#Day 28 : Waktu Aku

Aku sampai pada titik usia dimana aku sendiri dulu pernah meragu akan sampai sini. Ada banyak hal yang ingin kuceritakan padamu, wahai aku yang ada di masa lalu. Kau dahulunya, adalah anak penakut yang membenci pergi ke sekolah. Satu-satunya alasan dirimu adalah kau ingin bermain bersama teman-temanmu, juga belajar menggambar. Tiada lagi yang lain.

Aku sudah sampai sini.Telah banyak air mata, sesak dada, tawa, kecewa, gembira ria, ragu dan kondisi lainnya yang membuat benak hati berubah-ubah. Ukuran sepatu, bentuk wajah berkembang, tiada menunggu dirimu siap. Semuanya terus berjalan perlahan, hingga tak terasa, kadang kau ingin tetap pada masa anak-anak saja. Sedangkan detik waktu adalah kepastian yang hadir dengan berjingkat, seperti kucing berjalan diatas karpet. Tak terdengar, tak terasa. Kau menua tanpa menunggu persetujuannya.

Kau, dengan ilmumu, menghadapi algoritma dan pilihannya, algoritma yang beranak pinak tanpa kau tahu dimana ujungnya. Untuk program seperti apa dan dimana kotak berakhirnya. Kadang aku bahkan tak kenal kau yang ada di kemarin. Aku sendiri sering tidak suka dengan perubahanmu, meski akhirnya kuterima sebagai bentuk pendewasaan, kulihat kau ingin belajar meski hati tak habis bertanya, mau apa. Dunia ini terlalu banyak pilihan dan warnanya. Terlalu banyak bidangnya. Anehnya, semua berasal dari satu, lalu dua, tiga dan seterusnya. Dari mula-mula dahaga, kau mengenal air. Lalu kini kau dahaga, kau dihadapkan dengan ribuan pilihan rasa, bentuk bejana dan harga.

Termasuk tulisan ini, kau, aku yang dulu. Mungkin tak akan mengerti apa maksudnya.

#Day 27 : Menepi

Sampai kepada masa dimana kau ingin menepi. Menolak segala tawaran, mempersiapkan jawaban penolakan yang sopan. Untuk menyepi. Sendiri. Sendiri yang tidak sendiri karena yakin selalu ada Tuhan pada segala sisi. Bukan karena benci atau letih. Tapi demi waktu untuk berdialog dengan diri sendiri. Tentang pencapaian diri dan tentang apa yang ingin dicari. Lagi.

Penghujung tahun ini. Kurasakan usia bertambah, pengalaman bertambah dan jiwa semakin hidup, sementara jasad kian meredup. Memutuskan untuk berani menjadi diri sendiri. Menaikkan level dari percaya diri kepada percaya Allah selalu mendampingi hamba-hambanya yang memperbaiki diri. Jangan berekspektasi apapun padaku, karena aku bukan bekerja untuk dirimu. Aku bekerja untukku dan kepada Tuhanku.

Mencintai apa yang Allah cintai, membenci apa yang Allah benci.

#Day 26 : Penghayatan Sang Penyayang

Apa sulitnya menyintai kebaikan dan segala kelebihan yang ada padamu? Sedang aku, sudah lama melupakan jika kau punya kekurangan. Bukan mengabaikan, tapi menerimanya. Utuh.

 

Betapa Tuhan begitu Istimewa. Dia dengan segala kemaha-an yang ada pada-Nya, mampu menyayang dan mengasihi mahluk-Nya. Sedang kita manusia, dengan segala kebodohan dan keangkuhannya, seringkali menuntut orang lain sempurna dan merasa berhak untuk tidak memaafkan segala kekeliruan dan kekurangan, seolah pada beberapa kesalahan, adalah sesuatu yang tak termaafkan.

Cintai Tuhan. Lalu kau akan sangat mudah memaafkan.

 

[42:40] Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa mema’afkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.

#Day 25 : Kerumunan

Aku pergi menjauhi kerumunan dimana orang lain berlomba mencari bahagia dan makna disana, menuju kerumunan yang lebih sedikit, dengan berniat mencari tujuan yang tauhid.

