Cerpen : Di Bawah Purnama Taman Kota

Gambar : http://seattle.urbansketchers.org/2014/05/revisiting-columbia-city.html
Gambar : http://seattle.urbansketchers.org/2014/05/revisiting-columbia-city.html

“Kau dimana?”, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel-tidak-pintar-ku. Tahu yang kusukai dari teknologi pesan singkat ini? Ya, kau tak perlu khawatir lawan bicaramu sudah membaca atau belum, atau kau tidak perlu lelah berprasangka karena si lawan bicaramu hanya tahu, pesan itu sudah terkirim atau belum. Begini ya, bukannya aku benci teknologi, tapi aku benci membuat orang lain memiliki purba sangka terhadapku.

“Tempat biasa”, kubalas pesan singkat itu, ngomong-ngomong, meskipun pesan singkat, aku tak suka jika pesanku ditulis singkat. Seperti “yang” menjadi “yg”, atau “boleh juga” menjadi “ole uga”. Gara-garanya, suatu hari pernah aku mengirimkan pesan singkat yang panjang, lalu si lawan bicara hanya balas satu huruf “Y” untuk mengatakan “Iya”, seperti tidak dihargai rasanya,  saat bertemu ia jelaskan bahwa yang ia lakukan itu demi mengirit semata, satu huruf untuk satu rupiah, kumaklumi akhirnya. Dan berjanji, sebokek-bokeknya, kau harus selalu sisihkan untuk pulsa jika ingin bicara. Lagipula, lebih mudah menjelaskan, “Maaf tak kubalas, aku tak punya pulsa”, ketimbang berbusa-busa menjelaskan “aku tak apa-apa”, ketika lawan bicara-mu tak puas dengan balasan singkat karena mengira aku sedang ketiban masalah. Repot memang, kalau kau hidup di era dimana orang lain ingin sekali tahu tentang kehidupanmu.

Di taman ini, pertama kali aku bertemu dengannya. Waktu itu aku sedang menyelesaikan sketsa suasana remaja masa kini bermain skateboard, lama sekali kuselesaikan sketsa itu karena lebih banyak aku plonga-plongo melihat kelincahan mereka terutama ketika salah satu diantara mereka gagal bermanuver dan nyungsep. Di waktu yang sama, dia sedang menyelesaikan tugas fotografinya bertema ekspresi. Dia mendatangiku untuk meminta ijin menggunakan ekspresi wajah bengong-ku sebagai ajuan tugasnya, aku melongo.

“Andria.”, dia mengulurkan tangannya padaku. Aku, menggunakan alasan tanganku belepotan tinta cina untuk tidak menyambut salamannya, dan memberikan isyarat tangan namaste.

“Deli.”, kataku singkat, padat, kikuk. Aku selalu gugup menghadapi orang-orang baru, dan kadarnya melesat tinggi jika yang kau temui itu seorang bidadari jelita.

 Andria tersenyum sambil mengamati sketsa yang kupangku. Alamak, indah betul manusia ini. Aku pura-pura haus dengan memesan minum ke penjaja kopi bersepeda. Mana ada orang haus minum kopi. Baru kenal beberapa menit sudah acak-acakan rasanya.

Tiap tengah bulan, aku selalu menyempatkan diri ke taman kota ini. Apalagi kalau bukan karena ingin menikmati purnama. Kalau sedang tidak ingin diganggu, aku pasang earphone untuk mencegah terjadinya interaksi sesama manusia. Kurasa ini purnama ke 336 dalam  hidupku, atau purnama ke 216 saat menyadari betapa memukaunya ia, atau purnama ke 6 aku mengenal Andria. Seorang wanita yang mungkin akan sangat mempengaruhi garis takdirku, wanita bermata coklat yang tingkah laku-nya seperti tak pernah mengenal kata lelah, wanita yang dalam berisiknya selalu bisa memahami diamnya aku,  wanita yang tak pernah kupahami selera musiknya, punk cabaret.

“Dari jam berapa disini?”, Andria datang seperti dewi kwam im, tiba-tiba lantai taman menjelma teratai. Kadang aku benci sekali bagaimana imajinasiku berlebihan menghadapi manusia yang satu ini, makanya kalau bertemu Andria, aku lebih suka melepas kacamataku.

“Baru saja, selepas adzan isya”, aku selalu mencari kesibukan dengan mengobrak-abrik tas. Sial, tiba-tiba aku ingin sekali punya ponsel-pintar, supaya bisa pura-pura membaca sesuatu yang genting, yang mungkin padahal hanya membuka tutup perbincangan sebuah grup yang bahkan tak pernah kau baca isinya sekalipun sebelumnya.

“Cari apa?”, Andria bertanya sambil menyodorkan sebuah hard cover berselimut plastik.

Cari jodoh, tentu saja jawaban yang demikian ini hanya mampu kusampaikan dalam hati. Aku sudah memikirkannya, aku sudah bicarakan juga dengan Bunda, tentang Andria. Suatu hari aku akan mengutarakannya, aku akan menawarkan diri menjadi pasangan hidupnya. Dibawah purnama.

“Cari… apa ini”, aku sedang malas berbohong. Kuraih hard cover berselimut plastik itu.

Undangan
Malika & Edo
Kepada:
Andria Bimala
di tempat

“Sahabatku akan menikah minggu ini, temani aku ya?”, dia duduk di bangku kayu berjarak satu meter didepanku. Aku mematung.

Seorang perempuan yang mengajakmu pergi ke undangan pernikahan sahabatnya?. Yang benar saja, itu artinya ia memberikanku peluang dari teman biasa menjadi teman hidup. Setidaknya itu yang adikku ceritakan padaku saat ia meminta ijin untuk pergi bersama pria yang sekarang menjadi suaminya. Kupandangi undangan pernikahan itu. Tentu peluang yang semacam ini, tak tahu kapan lagi akan aku alami lagi. Kukatakan padanya.

“Dengan satu syarat”, seumur hidup baru sekali ini malam terasa begitu mencekam, jantungku pun rasanya mau mencelat. Kulanjutkan persyaratanku.

“Bulan depannya, kita yang mengundang mereka.”

5 November 2015