Pernikahan : Keterbatasan Mata Dunia

Seseorang yang kukenal dan tampak tak punya masalah itu, seseorang yang dalam pandangan mataku baik orangnya, sejahtera hidupnya, besar rumahnya, mapan pekerjaannya, pintar anak-anaknya, ternyata masih menyimpan suatu masalah yang mengganjal dalam hatinya, “Suami saya masih belum dekat dengan agama”. Dan hal itu membuat ia gelisah sebagai seorang istri, karena ia berharap bisa mendapatkan bimbingan yang mengantarkan ia kepada Allah. Ia berharap suaminya bukan hanya giat dalam urusan dunia, tapi juga giat dalam mempersiapkan akhiratnya.

Ternyata benar kiranya, bahwa apa yang tampak baik bagi manusia, belum tentu baik di mata Allah.

Saya jadi teringat dengan sebuah hadist yang berbunyi :

Barangsiapa yang Allah kehendaki menjadi baik maka Allah faqihkan dia terhadap agama. Aku hanyalah yang membagi-bagikan sedang Allah yang memberi. Dan senantiasa ummat ini akan tegak diatas perintah Allah, mereka tak akan celaka karena adanya orang-orang yg menyelisihi mereka hingga datang keputusan Allah. [HR. Bukhari No.69].

Sesungguhnya yang baik itu selalu tentang Allah, bukan tentang manusia ataupun keterpenuhan hajat manusia.

Lalu apa itu faqih? Faqih adalah kepahaman. Kepahaman biasanya selalu dibarengi dengan pengamalan nyata atas ilmu-ilmu yang didapat. Karena agama bukanlah ilmu yang hanya harus dihafal, tapi agama adalah sebuah tuntunan tentang cara kita menjalani hidup di dunia ini sesuai dengan Sang Pembuat Kehidupan.

Jika memanglah kelak kita memiliki pasangan hidup yang kita anggap masih kurang ilmu agamanya, janganlah bersedih dan berputus asa. Sesungguhnya Allah maha besar kasih sayangnya, maha luas pemberiannya.

Bersungguh-sungguhlah dalam berdoa, memintakan segala keinginan kita kepada Allah. Mintakan harapan kita jika memang HANYA hal tersebut adalah perkara yang baik untuk hidup kita di DUNIA dan AKHIRAT.

Mintakan pula kebaikan dan keberkahan dalam setiap untaian doa kita, sesungguh-sungguhnya.

Awali dengan niat yang bersih, dan kawal niat itu sampai akhir. Sungguh Allah maha melihat kesungguhan niat kita. Insya Allah, setelah itu taufik Allah akan tercurahkan kepada siapa saja yang lisan, perbuatan dan pikirannya selalu bermuara kepada-Nya.

Bersabarlah, Allah selalu melihat kesungguhan doa kita yang dibarengi dengan usaha-usaha kita.

Depok, 21 Desember 2016