Pada Akhirnya Cinta

Mencintai seseorang bisa saja terjadi karena pada awalnya menyukai bagaimana parasnya ia, menyukai cara berbicaranya, menyukai prestasi-prestasinya dan hal-hal lain yang tampak olehmu.

Namun itu pada awalnya…

Jika pada akhirnya kau memutuskan untuk bersamanya sepanjang hidupmu, maka kau pun harus mencintai apa yang kemudian baru tampak darinya. Mencintai proses kalian berdua. Karena ketika kau berkomitmen menjadi sepasang suami istri, kalian akan berubah. Dari dua menjadi satu. Bersama-sama saling menjaga, bersama-sama saling ingatkan taqwa dan ridha Sang Pemilik Cinta.

© Silmina Ulfah | Bumiayu 24 April 2017

#MemesonaItu Yang Seperti Ini

Sumber gambar : MrWallpaper.com
Sumber gambar : MrWallpaper.com

Tidak ada satupun salon kecantikan di dunia ini yang mampu memancarkan sebuah pesona sejati. Bahkan kosmetik paling mahal-pun tidak akan  ada yang mampu melakukannya. Itu karena …

#MemesonaItu ada pada orang yang ketika kita melihatnya, kita tidak merasa kurang pada keadaan diri kita. Karena kita tahu, yang membuat orang itu memesona bukanlah tentang apa yang sudah ia miliki sekarang ini. Ya, Pesona tidak  akan pernah membuat kita iri karena pesona sejati hanya akan membuat kita terinspirasi atau bahkan jatuh hati, itu karena pesona laksana pancaran intan. Sebuah pencapaian yang hanya didapatkan oleh jiwa-jiwa yang tangguh melewati proses diri dalam siklus kehidupan.

Kita tahu bahwa orang yang #MemesonaItu adalah juga mereka yang sadar dan memahami betul apa yang menjadi tujuan hidup dirinya, sehingga apapun yang ia lakukan bukanlah sekedar ikut-ikutan apalagi gaya-gayaan. Dan kau tahu? bahkan ketika ia gagal, pesonanya justru semakin berpendaran, karena ia memilih untuk segera bangkit dari kekalahan dan melakukan perbaikan.

Orang yang #MemesonaItu merawat dirinya bukan sekedar karena hanya ingin  tampil cantik dan menawan. Tapi ia melakukannya sebagai bentuk syukur atas pemberian Tuhan. Ia akan berusaha untuk selalu memberikan senyuman yang menawan, bukan demi pujian dan sorotan, tapi demi menjadi wanita impian, yaitu mereka yang cerdas dalam menjaga kehormatan.

Orang yang #MemesonaItu tidak perlu membanding-bandingkan pesona dirinya dengan pesona orang lain. Karena ia tahu setiap orang memiliki zona pesona yang berbeda-beda. Ia akan lebih disibukkan untuk membandingkan dirinya yang sekarang, dengan dirinya di masa lalu. Karena baginya, seharusnya kita menjadi diri yang disibukkan untuk terus menjadi pembelajar, demi perubahan diri yang mendewasakan.

Pesona itu tidak butuh pengakuan, karena pesona adalah sesuatu yang disematkan.

Orang yang #MemesonaItu bukan artinya lahir tanpa kekurangan. Bedanya, ia tak mengeluh atas kekurangannya itu, dan fokus terhadap kemampuan lain yang bisa ia maksimalkan. Orang dengan pesona tidak pernah sibuk dengan penilaian orang yang melemahkan, dan menjadikan sebuah kritikan sebagai sesuatu yang justru menguatkan.

#MemesonaItu adalah tentang cara kita memelihara kebaikan sejak dalam pikiran. Karena setiap kebaikan tidak akan melahirkan sesuatu kecuali keindahan. Keindahan sikap dan sifat dalam keseharian. Dan dibutuhkan seni menikmati pertumbuhan untuk terus bisa memancarkan keindahan.

Apa itu seni menikmati pertumbuhan?. Personal kita dibentuk oleh apa yang kita baca, dengar, lihat dan rasakan. Saat kita dihadapkan pada persoalan, kita akan diminta untuk menggabungkan segala pengalaman dan pembelajaran itu untuk bisa diselesaikan. Yang menarik, seringkali kita akan temukan jawaban dari pancaran pesona orang-orang disekeliling kita.

