Mini Story Sebuah Negeri

Terkisah sebuah negeri yang amat kaya. Baik alam dan manusianya. Katanya, kebanyakan manusianya hidup dalam keadaan yang berada,  berada dibawah garis kemiskinan. Kemiskinan harta. Ironis.

Karena “katanya” merasa kekurangan harta, segelintir penduduknya mengambil yang bukan haknya, uang yang seharusnya ditujukan kepada rakyatnya. Tragis.

Penduduk yang “katanya” berada, berada dibawah kemiskinan itu meneriakkan keadilan, menuntut kebenaran. Menagih “hak-hak”-nya. Menyalahkan para tukang tilaplah yang menyebabkan mereka miskin. Makin Sadis.

Tukang tilap makin takut miskin. Orang miskin makin miskin.

Marilah kita berdoa supaya kita menjadi orang kaya, agar terhindar dari kemiskinan, kebodohan dan ketidakbersyukuran. Hidup ini manis.

Agar Aku

Aku mendatangimu
Agar aku berteman denganmu

Aku berteman denganmu
Agar aku berbagi dengamu

Aku berbagi denganmu
Agar aku mengenal diriku

Aku mengenal diriku
Agar aku mengenal Tuhanku

Bulan

Bulan itu berjalan mengikutiku
Berhenti saat ku berhenti
Dan berlari saat ku berlari

Kini kulihat bulan itu mengejekku
Saat kutampakkan keherananku
Wajah ketidaktahuanku

“Benarkah kau mengikutiku?”

Cerita Pada Hati

Berceritalah pada hatimu
Katakan padanya tentang perjuanganmu
Usahamu
Pengorbananmu
Tujuanmu
Mimpimu
Lalu katakan pada hatimu
“Maukah kau menikahiku?”

Cah Nunduk

Tunduk merunduk
Kau didepan yang lain
Untuk menyapa yang lain

Tunduk kau meruntuk
Kau menghiraukan yang lain
Untuk peduli yang lain

Tunduk kau terpaduk
Ditertawakan yang lain
Malunya bukan main

Dua Puluh Ribu

Mulai sekarang saya bertekad untuk belajar menabung yang notabene sejak dulu selalu gagal dalam menabung. Mo di celengan plastik sampai di bank, selalu saja berakhir dengan saldo yang memprihatinkan. Saya menerapkan sebuah cara baru, yakni  setiap saya mendapatkan uang pecahan 20.000-an saya akan “menyembunyikan” di tempat yang tidak terjangkau oleh mata secara langsung. Ide ini saya dapatkan dari kakak saya, gara-gara dia baca salah seorang temannya (baca : following-an nya) di TL, (lupa namanya siapa).

Menabung pada dasarnya adalah mempersiapkan kebutuhan dimasa mendatang dengan menyisihkan pendapatan kita, baik kebutuhan primer hingga tersier.  Ibaratnya kalo kita main pistol-pistolan, pastinya kita akan mengumpulkan peluru sebanyak-banyaknya supaya ga kalah pas lagi perang.  (lebay banget ga si perumpamaannya?) . Sering denger kan orang bilang “Aku orangnya rajin dan gemar menabung”, sempet bertanya-tanya pula, kenapa sih harus “Nabung?”, kenapa ga Gemar berolahraga, atau Rajin Ngepel?. Ternyata sekarang saya melihat bahwa orang-orang yang pandai menabung adalah orang-orang dengan memiliki persiapan dan perencanaan yang matang. Cerdas, yang penting, jangan sampai kegiatan menabung ini berpindah haluan ke arah Kikir. Apa-apa perhitungan, mau sedekah sayang, Naudzubillah. Jadilah Penabung yang Dermawan.

Dan dalam seminggu ini saya berhasil menyembunyikan 40.000 itu artinya, selama seminggu saya hanya berhasil “ketemu” pecahan uang 20.000-an 2 kali doang sodara-sodara. Saya jadi lucu sendiri, baru kali ini saya betul-betul memperhatikan setiap lembaran yang saya terima, dari loket karcis KA, kembalian mini market, kembalian wateg, dan baru sadar ternyata pecahan 20.000, yang saat ini bergambar wajah Bapak Oto Iskandar  Di Nata ini termasuk jarang sekali saya terima (saking meratiinnya, saya juga baru tahu juga kalau nama Dinata itu dipisah, Di Nata).

(Baru pulang kantor, baru kali ini niat banget minta jemput  karena ga mau mecahin duit 20.000-an)

Sekian

Yah…

Derap heels-nya menggaung di tangga stasiun cikini
Sesekali ia melihat jam tangan emasnya, berkilau
Sama seperti kilau sapuan lipstik di bibirnya
Tangan kirinya, menggenggam smart phone yang takhenti-hentinya menyerukan notification sejak dari stasiun bogor tadi

“Mi, nanti mami pulang jam berapa, Adek mau minta bantuin tugas adek nih..”

Perempuan itu menghela napas,

“Iya, mami lembur dek, kamu minta tolong sama mba aja ya, nanti mami pulang mami bawain makanan kesukaan kamu deh”

“yah..”

 

Lorong Bergerak

 

Kau ingin duduk?
Saat ada ibu hamil berdiri didepanmu
Kau pura-pura tidur

Ya..
Di lorong bergerak ini
Kau tampakkan wajah melasmu
Dihadapan ibu dengan garis wajah yang renta

Kalian ingin duduk?
Dengan kursi lipatmu?
Berkelakar dengan obrolan tak penting kalian?

Kau ingin duduk?
Silahkan duduk di lorong bergerak yang terakhir

Welcome To WordPress! Silmina Ulfah

Setelah mikir panjang banget untuk pindah blog, karena galau banget dengan blog yang di blogspot, mau di remove juga sayang. Akhirnya! saya memutuskan untuk migrasi ke situs WP ini.

Semoga di rumah yang baru ini saya bisa lebih aktif lagi menulis, bisa memberi lebih banyak lagi manfaat, lebih banyak lagi teman, lebih banyak lagi saudara, Persaudaraan yang damai, seperti namaku, Silmina Ulfah.

Dalam rangka pindahan rumah ini , di awal tulisan mungkin adalah duplikasi alias copas-an dari tulisan di rumah saya yang lama, jadi ceritanya buat “menuh-menuhin” perabotan di rumah yang baru dulu

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.