Bicara Jihad

Sebelum saya memulai tulisan kali, perkenankanlah saya mendeklarasikan bahwa saya bukanlah seorang yang punya sertifikat ulama, apalagi cendekiawati muslim. Saya hanya seorang yang sedang terus belajar untuk tahu apa maunya Tuhan. Untuk itu, mohon koreksi saya dari segala kekeliruan.

Jihad. Banyak dari kita akan terbayang suasana medan perang, pakaian bersorban, pedang, bendera palestina atau mungkin kelompok militan yang melancarkan aksi bom bunuh diri. Memang tidak bisa disalahkan jika pada akhirnya jihad mengalami degradasi makna.

Menurut ibnu Faris (w. 395 H) dalam bukunya Mu’jam Al-Maqayis fi Al-Lughah, “Semua kata yang terdiri dari huruf j-h-d, pada awalnya mengandung arti kesulitan atau kesukaran dan yang mirip dengannya”. Kata jihad terambil dari kata jahd yang berarti “letih/sukar”. Ada juga yang berpendapat bahwa jihad berasal dari akar kata “juhd” yang berarti “kemampuan”. Dari kata yang sama tersusun ucapan “jahida bir-rajul” yang artinya “seseorang sedang mengalami ujian”. [1]

Bisa kita lihat bahwa jihad memang segala sesuatu yang akan menyulitkan, sukar, ibarat medan, ia adalah yang mendaki lagi sukar. Untuk itu, kemampuan fisik serta mental yang kuat menjadi hal tidak bisa tidak dipunyai,  alias sudah harus ada pada para mujahid (orang yang berjihad).  Mari kita tengok tawaran perniagaan dengan Allah yang dapat melepaskan kita dari azab-Nya.

“Hai orang orang yang beriman, maukah Aku tunjukkan kepadamu suatu perdagangan (perniagaan) yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih. Yaitu kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad dijalan Allah dengan harta dan jiwamu.  Itulah yang terlebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (QS. Ash-Shaff [61] :10-11)

Allah berseru kepada orang-orang yang beriman, bahwa ketika kita ingin diselamatkan oleh Allah dari azabnya yang pedih adalah dengan beriman kepada-Nya dan Rasul-Nya, serta Berjihad di Jalan Allah dengan HARTA dan JIWA. Mengapa harta diletakkan lebih dahulu daripada jiwa?, Dear Sobat, bukankah dapat kita lihat bahwasannya kini, kebanyakan manusia lebih mencintai hartanya? Demi harta, manusia mampu saling sikut, demi harta pula bahkan, manusia tak segan saling bunuh. Harta mampu melenakan kebanyakan manusia di dunia,  sudah banyak manusia yang hidup dengan tagline (ironi) hidupnya “Uang (Harta) bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang (Harta)”. Segala. Semua. Naudzubillahmindzalik. Lalu apakah kita sudah termasuk orang-orang yang berjihad itu?

Apakah kamu menduga akan dapat masuk surga padahal belum nyata bagi Allah orang yang berjihad di antara kamu dan (belum nyata) orang-orang yang sabar (QS Ali Imran [3]: 142).

Bahkan Allah sudah tahu jika pada sifat tiap-tiap manusia ada yang sudah merasa berjihad di Jalan-Nya, hanya merasa. Ada pula dalam diri kebanyakan kita yang belum nyata bersabar dalam menjalankan jihad-nya. Sabar memiliki arti tidak lesu dan pantang menyerah, yes.. bukan pasrah. Allah butuh sabar yang nyata dalam aktifitas yang sukar ini. Bukan sabar dibibir semata, bukan sabar yang berbatas.

Apakah kamu menduga akan dapat masuk surga padahal belum datang kepadamu cobaan sebagaimana halnya (yang dialami) oleh orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncang aneka cobaan sehingga berkata Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya. “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” ingatlah pertolongan Allah amat dekat (QS Al-Baqarah [2]: 214).

Lantas apa yang kita lawan saat ini? apakah gerangan yang Allah persiapkan sebagai musuh kita?.

“Kita baru kembali dari satu peperangan yang kecil untuk memasuki peperangan yang lebih besar”. Sahabat terkejut dan bertanya, “Peperangan apakah itu wahai Rasulullah ?”  Beliau menjawab: Peperangan melawan hawa nafsu.” (HR. al-Baihaqi).

