Dimensi Baru, Menjadi Ibu (Bagian Satu)

24 hari lalu, seorang bayi perempuan lahir dari rahim saya. Ya, belum genap setahun saya beradaptasi menjadi seorang istri, kini bertambah lagi status baru saya, menjadi seorang ibu. Satu tangga kehidupan harus dinaiki lebih tinggi lagi, satu amanah dan dimensi baru harus diselami betul-betul. Bukan pekerjaan sambilan, apalagi selingan.

Namanya Daniya Arijidhuha. Sejak tahu akan mendapatkan anak perempuan, ayahnya langsung menyebutkan nama ini. Belakangan ternyata, ia bercerita bahwa ia tipikal orang yang menyukai untuk mengingat hal-hal tertentu yang ingin selamanya ia kenang, termasuk ibu saya. Ya, ibu saya bernama Dani. Kalau dipikir-pikir, suku kata “ya” bisa saja dihubung-hubungkan dengan suku awal nama pak suami.

Bayi perempuan kami lahir pada tanggal 13 Mei 2017, 6 hari melewati HPL yang diinfokan dokter. Menjelang 7 Mei 2017, gelombang cinta itu belum juga muncul. Dengan berbekal ilmu seadanya, saya hanya memperbanyak doa dan gerak supaya memicu janin untuk menemukan jalan lahirnya. Saya perbanyak pergerakan saya dengan berkunjung kerumah sepupu, bahkan mengambil resiko tinggi dengan mengendarai motor matic dan membonceng sang sepupu.

Keesokannya, saya diajak berjalan-jalan (literally, jalan-jalan) ke Purwokerto. Gempor bukan main. Disini saya mulai merasakan ngilu-ngilu di bagian bawah perut saya. Mungkin saat itu kepala janin menyenggol-nyenggol panggul. Tepat hari Jumat, saya berjalan pagi sejauh kurang lebih satu setengah kilometer yang rasa-rasanya langkah saya semakin melambat, saya betul-betul cepat sekali kelelahan. Pulangnya, saya memilih naik ojek yang ternyata membawa kepada awal cerita perjalanan si bayi.

Sampai di rumah, saya sholat dhuha dan pada rakaat kedua saya merasakan seperti ada keputihan yang keluar. Setelah salam, saya ke kamar mandi dan tersenyum kala mengetahui bahwa ada bercak darah pada celana saya. Saatnya bersiap untuk menyambut momen persalinan. Perut mulai sering kencang, tapi saya belum merasakan nyeri. Hingga menuju isya, saya hanya perbanyak istirahat untuk mengumpulkan tenaga.

Jumat, 12 Mei 2017 (Pukul 21.00 WIB)

Selepas isya saya sudah tidur dan saya ingat pada pukul 21.00 saya terbangun karena merasakan perut yang mulas seperti akan datang bulan disertai hasrat ingin berkemih kira-kira setiap 20 menit sekali. Di saat yang sama, saya merasakan lapar, hari itu saya baru makan satu kali sebelum ashar. (mengingat himbauan dokter dan bidan yang menghimbau saya berdiet karena bobot bayi diperkirakan sudah melebihi 3,5 kg).

Saya mulai mencatat kedatangan gelombang cinta itu. Rasanya semakin lama semakin intens dan kuat. Entah ini karena mindset saja atau memang rasanya benar-benar seperti itu. Saya mulai menghubungi suami untuk memberi tahu bahwa sepertinya bayi ini akan lahir. Ia langsung pesan tiket kereta paling pagi keesokan harinya.

Jumat, 12 Mei 2017 (Pukul 23.00)

Saya sudah mondar-mandir, sepertinya ilmu untuk mengendalikan rasa mulas dengan bernapas seketika saja hilang. Yang ada dipikiran saya adalah, bagaimana cara supaya saya bisa lekas mengejan. Saya bangunkan adik ipar, mamah dan abah untuk memberi tahu mereka tentang apa yang saya rasakan. Saya bilang, rasa mulasnya sudah 10 menit sekali.

