Sekarang dan Nanti

Dan buktinya,
Tanpa harus meramal masa depan,
Aku mampu mengubah masa depan
Yang saat ini menjadi kisah sekarang
Dengan keyakinan usaha dan semangat mengadakan
Menciptakan yang ada dari ketiadaan
Tentu saja dengan bantuan Tuhan

Yaitu rasa keberanian dari ketakutan
Dan dari kebencian yang menjadi kecintaan

Tak jarang aku kesakitan
Tapi tak akan pernah kau bayangkan rasa seperti sekarang ini
Kelinglungan
Itu lebih mengerikan

Aku mendayung perahu sendirian
Untuk berlabuh di pulau yang tak banyak hingar bingar menjunjung kemewahan
Aku mau pulau penuh kedamaian dan rasa cinta yang tak pernah padam

Walau berganti musim
Walau berulang purnama

Aku mau menjadi sebaik-baiknya abdi untukmu
Tapi aku lebih mau menjadi sebaik-baiknya abdi bagi-Nya
Lantas apakah kau mau mengerti caraku?
Sungguh mau?

Jika

Jika diri sudah merasa tak tahu kemana ia akan mengarah,
Jika harta sudah tidak tahu lagi akan dibawa kemana,
Jika sanak saudara sudah tidak lagi mengenal kita,
Mungkin itu saatnya kita bertanya kepada diri kita sendiri,
Apakah kita sudah berfungsi sesuai dengan keinginan-Nya?

Membela agama-Nya?
Berjihad dijalan-Nya?

Karena ketika jiwa sudah tak lagi tak menetap pada raga ini,
Penyesalan terbesar mengabadi,
Tak berbekas karena ia menetap selamanya didalam diri,
Yang tak mati-mati.

Parah

Nyatanya kebencianku pada kelemahanku semakin bertambah parah
Sampai aku batuk darah
Aku menjauh dari pagar rumah
Menjauh sekian dan sekian jaraknya
Menuju pintu yang aku sebut masa lalu

Ku pandangi
Ku bongkar lagi
Morat-marit perasaanku mengetahui bahwa kau disana aku tak tahu, masih menungguku? Atau sama sepertiku?
Tapi bukan itu tujuanku

Aneh Bukan?

Jikalah usiaku tak sampai hingga kau menemuiku untuk kali kedua
Sesungguhnya tak ada penyesalan bagiku maupun bagimu
Kita adalah dua beda
Yang pernah saling (mau) mengenal
Lalu pergi meninggalkan satu sama lain

Berkenalan
Melupakan

Aneh bukan?

Adik-Adik

Mereka adik-adik kita
Yang menjajakan tissu-tissu dipeparkiran rumah makan ayam kolonel Amerika
Yang menjajakan puzzle seharga lima lembar pattimura
Yang berlarian dan bercanda kala jam menunjukkan pukul 22.00

Mereka bagian dari kita
Rakyat Indonesia
Yang negerinya kaya raya
Ya…Katanya

Mereka bilang masih sekolah
Kutanya kelas berapa, mereka bilang lima
Nyeri rasa dada seperti penuh luka menganga kala menatap mata mereka
Seperti luka-luka di lutut dan sikut mereka

Mereka tanggung jawab kita
Cukuplah propaganda bahwa tak usah kau kasihani mereka
Karena mereka dibawah sistem mafia kota
Ahh…Percuma kau sekolah!

Mereka adik-adik kita
Bantulah mereka
Karena mungkin saja
Kelak generasi kita adalah salah satu diantara mereka

Negeriku

Negeriku yang kucintai ini sedang digerogoti
Oleh manusia-manusia yang lupa fungsi diri
Tak memakai hati
Memberanguskan nurani

Negeriku yang kucintai ini dipermalukan rakyatnya sendiri
Mereka rela menjual harga diri
Menjual mimpi kepada muda-mudi
Lalu pergi keluar negeri

Negeriku yang amat kucintai ini
Dikhianati rakyatnya sendiri
Rakyat yang leluhurnya sudah dipersilakan untuk menetap disini
Rakyat yang di-cikalbakal-kan, diperjuangkan sampai mati

Negeriku yang amat kucintai ini
Ditelanjangi rakyatnya sendiri
Rakyat yang tak tahu diri, tak mau tahu asal-usul negeri
Lalu ia melenggang ke-panggung dunia seperti biri-biri

Wahai Negeriku yang kucintai
Cukuplah bagimu, rakyat setia dan Tuhan Yang Maha Tinggi
Pemilik negeri-negeri di Bumi
Berlarilah kau para pengkhianat negeri
Semoga Dosamu ter-ampuni

Doa si Hina

Cintaku pada-Mu masih berkepentingan
Tak murni, jauh dari keikhlasan
Karena akalku jauh dari pikiran
Terpenjara dalam kebodohan

Cintaku pada-Mu masih gombal
Hanya berucap-ucap asal
Karena hatiku yang dangkal
Memelihara nafsu, tak ingat ajal

Cintaku pada-Mu masih bersyarat
Takut hidup melarat
Karena ahlak tak terawat
dari segala pekerjaan maksiat

Yaa Allah, Tuhan segala semesta, Tuhan non-semesta…
Sesungguhnya hamba telah menjadi budak dunia
Yang takut mati, cinta harta
Yang takut miskin, tak berdaya
Yang takut perang, yang lemah jiwa

Berikan penangguhan untuk hamba,
Sampai tiba saat satu masa,
Engkau menuntunku untuk berjuang membangun surga didunia,
Yang penuh dengan segala ridha

Kisah Berhalaku

Aku rela padamu
Dunia dan seisinya untukmu
Juga aku
Berhalaku

Aku mengiba, dunia hampir tak berbeda
Aku bersuka, kau diam-diam saja
Apakah keberadaanku adalah milikmu? wahai berhala?

Aku menjura-puja berhala
Berhala diam saja
Aku memaki-ludahi behala
Sama saja

Tak memberi petuah
Tak mendatangkan berkah
Bahkan tak mampu ia beriku masalah

Sekarang aku menyaksikan,
Sesungguhnya kau tak lebih dari sepotong sandungan,
Yang diciptakan bukan untuk aku cinta-kan,
Tapi untuk mengabdikan,
Mengabdikan setunggal kehidupan,
Hanya untuk Tuhan

 

Atap Rumah

Ini cerita tentang atap rumah
Yang tiap sore, tempat ku merebah
Saat marah
Saat gundah

Pisah
Marah
Entah
Lupakan sumpah serapah

Di atap rumah
Angkasa merah
Surya masih ramah
Setia pada orbitnya yang indah