Lihat sekeliling kita, media-media informasi kita, niscaya kita akan menyadari bahwa sesungguhnya hawa nafsu kita sedang diberi manja sehingga semakin jauh manusia dari Tuhannya, semakin lupa manusia dari fungsi diri-nya.  Dengan terlenanya kita, sedikit-demi-sedikit visi akan mudah goyah,tujuan hidup-pun semakin dunia (sifatnya). Sulit memang memusatkan hidup ini kepada aktifitas jihad, tentu begitu banyak rintangan dan kesulitan yang memang sudah terpatri dari arti kata jihad itu sendiri.

Katakanlah, “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri kamu, keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS Al-Tawbah [9]: 24).

Sering kita beralasan, atau lebih tepatnya mencari-cari alasan untuk tidak berjihad dengan meminta “maklum”-Nya Allah, misalnya, kita begitu takut akan kerugian-kerugian yang akan dialami dari pekerjaan kita atau bisnis yang kita jalankan khawatir tidak bisa fokus, kalau kita beraktifitas jihad dengan harta dan jiwa, nanti gimana kalo ini, itu, kalau rugi gimana? Nanti kalau harta aku abis gimana? daaaan sejuta alasan yang selalu bergeser-geser itu.

Padahal yang harus digarisbawahi, jihadnya kita tidak lain tidak bukan adalah untuk kemaslahatan diri kita sendiri, bukan tertuju kepada si-anu atau si-itu.

Barang siapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya untuk dirinya sendiri (berakibat kemaslahatan baginya) (QS A1-Ankabut [29]: 6).

Jika sudah paham kalau sesungguhnya jihad adalah untuk kebaikan diri sendiri, lantas mengapa kamu masih ragu, masih malas, masih banyak syarat, masih banyak tanya tanpa berusaha, tanpa ada kemauan belajar apa itu jihad? bagaimana cara jihad? bilamana jihad itu?.

Catatan :

[1] http://media.isnet.org/islam/Quraish/Wawasan/Jihad1.html

Pakai(k)an Iman

Perempuan yang terselubung kunang-kunang
Bercahaya, tapi bukan sekedar cahaya, ia terang
Menenangkan
Tapi kini mulai berkedip
Meredup pula

Kunang-kunang mau mati bunuh diri
Karena si perempuan kini sudah tak suci
Lebih kotor dari limbah industri
Tak lebih bermanfaat dari ampas kopi

Perempuan itu tak sadar diri
Bahwa sebentar lagi pakaian cahayanya mau pergi
Mematikan diri

Perempuannya semakin menjadi jadi
Tak peduli diri sendiri
Imannya sendiri
Tuhannya sendiri

Benaknya berkata
Hidup ini begitu singkat
Tak mungkin lagi ia mampu mengubah bejat
Tak mungkin benar menangkan jahat
Tak percaya lagi ia kan menjadi legenda di usia muda
Ia pikir ia manusia biasa
Yang ditakdirkan hidup biasa
Makan biasa
Berderma biasa
Oh tidak, bahkan kini tak mau pula ia berderma
Karena sibuk merancang pakaian impiannya
Pakaian dari benang emas, berkancing safir
Ia mau dilihat dunia
Bahwa ia begitu cemerlang
Ia panutan
Ia sempurna
Ingin direbutkan
Ingin di elu-elukan
Ingin menjadi sesembahan
Bahkan idola Tuhan

Ya Tuhan, jika nyawa ini masih kau beri kesempatan
Bimbinglah kami untuk menjadikan taqwa sebagai pakaian
Bukan sekedar pakaian
Ia yang dikenal pakaian iman

Introspeksi

Umar r.a berkata, dia masuk kepada Nabi s.a.w tiba-tiba ia mendapatkan Nabi s.a.w sedang menangis, maka ditanya, apakah yang menyebabkan engkau menangis ya Rasulullah? Jawabnya, aku telah didatangi oleh Malaikat Jibril a.s dan berkata kepadaku :

Sesungguhnya Allah malu akan menyiksa seorang yang telah beruban di dalam islam, maka bagaimana orang yang beruban tidak malu berbuat maksiat terhadap Allah ta’ala

Jleb banget kan hadistnya, coba baca berkali-kali, Allah, Tuhan kita, “malu” menyiksa kita yang telah beruban, maka bagaimana kita sendiri yang tidak malu ketika berbuat maksiat? , Rasa-rasanya memang terlalu naif jika kita berkomentar, kita hanya manusia biasa yang tak luput dari dosa, atau sekedar, namanya juga manusia, suka khilaf.

