Mengatur Prioritas

Movement Photos by Guido Mocafico

Movement Photos by Guido Mocafico

Proses hidup adalah proses belajar dan mengevaluasi. Proses percobaan dan mencoba kembali ketika apa yang diharapkan belumlah tercapai. Hidup sendiri pun, adalah proses menyelami makna, sehingga kita sampai pada momen menemukan tujuan pengembaraan. Seringkali kita mempersulit diri untuk sampai pada tujuan, penyebabnya bukan lain adalah inkonsistensi diri. Terjebak pada rutinitas yang bukan merupakan bagian dari proses pengembaraan. Terjebak dalam situasi yang sebetulnya bisa saja kita hindari.

Sedari membuka mata ketika pagi hari, hidup adalah selalu tentang pilihan. Pilihan apakah akan beranjak, atau 5 menit lagi. Lalu berangsur-angsur memilih, apakah menyiapkan sarapan dulu, atau mandi?. Begitu seterusnya. Dengan iringan tik-tak-tik-tak waktu yang sama sekali tidak bisa diajak kompromi kalau-kalau ada pilihan yang ingin diulang pada waktu sebelumnya, sehingga menyebabkan efek domino yang tidak jarang menyulitkan tahapan proses yang ada di depannya.

Prioritas.

Apakah kegiatan mengatur prioritas adalah sebuah prioritas itu sendiri? saya pun sedang menyelami kedalamnya. Jika setiap manusia ini diciptakan untuk menjadi sebaik-baik manusia, maka yang harus dilakukan adalah menjadi manusia yang banyak-banyak memberikan manfaat kepada orang atau lingkungannya. Jika demikian adanya, maka ada sebuah peran dalam diri masing-masing manusia.

Ya. Setiap diri memiliki peran. Setiap diri memiliki sebuah hal yang harus ia kerjakan dan kontribusikan. Lalu jika ada orang yang lalai dalam menyelami apa yang seharusnya diperani, maka kemungkinan besar, orang tersebut memandang dirinya adalah sebagai sebuah dampak kehidupan. Bukan penggerak apalagi pencipta dampak kehidupan.

Apakah kita sudah memiliki peran spesifik dalam hidup? atau justru kita masih ber-entah-entah dan melewati hidup tanpa menjadikan diri kita sebagai “Manusia dengan Peran” sebagai prioritas?

Berperanlah.

Depok, 28 November 2016

Jangan Sampai

Jangan sampai hanya karena perkataan dan komentarmu yang kau kirim dan sebar-sebarkan ke khalayak itu kemudian menjadikan seseorang ragu untuk mendekat dan mengenali ilmu agamanya sendiri.

Jangan sampai gara-gara gaya berpikir kausalitasmu itu membuat orang lain menjadi membenci orang-orang yang sudah berpuluh tahun mengabdikan dirinya untuk beribadah kepada Allah.

Jangan sampai gara-gara opini gagah-gagahan yang super realistik itu menjadikan kau membenci orang-orang yang hendak belajar ilmu agama sembari berkata, hati-hati, nanti kau jadi kolot.

Jangan ya.

Depok, 3 November 2016

Apakah Kita?

Apakah kita telah terlupa dengan tujuan kita? Apakah kita sudah sedia jika Allah yang maha kuasa dengan serta merta menyudahi hidup kita? Apa yang kelak kita akan tunjukkan kepada-Nya? Apakah kita akan tertanam dibawah nisan dengan bangga? atau sia-sia? Ah betapa menyesalnya jika memang demikian.

Sebaik-baik pengajaran adalah dengan teladan. Dan pelajarilah, sudah ribuan teladan yang semasa hidupnya adalah menjadi hamba-hamba Tuhan. Menyuarakan apa perintah dan nilai-nilai yang Allah ajarkan lewat amalan kehidupan.

Setiap perubahan diawali dengan pemikiran. Jaga baik-baik pikiran sedari awal.

Depok, 27 September 2016

Tentang Berkeluh Kesah

Berkeluh kesah itu buruk untukmu. Tapi baik ketika keluh kesahmu itu disampaikan kepada pemilik hidup.

Tidak perlu kecewa karena Allah percaya apa yang sedang kita derita. Tak perlu khawatir karena Allah sebaik-baik pelindung.

