Cermin

Jika ada orang yang paling banyak kesalahannya, itu adalah saya orangnya.

Sebelum menjustifikasi orang lain, marilah kita coba melihat betul-betul ke dalam diri kita. Seperti saat bercermin, mungkin jarang dari diri kita melihat kurangnya, lebih banyak mengabaikan kurangnya lalu merasa baik-baik saja. Sama seperti hidup bersama orang lain. Apakah kita termasuk orang yang lekas menyimpulkan? atau mungkin lebih parah? apakah kita sudah setiap saat mengoreksi diri dari kekurangan? atau lebih sering membuat catatan panjang daftar kesalahan orang lain? Menuntut hak dari orang lain?

Mungkin diri kita terlalu sombong untuk mengakui benih-benih kesombongan yang mulai muncul didalam hati. Kita mungkin lantang meneriakkan tidak peduli dengan omongan orang lain. Tapi jelas-jelas perasaan merasa diremehkan itulah yang dimana asal muasal kesombongan itu bermula. Kita mengaku membawa perubahan, tapi kebiasaan-kebiasaan buruk kita tidak selalu kita rubah. Membicarakan kesalahan orang, keburukan orang, aib orang, malas belajar, tidak disiplin dan selalu beralasan. Tidak berani mengakui dan lupa bahwasannya apa yang ada disekeliling kita adalah cermin bagi kita. Atau yang lebih parah, yakni, kita lupa siapa jati diri kita sebenarnya.

Jangan-jangan kita tidak sadar bahwa kita sedang mempersiapkan bom waktu untuk diri kita sendiri. Di kemudian hari, apa yang kita kerjakan hari ini, pastilah akan dimintai pertanggung jawabannya. Semoga kita selalu menjadi manusia yang berdoa sebelum bertindak, meminta keridhoan Allah sebelum memutuskan hendak bicara dan berlaku apa. Semoga tidak ada penyesalan dikemudian hari.

Ya, memang tidak ingin dipuji kau katakan. Tapi diri selalu haus akan perhatian. Hati selalu butuh pembenaran. Bukankah kita terlalu sering melakukan hal-hal yang diluar kewajiban? ketimbang mempersiapkan diri dari berbagai perubahan?

Depok, 14 September 2016