Dear friend, menjauhi maksiat adalah kebaikan, jika memang fungsi diri kita sebagai manusia yang diwajibkan untuk berbuat kebajikan terhadap sesama belum bisa mampu kita kerjakan, bagaimana dengan menjauhi kegiatan maksiat?

Jika kita yang tak tahu kapan kunjung ajal tiba, sanggupkah kita menyempurnakan amal ibadah kita sebelum kita berpulang?

Jika kita yang merasa sudah banyak beramal,  pernahkah terbesit olehmu,  Apakah Allah ridha?

Karena merasa benar dengan seberat biji sawi kesombongan, hanya akan melenyapkan amal.

Colekan Tuhan

Tahu gak siapa temen yang paling sejati? Temen yang selalu ada saat sulit? Yang selalu ada dibalik kau bangkit? Tak kenal strata atau apa? Warna mata, bangsa dan agama?

Tidak lain tidak bukan, seorang kawan itu adalah M.A.S.A.L.A.H, mau tidak mau kau harus katakan YA. Karena hanya dengan masalah, kau bisa meraih step tangga menuju fitrah. Ibaratnya, Anak tangga adalah jalur menuju puncak kesuksesan, yang harus kau raih dengan kedua kakimu, bantuan kedua tanganmu,dengan berjalan maupun merangkak. Anak tangga adalah teman setia, atau yang lebih populer dikenal dengan M.A.S.A.L.A.H.

Allah ingin memberikan derajat lebih kepada kita dengan memberikan ujian dengan level “lebih”. Sungguh indah kala mengetahui bahwa, Semasa SD kita mendapatkan ujian matematika dengan level pertambahan sederhana, tanpa koma atau pecahan. Akan bertambah sulit ketika menginjak SMP dan begitu seterusnya. Sama seperti permasalahan hidup, akan selalu meningkat kesulitannya, namun tetap ingat, kesemuanya itu dipersiapkan sesuai dengan porsi kita, untuk itu, pahamilah bahwa sesungguhnya kesulitan datang bersama kemudahan, bersama, berbarengan. Biasalah, colekan Tuhan.

Sepetik Doa

Sungguh…
Tiada yang lebih memesona dibanding pemuda-pemudi yang mendedikasikan jiwanya untuk kebaikan masyarakat banyak.

Bukan dengan pemuda-pemudi pengendara mobil keluaran terbaru, menenteng gadget termutakhir, berkumpul di restoran mewah pusat kota, saling adu penampilan dan kepunyaan. Saat pagi mereka menunggu sore dan setibanya sore ia memikirkan esok, untuk dirinya sendiri.

Wahai pemilik jiwa, pemilik harta, Pemilik segala apapun yang dimiliki, sesungguhnya kami telah menganiaya diri kami sendiri, dengan “sengaja” dan atau “tidak sengaja”. Untuk itu, perkenankalah kami untuk menjalani jalanMu yang penuh berkah, bagi manusia dan semesta. Ridhoilah apa yang kami kerjakan dan tergurlah kami kala menyimpang dari jalan indahmu, jalan menuju hidup abadi (akhirat).

Bicara Toleransi

“Mi, bapak ada?”
“Bapaknya kerja”
“Oh gitu.. mi depan rumah ada yang  kebaktian, kita laporin fpi yuk, gimana menurut kamu?”
“Yah kalo menurut saya si toleransi aja pak, kita kan juga sering ngadain pengajian dirumah-rumah”
“Wah parah kamu mi, akidahnya..parah”, sambil berlalu.

Kira-kira seperti itulah percakapan yang diceritakan antara adikku dan seorang tetangga minggu lalu. Tertawa geli aku dibuatnya saat pertama kali adik saya cerita.

Aku sendiri tidak paham secara harfiah apa makna toleransi itu sendiri. Sepemahaman saya, agama berisi peraturan dalam hidup bersosial, salah satunya bagaimana menjaga kerukunan antar umat beragama. Yah, menurut saya (yang bukan seorang cendekiawan apalagi udztadzah), bahwa sejatinya kita tidak bisa memaksakan kehendak kita untuk menjadi “sama”, menjadi serupa dalam memilih agama. Dan saya yakin bahwa Allah membenci peperangan, membenci perselisihan, untuk itu kita hanya perlu introspeksi ditambah dengan mencari tahu bagaimana Rasulullah SAW, berdampingan dengan orang-orang yang berbeda keyakinan.  Ya, Agama ini mengajarkan bagaimana seharusnya kita hidup rukun.

Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.  Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (Q.S.Al Hujurat {49} : 13).

