Mempertanyakan Konsistensi

Pernah tidak, rasanya kau ingin sekali menulis sesuatu, namun tidak juga tertulis karena tidak tahu  mau mulai dari mana. Karena begitu banyak jendela-jendela dipikiran kita yang minta diperhatikan dan merasa layak untuk dituliskan terlebih dahulu. Menjadi manusia bermanfaat itu memang tantangan yang bukan main-main. Kita tidak hanya diminta untuk sekedar menyelesaikan pekerjaan saja, tapi juga meningkatkan hasil pekerjaan sehingga manfaatnya bisa semakin luas dirasakan oleh orang lain.

Kadang saya sendiri juga bertanya-tanya, mengapa begitu banyak orang yang seolah-olah menginginkan mendapatkan ini itu tanpa terlebih tahu apa tujuannya. Tujuan sangat penting, niat juga tidak kalah penting. Mau sebanyak dan setinggi apapun pencapaian kita, kalau kitanya tidak tahu itu untuk apa, jangan menyesal kalau nanti ujung-ujungnya mengeluh dan menyerah, sia-sia sudah semua perkara.

Ya kadang saya juga masih bertanya-tanya kenapa saya begitu ingin menulis dan menjadi penulis. Bertanya-tanya motifnya sampai-sampai tidak selesai satu tulisanpun pada akhirnya. Lima tahun lalu saya pernah membuat semacam target untuk bisa menerbitkan satu buah buku dalam tiga tahun. Nyatanya, ini sudah lebih mundur dua tahun dari rencana dan belum ada sebuah buku pun yang terbit.

Tapi satu hal yang ingin saya yakinkan pada diri saya sendiri. Yakni bahwa menulis adalah tentang menyelam-nyulam makna yang sudah dipelajari. Menyuarakan batin dan suara hati. Menasehati diri sendiri dan generasi. Karena jasad akan mati, namun karya akan abadi.

Silmina Ulfah | Depok, 24 Maret 2017

Nasihat : Mengingat Nama-Nya

Kenikmatan dalam merasakan cinta-Nya Allah adalah sebenar-benarnya nikmat. Apalah kita di dunia ini? kita adalah mahluk yang hanya diminta untuk beribadah kepada-Nya. Mahluk yang diminta dalam setiap tarikan nafasnya mengingat Allah, dalam setiap kehendak aktivitasnya untuk Allah, selamanya.

Apakah kita kecewa pada manusia? tidak. Kita tidak akan pernah sekalipun kecewa pada manusia kalau kita tidak berharap darinya. Kita tidak akan pernah merasa disakiti ataupun dikhianati oleh manusia kalau kita tidak bersandar pada mereka. Kitalah yang keliru dalam memandang itu semua.

Kita kecewa karena kita jauh dari Allah. Kita merasa disakiti karena kita tidak selalu berusaha dalam setiap detiknya untuk bisa mengingat nama-Nya.

Silmina Ulfah | Depok, 8 Maret 2017

Nasihat : Apakah Kita Akan Begini-Begini Saja?

Begitu banyak orang berkata ingin mencapai keselamatan dunia dan akhirat. Tapi untuk perkara menjaga hati dan pikiran dari buruknya prasangka saja tak mampu ia jaga. Bukankah kita sering membaca sekalimat “…kebanyakan mereka tidak mau memikirkan”, “..kebanyakan manusia tidak beriman”, “…kebanyakan manusia tidak bersyukur”, “…kebanyakan manusia tidak memperhatikan.” dan “kebanyakan-kebanyakan” lainnya?

Apakah kita akan masuk ke dalam orang yang banyak itu? Atau kita memutuskan untuk menjadi bagian yang “sedikit”?

Kosa kata apa lagi yang Allah perlu sampaikan kepada kita supaya kita mau menurut pada-Nya? Perumpamaan dan tanda-tanda apa lagi yang akhirnya harus Allah munculkan dikepala kita untuk kita renungi supaya tidak ada sedetikpun pikiran kita kecuali dzikir? Tidak ada lagi aktivitas sia-sia yang kita kerjakan sehingga melalaikan yang seharusnaya kita tunaikan? Apa lagi?