Kuatkan dirimu untuk tidak bergantung pada keadaan dan mahluknya. Karena tiada daya upaya melainkan dari sisi Allah.

Berkeluh kesahlah, dan awali keluh kesah itu dengan istighfar.

 

Depok

22 September 2016

 

 

Cermin

Jika ada orang yang paling banyak kesalahannya, itu adalah saya orangnya.

Sebelum menjustifikasi orang lain, marilah kita coba melihat betul-betul ke dalam diri kita. Seperti saat bercermin, mungkin jarang dari diri kita melihat kurangnya, lebih banyak mengabaikan kurangnya lalu merasa baik-baik saja. Sama seperti hidup bersama orang lain. Apakah kita termasuk orang yang lekas menyimpulkan? atau mungkin lebih parah? apakah kita sudah setiap saat mengoreksi diri dari kekurangan? atau lebih sering membuat catatan panjang daftar kesalahan orang lain? Menuntut hak dari orang lain?

Mungkin diri kita terlalu sombong untuk mengakui benih-benih kesombongan yang mulai muncul didalam hati. Kita mungkin lantang meneriakkan tidak peduli dengan omongan orang lain. Tapi jelas-jelas perasaan merasa diremehkan itulah yang dimana asal muasal kesombongan itu bermula. Kita mengaku membawa perubahan, tapi kebiasaan-kebiasaan buruk kita tidak selalu kita rubah. Membicarakan kesalahan orang, keburukan orang, aib orang, malas belajar, tidak disiplin dan selalu beralasan. Tidak berani mengakui dan lupa bahwasannya apa yang ada disekeliling kita adalah cermin bagi kita. Atau yang lebih parah, yakni, kita lupa siapa jati diri kita sebenarnya.

Jangan-jangan kita tidak sadar bahwa kita sedang mempersiapkan bom waktu untuk diri kita sendiri. Di kemudian hari, apa yang kita kerjakan hari ini, pastilah akan dimintai pertanggung jawabannya. Semoga kita selalu menjadi manusia yang berdoa sebelum bertindak, meminta keridhoan Allah sebelum memutuskan hendak bicara dan berlaku apa. Semoga tidak ada penyesalan dikemudian hari.

Ya, memang tidak ingin dipuji kau katakan. Tapi diri selalu haus akan perhatian. Hati selalu butuh pembenaran. Bukankah kita terlalu sering melakukan hal-hal yang diluar kewajiban? ketimbang mempersiapkan diri dari berbagai perubahan?

Depok, 14 September 2016

Kutipan dan Komentar : The Book of Character | Bagian Satu

Sumber : abduzeedo.com

Sumber : abduzeedo.com

Halaman 141 

“Misalnya, kau ingin bertaubat dan berhenti melakukan dosa. Sering kali hasrat terpuji ini dirumitkan oleh pikiranmu sendiri. Apakah keinginanmu itu semata-mata karena Allah, karena takut dan cinta kepada-Nya? Jika benar, kau akan bersungguh-sungguh meninggalkan dosa karena takut kepada Allah yang Maha Melihat dan Maha Mengetahui, bahkan tatkala engkau sendirian. Ataukah kau bertaubat karena merasa malu dan menghindari celaan manusia? Atau mungkin kau ingin memberi kesan yang baik kepada anak-anak, keluarga, atau kawan-kawan, dan tidak ingin mereka meniru perbuatan burukmu sehingga kau berusaha berperilaku sesuai dengan aturan agama? Ataukah kau takut dikucilkan, ditolak, bahkan dihukum oleh masyarakat? Atau mungkin tujuanmu hanya agar orang-orang tidak menggunjingkanmu?

Apabila kau memang tulus, semestinya kau tidak memedulikan pujian atau celaan mereka. Memang wajar dan alami jika kita merasa takut dan terluka oleh celaan dan kritikan orang lain. Namun seringkali kritikan dan celaan mereka itu mengandung kebenaran. Kita merasa pedih melihat cela dan kekurangan diri kita. Rasa sedih itu akan mendorong kita berusaha memperbaiki diri. Tindakan seperti ini dibenarkan. Sikap yang tidak dibolehkan adalah menolak mentah-mentah kritik dan celaan mereka.”

