Secoret Dua Coret

Percayalah bahwa hidup ini sangat cepat peredarannya. Bahkan kau amat sulit  mengingat kapan tepatnya pertama kali kau masuk ke sekolah taman kanak-kanak, karena itu sudah terlalu lampau dan kini kau ada di masa sekarang. Tak bisa ingat lagi karena waktu terlalu terburu-buru dan hadir dengan segala hal baru yang dilahirkan setiap detiknya. Otakmu kesulitan merekamnya. Ya, karena waktu terlalu cepat bergulir.

Lalu dalam dirimu yang sekarang, adakah terbesit pertanyaan? apa yang sedang kau perjuangkan sekarang? untuk apa dan siapa? Aku tak hendak mengguruimu dengan aneka pertanyaan yang mungkin baru dalam hidupmu. Mungkin kau masih berambisi untuk menjadi manusia paling bahagia didunia dengan segala yang ada, dan atau belum ada pada dirimu. Menjadi manusia yang paling aman. Mengikuti perkembangan jaman dengan arusnya yang deras mengalir entah kemana. Kau ketakutan karena jika kau gagal mengikuti arus dunia, kau akan terhantam jatuh, miskin dan merana. Hidup di kontrakan yang atapnya bocor, anak-anak yang bandel dan kendaraan butut dan ketakutanmu itu membuat mu terlupakan  tentang satu hal yang paling  mendasar : Yakni Tidak ada kata “Tuhan” lagi dalam segala perkara urusanmu.

Kau merasa dirimu aman-aman saja. Pahami ini saudaraku. Bahwasannya kita ini bukan sedang menunggu mati. Tapi kita sedang mengantri. Kau sendiri yang melangkahkan dirimu untuk sampai gerbang keabadian.