Nasihat : Tidak Cukup dengan Aamiin.

IMG_20170213_032139

Sering kali kita mendengar seorang menceritakan teladan-teladan dan menyisipkan harapan semoga kita semua yang mendengarkan cerita tersebut bisa juga mendapatkan kebaikan dari Allah. Kemudian biasanya, para penyimak akan kompak berkata “Aamiin..”. Aamiin memiliki arti singkat Kabulkan doa kami. Ini berdasarkan fi’il (kata kerja salam Bahasa Arab) merupakan permohonan kepada Allah SWT agar doa kita diijabahkan oleh-Nya.

Persoalannya adalah, Tidak cukup dengan kata Aamiin. Tidaklah sebuah ilmu sampai kepada kita melainkan Allah menghendaki kita untuk mempraktekkan ilmu tersebut. Tidak juga akan sampai ilmu kepada kita melainkan kelak akan dimintakan pertanggung jawaban atas respon kita terhadap hidayah Allah tersebut.

Semua orang ingin berakhir di surga-Nya Allah, surga firdaus, surga tertinggi. Tapi setiap hari apakah kita sudah benar-benar serius merencanakan ibadah-ibadah kita kepada Allah?

Apakah kita sudah menyempurnakan setiap amal yang kita kerjakan? Apakah hati ini sudah ikhlas dan niat ini terjaga dari segala bentuk riya? Apakah kita sudah bertaubat atas segala kekeliruan yang sudah kita kerjakan? mulai dari maksiat yang dilakukan oleh mata, telinga, mulut, tangan, kaki dan hati?

Tidak cukup dengan Aamiin. Sungguh, betapa beruntung orang-orang diberikan kenikmatan dalam mengerjakan ibadahnya. Tidakkah kita iri dengan orang-orang yang mendapatkan kenikmatan dari tangisan dalam sujud sholat tahajudnya? sedangkan kita, berkemul tak peduli mengabaikan janji Allah yang disediakan bagi orang-orang yang bangun malam?

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ اْلآخِرِ، فَيَقُوْلُ: مَنْ يَدْعُوْنِي فَأَسْتَجِيْبَ لَهُ، وَمَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ.

“Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun pada setiap malam ke langit dunia ketika tinggal sepertiga malam, seraya menyeru: ‘Siapa yang berdo’a kepada-Ku, maka Aku memperkenankan do’anya, siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku memberinya, dan siapa yang memohon ampunan kepada-Ku, maka Aku mengampuninya.”

HR. Al-Bukhari (no. 7494), Muslim (no. 758 (168)), at-Tirmidzi (no. 3498), Abu Dawud (no. 1315, 4733) dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah (no. 492) dan Ibnu Khuzaimah dalam kitab at-Tauhiid (I/280).

Betapa Maha Baik Allah yang setiap harinya sudah mengingatkan kita manusia untuk bangun pada malam hari dan memberikan kesempatan kepada kita untuk dikabulkan doanya dan diampuni dosanya.

Boleh jadi kesulitan kita untuk bangun pada tiap sepertiga malam disebabkan oleh maksiat kita yang kita kerjakan. Atau bisa juga karena kita tidak tahu akan keutamaan bangun malam ini. Namun apapun alasannya, ketika kita sudah diberikan ilmu dan pengetahuan oleh Allah tentang keutamaan orang-orang yang mendirikan tahajud. Hendaklah ia menunaikannya, dan berdoa agar senantiasa istiqomah dalam pengerjaannya.

Tidak cukup dengan Aamiin.

Bangun dan sholatlah!

Silmina Ulfah – Depok, 21 Februari 2017