Degradasi Iman atau Bukan?

Apa ini namanya degradasi iman, Tuhan?
Menurun tajam, dari 10 lembar ke 5 lembar seharian
Mengucap melagukan tentang keduniawian.
Tertinggal pelajaran dan harus menunggu kembali antrian

Ini Ramadhan, tapi tak sesemarak beberapa tahun belakangan
Apa ini namanya degradasi iman, Tuhan?
Haus lapar, sudah biasa Tuhan
Kali ini ada hal yang tertahan, mengganjal, Aku rindui Engkau Tuhan. Saat sekarang.

Apa ini tanda iman terkikis Tuhan?
Ketika apa yang ada disekitar lingkungan, mengatakan bahwa semua harus dipublikasikan?
Sebagian mencibir seharusnya dirahasiakan?
Memang Tuhan, tiada ruwet melainkan kami sendiri yang ciptakan.

Lelah dan jemu Tuhan, berpura-pura kenal Tuhan, padahal hati merangkak meraba mana yang jalan mana yang jurang. Itu saja masih jua dipermasalahkan.
Apa ini tanda hamba akan kafir, Tuhan?
Tulisan ini pun mungkin Tuhan, akan kembali dinamakan pencitraan

Tuhan, ini RamadhanMu, bulan paling terang dari segala bulan
Ini RamadhanMu yang didalamnya segala pengampunan dan keberkahan
Dengan segala kebersahajaan dan pengharapan
Serta dengan sejuta cerita tentang kisah manusia-manusia taat yang namanya tidak kikis oleh zaman

Ini RamadhanMu yang masih Kau karuniakan kepadaku Tuhan
Naungi kebodohan, ampuni kesalahan
Semoga iman islam masih Kau perkenankan

Tapi Biar

Tak pandai aku berpuisi
Tapi biar, karena tak kan kupaksa untuk mengerti
Dan entah sudah berapa detik berbunyi
Disitu namamu selalu bersembunyi

Tak pandai aku memuji
Tapi biar, supaya tak jadi tinggi hati
Dan entah sudah berapa hari berlari
Disitu suaramu seperti menetap tak mau pergi

Apa aku harus menetap saja disini?
Atau?
Bagaimana ini?

Mau Sepi Dulu Har(t)i Ini

Hatiku perlu sejenak sepi agar bisa meresapi.
Kurang menyenangkan memang, tapi bisa apalagi?
Dari pada berselimut harap menanti
Lebih baik sejenak jeda agar tidak terlampau sakit hati

Tak apa sakit hati memang
Dari sanalah kau akan mampu pahami arti menang
Mengalahkan ingin yang melelahkan
Yang tidak pernah habis dikejar sepanjang jalan

Hari ini perlu sepi
Besok juga mungkin harus sepi
Seterusnya juga mungkin harus begini
Menurutmu bagaimana?

Tapi tapi dan tapi
Semua-muanya beranak pinak saling mencari
Menerka-nerka apa bisa kita bisa saling mencari?
Lebih baik aku baca-baca saja histori

Depok Berawan Abu Saat Ini.

#Day 25 : Kerumunan

Aku pergi menjauhi kerumunan dimana orang lain berlomba mencari bahagia dan makna disana, menuju kerumunan yang lebih sedikit, dengan berniat mencari tujuan yang tauhid.

Aku pergi menjauh dari kerumunan dimana mereka saling bicara betapa peduli mereka pada negara dan alam raya, menuju kerumunan yang lebih sedikit yang saling ingatkan sabar dan istiqomah pada segala daya upaya yang sudah tercurah.

#Day 19 : Lega

Dari pada hidup dalam lingkup pertanyaan

Mengapa tidak ditanyakan

Lupakan rasa rendah dan kegengsian

Karena itu bukan jawaban

Manusia, ingin hidup dalam ketentraman

Tapi terlalu merasa mampu hingga merasa tidak perlu mempertanyakan

Tanyakan apa yang kau risaukan

Pinta pada Tuhan, agar segalanya menjadi keberkahan

Lalu ikhlaskan segala jawaban

Dan berbahagialah jalan ke depan

#Day 16 : Buat Apa Sekolah Tinggi-Tinggi?