Ada beberapa manusia  yang merasa gengsi untuk berubah. Gengsi karena menolak kebenaran dari kritik dan cela yang dilayangkan pada manusia tersebut. Supaya tidak berprasangka mari kita sebut manusia itu adalah kita. Setelah mendapat cela dan kritikan, barulah kita sadari bahwasannya kadar kebenaran dari kalimat kritik yang dilayangkan tersebut adalah 90% benar adanya. Permasalahannya, tinggal di kitanya. Mau diolah ataukah mau disangkal. Menyangkal tidak selalu dengan mengatakan tidak. Tapi menggunakan alasan dan permasalahan lain untuk menutupi issue utama, itu juga termasuk bentuk penyangkalan. Atau yang parah, membandingkan orang lain dengan diri kita, menganggap diri kita lebih baik.

Memperbaiki diri tidak semudah memperbaiki kata-kata yang ditulis menggunakan pensil. Tidak semudah menghapusnya dengan penghapus karet. Memperbaiki adalah proses hidup manusia yang melewati olah pikir, pengolahan kata yang kemudian menjadi doa-doa yang tertutur kepada Yang Maha Segalanya dan akhirnya berwujud tindakan kita dalam melewatinya. Proses dari perbaikan adalah perubahan. Perubahan adalah perbedaan kondisi sebelum dan setelah proses perbaikan. Boleh jadi menurutmu (dan menurutnya) lebih baik, biasa saja atau bahkan malah lebih buruk. Pendapat apapun sah-sah saja. Karena yang utama adalah niat suci lillahitaala semata yang dinilai. Berubah untuk-Nya. Lebih baik untuk-Nya. Karena kita ini cuma hamba. Hamba-Nya semata.

Jatibarang, 9 Juli 2016

Review Alienco Photography di Nikahan Kakak Saya

Kali ini saya bakalan review vendor fotografi wedding Alienco, sebetulnya sebelumnya saya sudah pernah review di sini > Alienco Photography : Foto Wedding Anti Mainstream. Tapi ini beda karena yang nikahan adalah kakak saya di awal Juni 2016 lalu. Kalau kita coba searching namanya di google, maka kita juga udah bisa liat reputasinya tim nya bang Ali ini udah nggak diragukan lagi. Semuanya kasih rating dan review yang positipp. Berikut beberapa alasannya :

1. Profesional 

Waktu itu tim Alienco datengnya ontime banget, malahan kakak dan keluarga belum ada yang sampe. >,<. Appearance udah kayak paparazzi ala-ala red carpet, pro banget!

Konita_6147

Konita_6485

Konita_3718

Konita_3456

 

2. Mampu menyulap yang “Biasa” jadi “Nggak Biasa”

Ini udah jelas. Bang ali dengan kawan-kawan tau banget angle-angle yang keren buat dibidik. Otomatis, lokasi nikahan kakak saya yang sederhana bisa disulap jadi gambar-gambar yang memukau.

Konita_3574

 

Konita_3474

Konita_3463

Konita_1663 Konita_4831 Konita_3586 Konita_3566 Konita_6332

 

3. Terjangkau

Alienco ini cukup terjangkau, apalagi kalau dibandingin dengan vendor lain dengan kualitas premium kayak Alienco.

Konita_2055

Konita_3984

Konita_6442

 

Gimana hasil jepretannya? Keren-keren yahh.. Oiya, selain nuansa vintage, Bang Ali juga master di nuansa strobist. Buat kalian suka tampilan warna yang kontras dan nyentrik. Mau liat atau tau informasi lebih lanjut? silahkan mampir ke official webnya di sini Alienco.net . Ini link kalau mau liat portfolio di instagramnya di @aliencophoto

Hari ke 30 Ramadhan

Sumber gambar : tumblr

Sumber gambar : tumblr

Rabb, ampuni dengki yang masih bercokol didalam hati. Hambamu yang hina ini tersungkur serendah yang hamba bisa untuk bisa paling tidak mendapatkan perhatianMu. Ampuni hamba, ampuni kebodohan hamba, ampuni kelemahan hamba.