Kata orang, karakter itu terbentuk dari sebuah kebiasaan selama hidupnya. Itulah mengapa bagi saya, orang-orang berkarakter dan mereka yang memiliki prinsip adalah orang-orang yang memesona. Apa yang mereka kerjakan bahkan menjadi bahan renungan. Apa yang mereka katakan menjadi bahan pemikiran yang mendalam. Apa yang mereka hasilkan banyak memberikan manfaat dalam keseharian.

Seperti R.A. Kartini, dengan pesona pemikirannya. Cut Nyak Dien, dengan pesona ketangguhannya atau pesona gadis keturunan Pakistan peraih nobel perdamaian bernama Malala Yousafzai dalam melawan penindasan anak-anak dan memperjuangkan hak pendidikan bagi mereka. Bagi saya, inilah pesona sejati.

#MemesonaItu adalah jiwa yang penuh cinta. Tampil memesona-lah! mulai dari merawat diri dan berani tampil percaya diri. Pancarkan pesonamu itu, karena yang seperti kamu hanya ada satu. Dan yakinlah, kamu juga punya pesona itu! 🙂

505

Pernikahan : Memaknai Kembali Arti Sebuah Rumah

Sumber Gambar dailymotion.com
Sumber Gambar dailymotion.com

[Pernikahan]. Kadang kita terlalu banyak memikirkan hal-hal yang sifatnya hanya sebatas penambahan nilai estetik. Bukan lagi memikirkan yang fungsional memang benar-benar saat ini sedang kita butuhkan dalam keseharian hidup kita.

Kalau dipikir-pikir, selama setelah menikah, saya dipusingkan dengan pikiran untuk segera bisa membeli sebuah rumah untuk keluarga baru kami. Setiap ada brosur dan iklan yang bergelimangan, saya selalu memutar otak bagaimana bisa memiliki salah satu diantaranya.

Kemudian setelah itu saya akan browsing bagaimana meningkatkan penghasilan untuk pengadaan uang muka rumah tersebut. Dengan tergesa-gesa karena seperti dikejar dengan promo-promo yang menggiurkan jika tidak mau kehabisan karena tenggat waktu yang diberikan biasanya tidak lebih dari sebulan. Lalu ditambah dengan bayang-bayang jika terlalu lama, harga akan semakin naik-naik ke puncak gunung. Sungguh melelahkan dan menyisakan kecemasan.

Lalu muncul rasa tidak puas terhadap pencapaian yang sudah didapatkan hingga kini. Dan mulai membandingkan diri dengan kehidupan teman-teman yang ‘terlihat’ lebih hijau karena sudah mampu memiliki rumah sendiri. Lalu muncul prasangka-prasangka yang lama kelamaan perasaan tersebut lebih mirip dengan rasa iri. Kalau bukan karena pertolongan Allah, tentu perasaan iri tersebut sudah menjelma dengki dan sirik. (Naudzubillahimindzalik)

Membaca-baca pengalaman orang lain yang memiliki nasib serupa. Sayapun berangsur-angsur menjadi kalem menghadapi keinginan untuk bersegera memiliki rumah. Dan kecenderungan justru teralihkan dengan keingintahuan tentang bagaimana melakukan perencanaan dan pengelolaan keuangan rumah tangga.

Saya juga terinspirasi dari pengalaman perjuangan orang-orang yang terjerat riba saat melakukan kredit rumah. Mencari-cari tahu tentang bahaya riba. Juga tentang sistem bias yang ditawarkan oleh bank label syariah yang sistemnya ternyata 11-12 dengan bank konvensional. Saya terinspirasi dan tidak ingin terjerumus kedalam perkara yang sama. Semoga Allah tidak menjadikan kami sebagai golongan manusia yang lalai sehingga dengan mudahnya memasukkan perkara yang haram kedalam hidup kami.

Lalu Allah memperingati saya dengan ayat populer ini,

فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

Mungkin saja kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak pada sesuatu itu.

(QS. An-Nisa (4) : 19) – Petikan ayat

Ya. Mungkin saja  saya tidak menyukai rasa khawatir ini, padahal pada saat yang sama, Allah sedang menjadikan kebaikan yang banyak pada rasa itu. Bisa jadi, ketika saya memaksakan kehendak saya karena memandang baik kredit bank, Allah akan mengecap saya sebagai hamba yang tidak pandai bersyukur bahkan durhaka. Padahal, kondisi yang sekarang, sungguh Allah sudah memberikan rizqinya sehingga saya jauh dari kata kekurangan apalagi kelaparan.

