 Mei 2016

Merasa Dulu, Baru Mengenal

Jika seseorang merasa buruk dengan keburukannya sendiri kemudian dia beramal shalih untuk menutupinya, maka itulah tanda keimanannya (Ibnu Rajab Al Hanbali)
@BassamAlshatti – Dr. Bassam asy Syaththi, Dosen pengajar ‘aqidah dan dakwah di Universitas Kuwait. 8/4/2015

Untuk bisa mengenal, memang harus bisa merasa. Oh ini rasanya manis, lalu ia kukenal dengan gula.

Oh ini asam, ini namanya cuka, dan seterusnya.

Lalu saat kau merasa dirimu buruk, maka ada julukan keburukan yang terpaksa menempel padamu. Adalah keputusanmu yang menentukan, sejauh mana upaya dirimu untuk bisa menutupi yang membuatmu dikenal dengan hal itu.

Jadi, bagaimana kau ingin dikenal? rasakan dulu dirimu seperti apa.

Depok, 5 September 2015

Orang Berani

CXwW3UiUEAE6pLY

Menulis itu memang butuh banyak keberanian. Aku? banyak sekali yang ingin aku tumpahkan semuanya disini, tapi belum. Belum berani. Semakin kagum dengan para penulis yang tulisannya mampu menggerakkan dunia. Mencipta peradaban baru hanya dari olah pikir, dan dari olah kata-nya. Semoga Allah merahmati kalian, para penulis-penulis kehidupan.

Awalnya kupikir, jujur pada diri sendiri adalah perkara mudah, karena dirimu bersemayam pada dirimu. Ternyata tidak. Kuperhatikan, dalam beberapa hal. Ada hal-hal yang tidak kita mampu ungkapkan bahkan kepada diri kita sendiri karena kita takut, karena kita merasa malu, karena kita merasa lemah dan karena-karena yang lain. Tidak asyik sekali.

Jujur itu butuh keberanian, karena kemudian keberanian akan meneguhkan pilihan, dan dari pilihan itu akan kau dapatkan sebuah pertanggung jawaban. Ya, jawaban yang harus ditanggung. Begitulah memang, jalan cerita kita kan ditentukan oleh kejadian-kejadian pilihan, bukan begitu?

Lalu sebelum jujur pada orang lain, marilah kita jujur pada diri sendiri dulu. Supaya di hari kemudian, tidak menyesal. Supaya, pertanggungan-pertanggungan yang beraneka ragam itu dengan tulus ikhlas dapat kita jalankan, dapat kita selesaikan. Kalau belum bisa jujur pada diri sendiri, jangan berani-berani bicara macam-macam, apalagi sampai menetapkan dan memantapkan pilihan. Kalau belum ketemu, ya sesuaikan dengan prinsip (*prinsip/prin·sip/ n asas (kebenaran yang menjadi pokok dasar berpikir, bertindak, dan sebagainya); dasar; (KBBI)). Kalau tidak tahu, ya cari tahu.

Betapa bersyukur kita diberikan begitu banyak kesempatan untuk dapat mengenal Islam. Sebaik-baik prinsip. (Semoga Allah senantiasa memandaikan mahluk bodoh seperti sahaya ini). Nah, kalau belum berani, yakin saja dulu, kalau prinsipnya sudah benar. Well, kita memang tidak bisa semerta-merta menuding mana yang benar, dan mana yang salah. Tapi konon, manusia diberikan sebuah dasar berpikir untuk memilih kebenaran. Namanya nurani, adanya dihati.

Lalu bagaimana kalau hati kita tertutup? Ya bersihkan saja dulu.

Lalu bagaimana cara membersihkan hati? Ya bertaubat saja dulu.

Lalu kapan kita tahu kalau hati kita sudah bersih?

Emm, kalau kecenderungan hidupmu hanya mengharap Ridha Allah SWT.

(Maafkan ke-sok-tahuan hamba ya Rabb).

Kalau tidak punya keberanian, berlatihlah supaya menjadi pribadi yang berani. Mau lelaki atau wanita. Bersikaplah seperti kesatria. Kesatria itu bukan mereka yang tidak menangis. Bukan pula mereka yang mampu angkat truk gandeng. Kesatria itu adalah orang yang memuliakan dan memegang teguh prinsip hidupnya. Memperjuangkan ideologinya. Apa pula itu ideologi? kucontek KBBI lagi ya 😀

ideologi/ide·o·lo·gi/ /idéologi/ n 1 kumpulan konsep bersistem yang dijadikan asas pendapat (kejadian) yang memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup: dalam pertemuan itu penatar menjelaskan dasar — negara;

“Dalam hidup kita, cuma satu yang kita punya, yaitu keberanian. Kalau tidak punya itu, lantas apa harga hidup kita ini?” 

― Pramoedya Ananta Toer

Mari kita berani 🙂

Depok, 3 Januari 2016

Hadiah Paling Spesial?

Bagi saya. Hadiah paling spesial adalah hadiah yang  tidak perlu menunggu hari-hari peringatan tertentu untuk diberikan. Tapi, hadiah itu datang dari niat hati yang bersih. Natural saja, tidak perlu kejutan, tidak perlu bising perayaan dan pengumuman. Dan seketika itu, saya akan merasa menjadi manusia spesial. Dan kau sang pemberi hadiah, juga spesial.

Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian saling mencintai (HR al-Bukhari, al-Baihaqi, Abu Ya’la)

Depok, 22 Desember 2015

Harinya Ibu?

Hari ini adalah hari ibu. Sama seperti hari kemarin, juga hari ibu. Hari depan, mungkin juga hari ibu. Menurutku, justru dengan adanya hari ibu, kita diminta untuk berkomitmen bahwa sudah seharusnya menganggap hari-hari lain adalah harinya ibu, bukan hanya ibu, harinya ayah, kakak, adik, saudara, teman, atau bahkan harinya kamu. Setiap hari adalah hari peringatan. Maklum, manusia memang harus rajin-rajin diingatkan. Mungkin, hari Ibu, akan sangat bermanfaat terutama bagi mereka yang membenci Ibunya, sebagai hari dimana paling tidak, ia akan kebanjiran kalimat romantis tentang perasaan anak kepada ibunya, yah semoga itu akan masuk ke alam bawah sadarnya sehingga kelak bisa menggerus rasa benci kepada ibunya.

Ngomong-ngomong, memangnya ada anak yang benci pada ibunya? tentu ada, dengan berbagai motif dan alasan. Tentu ada.

Pagi tadi lewat pesan singkat di gawai, satu temanku misuh-misuh berkata padaku.

Dia : “Mereka yang sibuk ucap selamat hari ibu. Kalau saya mau ucapkan my mother is awkward for me. Kill me please”.

Saya : “Mending doa saja, ke Allah. Semoga bisa jadi anak yang berbakti, semoga kelak jadi ibu yang baik. Situ uda siap kalau di kill? :))”.

Dia : “Ya baiklah. Daripada update ke medsos (mending muntahin dengan japri kesitu, red). Bisa dibully dah sama netizen, wkwkwkwk 😛 Situ mau kill saya? :))”.

Saya : “Haha, nggak lah. Izroil aja yang cabut. :P”.

Depok, 22 Desember 2015