Yang sedikit itu, memilih sabar ketika terasa diuji. Yang sedikit itu, memilih sedikit makan dan tidur untuk memaksimalkan ibadah-ibadah sunnah. Yang sedikit itu, memikirkan hak-hak orang lain yang Allah titipkan pada harta dan jiwa kita. Yang sedikit itu, menahan amarah dan dan lembut dalam berkata-kata.

Atau apakah kita akan begini-begini saja?

Silmina Ulfah | Depok, 3 Maret 2017

Pada Suatu Pagi

Pada suatu pagi yang anginnya menusuk tulang. Ia berjalan menyusuri pelataran yang lantainya dingin, tanpa alas kaki. Tiada alasan kecuali sebuah keyakinan bahwa Tuhan-Nya yang memerintahkan. Tiada keinginan selain iman islam dan ampunan.

Bersamanya, ditinggalkan segala perkara dunia. Meski perkara itu sebelumnya ia lakukan bukan untuk dunianya. Alih-alih demikian, belakangan ia kesulitan memilah siapa sebenarnya yang lebih utama. Allah, atau persoalan yang ada dihadapannya.

Robbighfirli, Warhamni, Wajburni, Warfa’ni, Warzuqni, Wahdini, Wa’afinii, Wa’fuannii

Tuhanku ampuni aku, sayangi aku, tutuplah aib-aibku, angkatlah derajatku, berilah aku rizqi, berilah aku petunjuk, sehatkan aku, maafkan aku.

Depok, 23 Februari 2017 | Silmina Ulfah

Nasihat : Tidak Cukup dengan Aamiin.

IMG_20170213_032139

Sering kali kita mendengar seorang menceritakan teladan-teladan dan menyisipkan harapan semoga kita semua yang mendengarkan cerita tersebut bisa juga mendapatkan kebaikan dari Allah. Kemudian biasanya, para penyimak akan kompak berkata “Aamiin..”. Aamiin memiliki arti singkat Kabulkan doa kami. Ini berdasarkan fi’il (kata kerja salam Bahasa Arab) merupakan permohonan kepada Allah SWT agar doa kita diijabahkan oleh-Nya.

Persoalannya adalah, Tidak cukup dengan kata Aamiin. Tidaklah sebuah ilmu sampai kepada kita melainkan Allah menghendaki kita untuk mempraktekkan ilmu tersebut. Tidak juga akan sampai ilmu kepada kita melainkan kelak akan dimintakan pertanggung jawaban atas respon kita terhadap hidayah Allah tersebut.

Semua orang ingin berakhir di surga-Nya Allah, surga firdaus, surga tertinggi. Tapi setiap hari apakah kita sudah benar-benar serius merencanakan ibadah-ibadah kita kepada Allah?

Apakah kita sudah menyempurnakan setiap amal yang kita kerjakan? Apakah hati ini sudah ikhlas dan niat ini terjaga dari segala bentuk riya? Apakah kita sudah bertaubat atas segala kekeliruan yang sudah kita kerjakan? mulai dari maksiat yang dilakukan oleh mata, telinga, mulut, tangan, kaki dan hati?

Tidak cukup dengan Aamiin. Sungguh, betapa beruntung orang-orang diberikan kenikmatan dalam mengerjakan ibadahnya. Tidakkah kita iri dengan orang-orang yang mendapatkan kenikmatan dari tangisan dalam sujud sholat tahajudnya? sedangkan kita, berkemul tak peduli mengabaikan janji Allah yang disediakan bagi orang-orang yang bangun malam?

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ اْلآخِرِ، فَيَقُوْلُ: مَنْ يَدْعُوْنِي فَأَسْتَجِيْبَ لَهُ، وَمَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ.

“Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun pada setiap malam ke langit dunia ketika tinggal sepertiga malam, seraya menyeru: ‘Siapa yang berdo’a kepada-Ku, maka Aku memperkenankan do’anya, siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku memberinya, dan siapa yang memohon ampunan kepada-Ku, maka Aku mengampuninya.”