Aku pergi menjauh dari kerumunan dimana mereka saling bicara betapa peduli mereka pada negara dan alam raya, menuju kerumunan yang lebih sedikit yang saling ingatkan sabar dan istiqomah pada segala daya upaya yang sudah tercurah.

#Day 24 : Ketergesaan Dan Kecerobohan Adalah Bahan Bakarnya Kesengsaraan

Ada, beberapa buku yang hingga kini. Masih sering kubolak-balik lembarannya. Dan salah satu nya adalah karya Dr. Aidh Abdullah Al-Qarni, MA berjudul “Agar Menjadi Wanita Paling Bahagia di Dunia”, buku itu tak terlalu tebal seperti karya beliau Laa Tahzan. Tapi isinya, luar biasa luas. Memenuhi dahaga nasihat dan keilmuan. Berikut akan kutulis ulang salah satu bab-nya.

Ketergesaan Dan Kecerobohan Adalah Bahan Bakarnya Kesengsaraan

Impian yang terwujud adalah sebaik-baik impian

Bila tidak, maka kita telah bersamanya dengan bahagia

Kelembutan adalah tingkatan tertinggi yang dicapai oleh manusia dalam mengalahkan amarahnya. Sabar adalah berbuat hati-hati dan tidak tergesa-gesa. Dua hal tersebut akan berperang melawan kegelisahan. Barang siapa tidak mempunyai dua hal itu, niscaya ia tidak akan memiliki kebaikan dan hidup dalam kegelisahan. Dengan kelembutan banyak hal bisa diselesaikan. Sebaliknya dengan kekerasan malah membuat suatu masalah menjadi lebih buruk.

Manusia penyabar akan menyesal jika pekerjaannya hanya  menghasilkan kesia-siaan. Sedangkan orang bodoh jauh dari penyesalan dan akibatnya akan lebih buruk. Maka dari itu, jika manusia bisa saling mengawasi dan mengingatkan niscaya manusia akan bisa menemukan ketentraman batin.

Agama kita (Islam, red), sangatlah menganjurkan pada umatnya untuk berlaku lembut, halus dan penyabar. Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya kelembutan tidak akan ada pada sesuatu kecuali akan membuatnya semakin indah dan jika kelembutan hilang dari sesuatu akan membuatnya semakin jelek.”

Pelita : “Kebanyakan manusia telah menghabiskan waktu dalam hal-hal yang tidak bernilai.”

Tempat paling terhormat di dunia adalah pelana kuda (untuk berjihad)
Dan sebaik-baik teman sepanjang waktu adalah buku

Dr. Aidh Abdullah Al-Qarni

#Day 23 : Nasi

Kalau makan itu dihabiskan sampai jangan ada bersisa nasi dipiring.

Sering kita dengar kalimat ini, jangan sia-siakan nasi yang kita makan. Lalu bagaimana dengan waktu? seberapa sering kita saling menasihati tentang jangan sampai detik-detik dalam hari kita terbuang percuma. Detik yang terkadang, dipakai untuk memikirkan perkara sia-sia bahkan berprasangka. Sungguh, sedetik jika dikumpulkan akan terakumulasi menjelma menit, jam, hari, bulan dan tahun. Membuat perencanaan hidup-pun akan menjadi penting, tentang apa yang akan kita lakukan hari ini, bahkan lebih baik lagi jika kita merencanakan detail kegiatan yang akan dilakukan esok hari. Jangan mau seperti reranting yang jatuh ke sungai, lalu menurut kemana saja ia akan terbawa. Sungguh, waktu adalah sungai, siapkan perahumu dan kendalikan perjalananmu.