Rabb, perkenankan sekali lagi hamba bertemu dengan RamadhanMu. Perkenankan hamba membersihkan hati dari segala niat busuk dan menjijikan. Izinkan hamba mendapatkan meghfirahMu, perkenankan hamba, pandaikanlah hamba untuk bisa meraihnya.

Rabb, tuntun dan bimbing hamba. Cukuplah engkau Tuhanku. Cukupkan ke-Maha-Tahu-an engkau menaungi kekhawatiran hamba. Kau yang Maha Esa, Kau yang Maha Bijaksana.

Rabb, sampaikan salam dan salawat hamba kepada kekasih Engkau. Yang Mulia Baginda Rasulullah, Muhammad SAW.

Rabb, tiada Tuhan selain Engkau. Pengetahuanmu meliputi ketidaktahuanku. Engkau Tuhan yang tidak membutuhkan dimensi, tidak terdefinisi. Tunjukkan kepada hamba jalan yang lurus. Jalan yang Engkau Ridhai. Jalannya para Muslim.

Rabb, jauhkan daripada hamba, kesombongan dan sikap tinggi hati. Kumpulkanlah hamba bersama orang-orang yang berserah kepadamu.

Rabb, segala puji bagi Engkau, satu-satunya zat yang pantas menerima pujian. Jauhkan dari hamba, rasa ingin menetap dan bermanja-manja di dunia. Cukuplah surga, sebaik-baik tempat kembali. Sesungguhnya hari akhirat itu benar adanya. Surga dan neraka-pun benar adanya.

Rabb, tsabit qalbi ‘ala diinik. tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu

Hari ke 30 Ramadhan

Depok

Bagaimana Menjadi Ibu Profesional? | Part 1

Menjadi seorang ibu adalah sebuah keniscayaan (bi idznillah, insyaa Allah). Namun seberapa siap kita mengemban amanah itu? sedangkan seingat saya, sejak sd, tidak pernah ada mata pelajaran khusus untuk pendidikan “How to be a Professional Mother?”. Padahal jelas, ibu adalah  madrasah yang pertama bagi tiap manusia. Beruntung, kini teknologi internet berhasil menggiring saya kepada tautan-tautan yang mempertemukan kepada teladan-teladan pertanyaan tadi. Mulai dari kisah para istri nabi, keluarga imran, keluarga ibrahim, hingga wanita-wanita mulia yang berprofesi sebagai seorang Ibu, salah satunya Ibu Septi Peni. Beliau bukan hanya sekedar ibu, namun ia juga aktif bergerak di masyarakat untuk memberikan penyuluhan kepada ibu-ibu lainnya, tajuknya sangat menarik, yakni “Bunda Shalihah”. Beliau dengan pelatihannya, berusaha untuk merevitalisasi makna ibu, ya, seorang ibu yang bersungguh-sungguh menjalankan tugas hidupnya.

Kisah ibu Septi memang sudah lama sekali saya baca. Ya, tentang ibu rumah tangga yang tidak menyekolahkan anak-anaknya seperti sebagian banyak keluarga lain, namun kini ketiga anaknya justru berhasil di bidangnya masing-masing. (Untuk lebih lengkapnya bisa baca disini). Dari link tersebut, saya pun mulai mencari-cari beliau di saluran youtube, sampailah kepada video berdurasi 20 menitan yang berisi tentang pemaparan resume tahapan bagaimana menjadi ibu yang profesional. Bisa dilihat dibawah :

Dimulai dengan menginstall bahwa anak adalah amanah yang harus kita jaga dengan mempersiapkan diri, bu septi menjelaskan tentang fitrah seorang anak :

1. Homo Ludens, anak adalah mahluk yang senang dengan permainan dengan bermain.

Bagaimana kita bisa mendidik anak? jika bermain dengan anak saja kita tidak bisa?. Bermain memang terdengar mudah, tapi mempersiapkan suasana bermain bagi anak menjadi PR besar jika kita tidak terbiasa berkomunikasi dengan anak-anak. Mungkin ada sebagian dari kita yang merasa kesulitan untuk menyamakan frekuensi untuk bisa masuk ke anak-anak, atau juga kita tidak sadar bahwa kita tidak menggunakan bahasa sederhana yang bisa dimengerti anak. Yes. Mengajak anak bermain pun kita harus pelajari. Persiapkan. (btw tadi juga lihat channel Kompas TV, ada seorang ibu yang kreatif banget bikinin aneka mainan dari kardus bekas, lihat disini).