HR. Al-Bukhari (no. 7494), Muslim (no. 758 (168)), at-Tirmidzi (no. 3498), Abu Dawud (no. 1315, 4733) dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah (no. 492) dan Ibnu Khuzaimah dalam kitab at-Tauhiid (I/280).

Betapa Maha Baik Allah yang setiap harinya sudah mengingatkan kita manusia untuk bangun pada malam hari dan memberikan kesempatan kepada kita untuk dikabulkan doanya dan diampuni dosanya.

Boleh jadi kesulitan kita untuk bangun pada tiap sepertiga malam disebabkan oleh maksiat kita yang kita kerjakan. Atau bisa juga karena kita tidak tahu akan keutamaan bangun malam ini. Namun apapun alasannya, ketika kita sudah diberikan ilmu dan pengetahuan oleh Allah tentang keutamaan orang-orang yang mendirikan tahajud. Hendaklah ia menunaikannya, dan berdoa agar senantiasa istiqomah dalam pengerjaannya.

Tidak cukup dengan Aamiin.

Bangun dan sholatlah!

Silmina Ulfah – Depok, 21 Februari 2017

 

Nasihat : Nikmat Penglihatan dari Allah

Sumber Gambar : drthomasphillips.com
Sumber Gambar : drthomasphillips.com

Terlalu banyak yang dipikir, bisa jadi itu semua karena kurang zikir. Kadang manusia itu aneh, dikasih penglihatan untuk melihat tanda-tanda kebesaran Allah, malah dipakai untuk melihat yang diharamkan oleh Allah. Misalnya, asyik memanjakan syahwat dengan melihat aurat atau melihat tontonan yang sama sekali tidak ada manfaat bagi hidup kita. Padahal, Allah anugerahkan mata untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah.

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Surat Al-A’raf Ayat 179)

Mu’adz, seorang anak 11 tahun yang hafal quran 30 juz, bersungguh-sungguh dalam usaha penghafalannya. Setiap hari menempuh 20 km oleh sang ayah hanya untuk bisa belajar Alquran. Di hari pertamanya hanya diminta setor satu ayat, begitu seterusnya. Jika pada pertemuan berikutnya ada kesalahan pembacaan, ia diminta untuk kembali keesokan harinya. Putus asa?, kalau bukan karena pertolongan Allah dan dukungan kedua orang tua, tentu Mu’adz sudah menghentikan cita-citanya untuk menjadi seorang penghafal Quran.

Yang menarik perhatian, Mua’dz dikaruniai Allah mata yang tidak bisa melihat. Sehingga ketika Mu’adz telah menyelesaikan hafalan 30 juznya, kisahnya menjadi perhatian banyak orang sampai ia berkesempatan diwawancarai oleh Syaikh Fahd Al-Kanderi dari salah satu stasiun televisi.

Dan, kisah-nya pun menjadi inspirasi dan renungan banyak orang ketika Mu’adz menceritakan betapa ia merasa bersyukur bahwa Allah ‘mengambil penglihatannya’.

“Alhamdulillah, Dia telah memberikanku nikmat dengan mengambil penglihatanku. Subhanallah…Alhamdulillah.., Dalam salat, saya sama sekali tidak pernah berdoa agar Allah mengembalikan penglihatanku”.

Ketika ditanya mengapa, Mu’adz melanjutkan :

“Agar saya dapat memohon pengampunan Allah kelak di hari kiamat. Hingga Allah akan meringankan sebagian adzabku (andai diriku nanti diadzab).”

“Kelak aku akan berdiri di hadapan-Nya dalam keadaan bergetar dan ketakutan. Lalu Dia bertanya kepadaku, “Apa yang telah kamu lakukan dengan Al-Quran?”, semoga Allah mau meringankan siksaanku, dan Allah merahmati siapapun yang dikehendaki-Nya. Dia telah memberikan nikmat Al-quran kepadaku dan Alhamdulillah apabila saya ingin pergi kemana bila saya mau, saya dapat pergi seorang diri, akan tetapu ayahku mencemaskanku.”