Menyia-nyiakan waktu itu lebih jelek daripada kematian. Menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu dari Allah dan akhirat, sedangkan kematian hanyalah memutuskanmu dari dunia dan penghuninya. (Ibnul Qayyim, kitab Al Fawa’id)

#Day 22 : Sekutip Doa

Kutipan dari Ust. Yusuf Mansur. Yang membuat sejenak berhenti dari aktifitas menyapu sore ini. Setelah beliau paparkan sebuah tausiyah yang berjudul “Ustadz Yusuf Mansur, Yakin Jilid 9, Datang dan Bicaralah pada Allah SWT, Wisatahati ANTV” di Youtube. Ngomong-ngomong tentang ust, aku tidak melulu mengacu pada satu guru. Dan memang, masing-masing guru-pun ada ciri khas-nya masing-masing, ada yang kajiannya tentang syariah, ada pula yang mengusung tema khilafah, juga tentang sedekah, tentang ahlak seorang muslim dan muslimah dan banyak lainnya. Islam itu luas, jangan sampai kita menutup hati tentang pengetahuan yang disampaikan dengan ilmunya Allah. Berikut kutipan doa yang menarik bagi saya dari ust. Yusuf Mansur.

“Kita berdoa mudah-mudahan keyakinan kita itu  keyakinan orang-orang yang benar. Yakin boleh, percaya diri ahsan, (lebih baik). Tapi jangan lupa, kembalikan lagi ke Allah…kembalikan lagi ke Allah…kembalikan lagi ke Allah. Pulangin kepada yang punya keyakinan itu sendiri dan yang membuat keyakinan itu menjadi terwujud. Dan Dia-lah Allah, yang senang sekali kalau kita itu percaya kepada Dia.”

Semoga Allah menjauhkan diri dari sikap taqlid dan membimbing hamba sehingga termasuk kepada golongan orang-orang yang beruntung (dengan beriman kepada Allah). Aamiin.

#Day 21 : Bocah Lampu Merah

Jemarinya ia tatap dalam-dalam. Menerka-nerka apakah telapaknya itu akan selalu ia tengadahkan. Kotor berdebu. Terik mulai ramah, pukul empat sore, bocah dengan perawakan kurus itu hai ini tampak gelisah. Rupanya, tadi ia teringat pada seorang anak sebayanya saat ia meminta-minta di lampu merah, memainkan papan digital yang entah apa namanya, yang ia ingat, ada gambar apel belakangnya. Tertawa, sambil berbincang dengan ayahnya. Mematung bocah itu dipinggir kaca mobil pengemudi, kaca jendela tidak diturunkan. Namun ia tetap mematung karena pandangannya hanya tertuju pada anak sebayanya. Sejak saat itu pula, pikirannya bekerja lebih keras dari sebelumnya, ia bertanya-tanya, entah pada siapa. Melihat kiri kanannya, tidak ada sesiapa yang bisa ia ajak bicara. Bocah itu kebingungan, memandangi kakinya lalu tangannya. Menyadari bahwa apa yang ia jalani setiap hari bukanlah bagian hidup yang harus ia tempuh. Pasti ada cara lain. Batinnya berteriak, “mengapa aku berbeda?”. Bertanya-tanya apakah hidup yang semacam ini yang harus ia jalani selamanya? atau ada kesempatan lainnya?. Ya, pasti ada cara lain, hatinya berkata.

#Day 20 : Coba Kaji Lagi

Pendewasaan hidup hadir lewat kebahagiaan, bisa juga kekecewaan. Hakikatnya, manusia perlu pedoman karena setiap langkah tanpa firman hanya akan menjerumuskan dalam kebinasaan. Lihatlah kehidupan saat ini, jutaan manusia berlomba demi kesuksesan versinya masing-masing. Ada yang inginkan kekuasaan ada pula yang inginkan kekayaan. Demi satu hal yang berlabel “kebahagiaan”.

Nampaknya definisi tanpa panduan firman Tuhan ini membawa kita semakin jauh dari esensi kehidupan. Apa yang seharusnya kita cari-pun harus sering-sering kita kaji lagi tanpa banyak alasan. Evaluasi lagi, sampai kita rasakan Iman.

#Day 19 : Lega

Dari pada hidup dalam lingkup pertanyaan

Mengapa tidak ditanyakan

Lupakan rasa rendah dan kegengsian

Karena itu bukan jawaban

Manusia, ingin hidup dalam ketentraman

Tapi terlalu merasa mampu hingga merasa tidak perlu mempertanyakan

Tanyakan apa yang kau risaukan

Pinta pada Tuhan, agar segalanya menjadi keberkahan

Lalu ikhlaskan segala jawaban

Dan berbahagialah jalan ke depan