Rasa Untuk Negeri

Bangkitkan kami ya Allah

Aku Hanya Inginkan Kau!

 

Amarah Kini Membuncah Rasa

Amarah Pun Menyayat Hati

Menusuk Habis Sumsum Hidupku

Negeriku!

Rohku…

 

Kami ingin damai

Toleransi

Tauhid

 

Mereka Riang, Senang!

Dengan Perang

Mereka, Umat Mu

 

Yang  saling salah . . .

Yang saling marah . . .

Yang saling jengah!!

 

Pergi sajalah kau!

Pergi ke mana hendak kau tuju

 

Dengan perahumu

Pergi ke rumahmu

Ya..Dengan bahteramu sendiri

 

Agamamu Milikmu

Agamaku Milikku

Berbagilah

Berbagilah, belajar pada air hujan
Menjatuhkan dirinya ke bumi, satu arah, tanpa pamrih
Mengguyur tanah, menyejukkan bumi
Bahkan ia menghadirkan pelangi.

Tidak seperti air mancur,
yang menyeruak kelangit dan jatuh kembali,
Berpamrih

Karena memberi itu fitrah,
Seperti gravitasi yang menarik air hujan kebumi
Sunatullah.

Berbagilah, tidakkah kau lihat kedamaian itu?
Berbagilah, maka kau akan temukan bahagia
Mereka bahagia, bahkan Tuhan-pun begitu
Berbagilah maka kau akan menerima

Berpamrilah dengan ridha-nya
Berpamrilah dengan berdoa
Berpamrilah dengan cinta-Nya pada kita
Berpamrilah dengan cara-Nya
Dengan Berbagi

Atap Rumah

Ini cerita tentang atap rumah
Yang tiap sore, tempat ku merebah
Saat marah
Saat gundah

Pisah
Marah
Entah
Lupakan sumpah serapah

Di atap rumah
Angkasa merah
Surya masih ramah
Setia pada orbitnya yang indah

Bekerjalah

11 Februari 2012 - D'Kandang - Depok

Kelak, punggung ini akan bersaksi, bahwasannya raga ini telah lelah bekerja.

Kelak, tangan ini akan bercerita, tentang massa yang telah diangkatnya.

Kelak, kaki ini akan berkisah, tentang kuda-kudanya.

 

Lakukan pekerjaanmu dengan penuh cinta.

Maka kelak semua kan menjadi indah.

Karena susah payah dalam bekerja itu, Ibadah.

Cinta Sepanjang Masa

Gedung Pewayangan - 18 Desember 2011

Warna Masa

Teguh Bicara

Tentang Rasa

Bahagiakan Manusia

 

Teduh Cinta

Ramah Berkata

Tentang Rasa

Menyatukan Dua

 

Rona Jingga

Menampakan Senyumnya

Meyakinkan Kita

Tentang Cinta Sepanjang Masa

Ganjalan

Di sela jarinya, selalu ada pengganjal
Sesekali ia menghisapnya
Lalu mengeluarkannya
Jika habis?
Tentu ia akan merogoh sakunya
Bahkan meminta kepada ibunya
Jika tak ada?
Tak jarang ia meminta kepada rekannya

Dihisap…
Dibuang…
Tertinggal di badan

Tak Kemana

 

Maunya kemana-mana

Tak gendong kemana-mana

Dia ada dimana-mana

Kenangan itu berserakan, dimana-mana

 

Kau jauh kini, dimana?

Disana tak ada, dimana?

Disini-pun begitu, Kemana?

Dimana kau berada disini ku berada

Lorong Bergerak

 

Kau ingin duduk?
Saat ada ibu hamil berdiri didepanmu
Kau pura-pura tidur

Ya..
Di lorong bergerak ini
Kau tampakkan wajah melasmu
Dihadapan ibu dengan garis wajah yang renta

Kalian ingin duduk?
Dengan kursi lipatmu?
Berkelakar dengan obrolan tak penting kalian?

Kau ingin duduk?
Silahkan duduk di lorong bergerak yang terakhir

Nyata!

Aku terbangun di dalam mimpi
Mereka bilang ini nyata
Lalu aku terbangun
Mereka bilang semuanya hanya ilusi
Bagiku semuanya nyata
Hanya saja . . .
Aku tidak bisa berhenti untuk mengejar mimpi
Namun seringkali mimpi itu bersembunyi
Saat semua mimpi – mimpi berubah menjadi ilusi
Dia mengingatkanku
Dia memelukku
Dia . . . Yang Maha Nyata