Penjelasan Mu’adz membuat penanya bergetar sampai melelehkan air mata, dan juga semua kru yang berada disana. Kemudian Syaikh Fahd Al-Kander mengajak kita semua merenungkan,

“Pada saat ini, saya teringat banyak kaum muslimin yang mampu melihat namun bermalas-malasan dalam menghafal kitab Allah, Al-Quran. Ya Allah, bagaimana alasan mereka besok (di hadapan-Mu)?”

Semoga kita bisa melihat hal ini sebagai tanda-tanda kekuasaan Allah, supaya kita senantiasa memperbaiki diri dan meningkatkan taqwa kita kepada Allah.

 

Depok, 25 Januari 2017

Silmina Ulfah

 

Nasihat : Tinggalkan Hal Yang Tidak Bermanfaat

Sumber Gambar : lovemeow.com
Sumber Gambar : lovemeow.com

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:«مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ». حَدِيْثٌ حَسَنٌ, رَوَاهُ التِّرْمِذِي وَغَيْرُهُ هَكَذَا.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di antara tanda kebaikan keIslaman seseorang: jika dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (Hadits hasan, diriwayatkan oleh at-Tirmidzi no. 2318 dan yang lainnya)

Salah satu cita-cita yang harus kita periksa setiap hari adalah kesungguhan diri untuk bisa berubah lebih baik dari waktu ke waktu. Tiadalah sempurna setiap ilmu dan pembelajaran yang Allah sudah limpahkan jika tidak dibarengi dengan upaya nyata dalam rangka menjalankan segala tuntunan-tuntunan-Nya.

Terutama dalam menjaga lisan dalam pertemanan. Teman yang baik adalah teman yang senantiasa mengingatkan untuk bertaqwa kepada Allah, lalu teman tersebut senantiasa saling menasihati untuk berlaku benar dan bersabar.

Tidak semua perbincangan mendatangkan faedah. Kita sebagai manusia yang diberi akal dan hati, sebaiknya sering-sering menelisik dan memeriksa setiap keputusan saat ingin bicara, apakah memang benar-benar ada manfaatnya? Jika tidak, lebih baik diam, atau tinggalkan.

“Ketahuilah, seyogianya setiap muslim berusaha untuk selalu menjaga lisannya dari segala macam bentuk ucapan, kecuali ucapan yang mengandung maslahat. Jikalau dalam suatu ucapan, maslahat untuk mengucapkannya dan maslahat untuk meninggalkannya adalah sebanding, maka yang disunnahkan adalah meninggalkan ucapan tersebut. Sebab perkataan yang diperbolehkan terkadang membawa kepada perkataan yang diharamkan atau yang dimakruhkan. Dan hal itu sering sekali terjadi. Padahal keselamatan (dari hal-hal yang diharamkan atau dimakruhkan) adalah sebuah (mutiara) yang tidak ternilai harganya.” (Riyadh ash-Shalihin, hal: 483)

Setiap keputusan mungkin saja akan menimbulkan resiko atau pertanyaan dari orang-orang disekeliling kita. Jelaskan dengan sebaik mungkin, barengi dengan cara yang baik dan senyuman. Tapi apapun resikonya, yakinlah bahwa setiap keputusan kita memang sudah sesuai dengan prinsip yang kita anut. Bukan hanya karena ikut-ikutan, ataupun emosi belaka.

Depok, 23 Januari 2017

Silmina Ulfah

Pernikahan : Memaknai Kembali Arti Sebuah Rumah

Sumber Gambar dailymotion.com
Sumber Gambar dailymotion.com

[Pernikahan]. Kadang kita terlalu banyak memikirkan hal-hal yang sifatnya hanya sebatas penambahan nilai estetik. Bukan lagi memikirkan yang fungsional memang benar-benar saat ini sedang kita butuhkan dalam keseharian hidup kita.

Kalau dipikir-pikir, selama setelah menikah, saya dipusingkan dengan pikiran untuk segera bisa membeli sebuah rumah untuk keluarga baru kami. Setiap ada brosur dan iklan yang bergelimangan, saya selalu memutar otak bagaimana bisa memiliki salah satu diantaranya.

