Monolog : Sakit

“Bisa saja kutulis segala rupa kosa kata paling kasar dan menyakitkan hati. Tak kulakukan. Sesederhana, karena itu artinya aku menikam hatiku sendiri. Amboi, betapa pilu.”

“Ya sudah, lupakanlah.”

“Ah, seharusnya kau tak kuajak bicara, bisakah sesekali kau hanya mendengarkan? tak usah komentar!”

“Benar-benar marah rupanya?”

“Tak usah bertanya.”

“Tadi tak boleh komentar, sekarang tak boleh bertanya. Kalau kata Gus Muh, “Aku harus bagaimana?””

“Kau ini, benar-benar!”

“Kata anak jaman sekarang, kau hanya perlu liburan.”

“Aku bukan anak alay!!”

“Tapi gelagatmu… lagipula kau sangat alamiah”

“Sialan!”

“Nah, kadang kau cantik kalau sedang marah”

“Kubalas kau nanti, aku sedang tak berselera menambah jumlah musuh”

“Tak akan kau lakukan, sudah, sana, istirahat”

“Kadang aku berdoa, supaya aku berhenti berbincang dengan diriku sendiri”

“Hahaha, hati-hati, nanti malah kebalikannya. Kau akan beranak pinak, pasti seru, pasti gaduh”

“Gawat, bisa porak-poranda pikiranku”

 

13 Oktober 2015