2. Rentang konsentrasi anak adalah 1 menit di kalikan dengan umurnya.

Jangan sampai, kelak kita mengajari anak membaca di usia 5 tahun, kita paksa dia untuk bisa berkonsentrasi 10 menit. Siapkan ice breakin setiap 5 menit untuk mereka. Tenang, seorang anak itu fitrahnya punya keingintahuan yang tinggi, yes, naturalnya mereka adalah mahluk pembelajar, sehingga tugas kita sebetulnya adalah tinggal membuat mereka tidak sekedar bisa belajar, tapi suka belajar. Kalau ada anak yang tidak suka belajar, silahkan pertanyakan kepada diri kita sendiri. Sudah oke apa belum? 😛

Masa emas anak-anak ada di usia 0-3 tahun. Pada masa-masa inilah sebaiknya orang tua meletakkan prioritas waktunya kepada anak-anak. Dan untuk perkembangan otak, 80% ada pada masa 0-8 tahun, sehingga sangat baik jika pada masa itu kita sudah membekali diri dengan kurikulum terbaik untuk kita berikan pada anak-anak kita.

Pembentukan karakter ada pada masa 0-12 tahun. Selepas masa ini, mereka akan hidup dengan bekal karakter yang sudah terinstall. Setidaknya ada 4 learning model yang diperkenalkan oleh ibu septi, yang menurut beliau akan cocok digunakan untuk segala rentang usia, yaitu :

1. Intelectual Curiousity, bagaimana kita bisa menaikkan rasa ingin tahu anak-anak.
2. Creative Imagination, bagaimana kreatifitas anak-anak bisa berkembang bersama dengan kita.
3. Art of Discovery Invention, bagaimana akhirnya anak-anak bisa menjadi penemu-penemu dari apa yang selama ini mereka pelajari.
4. Noble Attitude, bagaimana anak akhirnya bisa memiliki ahlak yang mulia, dan kelak menjadi khalifah di muka bumi.

Setelah menjelaskan prolog tentang fitrah anak dan learning model, ibu septi menjelaskan bahwa ada beberapa tahapan untuk menjadi seorang ibu profesional.

Bersambung aja ya 🙂

Depok, 30 Juni 2016

Waktu

Kelak, setiap perbuatan akan dimintakan pertanggung jawaban. Entah sudah berapa lupa dan alpa saya selama ini. Kadang kita menganggap remeh waktu seolah-olah mereka hanya akan diam, waktu seolah-olah hanya berperan sebagai dimensi yang memuat massa, menjadikan kita nyata. Padahal waktu itu juga mahluk, ia hidup dan bertumbuh menjadi yang baru setiap harinya.

Pernahkah kalian menganggap remeh sebuah waktu? ah pasti pernah. Entah sudah berapa jadwal yang kita terlambat hadir dikarenakan alasan-alasan semata, entah mungkin kita terlalu menganggap itu adalah media untuk belajar maklum dan toleransi. Padahal keterlambatan kita hanya karena kita tidak disiplin mengatur prioritas yang seharusnya dikerjakan.

Manusia masa kini kebanyakan adalah mahluk-mahluk begadangers. Jauh berpuluh tahun silam, Bang Rhoma bahkan seperti sudah tau kalau generasi kini adalah mereka yang menggadaikan waktu malam untuk hal-hal yang tiada artinya. Apalagi di jaman media sosial seperti sekarang, cuap-cuap manusia nyaris 24 jam tanpa tutup warung.

Kelak pada masa-masa tua, pasti saya akan menyesali setiap detik yang terbuang sia-sia. Terbuang untuk membicarakan keburukan orang lain, terbuang untuk berprasangka, terbuang untuk diam menunggu tidak melakukan apa-apa, terbuang untuk menghabiskan waktu yang tidak ada hikmah dan pelajaran didalamnya.

Setidaknya dengan menuliskannya hari ini, kelak saya akan menyadari bahwa sebetulnya penyesalan itu sudah pernah terlihat jelas dari awal. Semoga saya tidak menyia-nyiakan jutaan ampunan yang Allah sediakan.

Kalimalang, 28 Juni 2016