Kemudian setelah itu saya akan browsing bagaimana meningkatkan penghasilan untuk pengadaan uang muka rumah tersebut. Dengan tergesa-gesa karena seperti dikejar dengan promo-promo yang menggiurkan jika tidak mau kehabisan karena tenggat waktu yang diberikan biasanya tidak lebih dari sebulan. Lalu ditambah dengan bayang-bayang jika terlalu lama, harga akan semakin naik-naik ke puncak gunung. Sungguh melelahkan dan menyisakan kecemasan.

Lalu muncul rasa tidak puas terhadap pencapaian yang sudah didapatkan hingga kini. Dan mulai membandingkan diri dengan kehidupan teman-teman yang ‘terlihat’ lebih hijau karena sudah mampu memiliki rumah sendiri. Lalu muncul prasangka-prasangka yang lama kelamaan perasaan tersebut lebih mirip dengan rasa iri. Kalau bukan karena pertolongan Allah, tentu perasaan iri tersebut sudah menjelma dengki dan sirik. (Naudzubillahimindzalik)

Membaca-baca pengalaman orang lain yang memiliki nasib serupa. Sayapun berangsur-angsur menjadi kalem menghadapi keinginan untuk bersegera memiliki rumah. Dan kecenderungan justru teralihkan dengan keingintahuan tentang bagaimana melakukan perencanaan dan pengelolaan keuangan rumah tangga.

Saya juga terinspirasi dari pengalaman perjuangan orang-orang yang terjerat riba saat melakukan kredit rumah. Mencari-cari tahu tentang bahaya riba. Juga tentang sistem bias yang ditawarkan oleh bank label syariah yang sistemnya ternyata 11-12 dengan bank konvensional. Saya terinspirasi dan tidak ingin terjerumus kedalam perkara yang sama. Semoga Allah tidak menjadikan kami sebagai golongan manusia yang lalai sehingga dengan mudahnya memasukkan perkara yang haram kedalam hidup kami.

Lalu Allah memperingati saya dengan ayat populer ini,

فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

Mungkin saja kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak pada sesuatu itu.

(QS. An-Nisa (4) : 19) – Petikan ayat

Ya. Mungkin saja  saya tidak menyukai rasa khawatir ini, padahal pada saat yang sama, Allah sedang menjadikan kebaikan yang banyak pada rasa itu. Bisa jadi, ketika saya memaksakan kehendak saya karena memandang baik kredit bank, Allah akan mengecap saya sebagai hamba yang tidak pandai bersyukur bahkan durhaka. Padahal, kondisi yang sekarang, sungguh Allah sudah memberikan rizqinya sehingga saya jauh dari kata kekurangan apalagi kelaparan.

Apa yang sebetulnya saya kejar? Apa yang sebetulnya saya cari? Apakah karena saya menjadikan bahagia hanya dengan terkabulnya setiap keinginan? Lalu bagaimana jika keinginan-keinginan itu menggiring diri ini kepada jurang dosa? Bagaimana jika keinginan-keinginan itu membuat diri menjadi jauh dari Allah? Apakah tidak nelangsa jika demikian?

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ

“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit” (QS. Al An’aam (6) : 125).

Cukuplah dengan lisan yang selalu meminta kepada Allah agar diri senantiasa diberikan petunjuk, sehingga Dia melapangkan dada kita untuk memeluk erat Agama ini (Islam).

Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan, maka akan dipahamkan agamanya. (Imam Bukhori –  Hadits no. 69)

Kesimpulan yang bisa saya tarik dari pemaknaan sebuah rumah, Rumah terbaik adalah rumah yang Allah ridha dengan pemiliknya, sehingga Allah melapangkan segala urusan sehingga pemiliknya bisa hidup dalam naungan Agama dan keberkahan.

Tinggal si pemilik rumah itu yang terus ikhtiar dengan bekal ketaqwaan dipundaknya.

Depok, 20 Januari 2017

Silmina Ulfah

*Pas lagi cari gambar rumah nabi Muhammad SAW, nemu animasi rumah Nabi dalam bentuk 3D di link ini. 

