Cinta Sepanjang Masa

Gedung Pewayangan - 18 Desember 2011

Warna Masa

Teguh Bicara

Tentang Rasa

Bahagiakan Manusia

 

Teduh Cinta

Ramah Berkata

Tentang Rasa

Menyatukan Dua

 

Rona Jingga

Menampakan Senyumnya

Meyakinkan Kita

Tentang Cinta Sepanjang Masa

Ganjalan

Di sela jarinya, selalu ada pengganjal
Sesekali ia menghisapnya
Lalu mengeluarkannya
Jika habis?
Tentu ia akan merogoh sakunya
Bahkan meminta kepada ibunya
Jika tak ada?
Tak jarang ia meminta kepada rekannya

Dihisap…
Dibuang…
Tertinggal di badan

Sepedamu dan Sepedaku

Aku : “Mau kemana?”

Dia : “Jalan-jalan..sama kamu…mau nggak?”

Aku : “Mmm..mau, kemana?”

Dia : “Kehatimuu~”

Aku : “Oh”

Dia : “Kok?”

Aku : “Kirain kehatimu..”

Dia : “Eaaaa…Eaaaa…Eaaa!” (senyam senyum)

Aku : (Dalam hati) “Kapan ya, bisa satu sepeda?”

Dia : (Dalam hati juga) “Kapan ya, bisa selalu ngajak dia satu sepeda?”

Tak Kemana

 

Maunya kemana-mana

Tak gendong kemana-mana

Dia ada dimana-mana

Kenangan itu berserakan, dimana-mana

 

Kau jauh kini, dimana?

Disana tak ada, dimana?

Disini-pun begitu, Kemana?

Dimana kau berada disini ku berada

Lorong Bergerak

 

Kau ingin duduk?
Saat ada ibu hamil berdiri didepanmu
Kau pura-pura tidur

Ya..
Di lorong bergerak ini
Kau tampakkan wajah melasmu
Dihadapan ibu dengan garis wajah yang renta

Kalian ingin duduk?
Dengan kursi lipatmu?
Berkelakar dengan obrolan tak penting kalian?

Kau ingin duduk?
Silahkan duduk di lorong bergerak yang terakhir