Adik-Adik

Mereka adik-adik kita
Yang menjajakan tissu-tissu dipeparkiran rumah makan ayam kolonel Amerika
Yang menjajakan puzzle seharga lima lembar pattimura
Yang berlarian dan bercanda kala jam menunjukkan pukul 22.00

Mereka bagian dari kita
Rakyat Indonesia
Yang negerinya kaya raya
Ya…Katanya

Mereka bilang masih sekolah
Kutanya kelas berapa, mereka bilang lima
Nyeri rasa dada seperti penuh luka menganga kala menatap mata mereka
Seperti luka-luka di lutut dan sikut mereka

Mereka tanggung jawab kita
Cukuplah propaganda bahwa tak usah kau kasihani mereka
Karena mereka dibawah sistem mafia kota
Ahh…Percuma kau sekolah!

Mereka adik-adik kita
Bantulah mereka
Karena mungkin saja
Kelak generasi kita adalah salah satu diantara mereka

Negeriku

Negeriku yang kucintai ini sedang digerogoti
Oleh manusia-manusia yang lupa fungsi diri
Tak memakai hati
Memberanguskan nurani

Negeriku yang kucintai ini dipermalukan rakyatnya sendiri
Mereka rela menjual harga diri
Menjual mimpi kepada muda-mudi
Lalu pergi keluar negeri

Negeriku yang amat kucintai ini
Dikhianati rakyatnya sendiri
Rakyat yang leluhurnya sudah dipersilakan untuk menetap disini
Rakyat yang di-cikalbakal-kan, diperjuangkan sampai mati

Negeriku yang amat kucintai ini
Ditelanjangi rakyatnya sendiri
Rakyat yang tak tahu diri, tak mau tahu asal-usul negeri
Lalu ia melenggang ke-panggung dunia seperti biri-biri

Wahai Negeriku yang kucintai
Cukuplah bagimu, rakyat setia dan Tuhan Yang Maha Tinggi
Pemilik negeri-negeri di Bumi
Berlarilah kau para pengkhianat negeri
Semoga Dosamu ter-ampuni

Doa si Hina

Cintaku pada-Mu masih berkepentingan
Tak murni, jauh dari keikhlasan
Karena akalku jauh dari pikiran
Terpenjara dalam kebodohan

Cintaku pada-Mu masih gombal
Hanya berucap-ucap asal
Karena hatiku yang dangkal
Memelihara nafsu, tak ingat ajal

Cintaku pada-Mu masih bersyarat
Takut hidup melarat
Karena ahlak tak terawat
dari segala pekerjaan maksiat

Yaa Allah, Tuhan segala semesta, Tuhan non-semesta…
Sesungguhnya hamba telah menjadi budak dunia
Yang takut mati, cinta harta
Yang takut miskin, tak berdaya
Yang takut perang, yang lemah jiwa

Berikan penangguhan untuk hamba,
Sampai tiba saat satu masa,
Engkau menuntunku untuk berjuang membangun surga didunia,
Yang penuh dengan segala ridha

Kisah Berhalaku

Aku rela padamu
Dunia dan seisinya untukmu
Juga aku
Berhalaku

Aku mengiba, dunia hampir tak berbeda
Aku bersuka, kau diam-diam saja
Apakah keberadaanku adalah milikmu? wahai berhala?

Aku menjura-puja berhala
Berhala diam saja
Aku memaki-ludahi behala
Sama saja

Tak memberi petuah
Tak mendatangkan berkah
Bahkan tak mampu ia beriku masalah

Sekarang aku menyaksikan,
Sesungguhnya kau tak lebih dari sepotong sandungan,
Yang diciptakan bukan untuk aku cinta-kan,
Tapi untuk mengabdikan,
Mengabdikan setunggal kehidupan,
Hanya untuk Tuhan