Kita diciptakan berbeda-beda bukan untuk saling mengungguli satu sama lain, bukan untuk menyakiti satu sama lain, kita diciptakan dengan berbagai macam bentuk, suku, budaya, warna kulit, bahasa, tidak bukan agar kita bisa saling mengenal satu sama lain. Pasti pernah dengar pepatah, “Tak Kenal Maka Tak Sayang” , Mana bisa saling sayang kalau kenal aja nggak.

Perkenankan saya untuk bercerita sebuah kisah Rasulullah SAW yang selalu berhasil membuat saya haru setiap kali saya membacanya,

Alkisah, hiduplah Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta, setiap hari ia berkata kepada seiap orang yang mendekatinya, “Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya”.

Setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah SAW melakukannya setiap sampai Beliau SAW wafat. Setelah kewafatan Rasulullah, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.

Suatu hari Abubakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.ha. Beliau bertanya kepada anaknya, “Anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan”, Aisyah r.ha menjawab pertanyaan ayahnya, “Wahai ayah engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja”. “Apakah Itu?”,tanya Abubakar r.a. Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana”, kata Aisyah r.ha.

Ke esokan harinya Abubakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abubakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepada nya. Ketika Abubakar r.a. mulai menyuapinya, si pengemis bertanya, “siapakah kamu ?”. Abubakar r.a menjawab, “aku orang yang biasanya”. “Bukan !, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku”, jawab si pengemis buta itu. Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut, setelah itu ia berikan padaku”.

Abubakar r.a. tidak sanggup menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, “Aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW”. Pengemis itu-pun menangis dan kemudian berkata, benarkah demikian?, selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia”,Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abubakar r.a.

Ini adalah salah satu teladan yang beliau contohkan kepada kita, beliau mengajakan bagaimana kita berlaku pada saudara-saudara kita yang berbeda keyakinan, Kawan, saat ini memang banyak issu-issu yang diberitakan media secara berlebihan, sehingga kita terjebak dalam situasi adu domba, saling  menyalahkan, saling menghujat, saling menghina dan yang paling parah adalah, merasa paling benar, yang ujung-ujungnya terjadi tindak kekerasan serta anarki.

Marilah kita bersama-sama saling  mendoakan kebaikan dan saling nasihat-menasihati kebaikan. Sesungguhnya Toleransi akan memproduksi Perdamaian Hakiki.

Siang Malam

Hai malam..
Aku ingin kau memantulkan salam
Untuk orang-orang di hatiku terdalam

Hai bulan..?
Mengapa menyembul dibalik awan?
Tunjukkan rupamu yang menawan

Hai bintang..?
Kumencarimu tadi siang
Ku tahu kau ada di balik terang

Bagaimana kabarmu kunang-kunang?
Kemari lah,temani kami dengan cahayamu yang terang

Aku tahu lebih banyak luka terjadi di siang
Dan malam tak mampu menerjang

Aku tahu kita bertemu di siang
Tak jarang di malam

Aku sadar banyak gagal di siang yang membuat malam terasa lebih panjang

Aku pasrah pada siang
Lalu aku cerita pada malam

Aku marah pada siang
Dan mengalah saat malam

Semua duka pada siang
Pada malam
Dia memberikan fajar yang menentramkan
Memberikan senja yang menenangkan
Terima kasih sang pengatur siang malam

Cinta Pemilik Cinta

Banyak bilang cinta itu buta
Tak apalah, selagi masih ada telinga
Sehingga kau masih bisa mendengar logika
Bahwa cinta itu satu saja

Cinta memang punya banyak cerita
Ada bahagia, dan tidak sedikit yang menderita
Bagi mereka yang berbahagia, bersyukurlah
Untukmu yang menderita, berbahagialah
Karena ada sesamudera cinta Esa
Seangkasa kasih yang begitu mulia
Itulah sebesar besarnya bahagia
Senyata-nyatanya cinta
Pemilik segala cinta
Dia, Allah, Dzat yang maha cinta.

Survival

Yang udah nonton Hunger Games pasti tau bagaimana suasana hutan tropis, hijau dimana-mana, bebunyian burung, embun, kabut, lembab, sejuk.

Selama nonton film ini, saya jadi teringat saat pertama kalinya saya merasakan simulasi survival kala SMA, tidak ada pendaki yang ingin tersesat di hutan. Untuk itulah mereka melakukan persiapan perjalanan.

