Menyampaikan Makna Cinta Lewat Film “Tausiyah Cinta”

"Karena cinta itu ditumbuhkan, bukan dicari." - Rein
“Karena cinta itu ditumbuhkan, bukan dicari.” – Rein

Tausiyah Cinta, film garapan Bedasinema ini memang mencoba menyajikan film drama cinta religi yang benar-benar beda. Mulai dari proses pemilihan tokoh yang disyaratkan memiliki hafalan quran, hingga proses syuting yang jauh dari adegan romantisme seperti dalam film cinta-cintaan biasanya. Saya sangat penasaran karena akan seperti apa jadinya hasil film yang diangkat dari buku yang berisi dari kumpulan nasihat tentang cinta ini. Dan penasaran semakin bertambah dengan munculnya teaser-teaser tentang film ini di timeline Instagram dari akun @tausiyahku_ sejak beberapa bulan belakangan.

“Jomblo itu menegarkan tapi menikah itu menentramkan..”.

Nyess. Begitulah kutipan yang mengena sekali di hati kala melihat trailer film Tausiyah Cinta. Dari menonton trailer dan poster film-nya, saya pikir film ini akan menyajikan drama dengan tema cinta segitiga, ternyata saya salah permirsa 😀 . Tausiyah Cinta mengisahkan tentang pencarian makna cinta dan segala kerumitannya yang dihadapi oleh para pemeran utamanya, yakni Rein, Lefan dan Azka. Ya, cinta disini bukan hanya bercerita tentang cinta antar lawan jenis, namun lebih luas lagi yakni cinta kepada Allah, cinta dalam keluarga dan cinta dalam persahabatan. Berikut hasil penilaian saya 😀 ,

Review (-)

  • Penanaman karakter para pemain dan chemistry yang kurang kuat, mungkin karena tokoh yang dihadirkan terlalu banyak.
  • Konflik utama kurang klimaks karena dikaburkan dengan konflik-konflik lainnya, seolah-olah ingin menyajikan hikmah cinta dalam bentuk-bentuk lainnya. Tapi jadi kurang berkesan karena tidak terasa konflik utamanya yang mana.
  • Pada awal cerita, konflik antara Lefan dengan kakaknya (Elfa) yang terlalu makan banyak durasi. Terlalu lompat-lompat scene-nya flashbacknya  padahal tidak terlalu menjadi inti cerita, bahkan tidak begitu berpengaruh pada akhir hubungan Lefan dengan Ayahnya.
  • Pengambilan gambar yang nanggung seperti teknik zooming yang agak mengganggu. Kualitas film jadi tampak seperti “sinetron”.
  • Kurang memperhatikan detail. Misalnya ketika salah satu tokohnya yang tidak bisa melihat, tapi ia tetap menggunakan jam tangan.
  • Akting yang kurang natural dari para pemain utamanya. Ekspresi emosional yang berlebihan hingga membuat saya menutup telinga karena lengkingan suara kak Elfa, atau menutup mata saat melihat adegan mewek-nya Azka.
  • Alur cerita kurang halus, “Ending gak ketebak” yang sangat dipaksakan dengan adanya tokoh baru ditengah-tengah cerita.
  • Adegan-adegan kurang natural seperti saat sahut-sahutan hafalan Quran. Dikira Azka lagi muroja’ah barengan teman-teman liqo-nya, taunya ceritanya baru pada kenal semua. >,<

Review (+)

  •  Film dengan nuansa yang paling islami. Tidak ada adegan bersentuhan antara lawan jenis yang bukan mahram dan tidak ada adegan yang menunjukkan aurat. Mungkin hal ini yang membuat film Tausiyah Cinta beda dengan film-film cinta religius lainnya. Apalagi yang saya dengar, ketika adzan berkumandang, proses syuting dihentikan untuk break sholat.
  • Penuh hikmah dan sarat makna. Meskipun masih jauh dari sempurna, saya dapat mengambil banyak sekali untaian nasihat didalamnya. Benar-benar sesuai dengan namanya, Tausiyah. Meskipun dialog-dialog tersebut bukan dari para pemeran utamanya, misalnya saja pembawaan Ibu Rein dalam menghadapi sikap anak-anaknya, sosok yang diperankan oleh Peggy Melati Sukma ini begitu natural dan inspiratif.
  • Ditengah-tengah kehidupan hedonisme dan materialisme, film ini menyuguhkan kesederhanaan yang meneduhkan. Mulai dari tampilan berbusana, hingga adegan akad nikah yang sangat sederhana yang mengajarkan tidak perlu bermewah-mewah dalam menjalankan sunnah. Mungkin bagian ini kedepannya bisa dikembangkan dan dikampanyekan lebih luas lagi, hehehe 😀 .
  • Film ini berhasil menabok saya untuk kembali dekat dengan AlQuran. Dengan ayat-ayat pilihan yang dilantunkan dalam film ini, saya sempat melelehkan air mata karena malu. Malu karena masih sangat jauh dari Alquran. Baik dalam membacanya, apalagi pengaplikasiannya.

 

Quotes Favorit :

“Allah tidak akan menciptakan satu jiwa dua hati. Saat hati jenuh pada mahluk-Nya. Itu tanda hatimu sedang diarahkan kepada-Nya.” (Azka)

 

Secara keseluruhan, film Tausiyah Cinta memang sangat patut mendapatkan apresiasi sebagai film dakwah pertama yang benar-benar menjaga dan menjunjung prinsip islam. Dan hal tersebut menjadikan film ini sebagai film yang sangat layak untuk ditonton. Karena boleh jadi, dari antusiasme besar kitalah kelak akan lahir film-film yang berisi prinsip-prinsip islam dimana kualitasnya tidak kalah dengan film-film box office, Aamiin. Silahkan menikmati film Tausiyah Cinta!

Rating :

Sinematografi : 6/10
Akting Tokoh Utama : 7/10
Skenario : 6/10
Musik : 8/10

Rating Keseluruhan 6.75/10