Nasihat : Jalan Keluar dari Semua Persoalan

Sumber Gambar : darussalaf.or.id
Sumber Gambar : darussalaf.or.id

Setiap manusia sudah pasti sedang menghadapi persoalan. Entah kemudian persoalan itu sulit atau mudah. Yang jelas, sesungguhnya tiada manusia normal di dunia ini yang tidak memiliki sebuah perkara untuk diselesaikan. Namun pada kenyataannya, terkadang kita lupa bahwa setiap persoalan, selalu datang bersama jawaban. Atau kita tidak lupa, tapi memilih untuk tidak percaya.

Dari kecil kita sudah belajar bahwa ternyata badai-badai bisa reda, ujian-ujian bisa terlewati. Meski memang, kadang hasilnya tidak sesuai dengan harapan. Toh itupun tidak mengapa, karena kemudian saya belajar bahwa setiap proses tidak pernah mengkhianati hasil.

Masalah itu bukan sesuatu untuk dikeluhkan. Terlebih jika kau keluhkan itu kepada manusia. Sama sekali bukan. Jika kita kesulitan menghadapi masalah, sesungguhnya kita sedang diminta ditingkatkan ikhtiarnya, sesuai dengan ilmu dan kemampuan yang Allah sudah titipkan pada kita selama ini.

Dampingi ikhtiar itu dengan ibadah yang baik. Sholatlah. Bukanlah Allah sudah janjikan kepada manusia beriman bahwa ketaqwaan selalu beriringan dengan sumber kebahagiaan?

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. (At-Talaq 65 : 2)

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (At-Talaq 65 : 3)

Bangkitlah dari pulasmu. Tambahkan rakaat dan sujudmu pada sepertiga malam. Sungguh, Allah adalah Tuhan yang tiada pernah mengingkari janjinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir, (kemudian) Dia berfirman, ‘Barang siapa berdoa kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan, barang siapa meminta kepada-Ku, niscaya akan Aku berikan, dan barang siapa memohon ampun kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni.’”

Muslim dalam Shahih-nya, kitab Shalatul Musafirin wa Qasriha, bab At-Targhib fid Du’a wal Dzikri fil Akhiril Lail wal Ijabati Fihi, no. 758.

Kembalikan semuanya kepada Allah. Karena Allah-lah sebaik-baik tempat kembali. Dekatkan diri pada Al-quran, niscaya selamat dalam kehidupan.

 

Depok, 17 Januari 2017
Silmina Ulfah

Nasihat : Perbanyak Membaca, Lalu Amalkan.

Awal tahun 2017. Dunia per-media-sosialan masih ramai dengan nyinyir-nyinyiran. Masih ramai pula dengan nyaring kicau-kicau orang-orang yang reaktif ketika membaca sebuah kepala berita. Kadang saya ya juga heran sama si penulis berita. Kok ya tega, menggunakan kosa kata yang pada akhirnya menyebabkan kericuhan sana-sini, hanya demi traffic yang lebih tinggi. Apalagi jika kepala berita ternyata tidak mencerminkan keseluruhan isi didalamnya, ini termasuk kedustaan bukan?

Saya jadi penasaran pekerjaan orang-orang yang setiap sepuluh menit sekali kirim-kirim berita halaman facebook-nya. Apa memang pekerjaannya hanya random klik terhadap sebuah berita lalu mengirimkannya kembali dihalamannya?

Saya yang sekarang sedang tertarik dengan fakta minat baca-nya orang Indonesia jadi geli sendiri melihat kenyataannya bahwa ternyata Indonesia masuk jajaran negara paring cerewet didunia maya.

Nak, Pesan Ibu : Perbanyak membaca ilmu yang bermanfaat ya nak. Lalu amalkan setahap demi setahap sehingga kebaikan yang kau dapat dari ilmu yang kau kejar itu, menjadi bekal penolongmu di akhirat nanti. Tidak perlu banyak bicara untuk gagah-gagahan. Tidak perlu.

Cukuplah Nabi Muhammad SAW menjadi suri tauladan kita nak.