Kang Heri Macan, seorang guru alam, bilang pada kami. Hutan Indonesia macam surga, hanya orang-orang bodoh saja yang tidak bisa bertahan karena kelaparan disana, hujan ada, segala tanaman begitu beragam. Kau hanya tinggal pelajari bagaimana memilah dan memilih mana yang tidak beracun. Sekali lagi, aku mendapatkan pelajaran, di hutan(pun) kemauan belajar mampu membuatmu bertahan.

Masih lekat dalam ingatan saya kala itu, saat saya diamanahkan menjadi komandan siswa. Menjadi pemimpin bagi 14 saudara-saudara yang lainnya, kalau tidak salah, itu adalah hari ke empat, kondisi tim saat itu sudah payah, terutama para nisa.

Singkat cerita, setelah memastikan anggota tim berada di shelternya masing-masing, kemudian saya dipanggil instruktur untuk mengepak perlengkapan saya dan menuju sebuah tempat, sebelum pergi, mereka menyuruh saya untuk membuat sebuah pesan kepada anggota tim, tertulis disurat itu bahwa ceritanya saya harus meninggalkan pendidikan dikarenakan sudah tidak tahan dengan tempaan yang dialami. Waktu menunjukkan pukul 2 dini hari, saat itu saya dibawa ke sebuah tempat, saya sudah mencium aroma skenario yang dibuat untuk materi SAR.

Gelap, kelaparan, pakaian basah, dingin, ngantuk dan sendirian pula, haya ada sahutan suara primata, burung dan angin. Sekitar 300-400 meter saat itu jarak saya dengan camp saudara-saudara saya yang lain. Saya tidak mendirikan bivoac, dan hanya merebahkan diri di semak-semak yang penuh embun, dinginnya sampai menusuk tulang. Sudah terlalu letih tubuh saya saat itu untuk mengeluarkan alat penerangan, perbekalan? Yang benar saja, makanan kami sudah di sita sejak pagi pertama kami singgah. Di carrier saya cuma ada beras dan garam. Pelan-pelan saya membayangkan hangatnya rumah, makan nasi padang lengkap dengan buah semangka. Perutku geruyukan. Saya pun tertidur, di tanah basah kaki gunung Salak.

 

***

Sepaginya, saya di gugah oleh kakak instruktur, saya pun langsung di briefing untuk rencana materi SAR, lebih tepatnya skenario SAR. Diceritakan bahwa saya harus berpura-pura pingsan dan sakit. Sementara akhirnya saya tahu pada saat yang sama, dicamp saudara-saudara saya, telah terjadi drama yang hiperbolic, “Silmina Ulfah kabur!”. Menggelikan.

Hampir satu jam lebih saya “menunggu” ditemukan oleh rekan-rekan saya yang lain. Membosankan sekali. Jantung berdebar kala suara gebahan khas instuktur terdengar. Sebagai informasi, pada saat saya menjalani diklat, curah hujan sedang tidak ada, artinya suhu akan jauh lebih dingin dibandingkan saat ada hujan.

Akhirnya saat-saat yang ditunggu datang juga. Meskipun saya dalam keadaan “pingsan” ditambah dengan mata berair, dalam hati, saya bersorak senang. Mission Accomplished. Langsung saja saya di angkut menggunakan tandu buatan dari batang pohon sebesar bambu tandu yang tidak rata dan jalinan tali pramuka dengan konstruksi yang memprihatinkan, saya pun hanya bisa maklum saat kepala saya terantuk sana-sini, rasanya jadi pingsan betulan.

Sesampainya di camp, skenario belum berakhir….

Ceritanya Bersambung

Mini Story Sebuah Negeri

Terkisah sebuah negeri yang amat kaya. Baik alam dan manusianya. Katanya, kebanyakan manusianya hidup dalam keadaan yang berada,  berada dibawah garis kemiskinan. Kemiskinan harta. Ironis.

Karena “katanya” merasa kekurangan harta, segelintir penduduknya mengambil yang bukan haknya, uang yang seharusnya ditujukan kepada rakyatnya. Tragis.

Penduduk yang “katanya” berada, berada dibawah kemiskinan itu meneriakkan keadilan, menuntut kebenaran. Menagih “hak-hak”-nya. Menyalahkan para tukang tilaplah yang menyebabkan mereka miskin. Makin Sadis.

Tukang tilap makin takut miskin. Orang miskin makin miskin.

Marilah kita berdoa supaya kita menjadi orang kaya, agar terhindar dari kemiskinan, kebodohan dan ketidakbersyukuran. Hidup ini manis.