Nasihat : Tinggalkan Hal Yang Tidak Bermanfaat

Sumber Gambar : lovemeow.com
Sumber Gambar : lovemeow.com

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:«مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ». حَدِيْثٌ حَسَنٌ, رَوَاهُ التِّرْمِذِي وَغَيْرُهُ هَكَذَا.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di antara tanda kebaikan keIslaman seseorang: jika dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (Hadits hasan, diriwayatkan oleh at-Tirmidzi no. 2318 dan yang lainnya)

Salah satu cita-cita yang harus kita periksa setiap hari adalah kesungguhan diri untuk bisa berubah lebih baik dari waktu ke waktu. Tiadalah sempurna setiap ilmu dan pembelajaran yang Allah sudah limpahkan jika tidak dibarengi dengan upaya nyata dalam rangka menjalankan segala tuntunan-tuntunan-Nya.

Terutama dalam menjaga lisan dalam pertemanan. Teman yang baik adalah teman yang senantiasa mengingatkan untuk bertaqwa kepada Allah, lalu teman tersebut senantiasa saling menasihati untuk berlaku benar dan bersabar.

Tidak semua perbincangan mendatangkan faedah. Kita sebagai manusia yang diberi akal dan hati, sebaiknya sering-sering menelisik dan memeriksa setiap keputusan saat ingin bicara, apakah memang benar-benar ada manfaatnya? Jika tidak, lebih baik diam, atau tinggalkan.

“Ketahuilah, seyogianya setiap muslim berusaha untuk selalu menjaga lisannya dari segala macam bentuk ucapan, kecuali ucapan yang mengandung maslahat. Jikalau dalam suatu ucapan, maslahat untuk mengucapkannya dan maslahat untuk meninggalkannya adalah sebanding, maka yang disunnahkan adalah meninggalkan ucapan tersebut. Sebab perkataan yang diperbolehkan terkadang membawa kepada perkataan yang diharamkan atau yang dimakruhkan. Dan hal itu sering sekali terjadi. Padahal keselamatan (dari hal-hal yang diharamkan atau dimakruhkan) adalah sebuah (mutiara) yang tidak ternilai harganya.” (Riyadh ash-Shalihin, hal: 483)

Setiap keputusan mungkin saja akan menimbulkan resiko atau pertanyaan dari orang-orang disekeliling kita. Jelaskan dengan sebaik mungkin, barengi dengan cara yang baik dan senyuman. Tapi apapun resikonya, yakinlah bahwa setiap keputusan kita memang sudah sesuai dengan prinsip yang kita anut. Bukan hanya karena ikut-ikutan, ataupun emosi belaka.

Depok, 23 Januari 2017

Silmina Ulfah