Tiba di IGD saya agak lemas pas tahu bahwa baru pembukaan satu oleh bidan kedua. Setelah bidan pertama memberikan informasi angin segar alias PHP dengan menginfokan kalau sudah pembukaan tiga. Mamah memberi pilihan apakah saya ingin pulang, atau tetap di RS. Saya minta untuk tetap di RS saja, akhirnya sebuah kamar dipesankan karena tidak kuat membayangkan lagi untuk merasakan kontraksi saat dibonceng  motor.

Di kamar, saya menyalakan murotal Quran . Adik dan mamah tidur di sofa sambil keberisikan saya yang bolak-balik ke kamar kecil dan mengerang. Saya tidak bisa tidur dan yang dipikiran hanya ingin lekas hilang rasa melilit yang munculnya semakin sering saja.

Jumat, 13 Mei 2017 (Pukul 04.30 WIB)

Mamah akhirnya sholat tahajud dan menenangkan saya dengan sabarnya. Dipijatnya kaki saya, dielus-elusnya perut saya sambil zikir. Alhamdulillah, meredakan kegelisahan saya. Setelah azan subuh, flek darah semakin banyak keluar. Adzan subuh berkumandang dan saya sholat sambil duduk di sofa. Kontraksi menyergap semakin sering dan rasanya semakin nikmat membuat saya bahkan tidak sanggup untuk membungkukkan badan.

Selepas sholat subuh, bidan ke kamar memeriksa sudah mencapai pembukaan tiga. (Apa?! Baru tiga? Kupikir ini sudah lima atau tujuh! perasaan rasanya semakin tidak keruan). Saya sudah tidak bisa bicara lagi kecuali mengucap Allah dan istighfar. Bidan menginfokan kalau pagi itu Dokter kami sedang jalan-jalan pagi (Rumah dokter ini masih satu pagar dengan Rumah Sakit), sehingga saya kemudian diajak untuk ke ruang bersalin untuk dibantu pengecekan.

Jumat, 13 Mei 2017 (Pukul 05.40 WIB)

Sekitar hampir jam enam pagi, dokter melakukan pengecekan yang membuat saya semakin bersemangat. Kata Dokter, sudah masuk pembukaan sembilan. Saya, Mamah dan beberapa bidan kaget sekaligus senang. Para bidan mulai menyiapkan tempat bersalin. Saya, tentu saja, semakin meringis menikmati gelombang cinta buah hati.

Selang infus mulai dipasang, (setelah lahir, saya baru bisa protes dan rewel sekali bertanya-taya mengapa harus dipasangkan infus segala). Diluar kamar, saya bisa mendengar beberapa saudara saya mulai berdatangan. Serasa sedang bertanding dengan banyak supporter. Mungkin jika dihitung-hitung, ada sepuluh kerabat keluarga yang menunggu kehadiran jabang bayi.

Jumat, 13 Mei 2017 (Pukul 08.30 WIB)

Singkat cerita, setelah dibantu didorong kaki kanan oleh mamah, kaki kiri oleh mbak Puah, perut di tekan oleh bidan puput dan dihadapan jalan lahir, sudah menunggu dua bidan lainnya, dengan dua kali tarikan napas penghabisan, bayi kami lahir. Byar, adem sekali perut terasa. Si bayi ditaruh di perut saya. Saya hanya bisa berucap hamdalah tiada hentinya. Mamah menangis sambil menciumiku. Proses yang lumayan panjang ini disponsori oleh rasa kantuk yang luar biasa. Sehingga tiada bosannya, Mamah, Mbak Puah dan Bidan meningatkan saya untuk tidak tertidur.

Yang saya ingat setelah itu, si Bayi dibawa ke ruangan lain. Para sanak saudara menghampirinya, saya bisa mendengar dari ruang bersalin. Sementara saya harus dipermak karena mendapatkan tindakan episiotomi, maklumlah karena si Bayi ini berbobot hampir jumbo yaitu 3.8 kg. Kalau tidak salah saat saya tanya ada berapa jahitan, si mbak bidan bilang 10 jahitan. Hampir sejam saya harus menunggu jahitan rapi dan observasi selama dua jam untuk di cek pendarahannya. Sambil menunggu itu semua, saya mengabari Bapak, dan keluarga di Depok.

Bersambung.

Bumiayu, 8 Juni 2017