Cerpen : Dua Jenis Pria

Andria, apa yang ada dipikiranmu sekarang?. Pernyataanku yang lebih mirip pertanyaan itu harusnya kau jawab tempo hari. Hari itu aku harus berpura-pura doyan makan martabak manis yang dipesannya. Biasanya aku hanya makan martabak telur buatan abang-abang Lebaksiu. Sejak kecil, sepuluh dari sepuluh tukang martabak yang kutemui pasti dari Lebaksiu. Sampai aku berkesimpulan bahwa keterampilan membuat martabak hanya diturunkan dari leluhur yang lahir di Lebaksiu. Sampai dimana cerita Andria tadi? Oke, syarat.

Syarat apa. Kalau tidak gara-gara bertemu dengan teman dari temannya yang mau menikah itu, pasti aku sudah menanyakan kedua kalinya. Apa Andria sengaja mencari keramaian agar aku tak berani bertanya lagi?. Aku menatap langit-langit kosan, berharap bercak-bercak di triplek itu membentuk kata memberi jawaban, apa yang aku harus berangkat ke undangan besok? betapa melelahkannya pertanyaan ini.  Aku tak bisa menjawabnya sendiri, biasanya aku bertanya kepada Bang Ardy, abangku satu-satunya. Tapi dia selalu pergi, setiap hari. Selalu sibuk sampai-sampai beberapa tahun belakangan tidak sempat menengok Bunda di kampung. Aku bangun pagi, ia sudah berangkat, aku tidur ia belum pulang.

Seperti biasa aku menuliskan masalahku dalam secarik kertas untuk berkomunikasi dengannya, berharap dia tidak terlalu kelelahan malam ini dan menuliskan pendapatnya untukku.

 ***

“Ada dua jenis Pria didunia ini, yang pertama adalah mereka yang mau tapi tidak mampu, golongan ini masuk kategori pria payah. Lalu, mereka yang mampu tapi tidak mau, golongan ini masuk kategori pria brengsek.”

Pagi ini sangat dingin sekali, semakin menusuk hingga ketulang rasanya saat membaca komentar Bang Ardy atas berlembar-lembar curhatanku. Payah atau Brengsek. Kadang aku suka menyesal kalau cerita ini itu ke Bang Ardy, tapi mau bagaimana lagi, kota bengis ini mengajarkanku untuk berhati-hati menaruh kepercayaan kepada orang lain. Setidaknya, Bang Ardy tidak berniat mencelakakanku.

Andria. Kuraih telepon genggamku, kuketik pesan singkat untuknya,

Andria, maaf hari ini aku tak bisa menemanimu ke undangan Malika. Aku harus menengok Bunda, maafkan.

Kumatikan telepon genggamku, mungkin sampai beberapa hari kedepan. Samar-samar aku mendengar suara putus-putus, suaranya meletup-letup. “Pria payah…pria payah…“.

—-

24 November 2015