Apa yang sebetulnya saya kejar? Apa yang sebetulnya saya cari? Apakah karena saya menjadikan bahagia hanya dengan terkabulnya setiap keinginan? Lalu bagaimana jika keinginan-keinginan itu menggiring diri ini kepada jurang dosa? Bagaimana jika keinginan-keinginan itu membuat diri menjadi jauh dari Allah? Apakah tidak nelangsa jika demikian?

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ

“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit” (QS. Al An’aam (6) : 125).

Cukuplah dengan lisan yang selalu meminta kepada Allah agar diri senantiasa diberikan petunjuk, sehingga Dia melapangkan dada kita untuk memeluk erat Agama ini (Islam).

Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan, maka akan dipahamkan agamanya. (Imam Bukhori –  Hadits no. 69)

Kesimpulan yang bisa saya tarik dari pemaknaan sebuah rumah, Rumah terbaik adalah rumah yang Allah ridha dengan pemiliknya, sehingga Allah melapangkan segala urusan sehingga pemiliknya bisa hidup dalam naungan Agama dan keberkahan.

Tinggal si pemilik rumah itu yang terus ikhtiar dengan bekal ketaqwaan dipundaknya.

Depok, 20 Januari 2017

Silmina Ulfah

*Pas lagi cari gambar rumah nabi Muhammad SAW, nemu animasi rumah Nabi dalam bentuk 3D di link ini. 

Tentang Berkeluh Kesah

Berkeluh kesah itu buruk untukmu. Tapi baik ketika keluh kesahmu itu disampaikan kepada pemilik hidup.

Tidak perlu kecewa karena Allah percaya apa yang sedang kita derita. Tak perlu khawatir karena Allah sebaik-baik pelindung.

Kuatkan dirimu untuk tidak bergantung pada keadaan dan mahluknya. Karena tiada daya upaya melainkan dari sisi Allah.

Berkeluh kesahlah, dan awali keluh kesah itu dengan istighfar.

 

Depok

22 September 2016

 

 

Belajar Jatuh

Ingat sekali. Saat latihan pencak silat dahulu. Ada satu hari dimana temanya adalah “belajar jatuh”. Kenapa harus belajar jatuh? supaya saat terperangkap dan kena bantingan, kau tahu posisi terbaik saat jatuh. Sambil memberikan contoh pengalaman salah satu dari temanku yang masuk rumah sakit selama dua minggu usai mengikuti kejuaran tingkat PORDA. Dia dibanting dan kepalanya menghantam matras hingga terkena gegar otak ringan. Tentu ini lebih mengerikan dari pada beradu tulang kering yang tidak kalah seru, sakitnya.

Lalu bagaimana?, Sangat dan sangat.. membosankan. Kau harus berbaris dan menyimulasikan tiap step saat hendak jatuh? Secara berulang. Pada dasarnya latihan jatuh adalah tentang melatih kekuatan perut dan refleks posisi kepala saat tahu sepersekian detik saat akan jatuh, caranya adalah meletakan dagu ke dada, menundukkan kepala, sehingga ketika akan jatuh terlentang akan mengurangi hentakan kepala secara bebas. Juga posisi tangan yang harus selalu siap menyangga dengan benar, karena salah meletakkan tangan juga beresiko keseleo atau bahkan patah.

Dalam hidup, saat tahu akan jatuh. Bersiaplah untuk jatuh. Supaya jatuhnya adalah jatuh yang sudah dipersiapkan, tetap sakit (mungkin), hanya saja kau sudah (setidaknya) mengurangi resiko dari efek jatuh tersebut.

Rumah, 1 Oktober 2015

 

Sampah Sepah

Pahh!!
Aku disepah,

Hei, maukah kau ku beri rahasia dunia?
Tentang hidupku si sepah?
Mau?
Tak mau?

Aku dulunya tebu? Banyak muda-mudi menyukaiku
Mereka berkata kearahku?
“Manis rasa pasti tebu itu!”

Dikunyah
Disepah
Namun ku tak marah
Tak apalah

Sekarang aku mengira-ngira
Apakah sepah masi bisa berguna?
Paling tidak aku tak mau berganti nama
Dari “Tebu”, Jadi “Sampah”
Atau paling tidak, biarkan aku menjadi sampah yang berguna