 

Kelas Inspirasi Depok - 2013

Kelas Inspirasi Depok – 2013

Buat apa sekolah tinggi-tinggi
Kalau tidak jadi pemberani
Semakin tinggi semakin takut melawan tirani
Kerjapun hanya memikirkan gaji

Buat apa sekolah tinggi-tinggi
Kalau rupa-rupanya hanya ingin buat iri
Ilmunya dikemanakan, ia tidak peduli
Yang penting aman diri sendiri

Buat apa sekolah tinggi-tinggi
Kalau yang diingini hanyalah isi duniawi
Ingin disegani
Tapi takut mati

Buat apa sekolah tinggi-tinggi
Kalau hanya untuk diakui
Menjilat sana sini
Karena takut ditinggal pergi

Buat apa sekolah tinggi-tinggi
Kalau hanya pintar sendiri
Kau bilang belum sempat berbagi
Sambil beralasan dengan merendahkan diri

Buat apa sekolah tinggi-tinggi
Jika pada akhirnya tak kenal budi pekerti
Guru tak dihargai, orang tua dikelabui
Nilai kurang tinggal beli

Buat apa?

 

 

 

 

#Day 12 : Laa Tahzan

Dan yang membuatmu bertahan adalah kasih sayang Tuhan

Yang  membuatmu takut adalah kekhawatiran

Yang membuatmu sakit adalah penyesalan

Yang membuatmu belajar adalah pengalaman

Yang membuatmu menang adalah ketaqwaan

Laa Tahzan, Inallaha Ma’ana.

#Day 9 : Tuan

Jika Tuan ingin berbalut kebahagiaan. Coba tengok barang sebentar ke kiri dan ke kanan. Niscaya akan Tuan temukan. Wajah-wajah ingin makan tapi tak bisa makan. Disitu Tuan bisa tabur amalan yang mewujudkan kebahagiaan.

Lalu jika Tuan dirundung kesedihan. Coba tengok lagi di tepi-tepi jalan. Jangan heran. Mereka sampai selarut ini masih mencari makan. Tuan bilang kesusahan. Padahal atap-atap rumah kita, Tuan, tahan terpaan hujan. Sedang mereka Tuan, tak pernah absen dari kebocoran.

Demikian. Tuan hanya kelelahan. Sesekali coba tanyakan arti kelelahan itu pada para petani belerang yang hidup dari turunan dan tanjakan. Berkilo-kilo sampai menimbulkan bekas dibadan. Tuan, mungkin Tuan hanya rindu Tuhan. Coba panjatkan pesan-pujian pada Tuhan. Pada pukul setengah tigaan.

Lalu Ternyata

Aku rindu kebersahajaan
Lalu ternyata hanya satu yang kulupakan
Teman seperjuangan
Mereka tak pernah meninggalkan

Aku rindu kekayaan
Lalu ternyata ada satu yang terlalaikan
Semangat berkelanjutan
Miskin itu mendewasakan

Aku rindu kebahagiaan
Lalu ternyata aku hanya lupa jalan pulang
Tuhan
Yang Pengasih, Yang Penyayang

 

 

Televisi Wong Cilik

Sudah hampir empat pekan tak aku nyalakan
Disamping gemuruh tayangan pernikahan
Aku sedang muak tak ingin ketaksengajaan
Melihat tontonan yang bukan tuntunan

Lebih baik menonton semut saja
Kala kucuci piring mereka bekerja
Kala kusapu teras mereka bekerja
Tanpa citra-citra

Yang perlente, yang cantik
Semuanya jadi bahan ghibah politik
Mau kerja segunung, mau kerja setitik
Yang penting dekat dengan orang cilik