Nasihat : Nikmat Penglihatan dari Allah

Sumber Gambar : drthomasphillips.com
Sumber Gambar : drthomasphillips.com

Terlalu banyak yang dipikir, bisa jadi itu semua karena kurang zikir. Kadang manusia itu aneh, dikasih penglihatan untuk melihat tanda-tanda kebesaran Allah, malah dipakai untuk melihat yang diharamkan oleh Allah. Misalnya, asyik memanjakan syahwat dengan melihat aurat atau melihat tontonan yang sama sekali tidak ada manfaat bagi hidup kita. Padahal, Allah anugerahkan mata untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah.

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Surat Al-A’raf Ayat 179)

Mu’adz, seorang anak 11 tahun yang hafal quran 30 juz, bersungguh-sungguh dalam usaha penghafalannya. Setiap hari menempuh 20 km oleh sang ayah hanya untuk bisa belajar Alquran. Di hari pertamanya hanya diminta setor satu ayat, begitu seterusnya. Jika pada pertemuan berikutnya ada kesalahan pembacaan, ia diminta untuk kembali keesokan harinya. Putus asa?, kalau bukan karena pertolongan Allah dan dukungan kedua orang tua, tentu Mu’adz sudah menghentikan cita-citanya untuk menjadi seorang penghafal Quran.

Yang menarik perhatian, Mua’dz dikaruniai Allah mata yang tidak bisa melihat. Sehingga ketika Mu’adz telah menyelesaikan hafalan 30 juznya, kisahnya menjadi perhatian banyak orang sampai ia berkesempatan diwawancarai oleh Syaikh Fahd Al-Kanderi dari salah satu stasiun televisi.

Dan, kisah-nya pun menjadi inspirasi dan renungan banyak orang ketika Mu’adz menceritakan betapa ia merasa bersyukur bahwa Allah ‘mengambil penglihatannya’.

“Alhamdulillah, Dia telah memberikanku nikmat dengan mengambil penglihatanku. Subhanallah…Alhamdulillah.., Dalam salat, saya sama sekali tidak pernah berdoa agar Allah mengembalikan penglihatanku”.

Ketika ditanya mengapa, Mu’adz melanjutkan :

“Agar saya dapat memohon pengampunan Allah kelak di hari kiamat. Hingga Allah akan meringankan sebagian adzabku (andai diriku nanti diadzab).”

“Kelak aku akan berdiri di hadapan-Nya dalam keadaan bergetar dan ketakutan. Lalu Dia bertanya kepadaku, “Apa yang telah kamu lakukan dengan Al-Quran?”, semoga Allah mau meringankan siksaanku, dan Allah merahmati siapapun yang dikehendaki-Nya. Dia telah memberikan nikmat Al-quran kepadaku dan Alhamdulillah apabila saya ingin pergi kemana bila saya mau, saya dapat pergi seorang diri, akan tetapu ayahku mencemaskanku.”

Penjelasan Mu’adz membuat penanya bergetar sampai melelehkan air mata, dan juga semua kru yang berada disana. Kemudian Syaikh Fahd Al-Kander mengajak kita semua merenungkan,

“Pada saat ini, saya teringat banyak kaum muslimin yang mampu melihat namun bermalas-malasan dalam menghafal kitab Allah, Al-Quran. Ya Allah, bagaimana alasan mereka besok (di hadapan-Mu)?”

Semoga kita bisa melihat hal ini sebagai tanda-tanda kekuasaan Allah, supaya kita senantiasa memperbaiki diri dan meningkatkan taqwa kita kepada Allah.

 

Depok, 25 Januari 2017

Silmina Ulfah